DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Keributan Lagi


__ADS_3

"Ini beneran, Sarah?!," tanya Sinta padaku sambil menunjuk layar handphone ku, dengan mata berkaca-kaca seperti tak percaya dengan apa yang ia baca.


Aku pun menjawab dengan anggukan kepala, yang artinya membenarkan apa yan ia baca.


"ah.... Selamat Sarah. Perjuangan mu tak sia-sia." ucap Sinta sambil berjalan mendekat dan segera memeluk. Sinta menangis terharu, dan itu membuat ku ikut menangis juga.


Dan kita berpelukan dengan tangisan haru. Sampai kita lupa waktu dan tempat.


Sehingga kelakuan kita berdua pun menjadi tontonan beberapa orang yang ada di ruangan ini. Termasuk dua orang yang sedang melayani kita berdua.


Saat kami sadar dengan itu, aku dan Sinta pun tersenyum malu melihat tatapan semua orang yang tertuju pada kami berdua.


Aku dan Sinta yang tengah salah tingkah pun langsung duduk kembali ke kursi treatment.


"Sarah... selamat ya. Sungguh aku sangat bahagia mendengar kabar itu." bisik Sinta dengan tersenyum bahagia padaku.


"Terimakasih ya, Sin. Ini semua juga tak luput dari dukungan orang-orang terdekat ku. Termasuk kamu." jawab ku.


"Semua itu karena memang kerja keras mu, Sarah." ucap Sinta.


Aku pun tersenyum sangat bahagia, saking bahagianya sampai masalah dengan mas Bima dan keluarga nya pun seketika hilang.


"Setelah ini, apa kita kembali ke tempat treatment wajah tadi?," tanya Sinta.


"Lain kali saja, Sin. Ini sudah sore." jawabku. Karena sudah seharian aku meninggalkan rumah dan tidak pergi ke toko.


"Baiklah kalau begitu," jawab Sinta dengan wajah yang terlihat sangat menikmati pijatan-pijatan halus di kulit kepala.


Kami berdua pun sama-sama terdiam sembari menikmati setiap pijatan lembut dari tangan-tangan terampil para pegawai salon Siska ini.


Sedari tadi, aku belum melihat keberadaan Siska di salon nya ini. Mungkin dia lagi visit ke salon cabang yang lain miliknya. Karena Siska mempunyai banyak cabang salon di luar kota.


Namun biasanya, kalau mbak Veni yang melakukan treatment perawatan. Pasti selalu meminta Siska untuk menemani nya.


Kini kami berdua sudah selesai melakukan perawatan rambut. Lalu aku dan Sinta berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran, tentunya setelah Khimar panjang ku sudah terpasang menutupi rambut dan tubuhku.


"Sar, kamu yang bayar dulu ya?, aku mau ke toilet dulu." ucap Sinta padaku sambil berlari ke lorong toilet yang ada di samping kasir.


"Iya, Sin." jawabku dengan singkat, lalu berjalan menuju kasir setelah Sinta berlari ke arah dalam toilet.


"Atas nama Sarah dan Sinta, berapa semua totalnya mbak?," tanyaku pada karyawan yang ada di bagian kasir ini.


"Sebentar, saya cek dulu ya bu." jawabnya dengan Rama.


"Total semua enam juta tujuh ratus tiga puluh lima ribu rupiah, Bu." ucap pegawai kasir nya.


"Oke, aku kasih cash aja ya, mbak." jawabku. Kebetulan sekali, sat ini Ku sedang membawa uang cash. Lalu ku sodorkan uang pecahan seratus ribuan sebanyak enam juta delapan ratus ribu rupiah.

__ADS_1


"Mungkin ibu mau sekalian menambah krim wajahnya?," tawar kasir ini padaku sambil mengambil uang yang ku sodorkan padanya.


"Oh kebetulan, krim wajah ku masih ada, mbak. Jadi tidak dulu." tolak ku secara halus, karena sebetulnya aku tak memakai krim milik Siska ini.


"Baiklah ibu, uangnya aku hitung dulu, ya." ucap kasir itu dengan senyuman yang ramah. Aku pun membalas nya juga dengan senyuman.


