DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Pamer Gelang Baru Pov Ibu nya Bima


__ADS_3

"Ibu pengen bolu coklat SKcake," ucapku pada veni yang sedang fokus menyetir mobilnya.


Lalu veni memandangku tanpa menjawab sepatah kata pun. Setelah memandang ku, lalu tatapan nya kembali pada jalan yang ada di depannya.


"Ya sudah Bu, kita ke sana aja sekarang." jawab Veni sambil melihat ke arahku.


Rasanya hati ini sangat tidak sabar ingin segera sampai di toko kue itu.


Setelah sampai di depan toko kue Veni memarkir mobilnya dan kami pun berjalan bersama masuk ke dalam toko itu.


Dari luar toko sudah kelihatan ada Sarah di dalam toko. Ia terlihat sedang duduk di meja kasir.


"Ibu?," sapa Sarah seperti terkejut melihat ku.


Akhirnya aku bertemu Sarah di sini, setelah beberapa kali aku kesini tak pernah bertemu dengan nya.


Aku sengaja tak menjawab sapaan Sarah padaku. Karena aku malu jika orang lain mengetahui bahwa Sarah itu menantuku. Masa iya menantuku seorang pelayan toko roti. Ih nggak banget deh bisa-bisa menurunkan citraku sebagai mertua idaman.


Lalu ia berdiri mengikuti ku dan Veni yang sedang memilih milih roti.


"Mau yang mana Bu, mbak?," tanya Sarah dengan suara yang lembut dan sopan.


Namun aku tak menjawabnya hanya memandang sinis pada Sarah.


"Aku mau ini." ucapku setelah beberapa menit memilih milih kue yang ada di dalam etalase.


Dan dengan sengaja aku menyingkap lengan baju ku yang menutupi pergelangan tangan, saat Sarah melihat jari ku menunjuk kue yang ada di etalase. Aku yakin pasti Sarah melihat gelang emas yang baru aku beli bersama Veni dan Siska.


"Yang mana lagi, Bu?," tanyanya lagi. Sepertinya Sarah tak merespon keberadaan gelang emas ku, karena wajah Sarah terlihat biasa-biasa saja.


Setelah memilih beberapa potong kue dan bolu, aku di arahkan ke kasir pada Sarah.


"Diambil di kasir ya, Bu?," ucap Sarah sambil tersenyum.


Aku pun berjalan ke meja kasir, di sana ada perempuan lebih muda dari Sarah.


Sedangkan Veni terlihat sangat emosi saat menatap Sarah. Pasti Veni masih marah dengan kejadian malam itu. Saat ia memergoki Sarah sedang merayu Awan.


Emang dasar Sarah itu perempuan gat@l, baju nya saja yang tertutup. Iya mungkin baju itu untuk menutupi kedoknya, yang menjadi perempuan penggoda suami orang.


"Berapa total semuanya?," tanya ku basa-basi, berharap Sarah melarang ku untuk membayar nya. Namun saat aku sedang ada di meja kasir dan bertanya total tagihan nya, Sarah pergi kedalam ruko.


"Sepertinya perempuan itu sengaja menghindari ku", gumamku dalam hati.


"Kurang ajar kamu, Sarah!!," gerutuku.


"Siapa yang kurang ajar, Bu?," tanya kasir yang sedang melayani pembayaran ku ini.


"Kamu ini mau tau saja!," jawab ku ketus, karena sebal sekali ada orang kok ikut campur saja.


"Maaf, Bu. Kenapa aku ikut campur, karena ibu mengucapkan nya di depan ku, aku mendengar nya dan disini hanya ada aku dan ibu." ucap pelayan yang menjadi kasir ini.


"Kamu jangan ke GR-an gitu donk. Ya kali kalau itu tertuju pada mu. Kalau bukan kan kamu bisa malu." ucapku tak mau kalah.


"Dasar orang tua yang aneh." gerutu pelayan toko yang saat ini ada didepan ku.


"Kamu menghina ku?!," tanyaku dengan mata melotot dan berkacak pinggang.


"Ih, kenapa ibu ke GR-an gitu?," kurang ajar si kasir ini, dia membalas ku.


