
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?!," tanya Veni dengan suara yang serak. Karena persidangan yang dilakukan oleh Laras berhasil membuat suara Veni habis.
"Aku tak punya maksud apa-apa. Aku hanya menawarkan diri pada Sarah, sebagai seorang lelaki mana mungkin aku tega melihat ada seorang perempuan malam-malam pulang sendiri naik taksi?!, Apakah salah naluriku sebagai seorang lelaki?," ucap Awan.
"Jelas kamu salah mas?!!," suara Veni sangat tinggi. Ia berkata sambil meneteskan air mata.
"Salahnya dimana?," tanya Awan.
"Ya jelas kamu salah, karena kamu lelaki yang beristri!!!!," jawab Veni dengan air mata yang berlinang di pipi nya. Hati Veni benar-benar sakit melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Awan.
"Maaf!!, aku bisa pulang sendiri." sahut Sarah. Dan Sarah pun langsung berjalan cepat meninggalkan salon Siska. Sarah tak memperdulikan panggilan yang di lakukan oleh Awan.
Sarah tak ada maksud untuk membuat pasangan suami istri itu bertengkar. Ia tak tahu kalau Awan akan melakukan hal itu padanya di depan banyak orang.
"Veni!!," bentak Awan.
"Seharusnya kamu tak seperti itu!!, apa kamu tak kasihan melihat Sarah pulang sendiri?!, apa kamu lupa kalau anak mu seharian sudah dirawat dengan baik oleh Sarah?!!," Ucap Awan sambil berteriak-teriak.
"Lantas, apa balasan mu seperti ini?!, dimana naluri mu sebagai perempuan, Veni?!," lanjut Awan. Awan menyalahkan dalam hal ini.
"Aku meninggalkan Kay bersama Sarah itu karena kesalahan ibu mu, mas!!, dia yang memaksaku untuk mengikuti nya!!," ucap Veni.
"Kamu bisa bicara tentang naluri lelaki pada wanita, sekarang aku mau tanya sama kamu. Naluri mu sebagai seorang suami kemana mas?, sehingga kamu dengan sengaja menawarkan diri untuk mengantar wanita lain di depan istri mu sendiri!!," geram Veni.
"Kamu ini semakin pinter saja ngejawab nya!!," Awan berkata sambil mengangkat tangannya yang akan di layangkan ke pipi Veni.
"Kamu mau menampar ku, mas!!!," teriak Veni sambil terdengar isakan tangisannya.
"Sudah, wan!!. Tampar saja perempuan yang suka membantah suami ini," celetuk Laras. Laras semakin memanas-manasi Awan. Agar Awan semakin membenci Veni.
"Mami....," rengek Kay ketakutan melihat papi nya akan memukul mami nya.
Dan akhirnya Awan pun tersadar, kalau ternyata ada putri kecilnya melihat semua yang terjadi.
Dengan terpaksa, akhirnya Awan pun melemahkan suara nya.
__ADS_1
"Kay, sini!," ucap Awan pada Kay. Namun Kay menggelengkan kepalanya. Ia tak mau menghampiri Awan. Walau awan sudah berjongkok dengan membuka tangannya untuk memeluk gadis kecil itu.
"Seharusnya kamu itu tegas dong sebagai suami. Jangan menye-menye seperti ini!!," celetuk Laras, saat melihat anak lelaki nya itu tiba-tiba mengubah nada suaranya.
"Sekarang juga kamu harus menebus sertifikat rumah ku, Veni!!, jangan pernah mengalihkan topik pembicaraan!!!," ucap Laras lagi dengan matanya melirik ketus pada Veni.
"Mas, kamu mau kan bayar uang tebusan itu pada Siska?," tanya Veni dengan wajah memelas.
"Tak ada!!, aku tak ada uang sebanyak itu!!," jawab Awan sambil membuang muka dari Veni.
"Lagian, itu kamu yang melakukan. Jadi kamu sendirilah yang harus bertanggung jawab!!!, bukan melempar pertanggung jawaban pada orang lain!!!," bentak Awan, suaranya kembali meninggi.
