
"Sekarang uang di meja kasir ada berapa, Ina?," tanya Laras.
"Ada sekitar sepuluh jutaan, Bu. Itu hasil dari hari kemarin dan lagi ini." jawab Ina dengan sangat jujur.
"Untuk hasil penjualan hari-hari yang kemarin-kemarin?," tanya Laras dengan penuh selidik.
" Uang nya sudah saya setor Bu." jawab Ina.
"Lihat buku rekening dan pembukuan toko ini. Laras meminta semua pembukuan di toko ini.
"Tapi, Bu....." jawab Ina tak melanjutkan ucapannya. Ia terlihat takut pada Laras.
"Kamu tidak percaya dengan ku?, aku ini ibu nya Bima. Dan aku sudah mendapatkan ijin dari anakku untuk memegang kuasa di toko ini." ucap Laras meyakinkan Ina.
"Tapi, Bu. Mas Bima sudah memberikan amanah padaku, kalau tak boleh seorang pun yang tau tentang pembukuan toko ini." jawab Ina menjelaskan tentang pesan yang sudah disampaikan oleh Bima.
"Kenapa kamu ini keras kepala, sih?!. Aku ini ibu kandungnya Bima, jadi aku punya hak dengan semua milik anak ku Bima!!," bentak Laras pada Ina.
Seketika Ina ketakutan dan tubuhnya gemetar, melihat Laras yang melotot padanya.
"Sekarang serahkan pembukuan dan buku rekening toko ini." Telapak tangan Laras pun menengadah pada Ina.
"Lagian Bima sekarang dalam masalah besar, jadi ia butuh uang banyak agar bisa keluar dari masalah nya itu." ucap Laras dengan merendahkan volume suaranya.
"Tapi, Bu....." lagi-lagi Ina ingin membantah perintah Laras. Namun itu tidak bisa dilakukan oleh Ina. Karena Laras nampak begitu kejam.
"Cepetan ambil sana!!!, kalau kamu tak lekas memberikan nya padaku, hari ini juga aku akan memecat mu!!!," Laras mengancam Ina.
Ina pun tak bisa berbuat apa-apa, ia takut akan kehilangan pekerjaan yang menghidupi dirinya dan ibunya yang saat ini sedang sakit-sakitan.
Dengan berat hati Ina pun memberikan semua yang di minta Laras.
"Ini, Bu." Dengan ragu Ina menyodorkan buku pembukuan dan buku rekening toko kelontong Bima.
__ADS_1
"Begitu dong dari tadi, jadi aku tak harus teriak-teriak dan marah-marah kalau begini." ucap Laras sambil mengambil dengan kasar dua buku yang ada di tangan Ina.
"Mampus kamu?!," gumam Veni sambil tersenyum bahagia saat melihat Ina di bentak-bentak oleh mertuanya itu.
Lalu Veni berjalan mendekati Laras yang sedang melihat pembukuan toko kelontong Bima.
"Wah lumayan juga sisa saldonya." gumam Laras dengan mata yang berbinar melihat angka yang tertulis di buku rekening itu.
"Sekarang transfer semua isi saldo ini ke rekening ku, Ina." Laras memerintah Ina.
"Untuk apa, Bu?," tanya Ina dengan wajah yang ketakutan.
"Untuk mengeluarkan Bima dari masalah besar, Ina!!!. Kamu pikir uang ini akan aku buat untuk belanja apa?!!," jawab Laras dengan sinis pada Ina.
"Tapi Bu, uang itu sebenarnya uang...," lagi Ina tak bisa melanjutkan ucapannya. Karena belum selesai menjelaskan, Laras langsung memotong ucapan Ina.
"Kamu ini susah sekali ya diomongin. Pokok nya kamu patuh saja sama perintah ku. Karena aku ini juga bos mu!!." bentak Laras.
Ina pun sangat ketakutan dengan tatapan Laras yang sudah seperti Singa kelaparan, kini Ina dalam keadaan dilema. Ia takut melanggar amanah dari Bima bos nya, namun di sini ia terus di tekan oleh ibu dari bos nya itu.
