DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Gundiknya


__ADS_3

Pagi ini aku sangat sibuk, menyiapkan pesanan kue untuk acara pernikahan di rumah mas Damar.


Entah siapa yang menikah aku tak tahu, apakah yang menikah itu mas Damar? ah... kenapa dengan hati ini? bukan nya aku cemburu, tapi masih ada rasa sakit di hati ini saat melihat mas Damar dengan mesranya menggandeng gundiknya itu.


Aku harus membuang pikiran jelek ini, aku sudah bukan istrinya mas Damar walau aku masih dicerai secara agama.


Reni dan Mita sudah datang, mereka langsung mengangkat kue-kue itu untuk dipindahkan ke atas mobil pick up.


Ya mobil pick up ini sudah aku beli dari paman Udin, karena waktu itu paman Udin sangat membutuhkan uang.


Akhirnya mobil itu aku beli untuk alat transportasi kebutuhan toko. Tapi dengan syarat paman Udin meminta pekerjaan tetap disini.


Aku pun menjadikan paman Udin supir untuk mengantar pesanan-pesanan kue yang biasa nya dipesan secara online. Yang kadang juga mengantar aku untuk berpergian disaat aku sedang malas menyetir mobil sendiri.


Kini aku punya keluarga kedua disini yang sangat menyayangi ku, rasa seperti ini tak kudapat dirumah mas Damar dulu. Keluarga pertama ku ada di kampung. Yang entah sudah berapa lama aku tak pernah memberi kabar kepada ibu dan bapak.


Bukan nya aku ingin melupakan ibu dan bapak dikampung, tapi aku tak mau ibu dan bapak mengetahui tentang masalah rumah tangga ku disini bersama mas Damar.


Biarlah aku mengembangkan bisnis ku dulu, setelah semua berkembang aku akan menceritakan semua nya pada ibu dan bapak.


Sedangkan Mayang sudah tahu tentang masalah rumah tangga ku. Namun ia tak tau kalau saat ini aku sudah bercerai dan aku sudah mempunyai toko roti ini.


"Bu, pak sabar ya... suatu saat nanti kalian akan Sarah jemput untuk tinggal bersama dengan Sarah di kota ini," ucap ku dalam hati dan tak terasa air mata jatuh dipipi. Langsung ku seka air mata itu agar tak ada yang melihat nya.


Kurang dua Minggu lagi Mayang akan bertunangan dengan Celvin, Mayang akhirnya memutuskan untuk melangkah lebih jauh dengan Celvin.


Semoga saja Celvin adalah lelaki yang baik untuk adik perempuan ku Mayang. Karena aku, ibu dan bapak tak tahu asal usul Celvin.


Jujur dihati ini ada trauma yang masih membekas lekat. Takut apa yang menimpa rumah tangga ku akan Mayang rasakan juga kelak, Karena kami sekeluarga tak tau bibit bebet dan bobot nya Celvin seperti apa.


Semoga keluarga Celvin menerima Mayang dengan baik, agar Mayang tak merasakan apa yang aku rasakan dirumah mertua.


"Bu, semua nya sudah siap. Apa kita berangkat kesana sekarang?," tanya Dina karyawan baru sepupu Reni.


"Ohh iya, Din. Sebentar aku berganti baju dulu." lamunanku buyar saat Dina memanggil ku.


Lalu aku bergegas kekamar untuk mengganti pakaian ku. Saat ini aku memakai gamis panjang berwarna navi dengan Khimar panjang berwarna senada dengan gamisku.


Ku poles sedikit wajah ku dan aku memakai lipstik berwarna nude agar terkesan natural di wajah ini. Aku pun menyapukan blush-on tipis-tipis pada kedua pipi ku agar sedikit terlihat merona alami.


Tak lupa ku semprot kan minyak wangi yang beraroma soft, aku tak begitu suka dengan aroma yang begitu menyengat.


"Bu Sarah cantik banget," celetuk Reni saat aku keluar dari kamar.


