
Awan hanya menganggukkan kepalanya, disini Awan hanya banyak diam.
"Bu, Awan tunggu disana ya." ucap Awan sambil menunjuk bangku yang sudah di sediakan oleh toko perhiasan ini.
"Iya, Wan. Kamu tunggu disana saja, biar kamu tidak capek. Kalau ibu disini aja, menunggu gelang yang masih diambilkan oleh mbak nya." jawab Laras yang sangat excited banget.
Awan pun berjalan menuju kursi yang ada di sebelah kanan pintu masuk.
Brakkkk.....
"Maaf," ucap Awan. Ia tak sengaja menabrak seorang perempuan.
"Nggak apa-apa." jawab perempuan itu dengan sangat singkat.
Suara perempuan itu sangat familiar di telinga Awan, sehingga dengan cepat Awan mengangkat wajahnya untuk melihat wajah perempuan itu.
"Sarah!!," panggil Awan dengan wajah yang sumringah.
Suara Awan terdengar di telinga Laras, saat mendengar nama Sarah di panggil. Laras pun segera menoleh kepada sumber suara yang ia dengar.
"Awan!!," panggil Laras dengan berkacak pinggang.
"Maaf, saya terburu-buru." ucap Sarah dengan berjalan meninggalkan Awan.
Kebetulan Sarah sudah selesai melakukan transaksi jual beli di toko perhiasan ini.
"Sarah!!, tunggu." panggil Awan. Namun Sarah tak menggubris nya sama sekali. Ia terus berlari keluar toko. Sarah tak ingin menanggapi Awan. Ia tak ingin terjadi kesalahpahaman lagi seperti yang sudah-sudah.
Dan lagi Sarah juga tak ingin terjadi keributan di dalam toko itu. Saat melihat ternyata Awan bersama Laras.
"Awan, hentikan!!, kenapa kamu mengejar perempuan kampungan itu!!," teriak Laras. Sehingga banyak mata yang tertuju pada Laras saat ini.
Semakin di lihat banyak orang, Laras semakin menjadi-jadi. Ia tau kalau saat ini orang-orang yang berada di dalam toko perhiasan ini sedang memandang nya.
Laras semakin mengibas-ngibaskan tangan nya dan sesekali tangan nya juga memegangi dada nya.
Dengan sengaja Laras memamerkan semua perhiasan yang ia pakai di tubuhnya.
Tak sedikit pula, yang berbisik-bisik menggunjing Laras. Karena banyak nya perhiasan yang di pakai.
"Sini kamu, Wan." tangan kanan Laras melambai pada Awan.
"Biar Awan duduk disini aja, Bu." ucap Awan.
Awan pun duduk di bangku yang ia maksud sedari tadi. Awan tak habis pikir kalau hati ini ia di pertemukan dengan wanita dambaan hatinya.
"Bu Laras, maaf ya sudah menunggu lama." ucap pelayan toko yang tadi melayaninya.
"Ini Bu, model gelang terbarunya." ucap pelayan toko itu sambil menyodorkan gelang model rolex yang sedang hitam saat ini.
"Wah....bagus sekali." ucap Laras dengan suara yang cukup keras. Sehingga semua orang yang berada di situ menoleh kepadanya dan itu memang tujuan Laras.
Lalu pelayan toko itu mencobakannya.
"Benar-benar bagus." ucap pelayan toko itu sambil tersenyum untuk meyakinkan Laras agar segera membelinya tanpa memilih milih yang lain lagi.
"Ini memang model yang terbaru ya, mbak?," tanya Laras pada pelayan toko yang melayani nya itu.
"Iya, Bu. Ini termasuk ya g limited edition. Karena model ini hanya ada dua pcs saja. Dan sekarang tinggal satu ini saja, Bu." ucap pelayan toko itu.
"Waahh, kalau barang limited edition seperti ini aku sangat suka mbak." jawab Laras dengan keinginan yang menggebu-gebu.
"Berapa uang nya ini, mbak?," tanya Laras.
Lalu pelayan toko itu menghitung nya. Sambil melihat pelayan toko itu menghitung. Laras bertanya siapa orang yang membeli gelang satu nya.
__ADS_1
"Ibu Sarah, Bu." jawab pelayan toko nya.
