
"Assalamualaikum, Sar?, kamu kemana saja? Kenapa semalam kamu tidak pulang?, apa kamu baik-baik saja?," Tanya Sinta dari panggilan telepon nya pagi ini.
"Sstttttttt, cerita nya panjang, Sin. Tapi kamu tenang saja. Aku baik-baik saja." jawabku dengan berbisik takut mas Bima mendengar apa yang aku bicarakan.
"Cepat katakan, kamu dimana??, aku tak tenang kalau kamu tak menceritakan semuanya padaku!!!." sepertinya Sinta sangat ingin tahu apa yang tengah aku alami saat ini. Sehingga semalam aku tak pulang kerumahnya.
"Bukannya aku ikut campur dengan urusan mu, Sarah!, tapi sedikit banyak kamu adalah tanggung jawab ku. Saat kamu masuk dan tidur di rumah ku. Berarti kamu sudah menjadi tanggung jawab ku. Maka dari itu aku mohon, ceritakan padaku semuanya." lanjut Sinta dengan tegas dan penuh tanggung jawab.
Benar apa yang dikatakan oleh Sinta, mungkin aku akan melakukan hal yang sama kalau aku berada diposisi Sinta.
Sungguh aku bersyukur punya sahabat seperti Sinta. Dia begitu sayang dan perhatian padaku.
"Aku sekarang sudah ada dirumah ku sendiri, Sin. Jadi aku mohon kamu jangan mengkhawatirkan aku." jawabku. Aku kasian kalau Sinta terus memikirkan aku.
"Kenapa kamu ada dirumah mu?!," tanya Sinta terkejut.
"Cerita nya panjang Sin, dan tak mungkin aku bercerita di sini.Aku takut ketahuan mas Bima, sin." jawabku dengan berbisik lewat panggilan telepon.
"Maksud kamu takut dengan Bima itu apa, Sarah?, cepat cerita kan padaku!!," sepertinya Sinta makin khawatir mendengar apa yang aku ucapkan tadi.
"Kamu sedang masak apa, sayang." tiba-tiba mas Bima berada di belakang ku dan memeluk tubuh ku dari belakang, saat aku sedang berdiri di dapur.
Aku memang sengaja menerima panggilan telepon dari Sinta di dapur, agar mas Bima tak mendengar nya.
Saat aku mendengar suara mas Bima, handphone ku langsung aku taruh di saku baju piyama ku yang berwarna navi.
"Sarah sedang bingung memikirkan menu masakan hari ini, mas." jawab ku, karena aku tadi disini tidak bermaksud untuk masak, aku ada disini hanya untuk menerima panggilan telepon dari Sinta.
"Kalau begitu, kamu tak usah lah repot-repot masak. Nanti kita beli saja." ucap mas Bima.
"Sekarang kita kembali ke kamar ya..!!," Lanjut mas Bima.
"Aku sangat menginginkan nya, dan aku tau kamu juga pasti sangat menginginkan nya. Maafkan aku yang semalam ketiduran. Tubuhku rasanya sangatlah capek, sehingga tak terasa aku tidur duluan, tanpa memberikan mu nafkah batin." mas Bima memeluk ku dengan erat dan bibirnya mendarat tepat di leher ku. Dia berkata seakan-akan aku menginginkan nya.
Padahal saat ini jujur saja, aku sudah hilang rasa dengan nya. Semenjak apa yang ia lakukan dengan mantan istrinya. Dan ditambah dengan kejadian yang ku alami kemarin karena ulah gilanya.
"Seharusnya kalau kamu memang menginginkan nya, jangan sungkan-sungkan untuk membangun kan aku dan meminta itu pada ku. Aku akan memberikan nya pada mu dan aku siap melayani mu dan memberikan kenikmatan untukmu." lanjut nya dengan sangat percaya diri.
"Dan pagi ini aku sangat menginginkan itu, aku harap kamu bisa memberikan aku kenikmatan surga dunia yang sangat luar biasa." Bisik mas Bima lagi tepat di belakang telinga ku.
