DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#339


__ADS_3

"Kenapa juga dengan kartu ATM ku?, Kenapa tak bisa untuk melakukan transaksi?," gumam Awan sambil terus memencet tombol-tombol di mesin ATM.


Awan berdecak, karena berkali-kali ia terus mencobanya, namun tetap gagal.


"Malas sekali aku mau ke Bank." gumamnya lagi.


Akhirnya Awan memutuskan untuk pulang, karena ia tak membawa berkas untuk mengurus ATM nya yang terblokir.


"Bagaimana kata Siska, Wan?," tanya Laras, saat melihat Awan yang baru masuk pintu rumah nya.


"Siska menyetujui permintaan ku, Bu." jawab Awan.


"Siska memang wanita yang baik hati, sudah cantik, kaya pula. Sungguh menantu idaman." gumam Laras terpesona pada Siska.


"Lalu bagaimana uang mu yang telah kamu ambil dari perusahaan Veni?, tanya Laras tiba-tiba.


"Uang itu sudah mendarat dengan selamat ke rekening ku." jawab Awan.


"Alhamdulillah, sungguh kerja yang bagus. Jadi ibu harap besok kamu bisa memberikan uang itu padaku, Wan. Biarlah aku yang memberikan uang nya pada Siska." ucap Laras.


"Nanti biar sekalian kita bersama-sama kesana, Bu." usul Awan.


"Tidak usah, Wan. Biar ibu sendiri aja yang mengantarkan uang itu pada Siska. Kamu istirahat saja dirumah." tolak Laras.


"Terserah ibu saja." jawab Awan sambi berdiri dari duduk dan berjalan menuju kamarnya.


"Lantas, kapan kamu mengambil uang itu?, kenapa tak sekarang saja uang itu diambil?!," tanya Laras.


"Tanggung, Bu. Ini sudah sore, sebentar lagi bank tutup." jawab Awan.


"Ya ambil di ATM aja." usul Laras.


"Mana mungkin ambil uang sebanyak itu di ATM, Bu." ucap Awan.


"Kan bisa kamu ambil lima juta dulu, Wan. Buat jajan ibu. Kamu tau sendirikan, sudah lama ibu tak pernah jajan enak." rengek Laras.


"Masalahnya, ATM Awan tiba-tiba terblokir Bu." jawab Awan.


"Jadi biar besok aja Awan datang ke Bank untuk membuka blokirnya." lanjut Awan.

__ADS_1


"Ya terserah kamu, deh. Yang penting, setelah kamu ambil uang itu, ibu minta uang belanja perbulan sepuluh juta." usul Laras.


"Sepuluh juta satu bulan?," mata Awan membulat saat mendengar apa yang diucapkan Laras.


"Iya, bukankah uang mu sangat banyak bermiliar-miliar?," ucap Laras sangat ingin tahu dengan uang yang berhasil di gelapkan oleh Awan .


"Ibu rasa uang sepuluh juta setiap bulan tak sebanding dengan apa yang telah kamu peroleh." ucap Laras dengan matanya tak memandang Awan.


"Masalahnya, uang itu akan Awan buat untuk membuka kembali usah, Bu. Uang itu mau Awan putar, agar mendapatkan penghasilan." jawab Awan yang tidak setuju dengan apa yang sudah diusulkan oleh Laras. Lalu Awan meninggalkan Laras sendiri di ruang tamu.


"Dasar kamu nya saja yang pelit." gerutu Laras sangat kesal pada Awan, karena permintaan nya ditolak mentah-mentah.


***


Sedangkan Bima yang sedang mengantar Areta pulang ke kost, sangat kesal pada Areta.


Karena ia menemukan alat kontrasepsi untuk lelaki di jok kemudi mobilnya.


"Coba jelaskan, itu milik siapa Areta?!," bentak Bima pada Areta.


Bima menduga, itu adalah milik teman lelaki Areta.


"Sungguh aku tidak tahu sama sekali tentang itu, Bim?!," elak Areta, Areta tak ingin kebohongan nya terbongkar.


