DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#321


__ADS_3

 Veni mengikuti langkah Awan dari belakang dengan menggendong Kay yang sudah tertidur.


"Tega kamu, mas!," gumam Veni.


Saat menuruni tangga teras salon Siska, terlihat Laras dan Ambar sudah menunggu di mobil milik Veni.


"Kalau jalan buruan, Ven!!!, jangan lelet seperti siput!!," teriak Veni saat melihat Veni sudah berada di tangga.


Bukan nya membantu menggendong Kay, Awan hanya menoleh saja kebelakang, Kearah Veni yang sedang berjalan, saat Laras memanggilnya.


"Mas, bantu aku gendong Kay." ucap Veni pada Awan.


"Aku rasa kamu sudah bisa menggendong nya." gerutu Awan dengan terus melangkah menuju mobil.


Kini Veni sudah sampai di mobil nya yang terparkir di halaman salon Siska. Dan Kay diserahkan pada Awan, karena Veni lah yang akan membawa mobil nya.


"Buruan buka pintunya!!," bentak Laras pada Veni. Laras semakin semena-mena dengan menantunya yang dulu nya di puja-puja itu.


Lalu Veni memencet tombol yang ada di kunci mobilnya. Dan Veni segera masuk ke bagian kemudi.


"Heh?!!, enak saja kamu langsung masuk!!!, buka kan pintu untuk aku!!," ucap Laras dengan mata melotot kepada Veni.


"Ibu bisa kan buka sendiri, jadi tak harus menyuruh ku." Jawa Veni dengan tetap melanjutkan langkah nya untuk masuk kedalam mobil.


"Enak saja!!!, disini aku yang berkuasa!!," Laras marah, tangan nya berkacak pinggang, dengan tatapan tajam kepada Veni.


"Hufftt....," Veni menghela nafas panjang. Lalu menoleh lagi pada Laras.


"Apa ibu lupa kalau ini mobil ku?!," jawab Veni lalu kembali membelakangi Laras lagi dengan kedua bola matanya memutar. Itu menandakan kalau Veni sedang jengah dengan sikap mertuanya.


"Dasar kamu itu menantu kurang ajar!!!," ucap Laras sambil membuka pintu mobil, dan langsung masuk didalam. Dan dengan kekuatan super, Laras menutup pintu mobil itu.


Sehingga Veni dan Awan secara bersamaan terjengkat dari duduk nya, karena kaget dengan suara pintu yang ditutup.


"Bu..!!, apa ibu bisa menutup pintu dengan pelan?!!, kalau ada apa-apa dengan mobilku, gimana?!!," teriak Veni, seketika ia menoleh kebelakang dimana Laras dan Ambar duduk.


"Lihat, wan!!, istri mu ini makin kurang ajar. Sudah berani membentak ibu mu yang tua ini." adu Laras pada awan dengan berurai air mata.


Veni pun sangat kaget saat melihat mertua nya dari kaca spion, ia terkejut dengan air mata yang menetes di pipi Laras.


Bagaimana bisa seorang Laras menangis, Veni sangat yakin kalau itu hanya akting Laras saja. Untuk mencari pembelaan dari anak-anaknya.


"Veni bentak ibu, karena lama-lama ibu nyebelin!!," sahut Veni.


"Apa ibu nggak sadar, kalau ini mobil ku?," lanjut Veni, dengan mata melotot pada Laras lewat kaca spion mobilnya.


"Cukup, Veni!!," bentak Awan pada Veni.


"Tak sepantasnya kamu bentak-bentak ibu ku, yang tak lain adalah ibu mu juga!!," lanjut Awan dengan menatap tajam Veni.


"Tapi ibu mu itu seperti tak punya aturan, mas!," ucap Veni.


"Ven, ibu ku adalah ibu mu!!, bisa nggak sih kamu jangan bicara seperti itu?!, apa kamu tak takut kualat?!," Awan tak terima kalau ibu nya di jelek-jelekin.


"hmm kualat?!, mana ada ucapan yang tak beradab itu menjadi keramat." gerutu Veni dengan bibir yang mencincing.


"Apa yang kamu bilang, Ven?!," bentak Awan saat mendengar ucapan Veni yang sedikit pelan itu.


"Tidak, aku tidak bicara apa-apa." jawab nya dengan pandangan mata nya terus fokus ke jalan yang di lewatinya.


"Lihat, Wan. Seperti ini lah sikap istri mu padaku." rengek Laras.

