DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Ketukan Pintu Di Malam Hari


__ADS_3

Toko sudah tutup, aku, Mayang dan Kean sudah tertidur. Aku terbangun dari tidurku, karena terdengar suara ketokan pintu dari luar toko.


Kulihat jam didinding, sudah pukul satu dini hari. Ada rasa takut dan was-was, mengingat kita hanya bertiga saja. Tak ada lelaki dewasa disini, yang ada hanya dua perempuan dan satu balita.


Karena aku tak berani membuka pintunya sendiri di jam segini. Akhirnya aku mencoba membangunkan Mayang yang sudah terlelap tidur.


"May... May....," panggilku pelan-pelan. Karena tak ingin Kean terbangun juga. Bisa berabe, kalau Kean ikut terbangun.


Beberapa kali ku panggil Mayang. Namun Mayang tak kunjung bangun. Mungkin kegiatan tadi siang memang sangat menguras tenaga nya.


Bayangkan saja!, mulai pagi setelah sholat ia membantuku membuat adonan kue-5. Setelah itu mengantarku ke outlet cabang, setelah dari outlet cabang langsung kerumah mas Damar untuk mengambil Kean.


Mungkin sekarang Mayang benar-benar capek dan butuh istirahat. Aku pun juga sama, ingin sekali beristirahat. Namun karena mendengar orang yang terus mengetuk pintu, membangunkan tidurku.


tok


tok


tok!!


Suara ketukan itu terdengar lagi, dan tiba-tiba bulu kudukku berdiri.


"May.. Mayang ..." mencoba sekali lagi membangunkan Mayang. Aku goyang tubuhnya dengan pelan agar ia tidak kaget.


"May... May... bangun May...," bisik ku sambil terus ku goyang tubuhnya.


"Ehmm... ada apa mbak?," Mayang terbangun, namun kelihatan nya dia masih bingung.


Ia terduduk dari tidurnya dan mengucek matanya.


"Ada apa mbak? ini sudah jam berapa?," ia mencoba melihat jam sambil matanya menyipit.


"Ini masih jam satu malam," bisikku sambil menaruh telunjuk di bibir ku. Memberi kode pada Mayang untuk lebih pelan kalau bicara.


Selain agar Kean tidak ikut terbangun, juga takut saja orang yang mengetuk pintu dari luar itu mendengar percakapan kita.


"Ada apa mbak? Kenapa mbak bangunin Mayang jam segini?," tanya nya dengan mulutnya menguap. Terlihat sekali kalau ia masih sangat mengantuk.


"Di luar ada yang mengetuk pintu, May." ucap ku memberi tahu Mayang.


"Siapa malam-malam gini yang bertamu, mbak?," tanya Mayang dengan tangan menggaruk-garuk kepalanya.


"Mbak Sarah juga nggak tau," jawab ku sambil menggelengkan kepala.


"Mbak mau bukain, takut," lanjut ku.


Tok


tok!


tok!!


"Itu!!!, suaranya ketukan pintu terdengar lagi." ucapku memberi tau Mayang.


"Kamu dengar kan, May?," tanya ku.


"Iya, mbak. Mayang dengar." Jawabnya.


"Siapa ya mbk? kok Mayang jadi takut gini. Bukan takut kalau itu hantu sih, tapi Mayang takut kalau itu orang jahat. Mana kita cuma bertiga lagi?!," lanjut nya, terlihat kali ini Mayang sudah tidak ngantuk lagi.


Mungkin rasa ngantuk nya hilang karena rasa takutnya datang.


"Trus apa yang harus kita lakukan, May?," tanya ku.


"Apa kita bukakan pintu saja?," lanjut ku.


"Serem ih... mbak. Kita biarkan saja dia mengetuk pintu. Nanti kalau dia capek juga bakal berhenti sendiri, mbak." jawab Mayang sambil merebahkan tubuhnya lagi dan memeluk guling yang ia pegang.


"Tapi kalau dia benar-benar ada kepentingan, gimana May?," tanya ku lagi, karena takut aja ada yang sedang membutuhkan ku. Jadi dengan sangat terpaksa dia mengetuk pintu malam-malam seperti ini.


"Trus mau mbak Sarah, gimana?, apa kita buka saja pintunya?," tanya Mayang dengan duduk lagi tapi matanya tetap merem.


Aku hanya menggeleng kan kepala, karena aku juga bingung. Jadi aku mengambil jalan aman nya saja.


