
"Aku lapar, Ven." ucap ibu mertua ku, setelah kita bertiga keluar dari toko perhiasan emas.
"Kita makan dirumah aja bu." jawab ku sekena nya.
"Aku mau makan masakan Padang, Ven. Lagian tadi aku nggak masak dirumah." jawab ibu terlalu banyak mau nya.
"Ya sudah Ven, kita ke rumah makan Padang saja." ucap Siska. Siska sangat bertingkah sangat baik pada ibu saat ini.
"Baik lah, bu." jawab ku dengan wajah datar, setelah mendengar ucapan Siska.
Mobil melaju ke rumah makan Padang yang di maksud oleh Siska.
Setelah mobil terparkir, ibu dan Siska segera turun dan masuk kedalam rumah makan. Mereka berdua berjalan beriringan, sudah seperti menantu dan mertua saja.
Sedangkan aku masih di dalam mobil, rasanya malas sekali ikut dengan mereka berdua masuk kedalam rumah makan itu.
"Halo mas!!," ucapku saat panggilan telepon ku sudah tersambung dengan telepon mas Awan.
"Ada apa, Ven?," tanya mas Awan dari seberang.
"Mas, kirim aku uang. Ibu mu semakin menjadi-jadi. Tadi dia meminta ku untuk membayar separuh harga gelang yang ia beli. Dan sekarang dia minta makan di rumah makan Padang." Keluhku pada mas Awan lewat sambungan telepon.
"Kamu ini kenapa yang di bahas uang, uang, dan uang terus sih?!, kamu kan bisa bilang sama ibu kalau kamu nggak punya uang. Kalau pun ibu menyuruh mu menutupi kekurangan uang nya untuk membeli gelang, aku yakin paling cuma seratus sampai dua ratus ribu. Nggak akan sampai jutaan rupiah." ucap mas Awan dengan lancarnya dari balik panggilan telepon ku.
" Asal kamu tau mas, bukan seratus sampai dua ratus ribu untuk menutup kekurangan gelang ibu!!! Tapi sekitar enam juta rupiah!!!," kelasku dari balik sambungan telepon.
"Dan sekarang ibu mu,meminta makan siang di rumah makan Padang. Apa itu nama nya dia nggak nglunjak mas?!," geram ku.
"Kamu ini sama mertua sendiri perhitungan banget, sih?!. Itu ibu ku dan berarti itu ibu kamu juga, sudah menjadi kewajiban mu untuk menghormati dan memberi mencukupi beliau. Jadi jangan mengeluh saja!!! Ingat Ven, ridho nya adalah ridho ku!!," ucap mas Awan terdengar suara nya agak lantang dari sambungan telepon.
"Masalah nya kamu tak memberikan ku uang. Jadi dapat darimana aku uang untuk menutupi kekurangan uang ibu untuk membeli gelang, mas?!," aku pun tak mau kalah. Suara ku juga lebih tinggi diatas nya.
"Ibu kamu itu nyusahin, mas!!!!," geram ku. Lalu sambungan telepon ku tutup secara sepihak. Tanpa mengucapkan salam dan berpamitan pada mas Awan.
"Awas aja kamu minta aku untuk bayar makan tagihan makan mu hari ini, Bu!!," geram ku dengan tatapan mata yang penuh emosi.
Aku segera turun dari mobil, dan menyusul mereka yang sudah duduk manis di sebuah meja yang tak jauh dari pintu masuk rumah makan ini.
"Darimana saja kamu, Ven?," tanya Siska.
"Dari luar." jawabku sekenanya.
"Iya aku tau, kalau kamu dari luar. Kenapa kamu lama masuknya kesini?," tanya Siska lagi.
"Tadi masih terima telepon dulu, Sis." jawabku.
"Kamu itu dari dulu memang lelet, Ven!!, harus nya kamu contoh teman mu yang cantik ini. Sebagai perempuan dia itu cekatan banget." ucap ibu nya mas Awan. Sepertinya ia sengaja mempermalukan aku di depan Siska.
