
Dua jam perjalanan sudah kami tempuh, aku sudah terbangun saat sudah masuk di jalan besar penghubung antar kota dan provinsi.
"Kelihatan nya kamu ngantuk banget, Sarah?, Memang semalam kamu begadang?," tanya Sinta dengan melihat ku di kaca spion mobil nya.
Kali ini aku sengaja duduk dibelakang Sinta, karena ingin membantu pengasuh Kean yang sedang memangku Kean yang tertidur.
Sedangkan Mayang duduk di depan, sebelah Sinta yang sedang mengemudi mobil.
Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Sinta. karena mau ngomong, rasanya masih lesu, tenaga masih belum pulih sempurna.
"Kalian lapar nggak?," tanyaku sambil mengedarkan pandangan satu persatu pada penghuni mobil Sinta ini.
Secara bersamaan mereka bertiga kecuali Kean, menganggukkan kepala. Yang berarti saat ini perut mereka sama dengan apa yang dirasakan perutku yaitu lapar.
Sinta pun mengirikan mobilnya diarea yang tidak terlalu sepi. Karena khawatir ada orang yang berniat jahat pada kami. Mengingat kami berempat hanya perempuan, tak ada lelaki dewasa disini.
Kami pun turun dari mobil dan segera menggelar tikar. Dengan segera kami berempat makan bekal yang sudah di buat oleh ibu.
Setelah selasai makan, kami pun melanjutkan perjalanan. Karena masih kurang waktu sekitar satu jam untuk sampai ketempat masing-masing.
"Sin, yang kemari membantu kita mengganti ban mobilmu, itu pacarmu ya?," tanyaku sambil tersenyum menggoda Sinta.
"Hmmmm.... apa ya?, mau tau banget atau mau tau aja?!," Sinta tak mau kalah, jawaban nya membuat ku makin penasaran.
"Mau tau banget!," ucapku sambil tersenyum pada Sinta.
"Kasih tauuu....nggak ya..?," lagi-lagi Sinta berhasil membuat ku makin penasaran.
"Kasih tau donk... bukannya aku ini teman mu?," rayu ku.
"Mana ada sesama teman tak saling kasih tau." lanjut ku sambil pura-pura merajuk dengan memonyongkan kedepan bibir ku.
Mayang yang melihat tingkah ku, langsung tertawa terbahak-bahak.
"Sejak kapan mbak Sarah segokil ini?," tanya Mayang sambil terus tertawa.
"Sebenarnya, mbak Sarah mu ini mulai dulu udah gokil May. Cuma ia tak berani kalau ada dirumah, jadi saat di rumah ia akan menjadi perempuan Sholihah." cerocos Sinta.
"Aku yang ditanya, kenapa kamu yang jawab sih, Sin?," tanya ku sambil menatap nya lewat spion yang ada didalam mobil.
Dan Sinta pun tertawa lepas terlihat sekali ia sangat bahagia.
Handphone dalam tasku pun berbunyi, aku langsung mengambilnya. Ada pesan masuk, dan segera ku buka pesan itu. Ternyata pesan dari mas Damar, ada rasa kecewa. Karena pesan yang masuk bukan dari orang yang kuharap kan.
"Bagaimana dengan tawaran ku, Sarah?! Ingat, kamu masih mempunyai waktu beberapa jam saja. Jadi berpikir lah yang benar-benar matang. Karena kalau kamu gegabah, aku pastikan kesempatan rujuk dengan ku tak akan ada lagi." Pesan mas Damar membuat ku semakin muak padanya.
Kok ada manusia yang penuh percaya diri seperti dia. Aku pun langsung membalasnya, dan tak perlu menunggu dua puluh empat jam.
__ADS_1
"Sama Sekali aku sangat tidak berminat untuk rujuk lagi dengan mu mas Damar yang terhormat!!."
Pesan balasan pun akhirnya terkirim dan langsung dibacanya.
"Aku tau, kamu menolak rujuk dengan ku karena kamu takut kan pada ibu dan bapak?. Bagaimana kalau kita rujuk secara diam-diam saja dulu. Aku yakin lama-lama mereka akan merestui kita lagi seperti dulu. Waktu aku memintamu menjadi istri ku."
Tuhan... terbuat dari apa otak mas Damar, sehingga ia punya fikiran seperti ini. Aku tak mau rujuk dengan nya, karena memang aku yang tak mau. Bukan karena kedua orang tua ku.
Lama-lama aku makin malas membalas pesan wa dari mas Damar.
Ku matikan handphone ku, dan kutaruh lagi kedalam tas.
"Kenapa wajahmu anyun seperti itu, Sar?," tanya Sinta dengan terus fokus menyetir.
"Iya nih, mbak. Mbak Sarah ada masalah?," tanya Mayang sambil menoleh kebelakang kearah ku.