__ADS_1


"Padahal, dia yang membawa lari sertifikat rumah ku. Tapi aku yang selalu ditindas oleh istri mu." lanjut Laras.


"Hah?!, ditindas?!," ucap Veni dengan mengernyitkan dahi nya. Veni bingung dengan pengakuan ibu mertua nya itu.


"Kamu ingin mengadu domba aku dengan mas Awan?!, lihat aja aku akan meladeni mu Mak Lampir." gumam Veni dalam hati.


"Ibu, ini niat sekali bicara seperti itu pada mas Awan, apa ibu mau mengadu domba aku dengan nya?," tanya Veni.


"Aku tak ada niat mengadu domba mu, Ven. Tapi apa yang aku katakan itu adalah kebenaran nya." jawab Laras.


"Kebenaran darimana, bu?!," tanya Veni dengan mata melotot pada Laras lewat cermin spion mobilnya.


"Veni!!, apa kamu lupa dengan apa yang terjadi sebelum kita sampai di salon milik Siska?!," Laras bertanya balik pada Veni.


"Memang apa yang terjadi sebenarnya, Bu?, kok bisa-bisanya kalian sampai di kampung yang sepi itu?!," tanya Awan, yang sebenarnya dari awal ia ingin tau cerita yang sebenarnya. Namun karena masalah Veni dengan ibu nya tak selesai-selesai. Awan pun lupa dengan kejadian dimana Laras dan Ambar tak sadarkan diri.


"Coba kamu tanyakan langsung pada istri mu yang sialan itu!!," jawab Laras dengan melirik Veni yang memegang kendali mobil yang mereka tumpangi saat ini.


"cepat ceritakan pada ku, Veni!!, apa yang sebenarnya terjadi?!," tanya Awan dengan nada tinggi.


"Aku hanya tersesat," jawab Veni dengan singkat.


"Mana mungkin kamu tersesat?, mana mungkin kamu lupa jala kearah salon Siska?, rasa nya itu sangat mustahil, wan." sahut Laras.


"Benar yang dikatakan, ibu. Tidak mungkin kamu sampai lupa dengan jalan menuju salon Siska. Bukankah Siska itu teman mu?," tanya Awan sambil melirik sinis pada Veni.


"Kalau kalian tak percaya, ya sudah." jawab Veni dengan enteng nya sambil memutar bola matanya.


💕 flashback on 💕


Waktu Laras dan Ambar tak sadarkan diri, akibat di kerjain oleh Veni. Veni pun segera membawa mereka berdua ke puskesmas terdekat kampung itu.


Sebenarnya, Veni juga tak pernah masuk ke daerah itu. Namun, karena ia ingin memberi pelajaran pada Laras dan Ambar yang sudah mengetahui kalau sertifikat rumah nya diambil dan di gadaikan oleh Veni.


Veni pun nekat membawa mereka ke kampung itu. Veni pun tak tau kalau kampung itu sangat sepi, karena saat pikiran Veni kacau, ia mengambil jalan yang arah kampung itu. Seharusnya untuk menuju salon Siska, ia cukup mengambil jalan lurus.


Pada saat Laras dan Ambar tak sadarkan diri, Veni takut dan sangat bingung. Ia takut akan terjadi apa-apa pada mereka berdua.


Akhirnya dengan terpaksa, Veni menghubungi Awan. Veni sudah siap menerima konsekuensinya kalau Awan akan marah dengan apa yang dilakukan oleh Veni pada mentua dan saudara ipar nya.


Karena tak mungkin juga, kalau Veni akan membawa mobil sendiri di kampung yang sepi ini, apalagi di malam hari.


Karena sampai di puskesmas terdekat itu, waktu sudah sangat sore. Dimana matahari sudah menenggelamkan dirinya di ufuk barat.


Setelah dua jam menghubungi Awan, akhirnya suami Veni itu pun datang dengan naik taksi online. Karena memang saat ini mobilnya sedang di pakai oleh Veni.


Pada saat Awan datang, Laras dan Ambar secara bersamaan tersadar dari pingsan nya.


"Awan...," rengek Laras


"Ibu dan mbk Ambar nggak apa-apa?," tanya Awan yang terlihat sangat jelas.


"Ayo kita ke salon Siska sekarang." ajak Laras pada Awan.


"Untuk apa?, ibu sedang tidak begitu sehat. Lebih baik kita pulang agar ibu dan mbak Ambar bisa beristirahat." jawab Awan.