Akhirnya kami berdua kembali tidur, dan suara ketukan itu juga tak terdengar lagi.


Sebelum subuh, aku sudah terbangun untuk melakukan sunah di sepertiga malam. Dan di lanjutkan sholat subuh.


Saat mendengar adzan subuh Mayang pun terbangun, lalu kita sholat subuh berjamaah.


Dan setelah sholat, kita berdua melakukan rutinitas setiap hari.


Belum selesai membuat kue, ternyata Kean sudah bangun. Jam masih menunjukkan jam enam pagi. Sehingga pengasuh Kean belum datang.


"oh ya, May. Baru ingat mbak Sarah pada pengasuh Kean. Gimana kabar nya ya, May? Kata Reni kemarin ia mengejar mama Linda yang membawa Kean kabur." ucap ku dengan menggendong Kean. Sedangkan, Mayang masih me mixer adonan kue.

__ADS_1


"Apa dia tak ada menghubungi mbak Sarah?," tanya Mayang.


"Nggak ada May, makanya mbak khawatir. Takut terjadi apa-apa padanya." ucap ku sambil mengayun Kean di atas gendongan ku.


"Coba aja mbak telepon." usul Mayang.


"Iya bentar lagi, nunggu Kean nggak rewel. Lihat aja dia, nggak mau turun dari gendongan mbak Sarah." ucapku.


Mixer adonan kue sudah selesai, sekarang waktunya mengoven adonan nya.


Mayang terlihat sudah pintar untuk mengeluar masukkan adonan kue kedalam oven.


"Ini jam berapa, mbak? kok anak-anak belum datang?," tanya Mayang, mungkin dia sudah merasa capek.


"Jam setengah tujuh, May. Sebentar lagi mereka juga bakal datang." ucapku sambil menemani Kean bermain di depan televisi.


"Kamu temani Kean, biar mbak Sarah yang lanjutkan." ucapku. Karena kasihan melihat Mayang, mungkin ia kecapean.


"Bu.. ibu...!" teriak Reni dari depan.


"Ada apa Ren?, kok kelihatannya kamu tegang banget?," tanyaku dengan tatapan aneh dengan wajah tegang Reni yang datang-datang sambil panggil-panggil aku, tidak seperti biasanya.


"Di depan Bu, di depan!!," jawab nya.


"Ngomong yang jelas Ren, ada apa?!," kebiasaan Reni kalau ngomong itu setengah-setengah membuat aku penasaran dan takut juga. Teringat semalam ada yang mengetuk pintu.


Aku dan Mayang segera berjalan ke depan, ingin melihat apa yang terjadi di depan. Karena bertanya pada Reni pun percuma, dia sepertinya sangat sulit untuk menjelaskan nya.


Didepan terlihat paman Udin dan Mita, dari dalam toko mereka berdua terlihat kebingungan.


"Mit, Mita ada apa?," tanya ku pada Mita sambil keluar dari toko.


"Loh, mbak Mirna?!," ternyata pengasuh Kean pingsan di depan ruko ku.


"Apa yang semalam mengetuk pintu itu mbak Mirna?," tanyaku dalam hati.


"Paman Udin kuat nggak angkat mbak Mirna kedalam?," tanya ku.


"Kalau sendirian paman nggak kuat, Bu." Jawab paman Udin sambil menggaruk kepalanya.


Paman Udin memang nggak akan kuat, karena ia sudah tua dan tubuh mbak Mirna juga lebih besar darinya.


Akhirnya kami putuskan menggotong nya bersama-sama. Dan akhirnya kini mbak Mirna sudah terbaring di depan televisi.


"Aku juga berpikir seperti itu, May." jawabku sambil duduk disamping tubuh mbak Mirna yang sedang terbaring.


Sedangkan Reni dan Mita, melanjutkan mengoven adonan kue yang belum selesai.


"Kenapa mbak Mirna sampai seperti ini ya, May?," Aku jadi merasa bersalah padanya. Karena menurut Reni mbak Mirna mengejar mama Linda saat mama Linda membawa Kean pergi.


Sedangkan Kean yang melihat pengasuhnya sedang terbaring, ia terus memeluk dan menciumi pipi mbak Mirna.


Mungkin hati Kean juga ikut sedih, melihat keadaan pengasuh nya. Kean dan mbak Mirna memang sangat dekat.