"Total uang yang saya terima enam juta delapan ratus ribu rupiah ya, Bu?. Jadi kembali enam puluh lima ribu rupiah." ucap pegawai kasir itu.


Aku menjawab hanya dengan anggukan kepala dan senyum tipis yang menghiasi bibir ini.


"Waaahh.... hebat ya!!!, seorang istri yang sudah di talak oleh suaminya dan sudah tidak di beri nafkah oleh suaminya. Bisa perawatan semahal ini." celetuk mbak Ambar dari belakang ku.


"Dapat darimana ya Ven uang sebanyak itu?," tanya mbak Ambar pada mbak Veni dengan nada curiga.


"Atau jangan-jangan selain jadi pelayan toko roti, dia juga menjadi l*nte." ucap mbak Ambar dengan sangat kejam.


"Jaga mulutmu, mbak!!!." ucap ku pada mbak Ambar sambil ku balikkan tubuhku menghadap mbak Ambar.


"Hey, kamu berani ya berucap kurang ajar seperti itu padaku?!, Kamu kira aku ini siapa?!, adik mu?!!," ucap mbak Ambar tak terima dengan apa yang aku katakan.


Kalau dia saja tak terima dengan ucapan ku yang hanya berkata seperti itu, lalu bagaimana dengan dia yang berucap seenak jidat nya dengan berkata kalau aku bekerja sebagai l*nte?. Dasar manusia yang egois!!


Sungguh aku sangat kesal dengan dua perempuan yang saat ini ada di depan ku. Kadang aku bingung, kenapa takdir selalu mempertemukan ku dengan mereka-mereka yang membuat kewarasan hati ku ini terganggu.


Kalau aku bisa meminta, aku ingin sekali mereka menjauh dari kehidupan ku. Tapi nyatanya, itu sangat mustahil sekali. Karena, tak hanya di dunia nyata. Mereka juga datang di dunia halu ku, yaitu di dunia novel online ku.


Mungkin memang ini sudah menjadi takdir ku, dengan selalu dipertemukan dengan mereka. Mungkin dengan ini, akan membuat hati dan jiwaku menjadi sekuat dan setegar karang.


"Apa kamu mendapatkan uang itu dari mas Awan?!," mbak Veni mencengkram erat lengan ku dan membuat ku nyengir kesakitan.


"Katakan!!," mata mbak Veni makin membulat menatap ku, di iringi dengan cengkeraman tangannya yang Semakin keras. Lalu ia menyeret ku ke samping kasir, karena di belakang kami masih banyak yang antri untuk bayar tagihan perawatan.


"Auw..." jeritku saat mbak Veni makin mencengkram lengan ku.


"Apa maksud dari ucapan mu, Ven?," tanya mbak Ambar pada ucapan mbak Veni.


"Asal mbak Ambar tau. Setelah di cerai oleh Bima, kini dia tengah merayu mas Awan." ucap mbak Veni pada mbak Ambar.


"Kamu yakin, Ven?," tanya mbak Ambar dengan tatapan tak percaya.


"Bagaimana aku tak yakin, mbak. Aku pernah memergoki mereka berdua di mobil nya." tunjuk mbak Veni padaku saat menyebut mobil nya.


"Maksud kamu mereka, Sarah dan Awan berduaan di dalam mobilnya?," tanya mbak Ambar yang ingin tau secara jelas dengan apa yang dikatakan oleh mbak Veni.


"Iya, mbak!!," jawab mbak Veni pada mbak Ambar dengan wajah yang sangat meyakinkan.


Padahal yang dilihat dan yang di ceritakan mbak Veni pada mbak Ambar sangat lah berbeda dengan yang terjadi sesungguhnya.

__ADS_1


Sungguh pintar sekali mulut mbak Veni bersilat lidah, seperti sudah biasa melakukan hal itu.


"Apa benar yang dikatakan oleh Veni, Sarah?!," tanya mbak Ambar padaku dengan wajah murka.


