
Pagi ini Sarah bersiap untuk menghadiri acara launching penerbitan novel perdananya, yang akan di lakukan jam sepuluh siang di salah satu resto hotel terkenal di kota ini.
Sarah sudah di kirim detail alamat dan waktu acaranya oleh Anita.
Sarah memutuskan untuk hadir sendiri tanpa ada teman. Karena Sinta saat ini tidak bisa menemani, ia sangat sibuk dengan pekerjaan nya.
Ada rasa tegang dan nervous muncul tiba-tiba di diri Sarah. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia harus mengumumkan kalau diri nya adalah seorang author hebat yang berpenghasilan diatas rata-rata.
Dengan hobi nya yaitu menulis, Sarah bisa mempunyai penghasilan yang mampu membuat bisnis yang maju sangat pesat. Yaitu toko roti yang saat ini sudah punya nama besar ditoko ini.
Awal mula Sarah membuka bisnis perkulineran itu, selain karena hobinya memasak dan membuat kue, pada waktu itu Sarah harus punya uang untuk membiayai makan keluarga Damar.
Karena Sarah tak pernah di nafkah oleh Damar, jadi ia harus memutar otak untuk mendapatkan uang tambahan, yang modal awalnya ia dapat dari gaji menulis di platform novel online yang ia naungi saat ini.
Sampai saat ini, Sarah masih menekuni dua hobi nya itu. Ia menyukai pekerjaan yang juga menjadi hobi nya.
Sarah melakukan nya sampai saat ini, walau aset yang di miliki Sarah sekarang sudah lumayan banyak.
Jam di arloji Sarah, sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, kini ia sedang bersiap untuk menunggu taksi online yang sudah Sarah pesan.
"Jangan sampai telat!!!, dan ingat bekerja lah dengan profesional. Jangan hanya tebar pesona kepada Rama!!!," pesan dari Anita Sarah terima.
Namun Sarah hanya membaca pesan singkat itu, ia tak membalasnya. Karena hal itu, tanpa disuruh pun Sarah akan bekerja dengan profesional.
Dan untuk ucapan Anita dipesan yang di kirim pada Sarah untuk tak tebar pesona pada Rama. Sejujurnya Sarah tak melakukan hal yang dituduhkan itu oleh Anita.
Sarah tak pernah punya maksud dan niatan untuk menggoda Rama. Karena saat ini yang ada didalam pikiran Sarah bukan hal yang tak penting itu, hal yang sekedar tebar-tebar pesona pada pria lain apalagi itu pada Rama, yang dari awal Sarah sudah menganggap nya seperti adik sendiri.
"Kenapa kamu tak membalas pesan ku?!, apa kamu sudah mengerti dengan apa yang aku katakan padamu lewat pesan singkat tadi?!," Anita jengkel pada Sarah, karena pesan yang ia kirim hanya di baca dan tidak di balas oleh Sarah.
Lagi, Sarah hanya membaca nya. Ia tak membalasnya, menurut Sarah percuma meladeni anak kecil seperti Anita yang tak punya atitude itu.
Kalau pun Sarah membalas nya, diyakini Sarah, Anita akan terus mencari-cari kesalahan nya.
__ADS_1
Taksi yang Sarah tunggu pun telah datang, setelah berpamitan pada kedua orang tua nya, kini Sarah pun masuk kedalam taksi.
Tanpa Sarah tau, hari ini Bima juga keluar dari tahanan kantor polisi. Sesuai perjanjian, setelah semua proses perceraian selesai, Bima keluar dari tahanan. Dan proses perceraian itu sendiri selesai lebih awal dari perkiraan.
Tanpa ada penjemputan dari pihak keluarga, Bima pulang sendiri dengan taksi online yang sudah di pesankan oleh pihak kantor polisi.
Taksi itu berhenti, tepat di depan rumah Laras. Rumah itu terlihat sangat sepi dengan pintu yang tertutup.
"Mungkin ibu dan Putri sedang keluar," gumam Bima sambil kaki nya turun dari taksi online itu.
Depan rumah nya terlihat sepi, namun berbeda dengan rumah samping kiri rumah Laras. Rumah yang ada warung sembako kecil itu.