"Hah?, Sarah yang baru saja keluar dari toko ini?," tanya Laras lagi, meyakinkan diri nya kalau yang dikatakan oleh pelayan itu bukan Sarah mantan menantunya. Karena Laras sangat tidak terima kalau Sarah mampu membeli gelang yang limited edition itu.
"Iya, Bu. Ibu Sarah yang seorang penulis itu." jawab pelayan toko itu.
"Berapa harga gelangnya itu?!!, dari tadi disuruh hitung kok nggak di hitung-hitung!!!," ucap Laras dengan nada ketus.
Nada yang lemah lembut dan sangat ramah, kini berubah menjadi nada ketus dengan tatap mata jutek pada pelayan toko nya.
"Iya, Bu. Tadi sudah aku hitung, tapi Bu Laras ngajak ngobrol aku terus." jawab pelayan toko itu.
"Kamu ini membantah ya!!, aku ini pembeli, kamu tau kan kalau pembeli itu adalah raja?!," celetuk Laras.
"Iya, Bu Laras. Maaf kan saya." jawab pelayan toko itu.
"Total uang gelang ini empat puluh tujuh juta lima ratus lima puluh ribu rupiah, Bu. Tapi untuk ibu Laras, karena memang sudah berlangganan tetap di toko ini, Bu Laras cukup membayar empat puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah saja." lanjut pelayan toko itu.
"Oh..cuma segitu?!," ucap Laras dengan kesombongan nya.
"Tadi punya Sarah, harga nya berapa?," tanya Laras ingin tahu. Sambil kedua alis nya terangkat.
"Punya Bu Sarah tadi sekitar empat puluh jutaan, Bu." jawab pelayan toko itu.
Pelayan toko ini sudah mengerti dengan sifat Laras. Laras sangat suka diberi pujian. Jadi pelayan toko ini terus memuji Laras, dan terus menyanjung Laras.
Walau sebenarnya dia tau, kalau uang gelang yang di beli sarah lebih tinggi dari yang akan di beli oleh Laras.
"Pasti dia tidak mampu!!," gumam Laras sambil mengangkat satu sudut bibirnya.
"Iya, Bu Laras. Sebenarnya tadi Bu Sarah ambil yang ini. Tapi ternyata uang nya tidak cukup. He," jawab pelayan toko itu dengan tersenyum di akhir kalimat nya.
"Ya sudah, aku ambil yang ini saja. Pasti milik perempuan kampungan itu lebih kecil dari punya ku ini." gumam Laras.
"Segera tulis nota nya, mumpung aku belum berubah pikiran." perintah Laras.
"Baik Bu Laras dengan senang hati." jawab pelayan toko itu dengan tersenyum sumringah.
"Bonusan lagi." gumam pelayan toko itu dalam hati.
"Wan ..Awan..!!, sini!!!," Laras memanggil Awan yang masih duduk di bangku sedari tadi.
"Iya, Bu. Apa sudah selesai?," tanya Awan.
"Belum, Wan. Ini masih dihitung." jawab Laras.
"Lama amat sih, Bu?," tanya Awan dengan wajah badmood nya.
"Kamu sabar donk, sebentar lagi juga selesai. Sekarang mana yang nya?," Laras menengadahkan tangan kepada Awan.
"Uang?!," tanya Awan dengan wajah kebingungan. Karena ia tidak mengerti dengan maksud ucapan ibu nya.
"Iya, uang Awan!," tangan nya masih terus menengadah.
"Uang apa, Bu?," tanya Awan lagi dengan wajah masih tetap kebingungan.
"Ya uang untuk membayar gelang ini dong, Wan. Lah kamu kira uang apa?!," ucap Laras sambil tersenyum pada Awan.
"Uang untuk bayar gelang?, maksudnya apa Bu?, emang ibu beli gelang?!," tanya Awan lagi.
Iya Wan, ibu beli gelang ini." Laras mengambil gelang itu lalu menyodorkan nya pada Awan.
"Ibu gimana sih?, Awan belum ada uang!," bisik Awan di dekat telinga Laras. Karena Awan masih mau menjaga perasaan ibu nya di depan umum.
Kalau Awan berbicara dengan keras, pasti saat ini ibu nya menjadi tontonan para customer yang ada disini. Awan tidak mau kalau ibu nya malu di depan umum.
__ADS_1
"Kamu jangan bercanda, Awan." ucap Laras sambil tersenyum setelah mendengar bisikan dari Awan.