"Kamu ini bisa aja membuat kepala ku makin besar, Ren," jawab ku pada celetukan Reni sambil tersenyum.


Sambil duduk di kursi yang terletak didepan kamar aku memasang kaos kaki dan sepatu flat berwarna hitam.


Lalu aku ambil tas selempang yang berisi handphone dan amplop.


Aku berniat menyiapkan amplop untuk acara pernikahan...., entah pernikahan siapa ini. Yang jelas pernikahan anak dari mantan mertua ku. Entah mas Damar atau Lidya.


Amplop yang berisi agak tebal ini ku selipkan di belakang handphone ku. Biar pun mereka bersikap tak pernah baik pada ku, tapi aku tak ada niat untuk membalas semua dengan kejahatan.


Walau kadang di otak ini keluar pikiran jahat saat mengingat apa yang telah mereka lakukan pada ku selama ini. Karena aku hanya manusia biasa yang kadang masih di kuasai oleh setan yang menghasut pikiran ini.


Namun Hati kecil ini yang selalu mengingat kan tentang logika. Kalau aku membalasnya dengan kekerasan, cacian dan hinaan trus apa bedanya aku dengan mereka? sama-sama manusia keji.


Biarkanlah aku balas mereka dengan kesuksesan ku.


Reni, Dina dan Ana yang aku ajak untuk membantu ku disana, mereka sudah aku beri seragam catering yang memang sengaja di buat sama dengan seragam karyawan cafe milik pak Randy.


Itu sebagai salah satu bukti kerjasama kita. Lalu aku dan karyawan-karyawan ku pergi bersama naik mobil pribadi ku.


Aku dan pak Randy sudah berjanji bertemu disana, jadi kamk berangkat masing-masing.

__ADS_1


Sampai di depan rumah mas Damar, hati ini berdegup kencang. Seperti tak bisa di kendalikan, Perasaan apa ini? Ah... aku harus membuang jauh perasaan ini.


Walau tak bisa di pungkiri hati ini tak bisa seratus persen menghapus kenangan indah bersama mas Damar.


"Kamu bisa Sarah, kamu bisa menghadapi semua kemungkinan buruk yang ada di dalam sana," ucap ku dalam hati mesugesti diri sendiri.


Terlihat dari luar karpet merah terbentang luas didalam ruangan, dan dekorasi bunga-bunga hidup menghiasi kelambu berwarna putih yang menempel pada dinding rumah.


Bau mawar yang semerbak tercium dari halaman rumah. Namun saat aku mengedarkan pandangan tak ada petunjuk apapun tentang siapa yang akan menikah ini. Mas Damar atau Lidya? sungguh ini membuat hati ku bertanya-tanya tak tenang.


"Assalamualaikum," Dengan percaya dirinya aku masuk tanpa mencopot kacamata hitamku dan mengucapkan salam pada tuan rumah.


"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita dari dalam yang aku pastikan itu adalah suara Bianca. Karena suara nya itu sangat familiar di telinga ku.


Hati ini pun semakin tak karuan, Bianca sepagi ini sudah ada disini. Untuk apa? masak iya kalau cuma ingin membantu sampai datang sepagi ini?


Apa memang Bianca Yanga akba menjadi mempelai wanita nya dan mas Damar mempelai pria nya?..


Ingin sekali aku berteriak dengan keadaan ini, hari ini tak bisa diajak kompromi. Namun aku paksakan dan mengingat tujuan awalku kesini hanya untuk bekerja.


Bekerja untuk masa depan Kean, dan kini wanita yang menjadi gundik mas Damar ada didepan ku. Menatap lekat ke wajah ku.


Tersirat penuh ejekan diwajah perempuan perusak rumah tanggaku ini. Namun aku tak menanggapi nya, dan semoga ia tak melihat mata yang berkaca-kaca ini. Karena sengaja aku menutupinya dengan kaca mata hitam.