"Tapi, mas!. Bukankah kamu suami ku?," Veni memelas dengan air mata yang mengalir di pipi.
"Kenapa kamu bingung, Ven. Bukankah kamu ada mobil dan juga rumah?," ucap Laras dengan senyum menyeringai.
"Mobil atau rumah mu lah gadaikan, agar kamu punya uang untuk bisa menebus sertifikat rumah ku." ucap Laras memberi ide.
"Tak mungkin itu akan terjadi, Bu. Karena kedua surat penting itu sedah berada di bank." jawab Veni.
"Jadi semua surat mobil dan rumah kamu, sudah kamu gadaikan?!," sahut Awan.
Awan pun ikut terkejut mendengar pengakuan istrinya. Karena selama ini, Awan tak pernah tau menahu tentang itu.
"Benar-benar kamu ya, Ven!!," geram Awan.
"Kamu buat apa uang itu, Ven?!," tanya Awan sangat geram.
Veni hanya menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap Awan. Veni hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Awan.
Mana mungkin Veni akan menjawab dengan jujur, kalau uang itu habis untuk membantu Bima.
Bisa jadi semua tidak akan mempercayai pengakuan Veni tentang apa yang terjadi.
"Aku tak habis pikir ya, Ven. Ternyata tingkah pola kamu seperti itu!!," ucap Awan lagi.
__ADS_1
"Pokoknya aku nggak mau tau!!, kamu harus menebus surat itu!!!," teriak Laras.
Kay yang mendengar teriakkan nya Laras pun sangat takut. Ia memeluk erat tubuh Veni.
Veni yang mengetahui itu pun langsung membalas pelukan perempuan kecil yang di panggil Kay itu.
"Dan seminggu lagi, sudah jatuh tempo untuk penebusan rumah itu. Jadi kalau dalam sebulan itu tidak ada pelunasan. Terpaksa, sesuai dengan perjanjian yang sudah di sepakati, ibu Laras harus mengosongkan rumah itu." ucap Siska.
"Apa?!!," lagi-lagi Laras di buat terkejut.
Ia mengelus dadanya, Laras tidak menyangka akan menjadi gembel karena menantu yang dulu di bangga-banggakan di depan Sarah.
"Pokoknya, aku nggak mau tau dan nggak mau pergi dari rumah warisan orang tua ku, Veni!!!, jadi kamu harus menebus nya!!!," ucap Laras dengan suara bergetar.
"Saya kira masalah ini sudah clear, jadi saya harap kalian bisa pergi meninggalkan salon ku ini." ucap Siska, sambil sesekali melirik kecentilan kearah Awan.
Dan pada saat Siska melirik Awan dengan kecentilan itu, di pergoki oleh Laras.
"Silahkan kalian pergi dari sini," sekali lagi Siska mengusir mereka dengan halus.
"Aku rasa masalah ini belum clear, karena Veni belum menebus sertifikat rumah ibu ku di tangan mu, Siska." sahut Awan.
"Itu nanti bisa kalian rembukan lagi dirumah kalian. Setidaknya kalian sudah tau kalau sertifikat rumah ibu mu ada disini, mas." jawab Siska. Lagi-lagi ia menatap Awan dengan senyuman yang penuh ketertarikan dengan lawan jenis.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang!!," ucap Laras dengan mengangkat tubuh dari duduknya.
"Maafkan kami semua ya, Siska. Sudah mengganggu waktu istirahat mu." ucap Laras dengan senyum ramah pada Siska.
Kini Laras berjalan menuju pintu keluar salon itu, setelah berpamitan kepada Siska. Dan di ikuti oleh Ambar yang terlihat masih sangat lemas. Mungkin efek dari mabuk perjalanan masih terasa di tubuh Ambar.
Awan pun juga berjalan mengikuti ibunya. Ia berjalan sendiri meninggalkan Veni. Awan tidak mempedulikan Veni sama sekali.
"Mas!!," panggil Veni berjalan mengejar Awan sambil menggendong Kay yang sudah terlelap.
"Tunggu aku, mas!!," teriak Veni sambil terus berjalan cepat.
__ADS_1
Namun Awan diam tak bergeming, ia terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.