Terlihat ada beberapa ibu-ibu tetangga Bima, yang sedang duduk di bangku. Ada pula yang berdiri di depan warung sedang berbelanja.
Dan kedatangan Bima, menjadi pusat perhatian mereka. Mereka saling berbisik-bisik satu sama yang lain. Dan Bima mengetahui hal itu, tapi Bima tak mau ambil pusing. Karena ia takut berburuk sangka pada mereka.
Walau dia sendiri pun yakin, kalau para ibu-ibu itu sedang berbisik membicarakan dirinya.
Lalu setelah turun dari taksi, Bima pun mengedarkan pandangan pada para ibu-ibu itu sambil menganggukkan kepala dengan tersenyum menyapa pada mereka.
"Mas Bima, dari mana saja?, kok sepertinya lama ya aku tak pernah melihat mas Bima ada dirumah?," tanya seorang perempuan yang seumuran dengan Laras ibunya Bima.
"Mmm.... Bima...,"
"Masak jeng Siti nggak tau kalau Bima dipenjara?," celetuk ibu-ibu satunya yang sepertinya seumuran dengan ibu-ibu yang bertanya tadi. Ia memotong ucapan Bima, sehingga Bima tak melanjutkan omongan nya.
"Hah??, masa sih mas Bima baru keluar dari penjara?," tanya nya lagi seperti tidak percaya pada Jawaban teman nya itu.
"Iya, bener jeng. Lihat aja sekarang penampilan Bima, lusuh dan tak terawat," sahut ibu satunya.
Dan akhirnya mereka pun saling bisik-bisik pada satu sama yang lain, untuk membicarakan Bima.
Bima yang melihat itu semua, hanya bisa diam. Karena mau menjelaskan pun seperti nya percuma. Kalau lawan ibu-ibu, sudah dipastikan ia akan kalah. Karena tak mungkin Bima beradu jotos dengan kaum wanita.
__ADS_1
Berbeda dengan kalau ia melawan laki-laki, sudah dipastikan Bima akan memilih untuk menggunakan kekuatan otot untuk menghadapi para kumpulan lelaki.
Bima pun memutuskan untuk segera masuk dan membiarkan mereka membicarakan dirinya.
"Ternyata pintu tidak dikunci." gumam Bima sambil mencoba membuka pintu.
"Assalamualaikum." Bima mengucapkan salam saat masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam," sahut Ambar dari dalam, sambil berjalan keluar dari kamar nya.
"Bima?!," mata Ambar melotot karena terkejut melihat kedatangan Bima.
"Kamu sudah keluar dari tahanan, Bim?," tanya Ambar sambil mendekati adiknya itu.
"Iya, mbak. Alhamdulillah Bima sudah bisa menghirup udara bebas lagi." jawab Bima.
"Ibu dan Putri mana, mbak?," tanya Bima sambil mata nya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan rumah ini.
"Semenjak kamu di penjara, Putri jarang sekali berada disini, Bim. Ia lebih sering berada di kost'an Areta." jawab Ambar.
"Sedangkan ibu dari pagi sudah berangkat ke toko," lanjut Ambar.
"Ke toko?, maksudnya mbak Ambar, ibu ke tokonya siapa?," tanya Bima dengan perasaan tak enak.
"Ya ke toko mu lah, Bim. Ke toko siapa lagi?, disini yang punya toko kan kamu." jawab Ambar.
Deg! Bima pun terdiam dengan banyak bayangan yang tidak-tidak.
"Kamu jangan bengong aja, Bim. Istirahat aja dulu, biar mbak bikin kan kamu kopi." ucap Ambar pada Bima yang masih berpikir yang tidak-tidak pada Laras saat ini.
Ambar pun berjalan kebelakang, untuk membuat kopi untuk Bima adik nya.
Bima pun masuk kedalam kamar ya, ia mengambil handphone nya yang disimpan di dalam lemari oleh Laras.
__ADS_1
Bima menghidupkan handphone nya yang kini mati karena kehabisan daya, akibat berminggu-minggu handphone itu di tinggal oleh Bima. Tak ada yang mengisikan data baterai nya.