
Bruukkkk....
Ku rebahkan tubuh ke ranjang, hari ini sungguh sangat capek. Capek badan dan capek pikiran. Lebih enak kerja di kantor daripada harus menjadi pengasuh ibu tua yang menjengkelkan ini.
Kalau bukan karena Bu Bianca mungkin mereka sudah aku kerjain. Percaya diri sekali dia bilang kalau bu Bianca calon menantu nya, mungkin mereka tak tahu kalau Bu Bianca itu sudah menikah.
Lagian Bu Bianca berani sekali main api, apa tak takut sama pak Handoko. Memang sih pak Damar lebih mudah dari pak Handoko. Tapi pak Handoko adalah suami sah nya Bu Bianca. Dan Bu Bianca bisa bergelimang harta begini juga karena pak Handoko. Trus apa jadi nya kalau sampai pak Handoko tau, pasti jadi gembel lagi.
Hampir memejamkan mata, teringat dengan telepon Sarah tadi. Handphone ku keluarkan dari saku celana jeans ku. Langsung ku pencet nomer Sarah. Ku kirimkan pesan singkat padanya
"Sarah, bagaimana keadaan mu sekarang?."
Lama menunggu balasan dari Sarah, membuat hati ku sangat cemas. Takut terjadi apa-apa pada Sarah. Sampai beberapa menit masih tak ada balasan dari nya.
Mungkin karena terlalu capek, aku pun tertidur. Tak ada suara pintu diketuk, tiba-tiba nenek lampir masuk dan teriak.
"He, Sinta!!! tidur aja kerjaan nya!!!. Mana makanan buat aku makan malam?!!!," teriak Bu Linda mama nya pak Damar dengan berkacak pinggang.
"I... iya, bu. Maaf aku ketiduran."
"Kamu ini kerja nya lemot!!! Apa nunggu aku harus kelaparan dulu?!!! Sekarang kamu pesan kan aku makanan!!!!!. Untung ya Bianca masih baik sama kamu, lihat aja kalau aku sudah jadi mertuanya. Kamu bakal aku pecat, karena kerja nya nggak becus!!!. Ia pun berlalu keluar dari kamar.
Apa jadinya kalau seandainya Bu Bianca menjadi menantu beneran si nenek tua ini, mungkin akan terjadi perang dunia ke dua. Karena sama-sama arogannya.
"Duh wanita mana yang mau jadi menantu nya?, Dan semoga wanita yang menjadi menantunya adalah wanita yang kuat dan tangguh menghadapi nenek lampir ini", ucapku mengelus dada, sambil ku geleng-gelengkan kepala membayangkan kalau jadi menantunya.
Aku bergegas kekamar mandi untuk membersihkan muka, lalu ku ambil handphone dan keluar dari kamar.
Terlihat Bu Bianca, pak Damar, Bu Linda dan Bu Lidya duduk di sofa sambil nonton tivi.
"Bu, mau pesan makanan apa untuk makan malam ini?."
"Gitu aja pakai nanya, yang jelas yang paling enak!!!!", bentak Bu Linda. "Iya kan nak Bianca?!," ucapnya sambil menoleh ke Bu Bianca dengan nada lemah lembut nya yang membuat perut ku mual.
__ADS_1
"Tunjukkan saja foto-fotonya pada ibu, Sin. Biar ibu yang memilih sendiri mana yang dia mau." Bu Bianca berbicara halus dengan senyuman. Padahal itu bukan sikap Bu Bianca setiap hari nya.
Karena kalau di kantor tak ada senyum seperti itu. Yang ada hanya marah, marah dan marah. Apalagi akhir-akhir ini, moodnya sangat jelek karena anak laki-laki satu-satunya pak Handoko yang akan menjadi pewaris tunggal perusahaan nya datang.
Mungkin ini cara bu Bianca menghibur dirinya dengan cara pergi berlibur dengan alasan ada pekerjaan diluar kota. Dengan begitu Bu Bianca bisa bebas bersenang-senang, dengan selingkuhannya.
Suara gojek pun datang dengan membawa semua makanan pesanan nenek tua itu.
"Berapa semua totalnya, Sinta?", tanya Bu Bianca.
"Dua juta lima ratus, Bu." Ku berikan struk pembayaran nya kepada Bu Bianca.
"Beli apa aja?, kok banyak banget!." Gerutu Bu Bianca pelan dengan alisnya bertaut. Tapi sayang nenek tua dan kawan-kawannya tidak mendengarkan apa yang dikatakan Bu Bianca.