"Sebenarnya uang ini bukan milik pak Bima, Bu." Ina masih terus ingin menjelaskan tentang uang yang ada di rekening itu.
"Maksud kamu bukan uang Bima, lalu uang siapa?!," suara Laras sedikit lantang lagi.
"Uang ini adalah uang pak Bara Bu." jawab Ina.
"Jelaskan secara jelas Ina!!, jangan sepotong-sepotong gini!!," Laras sangat kesal dengan sikap Ina yang menjelaskan hanya setengah-setengah.
"Siapa Bara itu?, dan kenapa uang sebanyak ini milik nya?!!," tanya Laras.
Ina pun menceritakan semuanya mulai dari awal sampai saat ini Laras beras disini untuk meminta uang itu.
"Tapi kamu harus tau, Ina. Bima saat ini sangat butuh uang ini. Jadi berikan lah uang itu padaku, nanti kamu bisa mencari alasan pada pemilik agen sembako itu." jawab Laras dengan mudah nya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau memberikan alasan pada pemilik agen sembako itu. Biar aku saja nanti yang bicara dengan nya, biar aku yang menjelaskan tentang semua yang terjadi pada Bima." lanjutnya lagi.
Lagi-lagi dengan sangat berat hati, Ina pun segera mentransfer uang itu ke rekening Laras.
Senyum licik dan bahagia tersemat jelas di bibir Laras. Dan Veni pun melihat itu dengan sangat jelas.
"Ada berapa uang Bima disana, Bu?," ada kegembiraan di hati Veni, karena sebentar lagi Bima akan keluar dari tahanan dengan uang tebusan yang sudah ada di rekening ibu nya Bima.
"Apa urusan nya dengan kamu, Ven?, ini kan bukan uang mu, jadi kamu tak punya hak untuk tau berapa nominal uang yang ada di rekening milik Bima." jawaban Laras sungguh menyakitkan hati Veni.
Veni pun terdiam, ia hanya mendengar yang di ucapkan Laras tanpa menjawab nya sama sekali. Karena ia sudah capek dan malas untuk berdebat dengan ibu mertua nya itu.
"Sudah, Bu." ucap Ina dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh siapapun. Namun Laras masih bisa mendengar nya, karena seperti nya ia mempunyai kemampuan pendengaran ultrasonik.
"Kalau begitu kamu kerja yang baik ya, Ina. Aku pamit pulang dulu." ucap Laras yang tak berterima kasih pada Ina yang sudah mentransfer uang ke rekening nya.
Dan mereka berdua pun langsung keluar dari toko kelontong milik Bima dan segera masuk kedalam mobil Veni.
Saat mesin mobil sudah di hidup kan, tiba-tiba Laras mengehentikan kaki Veni yang hendak menginjak gas.
"Tunggu dulu, Ven!!," ucap Laras saat tau kaki Veni sudah siap menginjak pedal gas.
"Ada apa Bu?!," tanya Veni yang dengan refleks mengangkat kaki nya yang sudah siap di atas pedal gas itu.
"Tunggu sebentar." pamit Laras lalu ia membuka pintu mobil dan keluar. Kali ini Laras berjalan kembali ke toko Bima.
Laras sedikit berlari saat menyebrangi jalan, untuk menghindari kendaraan yang berlalu lalang disana.
"Ina, aku lupa kalau uang tunai yang ada di meja kasir itu serahkan juga padaku. Karena ternyata uang yang kamu transfer tadi masih kurang." ucap Laras pada ini yang sedang menata barang-barang dagangan di toko ini.
"Tapi Bu.....,"
"Jangan banyak tapi, sekarang ambil uang itu dan berikan pada ku semua nya. Atau aku akan melaporkan mu pada Bima, agar Bima memecat mu!!," ancam Laras pada karyawan Bima itu.
__ADS_1
Ina pun segera memberikan uang itu, ia takut kehilangan pekerjaan nya.
Dan setelah menerima uangnya, Laras pun langsung kembali ke mobil Veni.