
Bima pun segera menghidupkan kembali handphone nya, setelah ia menyambungkan kabel charger ke handphone.
Beberapa menit setelah kabel charger itu tersambung dan daya pun terisi, masuk beberapa pesan singkat di aplikasi WhatsApp nya.
Saat ia lihat, ternyata pesan singkat dari Ina karyawan toko nya.
Lalu satu persatu Bima membuka pesan itu dari awal. Bima membacanya dengan pelan.
"Alhamdulillah pak, toko kembali ramai. Dan untuk Minggu ini kita bisa membayar hutang pada pak Bara. Di dalam rekening sudah ada uang lima puluh juta."
Ini isi pesan pertama yang belum di buka oleh Bima, karena saat itu ia sudah berada di dalam tahanan.
"Pak, hari ini uang untuk membayar hutang pada pak Bara lima puluh juta diambil oleh ibu. Katanya uang itu untuk membebaskan bapak dari penjara. Dan mau tak mau, karena ibu terus memaksa, aku pun memberikan nya",
Lalu berselang beberapa hari, Ina mengirimkan pesan lagi. Ina mengirim pesan setelah Laras meminta uang yang ada di rekening itu. Dengan alasan untuk membebaskan Bima dari dalam tahanan.
Jantung Bima pun bergetar lebih cepat, darah seperti naik ke kepala, saat membaca pesan singkat dari Ina karyawan nya.
Bagaimana tidak, waktu itu Bima meminta Laras menjual semua perhiasan nya untuk membebaskan Bima dari penjara. Namun Laras menolak nya, dengan alasan perhiasan itu sudah menjadi hak miliknya. Jadi siapapun tak boleh memakainya, termasuk Bima yang sering membelikannya perhiasan itu.
Dan sekarang Bima mendengar kabar, kalau ternyata uang toko nya juga diambil oleh Laras dengan dalil di buat untuk jaminan Bima keluar dari kantor polisi.
Namun kenyataannya, Bima keluar karena Sarah. Bukan karena uang jaminan yang diambil Laras di toko nya.
"Ibu..." geram Bima dalam hatinya sangat marah.
__ADS_1
Bima melanjutkan membaca pesan berikut nya dari Ina.
"Pak, hari ini dapat pesan singkat dari kantor pak Bara. Mereka memberitahu kan kalau lusa sudah jatuh tempo pembayaran hutang bapak. Agar mereka bisa menyuplai lagi kebutuhan Toko ini pak."
Pesan ini dikirim lima hari sesudah Ina mengirimkan pesan memberitahu Bima, saat Laras membawa uang lima puluh juta itu.
"Maaf, pak. Ina tau kalau saat ini bapak tidak mungkin bisa membalas pesan ku. Tapi setidak nya Ina sudah memberitahu bapak tentang keadaan toko dari hari ke hari. Karena Ina takut, bapak menuduhku yang tidak-tidak."
Ina kembali mengirimkan pesan setelah ia memberitahu Bima kalau jatuh tempo pembayaran hutang pada perusahaan Bara sudah dekat.
"Pak, hari ini toko sudah di handle ibu Laras. Dan di meja kasir tak ada uang sama sekali. Sedangkan stok barang yang kita jual pun sudah menipis, bahkan tak sedikit pula yang habis."
Karyawan Bima memberitahu kan kalau keadaan toko saat ini sangat miris. Karena banyak sekali stok barang yang sudah habis. Namun tak bisa mengisi ulang karena sudah tak ada lagi uang hasil penjualan.
"Toko hari ini sangat sepi pengunjung, pak. Dan Bu Laras memarahiku, karena seharian ini tak mendapatkan uang sama sekali."
Walau Ina sendiri tau, kalau Bima tak akan pernah membalasnya. Karena Bima berasa di dalam sel tahanan.
Bima tak habis pikir, kalau ibu nya akan seperti itu pada bisnis yang sudah di rintis Bima. Bahkan dengan toko itu, Bima bisa membelikan apapun yang di minta Laras. Dari untuk makan setiap hari dan untuk membelikan semua perhiasan Laras tanpa terkecuali.
"Pak, hari ini sudah jatuh tempo pembayaran hutang ke kantor pak Bara. Namun di rekening toko, tak ada uang sama sekali pak. Dan di meja kasir pun sama, bersih tak ada uang."
Laporan dari Ina di baca oleh Bima, dan mau tak mau Bima harus menyelesaikan membaca semua pesan dari Ina. Agar ia tau kejadian setiap hari nya menurut versi Ina.
Nanti Bima tinggal menyamakan dengan pengakuan Laras juga. Dari situ Bima sudah pasti bisa membaca mana yang benar dan mana yang salah.
__ADS_1
"Suruhan kantor pak Bara datang ke toko pak, untuk menagih pembayaran yang harus di lunasi hari ini. Namun lelaki muda itu di usir oleh Bu Laras, pak. Akhirnya lelaki mudah itu pun terpaksa pergi, tanpa membawa uang sepeserpun dari toko ini."
"Pak, sertifikat kepemilikan toko ini telah diambil oleh pihak pak Bara. Penagih utang yang kemarin di usir ibu, kembali lagi dengan membawa tiga orang polisi ke toko ini, pak."
"Ibu marah-marah pada mereka, pak. Ibu tak mau memberikan sertifikat toko ini."
"Lalu dengan terpaksa, ibu memberikan surat-surat penting itu kepada mereka. Setelah ibu membaca isi perjanjian pak Bima dan pak Bara. Karena ibu takut dengan ancaman mereka, yang akan memasukan ibu ke kantor polisi. Kalau ibu tak memberikan jaminan yang sudah di sebut dalam surat perjanjiannya itu."
Bima pun kaget dengan isi pesan singkat dari Ina itu. Ia merasa tak pernah menyetujui perjanjian seperti itu.
Bima melanjutkan membaca pesan dari Ina, karena masih ada beberapa pesan yang dikirim Ina.
"Hari ini Bu Laras memarahi ku lagi, pak. Beliau mengancam aku akan di pecat, kalau toko sepi seperti ini setiap hari nya pak. Karena kata Bu Laras, toko sepi itu karena aku kurang becus melayani customer. Sehingga customer tak ada yang mau datang lagi untuk berbelanja di sini."
Dan lagi Ina juga mengirimkan pesan pada Bima, ia berpamitan dan meminta maaf pada Bima. Karena hari ini Ina benar-benar di pecat oleh Laras.
Bima yang membaca pesan terakhir itu pun sangat marah dengan tingkah laku ibunya yang seenaknya itu.
Bima pun bergegas pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia berencana akan pergi ke toko kelontong nya, yang saat ini terancam bangkrut itu akibat kelakuan ibu nya.
"Bim, ini kopinya." Ambar menawarkan secangkir kopi panas dengan kepulan asap yang beraroma sangat wangi dari kopi itu sendiri.
"Taruh saja dimeja, mbak. Bima mau mandi dulu." jawab Bima, walau tak di pungkiri kalau saat ini dia ingin sekali mencecap kenikmatan kopi itu. Namun Bima tak bisa bersantai untuk menikmati nya. Karena ada hal yang lebih penting dari itu, dari sekedar menikmati secangkir kopi yang sudah lama ia tak menikmati nya itu.
Ambar pun meletakkan cangkir yang berisi kopi itu di atas meja depan televisi.
__ADS_1
Ambar membiarkan Bima untuk membersihkan tubuhnya, karena semenjak ada di tahanan tubuh Bima seperti tak terawat. Sangat Kumal dan terlihat lusuh.
Ambar pun kembali ke dapur, untuk menyiapkan makanan Bima.