"Eh, kamu Sarah?," ucap gundik mas Damar pada ku.


"Ma..mama... Sarah si pelayan catering sudah datang," dengan suara lantang pelakor didepan ku ini menyebut kalau aku pelayan catering.


"Mana, Bi? mana?," tanya mantan mama mertua ku, keluar dengan wajah penuh ejekan yang pasti akan diberikan pada ku.


Tapi apa aku tak salah melihat? kenapa mantan mertua ku ini yang terlihat dandannya yang sangat heboh.


Seakan-akan ia lah yang akan duduk di pelaminan ini. Sedangkan perempuan yang berstatus gundik mas Damar ini terlihat biasa aja.


Dengan hanya memakai kaftan yang memang terlihat kalau harganya itu tak murah. Dengan polesan tipis diwajah cantiknya yang terlihat elegan dan tampak kalau ia memang perempuan dari keluarga kaya raya.


"Maaf, ma... eh Bu. Tapi baju milik ku saat ini sedang kotor." Aku memberi alasan pada perempuan paruh baya yang ada di depan ku ini.


"Lagak mu sudah seperti yang punya toko saja!!!," ucap mantan mama mertua ku sambil berjalan meninggalkan ku dan di ikuti oleh perempuan ****** yang berstatus gundik mas Damar.


"Sabar ya Bu," ucap Reni membesarkan hati ku.


Aku hanya menjawab dengan anggukan dan senyum tipis kepada mereka.


Lalu aku masuk kerumah ini, rumah yang selama satu tahun lebih pernah aku tempati untuk hidup bersama orang-orang yang aku cintai.


Ada perasaan sakit di hati ini saat aku melewati kamar yang pernah aku tempati bersama mas Damar.


Saat ada didepan kamar itu, terputar kembali ingatan malam itu saat aku memergoki mas Damar sedang bercinta dengan perempuan itu.


Sakit berasa teriris sembilu hati ini saat mengingat kejadian itu. Segera ku langkahkan kaki dengan cepat untuk melewati kamar penuh dengan kenangan itu.


Lalu aku mengarahkan semua karyawan untuk bekerja. Menata hidangan dengan sangat menarik.


Tak lama kemudian terlihat pak Randy dan beberapa pekerjanya pun datang. Dan kita mulai bekerja sama untuk menyusun hidangan dengan rapi.


Kini terlihat beberapa tamu undangan sudah ada yang datang, dan terlihat orang yang ku duga menjadi penghulunya juga sudah datang.


Namun yang masih jadi pertanyaan di benakku, dan belum ada jawaban nya adalah siapa pengantin nya?.


Begitu juga dengan mas Damar, mulai dari aku datang sampai saat ini aku tak melihat nya sama sekali.


"Kemana ya mas Damar?," tanya ku dalam hati.


"Huss huss Sarah apa-apaan kamu? kenapa kamu mencari Damar?" lalu Ku buang jauh-jauh pikiran itu.

__ADS_1


Dan entah kenapa aku jadi kepikiran sama mas Damar.


Lalu dengan tak sengaja aku menggeleng-gelengkan kepala, bergidik ngeri.


Dan tanpa kusadari ternyata pak Randy melihat tingkah aneh ku.


"Kamu baik-baik saja kan Sarah?," tanya pak Randy setelah melihat ku menggelengkan kepala. Dan sejak kapan pak Randy memanggil nama ku tanpa sebutan ibu di depannya.


Jujur saat ini aku sedang tidak enak kalau sedang bersama pak Randy seperti ini setelah waktu dia terlibat pertengkaran dengan aku dan mas Damar.


Entah aku yang ke GR an atau memang itu benar perasaan pak Randy saat bilang aku batu berlian yang pasti banyak orang akan memungut nya termasuk pak Randy sendiri.


Ucapan itu berhasil membuat hati ku berdebar hebat. Perempuan mana yang tak terbang melayang hatinya saat mendengar seperti langsung di depan matanya.