"Total semua dua ratus lima puluh ribu rupiah." ucap kasir itu memberi tahu jumlah uang yang harus aku bayar.

__ADS_1


"Ven, bayar ini!," aku memanggil Veni agar membayar nya, aku tak mau membayar dengan uang ku.


"Ibu?!, kok Veni yang bayar?!," sepertinya Veni kaget saat aku memanggil nya. Ia berkata sambil menautkan kedua alisnya.


"Trus kalau bukan kamu, siapa lagi?!. Sarah?! Mana dia mampu untuk membayar." celetuk ku.


Dengan berat hati, Veni pun membayar kue-kue itu. Saat melihat isi dompet nya, hanya ada satu lembar pecahan lima puluh ribuan.


"Kamu nggak punya uang, Ven?," tanyaku.


"Tinggal ini, Bu!," ia menunjukkan selembar uang itu.


"Kamu jangan malu-maluin Awan, Ven. Jangan seakan-akan Awan tak memberi mu uang." ucapku kesal pada Veni. Sepertinya ia sengaja menyembunyikan uang nya, agar aku tak meminta nya untuk bayar semua ini.


"Memang aku tak ada uang, Bu!," jawabnya.


"Terus yang bayar ini siapa?!," tanyaku pada Veni.


"Ya ibu lah!, bukankah yang beli kue-kue itu adalah ibu?," Aku rasa sekarang Veni berubah, dia lebih berani membantah ku. Padahal dulu ia selalu menuruti semua permintaan ku.


"Ini gimana?, di bayar atau tidak?. Kalau di rasa tidak punya uang untuk membayar, memilih jangan banyak-banyak. Ambil sekiranya uang nya cukup." kali ini petugas kasir ikut angkat bicara.


"Kalau nggak mampu bayar, kue-kue ini akan aku kembalikan." ancam pelayan itu.


"Kamu jangan menghina ku, ya. Kamu kira aku ini orang miskin?!," jujur aku sangat malu saat kasir berkata seperti itu. Ini semua gara-gara Veni.


"Ini!!," dua lembar pecahan seratus ribuan aku taruh di atas meja kasir dengan sangat keras sehingga menimbulkan suara.


"Kurang lima puluh ribu." ucap kasir itu dengan wajah datar.


"Mana uang mu itu, Ven!!." ucapku sambil menengadahkan tangan ku pada Veni.


Dan dengan sangat berat hati Veni memberikan selembar uang yang tersisa di dalam dompet nya.


Kini aku berjalan menuju mobil mendahului Veni. Veni berjalan di belakang ku seperti orang yang tak punya semangat hidup.


"Bu, sekalian kita jemput Kay. Karena tadi aku dapat pesan dari gurunya, kalau sekarang Kay sudah keluar kelas untuk pulang," ucapku.


"Duh, lama donk sampai rumah nya?, ibu sudah capek nih." jawab ku.


"Sebentar saja kok Bu. Kasian Kay tidak ada yang jemput." ucap Veni sambil mengendarai mobil ke arah sekolah Kay .


Walau aku tak pernah mengantar kan Kay sekolah, tapi aku tahu jalan menuju sekolahan nya Kay.


Dan sekarang Veni menuju sekolah nya Kay, mau tak mau aku harus mau ikut dengan nya. Karena tak mungkin aku pulang sendirian.


"Mami.... !!," teriak Kay yang berlari ke ara Veni dan langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Veni.


"Sayang....," Veni menyambut tubuh kecil Kay sambil melihat ku.


"Tumben nenek ikut, mi?," tanya Kay pada Veni, sambil melihat kearah ku.


"Salim dong sama nenek, Kay." Veni memerintah anak nya untuk salaman dengan ku.


Lalu ia langsung berjalan menuju padaku. Dan mengulurkan tangannya, aku pun menyambut tangan Kay. Lalu ia mencium punggung tangan ku.


"Nenek..," sapa Kay pada ku.


"Hmmm...," aku menjawab dengan tak menatap nya.


"Ayo, Ven!! Aku sudah sangat capek." ucapku pada Veni.