Hembusan nafas nya tepat mengenai area kulit sensitif ku. Jujur hasrat itu muncul karena rangsangan yang mas Bima berikan.
Namun aku masih sadar dan masih bisa mengendalikan hawa nafsu ku.
Akan terus aku ingat semua pengkhianatan dan kekejaman yang mas Bima lakukan terhadap aku dan Kean.
Karena hanya dengan begitu, aku bisa meredam hasrat ini yang sedang menggebu-gebu.
__ADS_1
"Maafkan Sarah, mas. Kali ini Sarah sedang halangan." Aku beralasan pada mas Bima .
"Hah?, benarkah itu?!!," tanya mas Bima dengan wajah kecewa padaku.
"Iya, mas. Maafkan aku, sebenarnya sebagai istri aku ingin sekali memberi kepuasan pada suami agar suami tak melirik wanita lain di luar sana. Namun apa daya dengan kodrat ku sebagai wanita yang sudah ditakdirkan untuk mengalami datang bulan di setiap bulan nya." Ucapku pada mas Bima.
"Tapi kenapa harus saat ini, saat aku menginginkan nya dengan mu?!," tanya mas Bima dengan membalikkan tubuhku, yang awalnya aku membelakangi nya. Kini aku dan mas Bima saling berhadapan.
"Itulah yang dinamakan takdir, mas. Dan kamu harus menerima nya." jawabku dengan menatap mata mas Bima.
"Tapi kamu tak membohongi ku kan, Sarah?, kamu tidak sedang menghindari aku kan?!," tanya mas Bima. Sepertinya mas Bima ragu dengan apa yang ku katakan.
Ternyata tak mudah membohongi dan menyakinkan mas Bima yang sangat keras kepala dan egois ini.
"Kenapa aku harus berbohong padamu, mas?, Sedangkan aku tahu kalau berbohong itu dosa hukum nya. Apalagi berbohong pada lelaki yang sudah berstatus menjadi suami nya. Bisa-bisa aku menjadi istri yang dilaknat oleh Allah. Dan aku tak mau itu terjadi padaku." ucapku.
Ya Allah, ampuni aku dan aku mohon jangan laknat aku karena sudah berbohong. Aku melakukan kebohongan ini, karena aku hanya ingin melindungi diri ini dari mas Bima. Setelah apa yang telah mas Bima lakukan padaku dan Kean.
Rasa trauma atas kejadian kemarin membuat jiwa ku terus ketakutan.
"Baik lah kalau begitu, aku percaya dengan mu. Karena aku sangat yakin kamu adalah istri yang sholehah. Jadi tak mungkin kamu akan membohongi ku." ucap mas Bima, sepertinya ia percaya dengan alasan yang aku berikan padanya.
"Kamu kembali saja ke kamar, mas. Aku akan memasak masakan kesukaan mu." ucapku agar mas Bima mau meninggalkan aku sendiri disini.
Padahal aku tak punya ide memasak apapun sekarang. Karena aku tak tahu bahan masakan apa yang tersedia di lemari es saat ini.
"Mas Bima bisa menunggu ku di kamar, nanti kalau aku sudah selesai masak nya, aku akan memanggilmu mas." ucapku. Karena risih rasanya saat memasak gini di temani oleh mas Bima.
"Baik lah kalau begitu, kebetulan aku juga masih ngantuk." ucap mas Bima dengan mulutnya menguap.
Lalu ia berjalan meninggalkan aku, menuju ke dalam kamar.
Saat kurasa mas Bima sudah tertidur didalam kamar. Aku berjalan ke depan untuk melihat situasi, aku harus bisa mencari jalan untuk keluar dari mas Bima.
Saat sampai di pintu depan, betapa kagetnya aku ternyata kunci pintu tak ada di sana. Sepertinya mas Bima sudah mengambilnya, ternyata mas Bima sudah merencanakan ini semua, mungkin ia takut kalau aku akan kabur dari disini.