"Aku tidak apa-apa, pak," jawab ku dengan senyum malu.


Sepertinya tamu undangan sudah banyak yang datang, terlihat teman-teman sosialita mantan mama mertua juga sudah datang.


"Silahkan masuk jeng," sambut mantan mama mertua pada teman-teman sosialita nya sambil cipika cipiki dan berjabatan tangan yang terlihat terselip amplop ditangannya.


Dan yang membuat pusat perhatian ku dan pak Randy adalah satu orang lelaki mudah terlihat seumuran Lidya ikut dengan rombongan teman-teman sosialita mantan mama mertua.


Tatapan mantan mama mertua pun berbeda, seperti aummmm.... seperti harimau yang ingin menerkamnya. Terlihat tatapan genit seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.


"Sini masuk, sayang," ucap mantan mama mertua kepada lelaki muda itu dengan mesranya. yang kulihat sebelum mengatakan kata sayang mantan mama mertua menoleh kearah kanan dan kiri. Seperti takut kepergok seseorang.


"iya, Tan. Tante cantik deh," jawab lelaki mudah itu sambil menowel dagu mantan mama mertua.


Aku dan pak Randy saling berpandangan dan kompak tanpa di komando kami bersamaan bergidik ngeri dengan menggelengkan kepala. Setelah menyadari hal itu kami berdua pun tertawa bersama.


Semua tamu sudah datang dan sudah duduk dengan rapi di tempat yang akan dibuat prosesi akad nikah.


Tamu ini lumayan banyak kalau hanya untuk sekedar acara nikah dibawah tangan.


"Sebentar ya, aku panggil penggantinya," ucap mantan mama mertua pada semua tamu.


Lalu mantan mama mertua berjalan kebelakang.


Tapi, kenapa dengan hati ku?? kenapa berdebar kencang seperti ini?? ah.... aku harus secepatnya menenangkan hati ini jangan sampai menangis jika kemungkinan yang akan menikah itu adalah mas Damar.


"Kamu baik-baik saja, Sarah?," tanya pak Randy sambil menggenggam tangan ku seakan memberi kekuatan. Sepertinya pak Randy melihat kecemasan diwajah ku.


Aku pun menggelengkan kepala menutupi semua yang ada dipikiran dan di hatiku saat ini.


Namun tangan pak Randy terus menggenggam tangan ku makin erat.


Lalu dari dalam terlihat Lidya dengan kebaya warna putih dan di make up bak pengantin yang akan duduk di pelaminan.


Lidya terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebayak itu, tak terlihat sikap bar-bar nya saat ini.


Hati ini terasa lega saat aku melihat yang memakai pakaian pengantin itu adalah Lidya.


"Huhhhhhhhh...." tak sengaja aku membuang nafas besar sambil mengelus dada. Sesak di dada pun serasa langsung longgar.


Lidya berjalan kedepan di ikuti dengan teman perempuan nya, yang aku tak tau siapa dia. Karena selama aku tinggal di sini seperti nya Lidya tak mempunyai teman dekat.


Lidya duduk didepan penghulu yang akan menikahkannya secara siri.


Dan terlihat mas Damar keluar dari kamarnya, ia begitu tampan dan kelihatan berwibawa saat memakai atasan koko berwarna putih.


Hati ini berdebar lagi dengan sangat kencang, namun aku sama sekali tak berani menatap nya. Hanya sesekali aku meliriknya.


Lalu dibelakang mas Damar terlihat gundiknya juga keluar dari kamar itu. Dan membuat tubuh ini lemas seketika, ingin sekali ku jatuhkan tubuh ini kelantai. Saat kulihat perempuan itu keluar dari bekas kamarku dulu.


Dan entah mengapa genggaman tangan pak Randy semakin erat. Seakan ia tahu dengan keadaan hati ku saat ini.

__ADS_1


Sambil kulirik kearah Bianca, ternya ia juga memandang ku dengan tatapan penuh ejekan.


__ADS_2