
Sampai di satu resto yang menjual makanan berupa ayam yang dibalut tepung krispi. Kean sangat lahap sekali saat memakan nya.
Selain Ia sangat lapar, makanan ini juga termasuk makanan favorit anakku.
"Sar, sebenarnya tadi aku ketemu Lidya bersama om-om. Sepertinya sih dia om om hidung belang." ucapnya, akhirnya Sinta menceritakan hal yang tadi tertunda untuk di ceritakan.
"Oh ya?, mungkin saja dia saudara jauh nya, Sint." ucapku.
"Masa iya, saudara kok mesra seperti itu?!," gerutu Sinta. Aku tersenyum melihat bibir nya yang monyong-monyong kedepan.
"Iya kita kan nggak boleh berburuk sangka." ucapku dengan enteng. Aku sendiri sudah tau dengan apa yang di ceritakan Sinta.
Lalu kita menikmati makanan bersama tanpa membicarakan siapa pun.
Setelah makanan telah habis, kita pun segera pulang. Tak terasa hari sudah malam, dan Kean sudah tertidur pulas. Mungkin karena ia sudah kecapean, seharian bermain di mall.
Sesampainya dirumah, toko sudah tutup dan semua karyawan juga sudah pulang.
Malam ini aku dirumah hanya berdua dengan Kean. Dan entah kenapa mata ini sulit untuk dipejamkan.
Aku mulai mengetik novel, begini lah rutinitas ku setiap malam. Setelah up beberapa bab, aku langsung menutup laptop dan merebahkan tubuhku disamping Kean yang sudah terlelap.
...****************...
Siang ini aku tak ada rencana kemana-mana. Jadi aku berencana menghabiskan waktu bermain bersama Kean dirumah.
Setelah menyelamatkan membuat kue-kue yang di taruh di dalam etalase. Aku segera menyusul Kean yang sedang bermain sendiri di depan televisi, kebetulan hari ini pengasuh Kean ijin untuk tidak masuk karena tak enak badan.
"Kean lagi main apa?," tanyaku.
"Ean ain pecawat, amma. heeng...," jawab Kean sambil menjalankan pesawat nya diangkat keatas.
Celoteh Kean sungguh lucu sekali, setiap mendengar celotehan nya, hati ini terasa bahagia seperti tak ada beban pada diri ini.
"Ean mau es krim, amma." ucap Kean.
"Kean mau es krim?, abis ini kita beli ya, tapi main nya di tata lagi ditempat nya ya sayang?." ucapku. Sengaja aku mengajarkan Kean tentang kedisiplinan. Agar nanti kalau dia sudah dewasa akan terbiasa dengan hal itu.
Setelah ia melakukan sesuai dengan perintahku, aku dan Kean berjalan keluar menuju swalayan yang ada di depan ruko.
Aku menuntun tangan Kean, ku genggam dengan halus jari-jari mungil tangan Kean.
"Temani mama ya nak, selalu jadi penguat mama." ucapku dalam hati.
Kean sangat terlihat bahagia, saat berjalan bersamaku menunju swalayan di depan ruko.
__ADS_1
"Ean mau es krim lasa total dan setlobeli, amma." celoteh lucu Kean membuat aku tersenyum.
Setelah sampai di swalayan, Kean langsung mengambil dua es krim sesuai permintaan nya tadi. Aku Sekalian membeli beberapa untuk di bagikan pada karyawan-karyawan ku.
Aku kembali dengan membawa satu kresek ukuran sedang yang berisi beberapa bungkus es krim dengan macam-macam rasa.
Saat aku mau nyebrang jalan dan saat ini aku sedang menunggu kendaraan yang melintas. Aku melihat ada taksi yang berhenti pas tepat didepan ruko.
Ternyata dari dalam taksi, keluar seorang wanita yang sedang hamil besar. Dengan memakai daster batik yang sedikit ada robek di bagian bahu nya.
"Bukan kah itu?...," gumam ku lirih.
Ya aku sangat mengenal sekali postur tubuh perempuan hamil tua itu, dari jarak agak jauh dan dari belakang pun aku sudah bisa menebak nya.
"Mau apa lagi dia datang kesini?," dengusku. Karena aku sangat malas sekali untuk menemui nya.
Semoga saja ia datang bukan untuk menemui aku, aku menahan langkah kaki ku untuk tak segera kembali ke ruko.
Aku ingin melihat apa yang akan di lakukan Bianca di ruko ku.
"Amma,,,, ayo kita pulang." rengek Kean, mungkin ia kepanasan. Karena cuaca siang ini begitu terik.
"Ean mau makan es krim di rumah, amma." rengeknya lagi sambil menarik-narik Khimar ku.
"Sabar ya nak, bentar lagi kita pulang." bujuk ku.
Aku pun tak bisa terlalu memaksa kehendak ku. Mungkin ia tak nyaman berada diluar rumah yang panas seperti ini.
Dengan terpaksa akhirnya ku melangkah ke arah ruko, yang berada tak jauh dari hadapan ku sekarang.
