
"Sayang, aku berangkat ya." pamit mas Bima.
"Putri ikut juga dengan ku, katanya ia mau kerumah ibu." lanjut mas Bima memberitahu ku.
Mungkin saja ini yang di bisikan Putri kepada mas Bimta tadi.
"Iya mas," jawabku sambil mencium punggung tangan mas Bima.
"Aku kerumah nenek, ma." pamit Putri sambil mencium punggung tangan ku.
"Hati-hati di jalan ya..." ucapku saat mas Bima sudah mengendarai mobil. Saat mobil sudah hilang dari pandangan, aku segera masuk kedalam.
Sepertinya hari ini aku tidak ke toko, ingin menemani Kean dirumah saja.
Saat langkah ini sudah sampai di tengah pintu, tiba-tiba ada yang menyapaku.
"Mbak Sarah nggak kerja?," seketika aku terkaget.
Dan aku edarkan pandangan ku untuk mencari datangnya sumber suara yang memanggil ku.
Ternyata suara itu suara pak Bram, suami mbak Ana. Dia sedang berdiri di samping pagar rumah yang memisahkan halaman rumah ku dan rumah nya.
"Oh...pak Bram. Bikin kaget saja." ucapku sambil tersenyum ramah.
"Kebetulan hari ini aku libur, pak." jawabku.
"Kemarin aku ke toko roti tempat mbak Sarah kerja loh, tapi sayang mbak Sarah nggak ada." pak Bram menatap ku dengan tatapan yang membuat ku risih.
"Oh ya pak?, mungkin saya lagi berada di belakang." Ucapku.
"Amma...Amma...," suara Kean memanggil ku dengan sangat keras, sehingga cukup jelas di dengar. Akhirnya aku bisa menghindari pak Bram yang tatapan nya membuat aku risih dan tidak nyaman.
"Permisi pak, saya masuk dulu. Anak saya memanggil." tanpa menunggu jawaban dari pak Bram aku segera membuka dan langsung menutup pintunya setelah aku masuk kedalam.
"Ada apa, sayang?," tanyaku pada Kean yang tengah menonton televisi.
"Kean rindu, uti. Amma bisa telepon uti?," tanya Kean.
"Bisa donk. Kita telepon sekarang yuk!," ajak ku. Lalu aku berdiri untuk mengambil handphone yang ada di atas meja rias ku.
Dan disamping handphone ku, ternyata ada handphone mas Bima.
"Wah handphone mas Bima ketinggalan." ucapku
dalam hati.
Lalu aku ambil handphone ku, karena tujuan ku ingin menelepon ibu dikampung. Selain Kean yang rindu, aku pun juga rindu.
Sebenarnya ingin sekali berkunjung ke rumah ibu di kampung. Namun waktu ku sangat terbatas, kesibukan lah yang menyita banyak waktu.
Seandainya ibu dan bapak mau tinggal di kota, aku akan sering-sering mendatangi nya.
Aku duduk disamping Kean yang sangat asyik menonton film favorit nya.
Tut....
Tut....
"Assalamualaikum, Sarah." panggilan telepon pun tersambung.
"Waalaikumsalam, Bu. Ibu dan bapak gimana kabarnya?," tanyaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah ibu baik, kalau bapak mu dua hari yang lalu ia sakit. Namun sekarang bapak sudah baikan Sarah." mendengar bapak sakit membuat hati ini tak karuan. Ingin sekali aku berangkat ke kampung saat ini juga.
"Bapak sakit apa, Bu? Sarah kesana sekarang ya?," tanyaku.
"Bapak hanya demam, Sarah. Kamu jangan khawatir, kalau kamu kesini jangan, Kasian Kamu dan Kean." ucap ibu dari sebrang telepon.
"Ibu, Sarah mohon. Ibu dan bapak mau ya, tinggal di kota?," aku mencoba membujuk ibu untuk mau pindah tinggal disini, agar aku bisa merawat ibu dan bapak.
"Kalau ibu tinggal di kota, ibu mau tinggal dimana, Sarah?, lagian kalau disana bapak mau kerja apa?," tanya ibu.
