DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Bermain Api Dengan Bos POV Lidya


__ADS_3

Hari ini mas Damar tidak masuk kerja, mungkin dia pulang terlalu larut kemarin malam. Akhirnya aku berangkat kerja dengan membawa mobil sendiri.


Sesampai dikantor aku bekerja seperti biasa, tak ada masalah dengan pekerjaan ku. Saat jam makan siang, aku pergi ke kantin untuk sekedar minum kopi. Karena perut masih teras kenyang mungkin karena tadi pagi aku terlalu banyak memakan makanan yang dimasak oleh mbak Sarah.


Jujur sih masakan mbak Sarah enak, dan rasanya juga tak pernah gagal. Makanya setiap aku makan dirumah aku selalu lagi dan lagi. Jadi aku juga jarang sekali makan diluar, lumayan kan nggak harus keluarkan uang untuk makan enak. Cukup makan dirumah aja dengan masakan mbak Sarah.


Sambil minum kopi di kantin kantor, Aku coba buka sosmed Instagram. Sudah lama sekali rasanya tak pernah berselancar di dunia maya, karena sibuk nya pekerjaan dikantor.


Aku scroll-scroll berita di beranda, dan jari ku terhenti di satu foto. Ya, itu foto Celvin bersama laki-laki gagah tampan dan kelihatan berwibawa. Mungkin laki-laki iku adalah papi nya.


Ku pandang foto itu, dan aku pun langsung membuka akun milik Celvin. Banyak sekali dia membagikan foto-fotonya, saat ia ada di luar negri.


"Seandainya aku juga melanjutkan kuliah S2 bersama Celvin, pasti aku yang ada disampingnya. Dan selalu foto bersama dengannya," ucapku dalam hati saat melihat satu foto Celvin bersama perempuan yang waktu itu dibandara.


"Siapa wanita itu? dan dimana rumahnya?," tanyaku dalam hati. Segera kusimpan foto Celvin dengan wanita itu.


"Aku harus bisa merebut kembali Celvin ku dari wanita itu, bagaimana pun caranya," ucapku lirih dengan tangan kiri ku meremas gelas plastik bekas aku meminum kopi.


Langsung ku tutup Instagram ku, dan beralih ke WhatsApp. Ku cari nomor temanku yang bernama Diana, yang saat ini satu kampus dengan Celvin.


Lalu kukirim kan foto yang tadi aku ambil dari Instagram. Ku tanya semua tentang wanita itu, mulai dari rumahnya, namanya dan latar belakang keluarga.


Tak menunggu lama, balasan dari Diana yang saat ini masih ada di Singapura pun aku terima. Dia memberikan informasi yang sangat lengkap mulai dari nama, alamat serta asal usulnya dan latar belakang keluarga nya.


Sungguh Diana sangat bisa diandalkan untuk menjadi sumber informasi ku tentang Celvin di Singapura. Bagaimana pun caranya aku harus bertemu dengan perempuan itu, untuk memberi pelajaran padanya. Karena dia Celvin meninggalkan ku.


Setelah aku cek alamat yang telah diberikan oleh Diana ternyata ia berasal dari desa yang lumayan jauh dari kota ini. Membutuhkan waktu kurang lebih 3jam dari kota.


Aku berpikir kalau aku kesana hari ini setelah pulang jam kantor, aku pastikan akan kemalaman dijalan. Dan itu sangat menakutkan kalau aku harus membawa mobil sendiri. Karena jalanan yang menuju desa itu terkenal dengan keganasan begal-begal nya di malam hari.


"Apa besok aja aku kesana? Sehari tidak masuk kerja tidak akan sulit bagi ku untuk minta ijin pada pak Anton," ucapku dalam hati dengan senyuman yang licik.


Kulihat jam di tangan menunjukkan waktu istirahat sudah habis, dan aku harus kembali ke ruang kerja ku. Aku menghentikan semua pekerjaan ku, aku sempatkan untuk menemui pak Anton. Pak Anton itu adalah bos yang paling baik dan paling royal. Cukup di beri beberapa sentuhan saja dia akan klepek-klepek.


Sebelum ku ketuk pintu ruangan pak Anton, kulihat kanan kiri. Setelah kup pastikan tak ada siapa-siapa yang melihat, kubuka dua kancing atas kemejaku. Agar sedikit kelihatan belahan yang ada di dada ku. Dan aku tata lagi rambut ku, sengaja rambur aku ikat ekor kuda agar terlihat leher mulus ku.


Aku pastikan penampilan ku sudah sempurna, baru lah ku ketuk pintu ruangan pak Anton.


Tok tok tok,,,


Pintu ku ketuk dengan membawa berkas yang harus di tanda tangi oleh pak Anton.


