
"Kamu itu jangan terlalu boros, Sarah!!, kasian Bima kerja banting tulang untuk menghidupi kami dan anak mu!!!, padahal bukan kewajiban Bima menghidupi anak mu, karena dia adalah anak orang lain." kali ini Mbak Ambar yang angkat bicara.
"Kenapa mbak Ambar yang marah?, mas Bima saja tak pernah keberatan dengan itu." ucap ku kesal, karena ucapan mbak Ambar kali ini sangat menyakitkan. Membawa-bawa anak ku dalam masalah ini, lagian kalau pun mas Bima tidak menafkahi ku. Aku sangat mampu memberi makan, tempat dan pakaian yang layak untuk anak ku. Aku semakin geram dengan keluarga mas Bima.
Aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini, aku berjalan ke teras rumah. Dan aku lupa kalau di teras saat ini ada mas Awan yang sedang menghisap rokoknya.
"Mau kemana, Sar?," tanya mas Awan saat melihat ku keluar dari pintu rumah.
"Di dalam gerah, mas. Aku mau cari angin segar." jawab ku.
Namun kenapa tatapan mas Awan aneh seperti itu padaku?. Kok aku merasa risih dengan tatapan mas Awan.
Takut terjadi fitnah, aku pun memutuskan untuk masuk kembali kedalam rumah.
"Kamu darimana Sarah?, kok tiba-tiba keluar?," tanya mas Bima. Dan diruangan ini hanya ada mbak Veni dan mas Bima saja.
Entah kemana mbak Ambar dan ibu mertua ku, mungkin saja mereka berdua masuk kedalam untuk menghabiskan kue yang aku bawa tadi.
"Sarah mau ambil hp yang tertinggal di mobil, mas. Tapi mobilnya di kunci." bohongku memberi alasan pada mas Bima.
"Ini...," lalu mas Bima menyodorkan kunci mobilnya padaku.
Saat aku mengambil kunci mobil itu, mbak Veni berdiri dan berjalan menuju teras rumah. Mungkin dia ingin menghampiri suami nya. Tapi kenapa wajah nya di tekuk seperti itu?
Aku pun berjalan menuju teras, tujuan ku ingin masuk kedalam mobil. Walau ke mobil itu hanya sebagai alasan dari kebohongan ku saja.
Namun, saat aku hampir sampai di ambang pintu. Terdengar ada suara keributan kecil antara mas Awan dan mbak Veni.
Seketika aku pun menghentikan langkah ku. Bukan maksud hati ingin mendengar percakapan mereka, karena menurut ku rasanya tidak etis sekali aku berjalan melewati mereka yang sedang bertengkar.
Dan aku pun tak mungkin kembali, karena aku yakin mas Bima akan curiga padaku kalau aku bohong padanya.
"Mas, kenapa kamu tak seperti Bima sih?!," ucap mbak Veni pada mas Awan.
"Memang kenapa dengan Bima?," tanya mas Awan yang sepertinya tidak mengerti dengan maksud mbak Veni.
"Lihat istri Bima. Dia selalu dimanjakan dengan kemewahan dan uang yang banyak oleh Bima." Suara mbak Veni terdengar jelas walau agak pelan. Mungkin mbak Veni sengaja mengatur volume suaranya menjadi pelan agar tak di dengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Tadi sore saja dia perawatan di salon milik Siska menghabiskan puluhan juta. Sedangkan kamu hanya bisa mempermalukan aku saja disana!!," Gerutu mbak Veni pada mas Awan.
"Mempermalukan kamu gimana maksud nya?," mas Awan terdengar bingung dengan apa yang diucapkan mbak Veni.
"Ya gara-gara kamu yang tak mau mentransfer uang yang ku minta, aku jadi nggak bisa bayar uang perawatan disalon kecantikan milik Siska." ucap mbak Veni terdengar sangat kesal pada mas Awan.
