
"Assalamualaikum." ku ucapkan salam saat aku sampai di gerbang rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab perempuan cantik yang sepertinya usianya lebih tua tiga taun dari ku.
"Kenalkan, aku Sarah tinggal dirumah sebelah." aku memperkenalkan diri dan menunjuk rumah ku diakhir kalimat. Lalu aku menyodorkan tangan pada perempuan cantik ini.
"Ooo jadi kamu penghuni baru di komplek ini?," tanya nya sambil menatap ku dari atas sampai bawah. Rasanya tatapan nya seperti tatapan yang tak biasa.
"Ana." jawab nya singkat dengan bersalaman singkat dengan tanganku. Terkesan sekali, kalau ia mengangkat tangan nya setelah menempel sebentar di telapak tangan ku. Namun aku menanggapinya dengan tersenyum.
"Dia siapa, dek?," tanya lelaki yang sedang bermain handphone.
"Tetangga baru sebelah rumah, mas." jawabnya sambil melirik ku. Entah lirikan apa itu? aku tak bisa mengartikan nya. Namun berhasil membuat ku tak nyaman.
"Oo.. tetangga sebelah rumah kita ini?," tanya si laki-laki itu, sambil berjalan mendekat pada kami yang sedang berdiri di dekat pintu gerbang rumahnya.
"Kenalkan!! aku Bram, suami Ana." ucapnya sambil menyodorkan tangannya pada mas Bima yang sedang berdiri di samping ku. Saat ku lirik, arloji yang melingkar di pergelangan tangan lelaki ini harganya lumayan mahal.
Pantesan mulai tadi, aku lihat dia sering sekali menggaruk-garuk pergelangan tangan nya.
"Aku Bima." ucap mas Bima dengan menjabat tangan pak Bram.
"Sarah." ucapku memperkenalkan diri pada pak Bram. Namun aku tak berjabat tangan, aku hanya menangkupkan kedua telapak tangan ku. Dan kuangkat ke depan dada.
"Sarah? Sungguh nama yang sangat bagus." ucapnya dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ini mbak Ana, ada sedikit kue." aku menyodorkan paper bag yang berisi beberapa macam kue yang aku bawa dari toko kue ku.
"Semoga mbak Ana suka." lanjut ku dengan tersenyum ramah.
Lalu mbak Ana langsung mengambil nya, tanpa ekspresi apa-apa. Tak ada senyum dan ucapan terimakasih. Wajahnya sangat datar saat mengambil paper bag dari tangan ku.
"Bima, kamu kerja dimana?," tanya pak Bram pada mas Bima.
"Saya buka toko kelontong, pak Bram." jawab mas Bima.
"Oooo.. cuma buka toko sembako?," celetuk mbak Ana dengan lirikan menghina padaku.
"Iya, mbak." jawab mas Bima.
"Kalau aku punya showroom, jadi kalian kalau mau beli mobil bisa beli di showroom ku." ucap pak Bram dengan sangat bangga.
"Aku rasa mobil kalian sudah saat nya ganti yang baru, karena mobil kalian modelnya sudah sangat tertinggal jauh." lanjutnya sambil menatap mobilku yang terparkir digarasi depan rumah.
"Mana mungkin mereka mampu beli mobil baru? usahanya cuma toko sembako. Pantas nya ya memakai mobil rongsok seperti itu." ucap mbak Ana sambil melirik kearah mobil yang terparkir di halaman rumah ku.
"Ha ha ha ha.....," ucapan mbak Ana di sambut dengan tertawa lebar pak Bram. Seperti nya mereka berdua memang berniat untuk menghina aku dan mas Bima.
Daripada disini lebih lama membuat hati ku sakit, lebih baik aku segera pamit untuk pulang.
"Kalau begitu, kami pamit dulu mbak Ana, pak Bram." ucapku lalu melangkah keluar dari halaman rumah mbak Ana.
Namun tak ada tanggapan apapun saat aku dan mas Bima berpamitan.
"Pa, ini taruh saja di kandang kucing." ucap mbak Ana menyodorkan paper bag yang berisi kue kepada suami nya. Sepertinya ia sengaja bicara seperti itu dengan sangat lantang, agar aku mendengar nya.
Namun aku tak mempedulikan nya, karena aku sudah ikhlas memberikan nya.
Setelah aku memberikan nya, sudah bukan menjadi hak ku lagi. Jadi terserah dia mau di apakan kue-kue itu.
Kami berlalu ke tetangga depan rumah, kebetulan pintu rumahnya terbuka. Saat ini kami hanya mendatangi rumah-rumah yang pintunya terbuka.
"Assalamualaikum.." ucap ku memberi salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab wanita yang usianya lebih mudah dari ku.