"Ibu jangan bingung dengan tempat tinggal, kan masih ada rumah Sarah yang kosong. Untuk pekerjaan bapak, ibu juga nggak usah bingung." jawab ku.
"Tapi kalau semuanya tergantung kamu, ibu dan bapak nggak enak, nak. Ibu nggak enak sama Bima, takut saja Bima nggak setuju." ibu selalu mencari alasan untuk diajak tinggal di kota.
"Ibu, mas Bima nggak akan marah. Lagian itu rumah, Sarah yang beli sebelum Sarah nikah dengan mas Bima. Dan mas Bima juga belum tahu tentang rumah itu." jelas ku.
"Dan untuk biaya hidup disini, kalau ibu memang nggak mau repoti Sarah. Ibu bisa kok sawah yang di kampung itu di sewakan atau suruh orang untuk mengelola nya. Nanti ibu dan bapak tinggal menerima hasilnya saja." ucapku memberi jalan keluar.
"Uti....," panggil Kean. Kean sangat antusias kalau menelpon neneknya di kampung. Handphone pun diambil alih oleh Kean. Dan sekarang Kean yang mencoba membujuk uti dan akung nya untuk tinggal di kota.
"Uty apa kabar? Kean kangen uty dan akung." ucap Kean.
"Kean juga baik uty. Uty ayo tinggal bersama Kean disini. Biar kalau Kean kangen, Kean nggak perlu jauh-jauh ke kampung." rayu Kean.
Semoga saja ibu dan bapak luluh hatinya dengan rayuan Kean.
"Iya uty, Kean tunggu jawaban uti dan akung." lalu Kean menutup teleponnya.
"Gimana kata uti, nak? apa uti dan akung mau tinggal disini?," tanyaku pada Kean. Karena saat Kean dan ibu berbicara lewat sambungan telepon, aku lupa menghidupkan loud speaker nya. Jadi aku tak mendengar nya.
"Kata uti, mau di bicarakan dulu sama akung. Nanti jadi tidaknya uti akan kasih kabar Kean lagi." jawab nya dengan mata nya konsentrasi nonton film kartun kesukaan nya.
"Ya semoga saja uti dan akung mau tinggal di kota." ucapku.
Lalu aku meninggalkan Kean yan sedang asyik menonton televisi. Aku masuk kamar untuk mengambil handphone mas Bima yang ketinggalan dikamar.
Jujur semenjak kita menikah aku tak pernah membuka handphone mas Bima.
"Apa salah nya sih, buka handphone suami sendiri?!," gumamku.
Aku ambil handphone itu yang tergeletak di atas meja riasku, lalu aku mencari posisi yang nyaman. Yaitu duduk diatas kasur bersandarkan bantal.
Ternyata handphone mas Bima tidak di kunci atau di beri sandi-sandi rahasia. Jadi dengan mudah aku membuka nya.
Pertama yang kulihat adalah aplikasi WhatsApp nya. Saat ku buka banyak chatingan dengan Putri.
Dan sekarang pun Putri juga mengirimkan pesan pada ayah nya. Namun pesan itu belum terbaca karena handphone mas Bima ketinggalan.
Tak ada pikiran apa-apa, aku hanya takut ada hal penting yang mau di sampaikan Putri pada ayahnya.
Ku buka pesan itu, dan betapa kagetnya aku. Ternyata putri mengirim foto nya bersama perempuan yang waktu itu bersama ibu mertua ke toko roti ku.
"Jadi dia adalah ibu nya Putri?," gumamku dalam hati.
Trus apa maksudnya Putri mengirim foto bersama ibu nya ke mas Bima?
Kini hati ku mulai tak enak, aku mencoba scroll ke bawah chatingan Putri dengan mas Bima.
Ternyata Putri sudah berkali-kali mengirim kan foto nya bersama ibu nya ke mas Bima. semua ini membuat hati ku tak tenang.
Dan berarti waktu mas Bima bilang kalau mobilnya dipinjam mbak Veni untuk mengantarkan ibu itu, berarti mas Bima bohong padaku.