"Kamu gila aja, masa iya perawatan di salon menghabiskan uang puluhan juta. Kamu pikir uang sebanyak itu aku dapat darimana?," mas Awan terdengar tak mau disalahkan.
"Kalau Bima bisa memberikan uang sebesar itu pada Sarah istrinya, kenapa kamu nggak bisa, mas?!," mbak Veni tak masih tak mau menyadari kesalahannya yang memaksa kan diri untuk gaya hidup yang wow.
"Ya kamu jangan bandingkan kemapuan ku dengan Bima dong!!, walau kita kakak adik tapi rejeki itu Allah yang atur." ucap mas Awan terdengar sedikit emosi karena selalu dibanding-bandingkan dengan mas Bima oleh mbak Veni.
"Seandainya saja aku menjadi istri Bima, pasti aku akan menjadi istri yang di ratu kan oleh suami." gerutu mbak Veni sepertinya dengan sengaja dia ucapkan itu di depan mas Awan.
"Lagian kemampuan mu apa mas?, bisnis pun kamu melanjutkan bisnis kedua orang tua ku." ucap mbak Veni.
"Lihat tuh si Bima adikmu, dia punya usaha sendiri. Dia sudah menjadikan Sarah seperti ratu, kamu kan tau Sarah itu anak kampungan yang bernasib baik karena di per istri oleh Bima yang sudah menjadi pengusaha sukses." Lanjut mbak Veni.
Terdengar mbak Veni disini sangat memojokkan mas Awan. Dan yang membuat ku tak habis pikir, Kenapa mbak Veni sebegitu berani nya berbicara seperti itu pada mas Awan yang berstatus suaminya.
Apa mungkin karena dia yang berkuasa atas harta peninggalan kedua orang tua nya?. Jadi ia sangat berani berbicara kasar seperti itu pada sang suami. Padahal kodrat suami itu adalah imam di dalam keluarga.
"Jujur aku sangat malu mas dengan kejadian itu disalon milik Siska tadi. Mana disana ada Sarah juga!!! Serasa aku yang kalah bersaing sama Sarah, itu semua gara-gara kamu!!!,"
Ternyata selama ini mbak Veni bersaing dengan ku. Padahal sedikit pun aku tak punya pikiran untuk bersaing dengan mbak Veni atau siapapun disini. Yang aku inginkan hanya hubungan yang rukun antara mertua dan ipar. Tapi nyatanya keinginan ku ini masih belum terkabul kan.
"Memang siapa yang suruh kamu bersaing dengan Sarah? asal kamu tau, dari segi apapun kamu itu sudah kalah dengan dia!,"
Loh? kenapa mas Awan berbicara seperti itu?, seakan-akan dia menjadi pendukung ku. Seharusnya sebagai suami, tetaplah yang harus di beri support adalah istrinya bukan istri adik nya.
Kok tiba-tiba aku jadi geli ya, mendengar apa yang di ucapkan mas Awan pada mbak Veni.
"Kok kamu jadi belain dan bandingkan aku dengan Sarah yang kampungan itu sih, mas? bukankah aku ini istri mu yang harus kamu bela?," tanya mbak Veni kali ini dengan suara yang sedikit lantang. Tapi aku yakin orang-orang yang berada di belakang tak akan mendengar nya. Karena mereka sedang asyik makan kue-kue yang aku dan mbak Veni bawa tadi.
"Bukankah itu yang kamu lakukan tadi padaku, Ven?!," sepertinya mas Awan tak mau salah dan tak mau kalah dari mbak Veni. Aku rasa dia orang suami istri ini sama-sama keras kepala nya, sehingga tak ada satu pun yang mau mengalah.
"Kamu dari tadi juga membandingkan aku dengan Bima, walau Bima itu adik kandung ku. Tapi ada rasa sakit di hati ini kalau aku di banding-bandingkan dengan dia. Apalagi itu di lakukan oleh istri ku sendiri." ucapan mas Awan kali ini memang sangat benar.