Lalu aku melihat tangan mbak Mirna bergerak, dan aku langsung mendekati tubuh nya.


"Mbak... mbak... mbak Mirna... Bangun..." bisik ku ditelinga mbak Mirna pengasuh Kean.


Lalu ia membuka matanya dengan pelan, setelah matanya terbuka lebar. Ia bergegas bangun dari tidurnya dan langsung terduduk sambil terus memanggil Kean dan menangis.


"Mbak Mirna, sabar ya mbak. Mbak Mirna kenapa menangis?," tanya ku sambil mengelus punggung nya.


"Maafkan saya Bu, saya yang teledor. Gara-gara saya teledor Kean dibawa kabur oleh orang asing itu." ucapnya penuh penyesalan dan dengan tangisan.


"Mbak Mirna nggak salah, yang salah memang orang itu yang tiba-tiba membawa Kean." ucapku membujuk mbak Mirna agar hatinya tenang dan tidak merasa bersalah lagi.


"Tapi gara-gara aku yang teledor, Kean masih belum aku temukan Bu," ia semakin menangis histeris.


Kean yang sedang bermain di dalam kamar, saat mendengar pengasuhnya menangis histeris, ia pun langsung berlari ke pengasuhnya itu. Dan langsung memeluk nya.


Aku yang melihat itu, tak terasa air mata ini pun jatuh di pipi. Ada rasa haru didalam hatiku. Melihat kedekatan Kean dan pengasuhnya itu.


Kalau mbak Mirna nggak baik dalam mengasuh Kean, aku yakin Kean tak akan sedekat dan sayang seperti itu pada pengasuh nya.


Kulihat, Mayang pun menangis terharu melihat sikap Kean pada pengasuhnya itu.


"Mbak Mirna minum dulu ya, setelah ini sarapan," ucapku sambil menyodorkan segelas air putih.


Aku tak ingin menanyakan apa-apa dulu, melihat kondisi mbak Mirna yang saat ini masih terlihat lemas dan pucat. Aku yakin mulai dari kemari ia belum makan.


"Mit, Mita....," panggil ku pada Mita yang sedang menata kue kedalam etalase.


"Iya, Bu." jawab nya sambil berjalan kearah ku.


"Tolong, mbak Mirna kamu belikan nasi didepan ya, soalnya aku belum masak." perintah ku pada Mita.

__ADS_1


Aku memang jarang sekali masak. Para karyawan ku sedang aku kasih uang untuk makan. Jadi aku tak perlu ribet untuk masak, mereka bisa bawa sendiri dari rumah atau beli Langsung di didepan. Itu terserah mereka, sesuai keinginan mereka sendiri.


Mita pun berangkat setelah aku beri uang, didepan ruko ada cafe kecil yang menyediakan berbagai makanan dan camilan. Jadi Mita nggak perlu jauh-jauh kalau hanya membeli nasi dan ayam goreng saja.


Tak menunggu lama, Mita pun datang dengan membawa sekotak nasi ayam geprek.


"Mbak Mirna makan ya, biar tenaga nya pulih kembali" ucap Mita sambil menyodorkan nasi ayam geprek nya.


Mbak Mirna langsung memakannya, ia memakan dengan sangat lahap. Terlihat sekali kalau ia sangat lapar.


"Pelan-pelan, mbak." ucapku.


Namun ia tak menjawab dan terus menyuapkan nasi kemulut nya, dan sesekali ia meminum air yang aku beri tadi.


Terdengar suara pintu harmonika toko di buka oleh paman Udin. Dan toko pun diserbu pelanggan yang sudah menunggu didepan sedari tadi.


Sedangkan aku masih menemani mbak Mirna yang sedang makan.


"Setelah selesai makan, mbak Mirna langsung mandi ya. Biar aku siapkan bajunya." ucap ku sambil berdiri untuk pergi kekamar menyiapkan baju untuk mbak Mirna.


Sedangkan Kean dengan setia duduk disamping pengasuhnya yang sedang makan. Sambil terus memeluk dan menciumi mbak Mirna.


"Mbak, ini baju nya." ku taruh baju yang bekas punya ku dan dalaman yang masih baru.


"Iya, Bu. Terimakasih." jawabnya.


Kini dia selesai makan dan berdiri untuk pergi kekamar mandi sambil membawa pakaian ganti yang aku berikan tadi.