Dan Bianca terlihat berdiri didepan etalase sedang bicara dengan Reni. Sungguh miris aku melihat Bianca saat ini, tak ada lagi kemewahan yang menempel di tubuhnya.
Sekarang penampilan nya lebih mirip dengan gemb*l, dengan rambut yang hanya di ikat acak-acakan.
"Akhirnya kamu datang, Sarah." ucapnya dengan tatapan lega padaku.
"Mau apa lagi kamu?," ucapku tanpa basa-basi. Karena aku sudah tak ingin berurusan lagi dengan nya dan komplotannya.
"Sar, aku ingin berbicara dengan mu. Secara empat mata." mohonnya dengan penuh harap.
"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Bi!!!, aku sudah tak ada hubungan nya dengan kalian. Jadi jangan bawa-bawa aku masuk kedalam rumah tangga kalian!," ucapku dengan tegas.
"Tapi, aku sangat butuh bantuan mu. Aku tau kamu juga masih sakit hati kan kepada Damar dan keluarga nya?," tanyanya lagi.
"Mungkin bukan hanya pada mas Damar dan keluarga nya, padamu aku juga sakit hati!!," lalu aku meninggalkan Bianca yang berdiri di depan etalase. Aku segera masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Sar, Sarah....tunggu. Aku mengajak mu bersatu untuk membalas dendam sakit hati kita sebagai perempuan." ucap Bianca berusaha untuk menarik lengan ku agar aku tak meninggalkan dia.
"Sar... kumohon tolong aku. Aku sekarang sudah diusir dari rumah itu tanpa membawa apapun." ia berbicara sambil menangis. Ada rasa tidak tega dalam hati ku, tapi disisi lain ada rasa bahagia karena ia merasakan apa yang telah aku rasakan dulu.
Aku tetap berjalan masuk dan tak memperdulikan Bianca yang sedang memohon-mohon padaku.
Aku taruh Kean di depan televisi dan menemani nya duduk sambil makan es krim. Aku mencoba untuk santai tidak memikirkan yang terjadi di depan saat ini.
Sekitar satu jam kemudian, Reni mendatangi ku.
"Ibu, ibu yakin tidak mau menemui Bu Bianca di depan? Ia masih berada di tempat yang sama loh Bu." ucap Reni memberitahu ku.
"Apa?! jadi ia masih ada disini?, bukan nya dia sudah pergi?," tanyaku, dengan sedikit terkejut. Aku kira ia sudah pergi meninggalkan ruko.
Aku pun menidurkan Kean diatas kasur, setelah itu aku beranjak untuk menemui Bianca didepan.
"Kamu masih stay di sini, Bi?," tanyaku.
"Aku akan tetap berada disini sebelum aku berbicara dengan mu, Sarah." jawab Bianca dengan mata berkaca-kaca.
"Apalagi yang harus dibicarakan?, bukan semuanya sudah aku jelas dari awal?!," ucap ku.
"Aku mau minta tolong padamu, Sarah. Kumohon,,,, aku disini sudah tak punya siapa-siapa. Hanya kamu harapan ku." ia berkata dengan air mata yang mengalir.
Sebenarnya hati ini sungguh tak tega melihat kondisi Bianca yang mengenaskan seperti ini. Dengan keadaan hamil besar ia diusir dari rumah, padahal tinggal menunggu hari ia akan melahirkan. Sungguh tega sekali mas damar dan keluarga nya.
Aku meninggalkan Bianca dan masuk kedalam kamar. Beberapa menit kemudian aku menemui Bianca lagi yang ternyata masih tetap berdiri ditempat semula.
"Ini...," ku sodorkan kantong belanjaan.
"Apa ini, Sar?," tanya Bianca sambil mengambil kantong yang aku sodorkan.
"Itu beberapa baju, bisa kamu buat ganti. Nggak mungkin kan seharian kamu nggak ganti baju?!," ucapku. Aku memberikan baju yang memang jarang sekali aku pakai. Karena aku hanya sering memak
"Tapi aku....," ucap Bianca tak di teruskan.
"Sudah kamu terima itu. Dan ini ada sedikit uang untuk kamu. Kalau bisa uang itu untuk modal usahamu agar kamu bisa bertahan hidup dengan bayi mu kelak." ucapku dengan menyodorkan amplop berwarna putih yang berisikan uang.
Bianca pun tak segan mengambil nya, mungkin karena ia memang benar-benar sangat membutuhkan.
"Sekarang kamu silahkan pergi dari sini, dan aku mohon jangan pernah lagi kamu temui aku." aku sengaja mengusir Bianca, karena setiap melihat dia masih ada rasa sakit dalam hati ini.
"Terimakasih Sarah!! Suatu saat nanti aku akan datang untuk mengembalikan uang ini." ucap Bianca sambil mengangkat amplop yang ku beri tadi.
"Tak perlu Bianca, kamu tak perlu datang lagi untuk menemui ku." ucapku dengan sangat tegas.
__ADS_1
Dan akhirnya Bianca meninggalkan ruko, setelah taksi online yang ia pesan sudah datang.