__ADS_1
Dan Siska pun terlihat tersenyum-senyum padaku saat ia dia di bangga-banggakan oleh ibu mas Awan yang tak lain ibu mertua ku sendiri.
Akhirnya pesanan kami pun datang, Tiga porsi nasi putih dan berbagai menu masakan nasi Padang terhidang di meja yang tak begitu besar. Tapi cukup untuk lima belas piring lauk yang dihidangkan.
"Waah.... Sungguh menggugah selera, Sis." ucap ibu sambil mata nya memandang bergantian satu persatu piring yang berisi macam-macam lauk khas nasi Padang.
"Ibu makan yang banyak, ya?! Ibu pilih saja lauk mana yang ibu suka." ucap Siska.
Sepertinya Siska memang sedang mencari muka pada ibu nya mas Awan. Entah apa alasannya, kok dia sangat baik pada ibu. Padahal tadi ia juga tau kalau sifat dan sikap ibu buruk seperti itu.
Kami bertiga pun makan bersama. Sebenarnya aku tak nafsu untuk makan. Karena takut nanti aku bayar pakai apa. Sedangkan uang di dompet sisa enam puluh lima ribu rupiah.
Hati ini gusar, tidak ingin kejadian di salon Siska terulang kembali.
Saat tangan ini mencoba memasukkan sendok yang berisi nasi ke dalam mulut, mata ini melirik pada Siska. Ia sedang bermain handphone nya, dan tak lama kemudian, handphone ku berbunyi. Ada notifikasi pesan WhatsApp masuk.
Ku lanjutkan untuk memasukkan sendok yang berisi nasi itu kedalam mulut, lalu aku mengambil handphone yang ada di dalam tas ku.
"Tenang kan lah pikiran mu, Ven. Makan yang banyak, biar tagihan makanan nya aku yang bayar." ternyata itu pesan dari Siska.
Aku alihkan pandangan ku pada Siska, yang saat ini juga sedang menatap ku.
Lalu ia menganggukkan kepalanya, seperti menyakinkan aku dengan isi pesan yang ia kirim.
Akhirnya aku makan semua menu yang ada di meja dengan hati dan pikiran yang tenang, setelah menerima dan membaca pesan dari Siska.
"Kamu makan kayak orang kesurupan aja, Ven!," ucap ibu dengan nada seperti menghinaku, sambil mulutnya mengunyah penuh dengan makanan.
"Apa kamu nggak malu pada Siska. Lihat Siska kalau makan sangat elegan. Nggak seperti kamu, kayak orang kelaparan yang tidak pernah makan selama seminggu saja." lanjut nya dengan tatapan sinis padaku.
Aku bingung dengan ucapan ibu. Dia ini menasehati ku apa mempermalukan aku sih?
Namun aku tak mempedulikan omongan nya, toh yang dilakukan ibu juga sama kok dengan ku. Ia makan dengan porsi yang yang sangat banyak.
Setelah selesai makan, Siska pun berdiri dan berjalan ke arah kasir untuk membayar makanan yang sudah kami makan.
Lalu ibu juga ikut berdiri dan berjalan mengikuti Siska. Perlakuan ibu pada Siska sangat baik. Sungguh berbanding terbalik dengan perlakuan nya padaku.
Aku segera berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah makan ini, sengaja aku tak ikut ke kasir untuk melihat Siska yang sedang membayar nya.
Aku lebih memilih menunggu mereka di dalam mobil saja. Karena jujur telinga ku tidak kuat mendengar omongan ibu nya mas Awan yang sangat pedas dan panas di dengar ditelinga.
"Kamu sudah disini aja, Ven?, Kenapa kamu nggak nunggu kami di dalam?, takut disuruh bayarkan?!," ucap ibu seperti menghinaku.