Sambil menunggu mbak Mirna selesai mandi, aku ke toko untuk membantu anak-anak melayani pembeli.


"Ren, biar aku yang kasiri. Kamu bantu Mita melayani pembeli." perintah ku.


Reni segera beranjak dari duduknya, dan langsung melayani pembeli yang sedang memilih kue-kue yang sudah terpajang di etalase.


Setelah pembeli sudah agak sepi, aku pun masuk kembali kedalam rumah.


Dan mbak Mirna sudah selesai mandi, dan kini sedang duduk bermain bersama Kean.


"Mbak, mbak Mirna bisa cerita kan kejadian kemarin? Sampai mbak Mirna bisa pingsan didepan ruko?." Aku meminta mbak Mirna untuk bercerita. Karena aku rasa mbak Mirna sudah kembali pulih.


Mbak Mirna pun menceritakan kejadian dimana Kean di bawah pergi oleh mama Linda.


🌸 flashback on.


POV Mirna Pengasuh Kean


Siang itu, aku dan Kean bermain di depan toko. Depan toko area terasnya lumayan lebar. Jadi Kean masih bisa bermain disitu tanpa takut dia berlari ke jalan raya.


Pembeli saat itu sedang tak begitu ramai, dan salah satu pembeli yang sedang berjajar di depan etalase adalah Bu Linda yang mengaku neneknya Kean.


Jujur, aku tak pernah tau dengan Bu Linda. Apalagi dia mengaku kalau dia adalah neneknya Kean.


Tanpa menaruh curiga, walau beberapa kali aku memergoki dia memandang Kean. Aku pun tak memperdulikan itu, aku kira ia hanya kagum dengan kegantengan dan kelucuan Kean.


Pembeli pun sudah tidak ada, tinggal ibu Linda saja yang terlihat sok sibuk memilih. Padahal ini hanya toko roti, kalau memang lagi pingin itu ya langsung aja dipilih.


Tapi tidak dengan Bu Linda waktu itu, dia seperti sedang mengulur-ulur waktu.


Dan disaat bersamaan, Kean minta minum susu. Yang kebetulan botol susu nya berada di dalam.


Mau tak mau, aku harus mengambilnya, waktu aku ajak Kean ke dalam untuk mengambil botol susunya. Dia tak mau, karena masih asyik dengan permainan nya.


Aku pun menitipkan pada Redi yang sedang duduk di meja kasir. Pikir ku ia bisa mengawasi Kean, karena toko sudah sepi dan hanya tinggal Bu Linda saja. Reni pun menyanggupi permintaan tolong ku.


Waktu aku kedalam, aku mendengar ada keributan di luar. Sepertinya Reni sedang bersitegang dengan seseorang.


Saat aku keluar Reni bilang kalau Kean di bawah neneknya. Aku pun berlari mengejarnya, dan ternyata dia dan Kean masih ada di depan.


Kean waktu itu sedang menangis histeris, dan yang membuat aku sakit hati. Orang yang mengaku neneknya Kean itu memukul dan mencubit paha Kean.


Aku berusaha mengambilnya dari gendongan Bu Linda. Namu perempuan paruh baya itu sangat kuat memegang Kean. Dan aku terhempas ke bawah pohon. Dia pun langsung naik taksi online yang sudah stay dari tadi.


Aku tak mau ketinggalan, aku naik ojek yang ada di depan toko.


Aku membuntuti taksi online yang di naiki Bu Linda dan Kean. Terlihat dari luar, Kean menangis Histeris.


Sampai dirumah Bu Linda Kean pun masih menangis, Dan aku turun, maksud hati ingin mengambil Kean. Namun apa daya Bu Linda menyekap ku di kamar mandi. Dan malam hari aku di keluarkan oleh Bu Linda.


Dan di bawah ke pinggir jalan, aku pun bingung mau kemana dan naik apa. Karena ini sudah malam, uang pun aku tak punya.


Akhirnya aku berjalan kaki ke ruko Bu Sarah. Sampai diruko Bu Sarah mungkin sudah dini hari. Aku pun mencoba mengetuk pintu toko, walaupun aku sudah tau Bu Sarah tak akan membukakan pintu di jam semalam itu.


Dan aku pun tak kuat karena seharian disekap di dalam kamar mandi tak diberi makan. Pandangan ku pun kabur dan menggelap. Setelah itu aku sudah tidak tau.


🌸 Flashback off

__ADS_1


__ADS_2