__ADS_1
Karena dari tadi yang aku dengar, mbak Veni lah yang memulai membanding-bandingkan mas Awan dengan mas Bima.
"Aku mengatakan itu, karena memang kenyataannya seperti itu, mas!!!!. Lihat saja pencapaian Bima di usia nya yang jauh dibawa kamu." Disini mbak Veni lah yang seperti nya dominan menguasai pembicaraan.
"Bima di usia yang jauh lebih mudah dari mu sudah bisa membelikan mobil untuk dirinya sendiri dan untuk istrinya. Lalu setelah menikah Bima dan Sarah langsung tinggal di rumah yang sudah di beli oleh Bima. Sedangkan kamu, mas?! kamu hanya bisa tinggal di rumah pemberian kedua orang tua ku!!,"
"Kamu termasuk suami yang gagal karena tak bisa membahagiakan istrimu!!." ucap mbak Veni dengan sangat emosi.
"Jujur, aku sangat iri pada Sarah. Beberapa hari lalu aku juga melihat nya di toko perhiasan emas. Dia membeli logam mulia itu seharga ratusan juta. Dan setiap kali aku bertemu dengan nya, pasti gelang yang melingkar di pergelangan tangan selalu berbeda-beda dengan yang ia pakai sebelum nya!!," terdengar mbak Veni merajuk dan berbicara dengan di barengi isakan tangis.
"Astaghfirullah, sebegitu iri kah dia pada ku?," gumamku dalam hati.
Padahal sedikit pun aku tak ada untuk niatan untuk memamerkan apa yang aku miliki. Aku begini juga karena sikap nya padaku, yang selalu menghinaku.
Dan aku hanyalah manusia biasa yang juga punya rasa sakit hati kalau terus menerus di hina.
Mungkin ini belum seberapa, karena ia mengira semua yang aku miliki adalah hasil pemberian mas Bima.
Kalau saja mbak Veni tahu itu semua hasil keringat ku sendiri, apakah ia akan masih menyalahkan mas Awan?
Aku segera kembali masuk kedalam ruang tamu, rasanya aku terlalu jauh masuk kedalam rumah tangga mbak Veni dan mas Awan.
Saat sampai di ruang tamu, ternyata mas Bima tak ada di sana.
"Kemana mas Bima?," tanyaku pada diriku sendiri, karena disini tak ada siapapun kecuali hanya diri ini.
Terdengar suara ibu dan mbak Ambar seperti nya mereka di meja makan.
Mungkin saja mas Bima juga ada disana. Aku berjalan menuju ruang meja makan. Untuk mengajak mas Bima pulang, karena hari sudah malam dan aku juga sudah sangat mengantuk.
Saat kaki melangkah dan sudah mendekati ruangan dimana mereka bertiga sedang duduk dan ngobrol bersama. Aku segera menghentikan langkahku, saat mendengar nama ku yang sedang mereka bicarakan.
"Pokoknya ibu nggak rela kalau uang mu di habiskan oleh Sarah!!," ucap ibu mertua ku.
"Ibu, Sarah itu kan istrinya Bima. Dan sudah menjadi kewajiban Bima memberikan kebahagiaan untuk nya. Ibu jangan khawatir, jatah bulanan ibu tidak akan pernah telat." ucap mas Bima pada ibu nya.
Sungguh miris aku mendengarkan nya, ia berbicara seakan-akan ia sudah memenuhi semua nafkah lahir untuk ku. Padahal sama sekali ia tak pernah memberi ku uang.
__ADS_1
Pernah sekali ia memberikan ku uang, tapi uang itu ia ambil lagi untuk membayar hutang pembelian handphone untuk Putri. Dengan alasan usahanya kali ini sedang sepi.
Tapi ternyata mas Bima masih mampu untuk memberikan jatah bulanan yang lumayan besar pada ibu nya.