"Tidak, Wan!!, kita harus ke salon Siska malam ini juga!," Laras kekeh ingin kesalon Siska.


"Ini sudah malam, Bu. Pasti salon nya juga sudah tutup. Kalau mau perawatan, besok kita kembali kesana." bujuk Awan.


"Tidak, Wan. Kita kesana sekarang, bukan karena aku ingin perawatan." jawab Laras.

__ADS_1


"Lantas?," tanya Awan sambil mengernyitkan dahi nya.


"Kita ke sana untuk menanyakan sertifikat rumah yang telah di curi istri mu dan digadaikan nya pada Siska." jawab Laras.


"Apa?!, Veni mencuri sertifikat rumah dan digadaikan?!," Awan kaget dengan apa yang di katakan oleh ibunya.


"Benar, Wan. Istri mu telah mencuri sertifikat rumah di laci lemari kamar ibu, lalu istri mu gadaikan pada Siska yang punya salon besar di kota ini." sahut Ambar, membenarkan ucapan Laras.


Lalu, Awan pun menoleh kearah Veni yang duduk di belakangnya.


"Apa benar yang dikatakan oleh ibu dan mbak Ambar, Ven?!," Tanya Awan dengan mata melotot.


"Tidak benar, mas. Mereka memfitnah ku." elak Veni.


"Kamu berani mengelak, padahal bukti sudah ada, Ven?!," sahut Laras.


"Ibu jangan fitnah aku seperti itu?!, kenapa ibu jahat sih padaku?!!," Veni masih menyangkal nya.


"Oke, kalau kamu tak mengakui nya. Lebih baik sekarang kita ke salon milik Siska." ajak Awan.


Lalu. Awan berdiri dari duduknya, sedangkan Laras dan Ambar pun bersiap-siap untuk pergi dari puskesmas itu.


"Tunggu, mas!!," panggil Veni.


"Apa kamu tidak percaya dengan ku?," tanya Veni dengan wajah memelas pada Awan.


"Aku akan mempercayai mu. Kalau sudah terbukti kamu tidak melakukan nya." jawab Awan.


Lalu Awan berjalan meninggalkan Veni, di belakang awan di ikuti oleh Laras dan Ambar yang tubuhnya sudah kembali segar seperti semula.


"Huuuufft....," Veni menghela nafas panjang.


"Semoga saja, salon Siska sudah tutup." gumamnya lirih.


"Dan satu lagi, Sarah!!! Nanti setelah urusan sertifikat ini selesai, kamu harus menjelaskan tentang kejadian hari ini yang tengah di alami."ucap Awan sambil membalikkan tubuhnya kearah belakang, dimana Veni berjalan di belakang Laras dan Ambar.


Sampai di mobil, Awan mengambil kunci mobil di tangan dingin Veni.


"Kenapa tangan mu sedingin ini, Ven?!," tanya Awan setelah tangan nya menempel di tangan Veni.


"Aku yakin dia pasti takut saat ini." sahut Ambar yang sedang berdiri di disamping pintu mobil.


Tanpa banyak kata, Veni masuk kedalam mobilnya, setelah kunci pintu nya sudah di buka.


Mesin mobil pun sudah hidup dan kini mobil sudah meluncur kearah salon milik, Siska.


"Kalau bawa mobilnya, jangan kenceng-kenceng, mas. Aku mau menghubungi Siska terlebih dahulu. Takut saja, salonnya sudah tutup. Karena biasanya, jam segini salon Siska sudah tutup." ucap Veni beralasan.


"Mbar, mana handphone mu?," tanya Laras dengan menengadahkan tangan nya pada Ambar.


"Untuk apa, Bu?!," tanya Ambar.


"Untuk segera menelpon Siska. Untuk memastikan kalau Siska masih belum tutup." jawab Laras.


"Biar aku saja yang menghubungi nya, Bu." sahut Veni. Veni sengaja meminta diri nya yang menghubungi Siska. Karena dengan cara itu, ia bisa berbohong kalau salon milik Siska sudah tutup.


Namun rencana tinggal rencana, Laras seperti nya sudah bisa membaca situasi. Laras seperti tau kalau Veni akan berbohong.


Laras pun tak mengijinkan Veni menelpon pada Siska. Akhirnya Veni sendiri yang menghubungi Siska. Dan ternyata Siska baru saja menutup salonnya. Namun Siska masih mau menunggu kedatangan mereka.


💕Flashback off💕 1612

__ADS_1


__ADS_2