Terdengar suara pak Anton menyuruhku untuk masuk. Ku pegang gagang pintu untuk membukanya.


"Masuk Lidya," ucap pak Anton pada ku dengan pandangan genitnya.


Aku langsung masuk dan duduk di depan pak Anton, sengaja sebelum aku duduk ku condong kan badan ku ke depan. Agar belahan dada ku terlihat oleh pak Anton.


Tentu saja rencana ku tepat sasaran, tanpa di suruh pun pak Anton sudah memandang pemandangan yang aku suguhkan.


"Ada apa, Lid?," tanya nya dengan senyum yang mengandung banyak arti.


"Ini pak, ada berkas yang harus bapak tanda tangani," jawabku sambil menyodorkan map berwarna merah yang berisi berkas-berkas penting. Ku sodorkan berkas itu dan diambil oleh pak Anton, dan dengan sengaja ku pegang tangan pak Anton dengan lembut.


Pak Anton pun menerima berkas itu dengan tersenyum genit. Dan aku membalas senyuman itu. Lalu ia membaca dengan teliti sebelum ditanda tangani.

__ADS_1


"Lid, ini maksudnya apa ya?," tanya nya dengan menunjuk satu kalimat yang tertulis di dalam berkas itu.


"Yang mana, Pak?," tanya ku dengan melihat apa yang ditunjuk oleh pak Anton.


"Kamu kesini, kalau dari situ kamu nggak akan kelihatan," ucap pak Anton sambil menyuruhku berdiri disampingnya.


Aku pun segera berdiri dan mendekat sesuai perintah pak Anton. Ku betulkan posisi rok pendek dan kemeja ku.


"Yang mana pak, yang bapak tidak mengerti?," tanyaku sambil mencondongkan badan ku kedepan. Sehingga sesuatu ku menempel di pundak pak Anton.


"Yang ini," tunjuk pak Anton asal-asalan. Karena saat aku lirik kearah wajah nya dia memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati sesuatu yang menempel di pundak nya.


Aku pun tersenyum, karena semua rencana ku berhasil.


"Kamu pakai parfum apa, Lidya?," bisik pak Anton pas di telinga ku.


Jujur bisikan itu membuat darah ku berdesir hebat, dan sekujur tubuh ku terasa merinding. Bulu-bulu halus juga serasa berdiri.


"Pak Anton suka dengan aroma parfum ku?," kutanya balik dengan berbisik di telinganya.


"Bau parfum mu begitu menggairahkan, Lidya." Desah pak Anton dengan memejamkan matanya.


Lalu ia menarik tubuh ku sehingga aku terduduk di pangkuan nya. Dan yang membuat ku sedikit geli, ada yang mengganjal dibawah sana.


"Hmm akhirnya kamu terperangkap direncana ku, pak Anton," ucapku dalam hati.


"Kamu begitu cantik, Lidya. Sudah lama aku mengawasi mu,"


Aku pun mulai memainkan sesuatu yang mengganjal dibawah ku. Ku gesek-gesek perlahan, terlihat sekali bahwa pak Anton menikmati nya.


"Aku akan memberimu lebih dari ini, pak?," bisik ku.


"Lakukanlah, Lid. Akan ku turuti semua permintaan mu. Berikan aku kenikmatan dunia, Lid," ucap pak Anton dengan pasrah.


"Tapi jangan disini, pak." Seketika ku hentikan gerakan ku.


"Kamu mau dimana, Lid?," seketika pak Anton membuka matanya.


"Terserah pak Anton, mau nya dimana." jawabku.


"Ayo kita berangkat sekarang!," ajak pak Anton penuh dengan nafsu yang menggebu-gebu.


"Tapi jangan sekarang ya, Pak. Lidya lagi halangan," ucapku.


"Hah? kamu mengecewakan aku, Lid!!."


Terlihat sekali rssa kecewa di wajah pak Anton yang sudah sangat berhasrat itu.


"Tapi gimana kali kita main-main aja dulu?," rayu ku pada pak Anton agar dia tidak marah padaku.


"Kalau begitu, kita bermain disini saja," ucap pak Anton sambil mengangkat tubuh ku dan menghempaskan nya ke sofa yang empuk.


Dan pak Anton mulai melucuti kancing-kancing kemeja ku yang berwarna pink muda ini. Ia mulai membuka satu persatu dari atas sampai kebawah tanpa tersisa kancing satu pun.


Akhirnya tinggal penutup dua gundukan besar yang sangat menggoda ini. Pak Anton pun mulai menyerang dua gundukan itu. Dia melahap satu gundukan dan satunya lagi ia remas-remas.

__ADS_1


Dia terlihat sangat bringas, seperti singa yang sedang menerkam mangsanya. Aku pun tak tinggal diam, aku mulai memainkan area-area sensitif milik pak Anton. Dan pak Anton pun semakin tak terkendali.