"Lalu, kenapa benda menjijikkan ini berada di dalam mobil?, Sedangkan mobil ini sudah berhari-hari ada di kamu." ucap Bima dengan terus berkonsentrasi mengendalikan setir mobilnya agar tetap jalan dengan baik.


"Bisa saja itu milik mu, Bim!!!," bentak Areta, ia tidak terima dengan tuduhan yang di lakukan Bima kepada dirinya.


"Aku tak pernah melakukan itu di dalam mobil, Areta." ucap sangat jengah pada Areta yang terus berbohong itu.


"Aku harus berpikir lagi untuk segera menikahi mu lagi, Areta. Aku takut nanti setelah kita resmi menikah, kamu akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Dan aku tak ingin sakit hati untuk yang kedua kalinya." ucap Bima.


Areta ketakutan dengan apa yang diucapkan oleh Bima. Ia takut Bima benar-benar tidak menikahinya lagi.


Areta tak ingin hidup susah seperti saat ini, yang mengharuskan tidur dikamar kost yang sempit, dan bekerja keras setiap malam.


"Bim, aku sudah jujur sama kamu. Dan aku juga baru ingat kalau kemarin, mobilmu di pinjam teman ku." Areta terpaksa berbohong lagi, untuk menyelamatkan dirinya.


"Kamu yakin kamu tidak berbohong?," tanya Bima sambil menatap mata Areta saat mobil itu sudah berhenti di depan kost Areta.

__ADS_1


"Aku tidak bohong pada mu, Bim. Asal kamu tau, aku tidak pernah macam-macam di belakang mu." lagi dan lagi Areta berbohong pada Bima.


Namun Bima hanya diam mematung sambil terus menatap mata Areta.


Entah apa yang harus Bima lakukan, ia harus percaya atau tidak pada ucapan Areta.


"Kamu tak percaya padaku, Bim?," tanya Areta dengan matanya membuang pandangan dari pandangan Bima.


Areta salah tingkah saat dirinya terus di tatap oleh mantan suaminya itu.


"Entah lah," jawab Bima dengan tangan nya membuka pintu mobilnya.


"Bim, kamu mau kemana?," tanya Areta yang kebingungan, seperti sedang ketakutan kalau Bima akan ikut masuk kedalam kamar kost nya.


Areta segera keluar dari mobil nya, dan berlari mengejar Bima yang berjalan ke pintu kamar kost nya.


"Bim, tunggu!!!," sepertinya Areta sedang menghalangi langkah Bima yang akan berjalan menuju kamar kost miliknya.


"Ada apa Areta?," tanya Bima.


"Aku ingin masuk kedalam kost mu." lanjut Bima.


"Untuk apa?," tanya Areta dengan nafas yang ngos-ngosan saat berlari mengejar Awan yang menuju ke kamar kostnya.


"Aku ingin menemui Putri. Kenapa?? Apa aku tidak bisa masuk kedalam kamar kost mu?, sepertinya kamu sangat ketakutan?." ucap Bima, dengan banyak pertanyaan pada Areta.


"Bukankah kemarin aku sudah bilang, kalau Putri sedang nginap dirumah temannya?, jadi sekarang dia pasti belum pulang." jawab Areta.


"Lebih baik kamu sekarang pulang saja, Bim. Aku juga ingin beristirahat." lanjut Areta.


"Baiklah, kalau itu yang kamu minta. Dan nanti tolong bilang pada Putri, suruh dia menemui ku. Karena aku sudah rindu padanya." ucap Bima.


"Nanti past aku sampaikan pada putri, Bim." jawab Areta.


"Aku pasti kan Putri segera datang untuk menemui mu, Bim." ucap Areta.


Bima pun masuk kedalam mobilnya lagi. Dia mencoba percaya dengan apa yang dikatakan oleh Areta.


Kini mobil Bima sudah meninggalkan area kost Areta. Hari Areta sangat lega, saat Bim meninggalkan nya sendiri.

__ADS_1


"Untung saja Bima tak jadi masuk kedalam, Kalau sampai dia masuk bisa-bisa aku tak jadi dinikahi nya." gumam Areta sambil mengelus dadanya.


Karena didalam kamar kostnya, masih ada berondong simpanan nya yang semalam tidur disana.


__ADS_2