"Dua juta lima ratus ya pasti tidak ada apa-apanya kalau untuk nak Bianca. Iya kan, nak?," tanya nenek tua itu sambil mengelus lengan bu Bianca.
Bu Bianca menyodorkan uang pembayaran nya kepada ku, dengan tangan cepatnya si nenek tua itu mengambil uang yang sudah ada di tangan ku.
"Loh, kenapa di...", belum selesai ngomong. Nenek tua itu menjawab.
Muak aku melihat tingkah laku nenek tua itu. Ingin sekali aku lempar ke laut depan villa ini.
"Ini, ternyata pas uangnya," ia menyodorkan uang nya padaku.
Drrrttttt
Drrrttttt
Tiba-tiba handphone ku berbunyi, aku bergegas membayar ojol yang sudah menunggu didepan. Sambil ku rogoh saku celana jeans ku yang tak begitu ketat. Aku ambil handphone yang berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Setelah ku lihat ternyata pesan singkat dari Sarah.
"Alhamdulillah, aku sudah melahirkan anak laki-laki yang begitu tampan, Sin,"
__ADS_1
Alhamdulillah akhirnya Sarah sudah melewati masa sulit bertaruh nyawa sendiri. Ini terasa sangat menyedihkan, melahirkan tanpa suami dan keluarga disampingnya.
"Selamat ya Sarah, kamu wanita hebat. Kamu bisa melewati semuanya sendiri. Nanti kalau aku sudah pulang dari luar kota, aku pasti menjenguk mu."
balasku.
Langkah ku percepat menuju ruang keluarga, karena perut terasa lapar sekali. Ingin segera di isi, seharian belum makan nasi sama sekali. Dan menjadi pengasuh nenek tua itu sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran.
Mungkin kalau seandainya Bu Bianca menjadi menantu nya beneran, lebih baik aku ikut bapak Handoko saja. Karena selama ini pak Handoko lah yang menggaji ku untuk menjadi asisten pribadi ini Bianca.
Setelah sampai diruang keluarga, betapa terkejutnya aku melihat makanan segitu banyaknya habis tak bersisa dalam waktu sekejap.
"Dasar nenek tua seperti tak pernah makan setahun aja!!!!," ucapku dalam hati dongkol, karena sedikit pun tak ada yang disisakan untuk ku.
"Santi, kamu pesan lagi aja makanannya buat kamu makan sendiri," perintah Bu Bianca.
"Eh.. ngapain dia disuruh pesan makanan lagi. Tadi di dapur ibu melihat ada satu bungkus mie instan. Suruh aja dia makan itu nak Bianca, biar kamu nggak keluar uang. Dia kan hanya asisten, jadi jangan buang-buang uang hanya untuk dia makan," ucapnya sinis sambil melihat ku.
"Awas kamu tua bangk@, akan aku kerjain kamu!!!," ucapku dalam hati dengan penuh kedongkolan.
"Apa kamu mau makan mie instan itu, Sin?", tanya Bu Bianca.
"Uda makan aja! jangan rewel kamu. Uda enak sudah dikasih jatah makan," ucap nenek tua itu berdiri sambil berkacak pinggang.
"Baik, bu. Aku makan mie instan itu." jawabku pada Bu Bianca.
"Ya udah, pergi ke dapur sana, dan jangan lupa beresin dulu ini semuanya!!!!," bentak nenek tua itu.
Tanpa menjawab langsung ku bersihkan meja yang berisi sisa-sisa makanan yang berserakan. Dengan sengaja saat aku berdiri dan berjalan disamping ibunya mas Damar aku pura-pura jatuh.
Dan bruuukkkk ....tumpukan sampah yang ada sisa-sisa kuah nya jatuh di atas pangkuan ibunya mas Damar. Seketika baju nya basah karena sisa kuah makanan itu.
Dalam hati ini seketika tertawa jahat, tapi wajah ini tetap pura-pura minta maaf karena sudah ceroboh.
__ADS_1
"Kamu ini buta ya?!!!!, kok bisa-bisanya sampah sisa makanan ini kamu jatuhkan pada tubuh ku!!!! Dasar anak kurang ajar kamu!!!!." Cerca ibu nya mas Damar yang terlihat jelas sangat emosi.
"Maafkan aku, bu. Maafkan aku," aku pun pura-pura minta maaf dengan wajah mengiba. Tapi hati ini tertawa puas sekali.