"Siapa ya?," tanyanya. Memang sejak aku tinggal di disini belum pernah ketemu sama sekali dengan tetangga depan rumah ku ini.
"Kenalkan, aku Sarah. Penghuni baru rumah itu." ucap ku sambil menunjuk rumah ku yang berhadapan langsung dengan rumah ini. Lalu aku menyodorkan tangan ku untuk bersalaman.
"Oooo.... tetangga baru?, aku Dewi, mbak. Sepertinya mbak Sarah lebih tua dari ku, jadi alangkah lebih sopan kalau aku memanggil dengan kata mbak." ucapnya to the poin. Ia langsung menyambut tangan untuk bersalaman.
Lalu bergantian, kini mas Bima memperkenalkan diri. Saat berjabat tangan, sepertinya Dewi enggan melepaskan tangan mas Bima. Ia terus menatap mas Bima dengan tatapan centil.
"Wah, suami nya ganteng." ucap Dewi seperti tak punya beban memuji suami orang di depan istrinya.
"Iya, terserah Dewi saja. Mau manggil saya apa" jawabku dengan senyum getir. Ada rasa jengkel saat ia memuji suami ku langsung didepan ku.
"Ini ada sedikit kue," ku ambil paper bag yang di bawa oleh Kean.
"Wah...ini kue favorit ku." ia langsung mengambil paper bag secara kasar dari ku.
"Beneran loh mbak Sarah, ini kue favorit ku. Apa mbak Sarah juga suka dengan kue ini?," tanpa menunggu aku dan mas Bima serta Kean pulang. Ia langsung mengambil satu bolu coklat, dan langsung memakannya dengan sangat lahap.
"Kalau begitu, kami pamit undur diri dulu, karena masih banyak tetangga-tetangga lain yang belum kami datangi." ucapku beralasan.
Kini tinggal satu rumah yang terlihat pintunya terbuka. Rumah yang ada disamping rumahku, dimana tadi saat aku pulang dari ruko. Ada Lelaki paruh baya duduk di teras rumahnya.
"Sekarang kita kesana ya, mas." tunjuk ku kearah rumah yang aku maksud.
"Oke sayang." jawab mas Bima tanpa protes.
Kami bertiga masuk kedalam halaman rumah, terlihat mobil mewah terparkir di garasi.
"Mobilnya keren yaa?," ucap Kean.
"Iya, nak."jawabku dengan suara pelan, Takut yang punya rumah mendengar.
"Waalaikumsalam." sepertinya yang menjawab salam ku seorang lelaki. Mungkin saja lelaki itu, lelaki yang aku temui sore tadi.
"Loh, bukan kah ini tetangga sebelah?," tanya lelaki itu .
"Iya, Pak. Kenalkan nama ku Bima, dan ini istri beserta anak ku." kali ini mas Bima yang memperkenalkan diri. Mungkin karena yang menemui kami saat ini adalah seorang lelaki.
Mas Bima langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, dan lelaki seusia bapak ku ini pun segera mengulurkan tangannya dan mereka berdua saling berjabat tangan.
"Kenalkan aku Edi." ucap lelaki itu.
"Sarah." ucapku memperkenalkan diri namun aku tak berjabat tangan dengan lelaki itu. Hanya menangkupkan kedua telapak tangan ku saja.
"Ayo silahkan duduk, kebetulan istri ku sedang mandi. Sebentar lagi selesai kok, ditunggu saja dulu." ucap pak Edi mempersilahkan kami untuk duduk. Namun dengan halus mas Bima menolak nya, karena waktu sudah sore. Kami harus secepatnya kerumah ibu nya mas Bima.
Setelah mas Bima memberikan kue itu pada pak Edi, mas Bima segera pamit untuk pulang.
Namun saat aku berjalan menuju rumah, seperti pak Edi masih terus menatap ku.
Mungkin mas Bima tidak tau hal ini, tapi aku merasakan nya. Karena sesekali aku melirik kearah pak Edi yang masih duduk di kursi teras rumahnya.
"Mbak Sarah!!, besok-besok main kesini ya, kenalan dengan istri ku." teriak pak Edi saat kami mau masuk di pintu pagar rumah ku.
"Inshaallah, pak." jawabku dengan tersenyum.
Adzan magrib pun berkumandang, yang rencana nya berangkat kerumah ibu nya mas Bima sebelum magrib. Kini di undur setelah sholat Maghrib.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, namun langkah ku terhenti saat mendengar handphone mas Bima berbunyi.
Drrrttttt
__ADS_1
Drrrttttt
"Halo, assalamu'alaikum Bu?," ucap salam mas Bima kepada orang yang menelpon nya saat ini. Sepertinya ibu mas Bima yang menelepon.