Aku tak menjawab nya, karena menurut ku ucapan ibu tak perlu di dijawab dan direspon. Karena hanya bisa membuat hati ku semakin sakit.
Aku mencoba melirik kearah Siska, terlihat dia sedang tersenyum saat mendengar ucapan ibu tadi.
__ADS_1
"Kamu diantar kerumah atau ke salon, Sis?," tanyaku setelah mesin mobil ku hidupkan.
"Kamu main kerumah ibu aja, Siska." ucap ibu seperti memohon.
"Lain kali aja ya, Bu. Saat ini Siska sedang sibuk, disalon sedang banyak pelanggan yang datang." tolak Siska dengan sangat halus.
"Lain kali ibu bisa nggak perawatan di salon nak Siska?," tanya ibu dengan wajah yang penuh harap.
"Ya jelas bisa donk, Bu. Ibu langsung datang saja ke salon, bisa minta antar Veni. Karena Veni tau alamat salon ku." jawab Siska dengan senyum manis berkembang di bibir nya.
"Makasih ya nak Siska." jawab ibu dengan senyum yang mengembang sempurna seperti adonan donat.
Kini Siska pun turun dari mobil, saat mobil berhenti di depan salon kecantikan nya.
"Makasih ya, Ven." ucap Siska sebelum ia turun dari mobil.
"Aku yang seharusnya terimakasih, Sis. Karena sudah banyak merepotkan mu hari ini." ucapku sambil melirik kearah ibu.
"Kenapa kamu melirik ku?," tanya ibu. Sepertinya ia tau saat aku melirik nya.
"Kamu mau bilang kalau aku yang merepotkan Siska?!, Siska tak akan punya fikiran seperti itu padaku!! Iya kan nak Siska?," ucap ibu dengan nada yang sangat kasar padaku, tapi saat bertanya pada Siska nada nya pun berubah menjadi sangat lemah lembut.
Dasar penjilat!!!!!
Ingin sekali aku melempar perempuan tua itu keluar dari mobil ku. Omongannya sungguh menyakitkan di hati ini.
Kalau bukan karena dia ibu nya mas Awan, mungkin sudah ku tinggal dia di pinggir jalan.
Siska pun masuk kedalam salonnya, dan aku segera menghidupkan mobilku.
"Ven, Siska ini orang nya sangat baik sekali. Sungguh aku sangat mengidam-idamkan menantu seperti dia." Ibu seperti nya sengaja berbicara seperti itu padaku.
"Trus maksud ibu, aku tidak baik?," ucapku dengan ketus.
"Kok kamu ngomong nya seperti itu?, kamu tersinggung ya?," ucap ibu seperti tak punya salah.
Padahal sangat jelas ucapan yang keluar dari mulut nya sungguh sangat menyakiti hati ku.
"Ya ibu pikir sendiri, kira-kira kalau aku membandingkan mertua orang lain baik dan bilang kalau dia menjadi mertua idaman ku, apa ibu nggak sakit hati??!," ucap ku sambil mata melotot pada ibu tapi lewat tatapan dari spion mobil.
"Kok kamu melototi ibu sih, Ven? Apa kamu nggak takut jadi menantu yang durhaka?," kali ini suara ibu berbeda seratus delapan puluh derajat.
Dari yang awal suaranya meledak-ledak seperti orang kesetanan. Kini suara ibu nya mas Awan bersuara sangat manja dan lemah lembut pada ku. Seakan-akan lah aku yang sangat jahat dengan bicara kasar padanya.
"Aku akan mengantarmu, Bu." ucap ku dengan terus fokus ke depan.
"Sebenarnya ibu ingin bermain kerumah mu, Ven. Tapi sepertinya kamu tak berkenan." ucap ibu berasumsi sendiri. Dengan suara yang sangat halus, nyaris tak terdengar saling halusnya suara itu.
__ADS_1