"Benar, Bu. Awan tidak bercanda." bisik Awan dengan wajah yang sangat serius sekali.
"Apa maksud mu sih, Wan. Kamu jangan bercanda seperti ini dong!," ucap Laras dengan suara lantang.
Seketika Laras menjadi pusat perhatian orang sekitar nya.
Rasa nya, percuma saja Awan berbisik-bisik kepadanya. Kalau kenyataan Laras berbicara dengan nada yang tinggi.
Maksud hati Awan ingin ibunya itu tidak malu. Namun ternyata Laras lah yang mempermalukan dirinya sendiri.
"Ibu bisa nggak sih bicara dengan suara pelan?!," bisik Awan dengan penuh penekanan.
"Malu kan di dengar banyak orang?!," ucap Awan dengan wajah yang seperti sedang menahan malu.
"Ya itu karena kamu mempermalukan ibu!!!!," jawab Laras dengan suara sekencang-kencangnya.
"Bu Laras, nota nya sudah selesai tinggal menunggu untuk pembayaran nya." ucap pelayan toko itu memberi tahu.
"Memang berapa total uang nya, mbak?," tanya Awan.
"Empat puluh tujuh juta lima ratus, bapak." jawab pelayan tokonya.
"Hah??!!, empat puluh tujuh juta lima ratus?!!," mata Awan melotot bulat sempurna mendengar nominal harga gelang yang akan di beli Laras.
"Ini gila, Bu?!. Ibu beli gelang emas dengan harga hampir lima puluh juta?!," gerutu Awan pada Laras.
"Ya nggak apa-apa lah, Wan. Ini namanya berhias sambil menabung." jawab Laras.
"Ini itu investasi, Wan!!! Kalau uang segitu buat beli makan, ya jelas habis seketika!!," lanjut Laras memberi penjelasan.
"Iya, Awan ngerti. Tapi kalau ibu membeli perhiasan itu dengan uang ibu sendiri, ya terserah ibu. Tap kalau Awan yang suruh bayar, maaf Bu, Awan tak ada uang sebanyak itu." ucap Awan sambil menangkupkan kedua telapak tangan nya.
"Kamu ini gimana sih, Wan. Katanya kamu sudah menguasai uang perusahaan istri mu?!, tapi kenapa kamu masih nggak punya uang?!," Ucap Laras dengan emosi.
"Apa kamu berniat ingin membohongi, ibu?!!," Bibir Laras tak berhenti nya mengomel pada Awan.
"Bagaimana ibu, bapak?, bisa di bayarkan sekarang?," tanya pelayan toko itu, yang sudah menunggu sangat lama. Karena saat ini toko dalam keadaan ramai, untuk bergantian melayani customer yang lain.
"Maaf, mbak. Pembelian perhiasan ini di gagalkan saja." ucap Awan sambil menangkupkan kedua telapak tangan nya.
"Awan!!!," mata Laras melotot pada Awan.
"Sudah, Bu. Lebih baik kita pulang dari sini." ucap Awan dengan sedikit menarik tangan Laras.
"Awan!!," teriak Laras.
Namun Awan tak menggubris nya, ia tetap berjalan keluar dari toko perhiasan itu.
Mau tak mau, Laras pun harus mengikutinya. Kalau Laras tidak mengikuti Awan, Ia akan membayar ongkos taksi online sendiri. Dan Laras sangat tidak mau mengeluarkan uang nya sendiri untuk hal itu.
"Awan, tunggu Awan!!," panggil Laras sambil berlari kecil untuk mengejar Awan.
Kini mereka berdua sudah masuk kedalam taksi yang sudah menunggu sedari tadi.
"Kamu ini tega sekali pada ku, Wan!!," ucap Laras dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kita kemana ini, Bu?," tanya sopir taksi.
"Kesalon jalan imam Bonjol, salon terbesar disitu." jawab Laras masih dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ibu tidak suka dengan cara mu ini, Wan!!, ini nama nya anak kurang ajar!!," seperti nya Laras masih belum puas ngomel pada Awan, sehingga sampai saat ini dalam sepanjang perjalanan, Laras tak ada hentinya mengomel.
"Gara-gara kamu, aku jadi kalah dengan Sarah, Wan!!," ucap Laras sambil menangis.
__ADS_1