Tangannya mulai berselancar di area bawah ku yang sangat sensitif, namun sebelum pak Anton mencapai titik yang ia maksud. Ku mulai tunjukkan kemampuan ku untuk memberi kenikmatan tanpa harus menyentuh mahkota ku saat ini. Karena memang sekarang aku lagi datang bulan.


Akhirnya aku lah yang memimpin permainan, ku mainkan senjata milik pak Anton. Dan ia mulai mendesah keenakan. Ku kulum dan sesekali ku gigit dengan pelan. Aku sangat suka memainkannya dengan mulut ku karena rasanya kenyal-kenyal gimana gitu.


Semakin ku kulum-kulum, rintihan itu semakin keras. Sepertinya pak Anton sangat menikmatinya.


Tak berapa lama Pak Anton pun memuntahkan laharnya tepat di atas wajah ku. Terlihat sekali rasa bahagia tanpa beban di wajah pak Anton.


Dan seketika tubuh nya lemas dan direbahkan diatas sofa.


"Lid, aku mau lebih dari ini." ucap pak Anton dengan mata yang tertutup.


"Iya, pak. Lidya akan berikan lebih dari ini," bisikku


"Begini saja kamu membuat aku lemas. Apalagi nanti?, tapi tenang aku akan mempersiapkan diri agar aku tak kalah lebih dulu dari mu." ucap pak Anton sambil membuka mata. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Akupun mengikuti di belakang pak Anton. Dan kita bersama masuk kekamar mandi. Pak Anton membersihkan bagian bawah tubuhnya dan aku membersihkan wajah ku yang terkena lahar panas milik pak Anton.


Setelah itu aku kembali ke meja kerja milik pak Anton. Dan pak Anton menandatangani berkas yang aku bawa tadi. Ia pun mengembalikan berkas itu padaku setelah di tanda tangani.


Sebelum aku kembali keruangan ku, aku meminta ijin pada pak Anton kalau besok aku tidak masuk kerja. Dan dengan senang hati pak Anton mengijinkan nya.


Saat ia menanyakan alasan kenapa aku besok tidak masuk, aku pun menjawab kalau aku mau ke desa. Dengan alasan pergi kerumah ku yang dulu, karena ada sesuatu yang tertinggal dan aku ingin mencarinya disana.


Tanpa menunggu lama pak Anton pun mengijinkan. Aku pun langsung berdiri dan memeluk serta mencium kening pak Anton yang semakin lebar. Karena rambut nya sudah banyak yang rontok.


Aku segera kembali keruang kerja ku, sebelum aku membuka pintu ruangan pak Anton untuk keluar. Ku rapikan kemeja dan rok mini ku lebih dulu. Tak lupa rambut pun juga aku rapikan.


Saat aku keluar dari ruang pak Anton kulihat kanan kiri tak ada satu orang pun.


"Syukurlah tak ada yang melihat," ucapku lirih dan ku elus dada ku.


Segera kupercepat ayunan kaki ku, agar tak ada orang yang melihatku. Sesampainya di ruangan ku, kembali ku olesi wajah ku dengan make-up.


Sekarang aku sudah kembali cantik dan segar lagi.


"Ternyata mudah sekali merayu tua bangka yang gendut itu," ucapku dengan senyum.


"Tunggu kedatangan ku besok, Mayang. Akan ku buat kamu menyesal karena sudah merebut Celvin dari ku," ucapku dengan penuh kebencian.


Dan kulihat jam, sudah waktunya pulang. Aku membereskan meja kerja ku dan segera pulang. Sesampainya di pintu, dan saat aku mau menutup pintu ruangan kerja ku. Aku berpapasan dengan pak Anton.


"Mau aku antar, Lid?," tanya pak Anton.


"Maaf, pak. Lidya bawa mobil sendiri." Jawabku, bukan nya aku menolak tawaran pak Anton. Tapi memang saat ini aku membawa mobil mas Damar.


"Baik lah. Kalau gitu aku duluan ya sayang," pamit pak Anton dengan tangan nya mencolek dagu ku dan tatapan yang genit.


Aku pun membalas dengan kedipan mata dan bibir ku yang aku monyong kan. Pak Anton pun berjalan dengan tersenyum.


"Nanti hubungi aku ya," ucap pak Anton yang berjalan dan membalikkan badannya kearah ku.


Aku hanya menjawab dengan anggukan dan senyum yang aku buat semanis mungkin.

__ADS_1


Aku pun berjalan menuju parkiran, dan kubuka pintu mobil mas Damar. Dan ku laju kan mobil mas Damar dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai rumah. Ingin sekali ku membersihkan tubuh ini yang selesai berkeringat dengan pak Anton.


__ADS_2