Aku kembali ke dapur, untuk membuat sarapan mas Bima dan Kean.
Aku melihat beberapa bahan masakan yang ada di dalam lemari es.
"Brakkk,"
Tiba-tiba handphone yang ada di saku baju ku terjatuh.
Saat ku ambil, betapa kagetnya aku, saat melihat panggilan telepon ku bersama Sinta masih terhubung. Aku kira panggilan nya sudah terputus.
"Hallo, Sin?, apa kamu masih di sana?," tanyaku.
__ADS_1
"Iya Sin. Dan aku sudah tau semuanya." jawab Sinta dari sebrang telepon.
"Jadi saat ini kamu sudah berada di rumahmu bersama Bima?," tanya nya lagi.
"Iya, Sin. Aku tak bisa bercerita semuanya di sini." jawab ku pada Sinta.
"Kalau begitu aku menunggu mu dirumah, untuk menceritakan ini semua." ucap Sinta.
"Inshaallah, Sin. Kalau aku bisa keluar dari rumah ini, aku akan segera kerumah mu," jawab ku.
"Baik, Sarah. Kamu harus bis jaga diri di sana." panggilan telepon segera ku matikan, takut mas Bima mengetahui nya. Bisa-bisa handphone ku di ambil oleh mas Bima.
Kini aku memasak dengan bahan makanan yang seadanya di dalam lemari es.
Setelah tertata rapi di atas meja makan, aku panggil mas Bima yang berada di dalam kamar. Namun ternyata mas Bima terlihat masih tertidur pulas.
Lalu aku menuju ke kamar Kean, dan ternyata anak lelaki kecilku itu sudah terbangun.
"Sudah bangun, sayang?," tanyaku saat aku membuka pintu kamarnya.
"Sudah mama." jawabnya. Ini kesempatan ku untuk bertanya-tanya dan menasehati Kean agar tidak sembarangan ikut orang saat pulang sekolah.
"Kean juga sudah mandi loh, ma." lanjut Kean sambil mencium tubuhnya.
"Wah, anak amma memang pintar." ucap ku sembari mendekat dan duduk di samping nya yang saat ini duduk di bibir kasurnya. Dan ku cium ujung kepala nya.
"hmmm harum..., " gumam ku setelah mencium ujung kepala nya.
"oh,,, kemarin kenapa tiba-tiba Kean pulang sekolah dengan ayah Bima?," tanya ku dengan sangat pelan.
"Iya amma. Kata ayah Bima, amna sibuk jadi nggak bisa jemput Kean. Jadinya Kean pulang bareng ayah Bima deh!." jawab Kean dengan polos nya.
"Tapi kenapa diajak ke rumah nenek? kenapa nggak langsung pulang?, " tanyaku lagi, karena aku sangat penasaran alasan apa yang di buat mas Bima untuk mengajak Kean, sehingga dengan mudah Kean mau ikut dengan nya.
"Kata ayah Bima, amma akan menjemput kita di sana. Setelah semua urusan amma selesai. Emang amma sibuk apa sih?, padahal Kean pingin nginap di rumah nenek." ucapnya dengan raut wajah kecewa.
"Hmmm... amma sibuk di toko roti, jadi harus agak lama ada di sana." Aku berbohong pada Kean, karena sangat tak mungkin kalau aku harus jujur bahwa aku saat itu sedang ketiduran di ruang Sinta.
"Tapi ayah Bima baik kan sama Kean?," tanya ku pada Kean.
"Baik kok ma, Kean di belikan banyak makanan sewaktu pulang sekolah." jawab nya dengan wajah sangat gembira.
"Trus kenapa rumah nenek waktu itu sepi?, kemana nenek dan bude Ambar?," tanya ku lagi.
"Nenek dan bude Ambar pergi bersama kakak Putri dan bundanya." jawab Kean.
"Sarah... Sarah....!!, dimana kamu?!." suara mas Bima berteriak mencari ku.
__ADS_1
"Sarah.... Sarah... Sarah!!!,"...