__ADS_1
Berarti ia tahu kalau mobil itu dipakai oleh mantan istri mas Bima.
"Sabar Sarah, tenang kan hati mu. Jangan terpancing emosi. Karena emosi akan membuat otak mu tak bisa berfikir." Aku mesugesti diriku sendiri.
Aku terus membaca semua isi pesan Putri pada mas Bima.
"Ayah, pokok nya Putri mau dibeli handphone." pesan Putri pada mas Bima.
"Iya, put. Pasti ayah belikan tapi nggak sekarang. Uang ayah masih kurang," balas mas Bima.
"Ayah!! ingat ya!! Putri ini anak kandung ayah, tapi kenapa perlakuan ayah ke Putri seperti anak tiri!!!,"
"Putri hanya meminta handphone, alasan ayah tak punya uang. Sedangkan istri baru ayah minta rumah langsung ayah belikan!,"
"Iya Putri, nanti pasti ayah belikan. Uang ayah sudah ayah berikan pada mama Sarah."
"Tuh kan, lagi-lagi yang menjadi prioritas ayah adalah istri baru ayah. Putri aduin ayah ke nenek."
Kini aku sudah tau apa yang ada dipikiran Putri tentang ku.
Lalu aku lihat, ada chatting nya mas Bima dengan ibu.
"Kamu ini gimana sih, Bim? Anak minta handphone kamu kok nggak mau belikan. Tapi kalau istri mu minta rumah kamu langsung belikan. Kamu harus ingat, Putri itu anak kandung mu!!!,"
"Bukan aku nggak mau belikan, Bu. Tapi memang saat ini Bima nggak punya uang. Baru kemarin uang Bima aku masih Sarah, Bima nggak enak kalau mau ambil lagi dari Sarah."
"Pokoknya ibu nggak mau tau, Putri harus secepatnya kamu belikan handphone. Paling lambat besok!!,"
"Kamu mampu belikan istri mu perhiasan emas dengan harga yang fantastis, tapi kamu itung2an sama anak sendiri."
"Oh ya,,, kemarin kan kamu janji, kalau kamu mau belikan ibu gelang yang sama dengan milik istri mu. Sekarang mana gelangnya?, kamu jangan suka bohong pada orang tua. Nanti kamu kualat loh."
"Iya, Bu. Sabar... pasti Bima akan belikan. Ibu tunggu aja ya."
"Dan satu lagi, jatah ibu harus tetap utuh seperti dulu sebelum kamu menikahi perempuan kampungan itu!!,"
Handphone mas Bima segera ku tutup, aku tak mau semakin sakit hati membaca isi chat nya dengan ibu.
Kulihat jam didinding sudah pukul dua belas siang, aku berencana mengajak Kean jalan-jalan sekalian ke outlet cabang yang ada di mall.
Karena sudah lama aku tak pernah mengunjungi outlet cabang.
"Kean, ayo kita jalan-jalan?!," ajak ku.
"Kemana amma?," tanya Kean menatap mataku.
"Ke mall sekalian kita mengunjungi outlet cabang." jawabku.
"Waah... Kean mau main di Timezone." sorak Sorai Kean sangat bahagia.
"Kean bisa main sepuasnya di sana." jawabku.
"Kalau begitu, sekarang Kean ganti baju. Amma juga mau siap-siap." perintah ku pada Kean.
Dia langsung berlari ke kamar nya untuk mengganti pakaian nya. Aku pun juga melakukan hal yang sama.
Setelah taksi online yang ku pesan sudah datang, aku dan Kean juga sudah selesai ganti baju. Kami pun berangkat ke outlet cabang.
"Amma, kenapa mobil kita nggak pernah di pakai?, kenapa kita selalu naik taksi online?," tanya Kean dengan polosnya.
"Mobil amma masih di bengkel sayang, tapi amma minta Kean tidak boleh ngomong tentang mobil kita ke ayah Bima ya?!," ucapku.
__ADS_1
"iya amma." Kean menganggukkan kepalanya.