"Sungguh aku tak rela kalau kamu menjadi adik ipar ku lagi!!!, lebih baik kamu jauhi adik-adik ku!!. Kenapa harus adik ku yang selalu kamu poroti??!!," mbak Ambar benar-benar terlihat sangat marah padaku.


"Asal mbak Ambar tau!!!, aku tak pernah melakukan apa yang di tuduhkan mbak Veni padaku!!. Yang terjadi kemarin itu, tidak seperti yang di ceritakan mbak Veni tadi, mbak!!!," aku harus membela diri, karena memang aku tak melakukan apa yang di tuduhkan oleh mbak Veni padaku.


"Mana ada maling ngaku!!!," mbak Veni semakin emosi pada ku.


"Apa mbak Veni punya bukti dengan apa yang mbak Veni tuduhkan padaku itu?, Aku bisa melaporkan mbak Veni pada pihak yang berwajib dengan tuduhan pencemaran nama baik." ancam ku.


Secara bergantian aku memandang wajah mbak Ambar dan mbak Veni, saat aku berkata tentang pelaporan yang aku ancam kan pada mereka. Wajah mbak Ambar terlihat ketakutan. Namun sepertinya, ia mencoba menutupi perasaan takutnya itu.


"Berani sekali kamu menggertak ku!!!, kamu kira aku takut dengan ancaman mu itu?, hmmm..kamu salah besar!!," ucap mbak Veni dengan sombongnya.


"Baik lah kalau memang kamu tidak takut, mbak!!, aku akan lakukan itu pada kalian!!!." tunjuk ku pada mereka berdua yang saat ini ada di depan ku.


"Ada apa ini?," tanya Sinta yang baru keluar dari toilet. Entah ngapain saja dia di dalam, sehingga tak keluar-keluar dari tadi.


"Kamu siapa?! Kenapa kamu selalu bersama dia?!" tanya mbak Veni dengan memandang Sinta dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu menunjuk ku.


"Aku teman nya!!," jawab Sinta singkat dengan tatapan tajam pada mbak Veni.


"Oh,,, ternyata l*nte seperti dia juga punya teman ya?!," ucap mbak Veni dengan tatapan hina padaku.


"Jaga ya ucapan, mu?!!!, aku bisa melaporkan ini dengan kasus pencemaran nama baik." ancam Sinta.


"Ha ha ha... Ternyata temannya juga sama saja dengan dia. Sok Sok an mengancam ku, memang kalian belum tau siapa aku?," tanya mbak Veni.


"Siapapun kamu, anak jendral sekali pun aku tidak takut selama aku tak salah. Dan lagi, kenapa aku harus takut untuk melaporkan mu?!," ucap Sinta.


"Aku rasa kalian berdua ini sama halu nya, pasti kalian berdua ini dari kampung yang sama jadi otak kalian sudah sefrekuensi." jawab mbak Veni tidak jelas seperti orang yang salah tingkah.


"Ayo, mbak kita pulang!!, cuma habisin waktu aja debat dengan orang kampung seperti mereka." ucap mbak Veni pada mbak Ambar yang masih menyimak debat antara mbak Veni dengan Sinta.


Lalu mbak Veni memegang tangan mbak Ambar dan langsung mengajak nya keluar dari dalam salon ini.


Namun sampai di luar pintu salon, mereka berdua di hadang oleh satpam yang sedang bertugas berjaga.


Terlihat mereka bertiga sedang berdebat, entah apa yang sedang mereka debatkan. Karena aku tak mendengar nya. Hanya disini, aku melihat mbak Veni sedang berkacak pinggang dan terus mengomel pada satpam itu.


Lalu mereka berdua, kembali masuk kedalam salon dengan di ikuti oleh satpam di belakang nya.


Aku jadi penasaran, kenapa dengan mereka berdua. Apa mereka ketahuan mencuri?


"Astaghfirullah...." gumam ku sambil mengelus dada.

__ADS_1


"Kenapa lagi dia?," tunjuk Sinta pada mereka berdua yang sedang berjalan kesini dengan di ikuti satpam di belakang nya.


Aku hanya bisa mengangkat kedua pundak ku, yang berarti aku juga tidak tahu.


__ADS_2