"Iya, Bu. Bima pasti kesana kok. Ini sudah mau berangkat, tunggu Sarah selesai sholat dulu ya."
"Iya, iya sabar donk Bu. Tunggu sebentar lagi kami berangkat." ucap mas Bima lalu menutup teleponnya.
"Yuk buruan kalau sholat, kita sudah ditunggu ibu, mbak Ambar dan mas Awan disana." ucap mas Bima padaku.
Mas Bima tiga bersaudara, dan mas Bima anak paling terakhir. Sedangkan kakak pertama nya perempuan yang bernama mbak Ambar. Sedang kan kakak keduanya lelaki yang bernama mas Awan.
Mereka sudah berumah tangga, dan mereka tak ada yang tinggal bersama ibu. Sebenarnya ibu tinggal bersama mas Bima dan putri, sewaktu mas Bima menduda
Namun setelah menikah dengan ku, ia memutuskan untuk keluar dari rumah ibunya, dan tinggal disini. Mungkin karena aku yang meminta untuk tak tinggal seatap dengan mertua.
"Iya, mas tunggu sebentar. Aku sholat dulu." ucapku sambil berlalu ke mushola rumah yang tempatnya tak begitu besar. Namun cukup untuk sholat berjamaah satu keluarga.
Mas Bima dan Kean yang sudah sholat terlebih dahulu, sekarang menunggu ku di sofa ruang tamu.
Setelah selesai sholat, aku memasang lagi Khimar ku. Saat ini aku memakai gamis berwarna navy yang senada dengan Khimar panjang ku.
Tak lupa cincin berlian yang tak begitu besar juga aku pakai di jari tengah tangan kiri ku. Dan cincin kawin yang diberi mas Bima, aku taruh di jari manis tangan kanan ku.
Tak lupa di pergelangan tangan kiri aku memasang arloji dari brand terkenal. dan di sebelah kanan aku memakai gelang emas, yang bentuk nya kecil tapi harga nya lumayan wow.
Koleksi perhiasan emas ku, ku beli dari hasil menulis novel online. Sengaja aku membeli perhiasan emas untuk investasi jangka panjang. Karena semakin lama harga emas akan semakin naik.
"Wow cantik sekali kamu, sayang." puji mas Bima saat aku keluar dari kamar. Aku kasih polesan tipis-tipis di wajahku, agar kelihatan lebih fresh.
Lagi dan lagi mas Bima berhasil membuat ku tersipu malu karena ucapan nya yang selalu memuji ku.
Untung saja Kean masih kecil, dia masih belum mengerti dengan hal-hal seperti ini.
"Ayo mas kita berangkat." ajak ku. Tas kecil aku tenteng di pundak ku. Menambah kesan anggun, dalam penampilan ku.
Kami bertiga keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir digarasi. Mas Bima dan Kean secara bersamaan masuk kedalam mobil.
Aku berjalan ke depan untuk membuka pintu pagar rumah terlebih dahulu.
"Mau kemana mbak Sarah?," suara pak Edi yang tiba-tiba muncul berhasil mengagetkan ku. Karena saat keluar aku tak melihat ada orang. Tapi ternyata di teras rumah nya ada pak Edi yang sedang duduk sambil menghisap rokoknya.
Mungkin karena pencahayaan rumah pak Edi kurang terang, jadi pak Edi yang sedang duduk diteras nya tak nampak begitu jelas. Bisa juga karena faktor kulit pak Edi yang sedikit agak gelap.
"Mau keluar jalan-jalan ya mbak Sarah?," Lanjut pak Edi.
"Iya, pak. Mari...," pamit ku. Setelah mobil keluar dari garasi dan pintu pagar aku tutup kembali, dengan cepat aku segera masuk kedalam mobil. Karena takut muncul pertanyaan-pertanyaan lagi dari pak Edi.
"Hati-hati ya, mbak." ucap pak Edi saat aku sudah berada di dalam mobil.
Lalu mas Bima menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Berkali-kali handphone mas Bima berbunyi. Namun mas Bima tak mengangkat nya.
"Mas handphone mu berbunyi. Kenapa tak diangkat dulu. Siapa tau penting." ucapku.
"Biarkan saja, Sarah. Itu telepon dari ibu." jawab mas Bima.
"Diangkat saja mas, nggak enak sama ibu. Dikiranya nanti kit mengabaikan nya."
"Pasti yang ditanya kan, kok masih belum sampai. Jadi biarkan saja lah. Toh sebentar lagi kita sampai." ucap mas Bima.
Jujur ada rasa grogi saat ini, karena ini pertama kali aku bertemu dengan kakak-kakak mas Bima. Kalau dengan ibu, ini yang kedua kali.
__ADS_1
Pertama kali bertemu saat ibu mendampingi mas Bima menikahi ku dikampung.