__ADS_1


Setelah sampai didepan rumah aku turun dan segera masuk. Sengaja aku tak basa-basi menawarkan Veni dan Kay untuk turun dan mampir ke rumah.


Karena aku sangat capek dan mau beristirahat, aku tak mau diganggu dengan keributan Kay nanti.


"Ambar...Ambar...," aku memanggil Ambar, karena dari tadi pagi aku belum bertemu dia sama sekali.


Saat Ambar berpamitan keluar, aku masih terbaring di tempat tidur ku.


"Iya, Bu." jawabnya dari dalam kamar nya.


"Ibu dari mana?," tanya Ambar keluar dari kamar nya.


"Dari keluar sama Veni. Kamu tadi kemana, Mbar?," tanyaku sambil menaruh tas yang terbuat dari kertas sebagai tempat kue yang aku beli tadi di SKcake.


"Tadi aku dari pulang, Bu. Ingin melihat mas Teguh. Takut dia pulang, trus aku tak ada dirumah." jawab Ambar sambil membuka tas yang berisikan kue-kue yang aku beli tadi.


"Trus gimana, apa Teguh pulang?," tanyaku pada Ambar.


"Ibu membeli ini?," tanya Ambar sambil mengangkat kue itu dan ditunjukkan padaku. Sepertinya dia sengaja mengalihkan pembicaraan nya.


"Iya, Mbar. Memang kenapa?," tanya ku dengan alis bertaut karena penasaran.


"Berarti tadi ibu ketemu Sarah dong?," tanyanya lagi.


"Iya, tadi Sarah yang melayani ku. Tapi sengaja aku pura-pura tak kenal. Malu dong aku kalau sampai orang-orang yang datang tau kalau dia menantu." ucapku dengan bergidik geli membayangkan hal yang aku takutkan itu terjadi.


"Teguh apa sudah pulang, Mbar?," tanya ku lagi. Karena seperti ada yang ditutup-tutupi oleh Ambar.


"Belum Bu. Mungkin mas teguh lusa datang nya." jawab Ambar. Seperti nya ia sengaja tak berkontak mata dengan ku.


Semakin membuat aku sangat yakin, kalau ia sedang menutupi sesuatu dariku.


"Kamu baik-baik saja kan, Mbar?," tanyaku.


"Ambar baik-baik saja, Bu." jawab nya kali ini Ambar menatap mataku. Seperti ingin meyakinkan aku, bah dia memang baik baik saja. Tapi naluri seorang ibu tidak bisa di bohongi.


"Ya sudah, kalau memang kamu baik-baik saja. Pikiran ku jadi tenang." ucap ku.


Lalu kami berdua menikmati kue-kue yang telah aku beli di SKcake.


Ambar sangat menikmati kue-kue itu, begitu juga dengan ku.


Memang semua jenis kue dan bolu dari toko roti ini rasa nya tak pernah gagal.


"Nenek... Nenek....," terdengar suara Putri memanggil ku.


"Seperti nya Putri datang, bu." ucap Ambar sambil ia berdiri dari duduk nya dan berjalan keluar menuju ruang tamu di mana sumber suara Putri terdengar. Aku pun mengikuti Ambar dari belakang.


"Kamu sudah pulang, put?, pulang sama siapa? " tanya Ambar saat Putri bersalaman dan mencium punggung tangan Ambar.


"Iya, bude. Putri pulang diantar bunda." jawab Putri sambil menoleh ke arah pintu. Dan ternyata bundanya Putri sudah diambang pintu.


Reta datang dengan membawa satu kantong kresek buah-buahan segar.


Reta memberikan kantung kresek itu setelah ia mencium punggung tanganku.


"Apa ini, Ret?," tanya ku basa-basi, saat kantong kresek itu sudah di tangan ku.


"Oleh-oleh buat ibu, bukan kah ibu sangat suka dengan buah apel?," ucap Reta bundanya Putri.


"Kamu masih ingat aja dengan buah kesukaan, Reta?," tanya ku.

__ADS_1


"Ya ingat lah, bu. Kan kita lama hidup bersama." jawab Reta sambil tersenyum pada ku.


__ADS_2