"Apa karena mas Damar yang kemarin datang kerumah, mbak?." lanjut Mayang.
"Hah?, Damar datang ke kampung?," tanya Sinta terkejut dengan mata membulat.
"Ada apa dia ke kampung, Sar?," beberapa pertanyaan di lontarkan padaku. Seperti seseorang yang sedang di interogasi.
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba Mayang berbisik pada Sinta.
"Dia minta rujuk sama mbak Sarah." bisik Mayang pada Sinta.
"Trus apa tindakan mu?, apa kamu mau rujuk lagi dengan Damar?,"
Aku pun menghela nafas panjang,
"Tenang ya saudara-saudara, aku akan menjelaskan dan menjawab satu persatu pertanyaan kamu Sin!, jadi simak betul-betul ucapan ku ini." aku memandang sinis pada Sinta. Namun bukan sakit hati yang ia rasa, malah ia semakin tertawa terbahak-bahak melihat sikapku itu.
"Betul apa yang dikatakan Mayang, mas Damar datang untuk meminta rujuk dengan ku. Dan dengan keadaan sadar sesadar sadarnya, aku menolak permintaan nya untuk rujuk kembali. Dengan alasan apapun." ucapku menjelaskan pada Sinta.
"Aku mendukungmu untuk tak rujuk kembali dengan Damar, Sarah. Karena aku tak rela kalau kamu dan Kean akan sakit hati lagi." ucap Sinta.
"Bisa-bisanya ya, Damar minta rujuk dengan mu. Secara ia masih beristrikan Bianca yang sedang hamil." ucap Sintia lagi dengan terus fokus menyetir mobil.
"Yang paling membuat ku terkejut, dengan percaya dirinya, dia bilang kalau aku ingin menjadi istri satu-satunya dia akan segera menceraikan Bianca. Dan Kalau aku mau menerima jadi yang kedua, dengan bangganya ia menyebut dirinya adalah lelaki paling beruntung di dunia. Memang dasar lelaki gila." ucapku.
Dan dengan bersamaan semua orang yang ada di dalam mobil pun tertawa terbahak-bahak.
Kini sampai sudah didepan ruko, Sinta menghentikan mobilnya tepat di depan ruko. Jadi aku tak capek-capek jalan jauh menuju ruko.
Barang bawaan sudah aku turun kan, dan Sinta kembali menghidupkan mobilnya.
"Yakin kamu nggak mampir dulu, Sint?." tanyaku.
__ADS_1
"Aku capek dan gerah, Sar. Pingin cepet-cepet sampai rumah. Mau mandi dan rebahan." jawab nya sambil menjalankan mobilnya.
"Hati-hati ya, Sint. bye bye ...," aku melambaikan tangan pada Sinta. Dan Sinta pun membalas nya.
Aku masuk sambil menggendong Kean, sedang Mayang dan pengasuh Kean membawa barang bawaan yang berupa satu rmtas dan satu koper.
"Mbak, kalau mbak mau pulang. Mbak bisa pulang sekarang untuk beristirahat. Biar Kean bersama aku, mumpung toko hari ini tutup." ucapku. Karena kasian melihat pengasuhnya Kean. Kelihatan banget kalau dia sangat kecapean.
"Biar saya di sini saja, Bu. Barangkali hari ini ibu ada acara." jawabnya.
"Kalau begitu, mbak Mirna istirahat saja dulu di kamar. Biar Kean aku yang jaga." Aku membawa Kean kedalam kamar. Tubuh ini juga butuh direbahkan. Karena tidur dalam mobil membuat tubuh ku terasa kaku semua.
Mayang mengikuti ku dari belakang, ia juga ingin merebahkan tubuhnya juga.
Tak terasa kami bertiga pun akhirnya tertidur dengan sangat pulas. Sehingga tak mendengar suara handphone berbunyi berkali-kali.
Saat terbangun, handphone pun masih berbunyi. Kulihat ada dua puluh lima pesan yang belum terbaca dan seratus lima puluh kali panggilan tak terjawab.
"Wah.. gila banget. Siapa juga yang telepon aku sampai sebanyak ini?," gumamku.
Saat ku buka, ternyata tetap orang yang sama yang sibuk menghubungi ku.
Huuuuhhh.... ku buang nafas besarku.
Ada apalagi mas Damar menghubungi ku sampai sebanyak ini?.
Ku taruh lagi handphone ku, tak ada niat untuk menghubungi nya kambali. Malas sudah berdebat dengan orang seperti mas Damar. Tak akan pernah ketemu ujung dan pangkalnya.
Namun setelah Handphone aku taruh, dia menghubungi ku lagi.
Dengan terpaksa aku mengangkat telepon nya.
"Sarah!!," panggil nya dengan nada sangat kasar.
"Ada apa lagi sih, mas?, apa kamu tidak capek menghubungi ku sebanyak itu?," tanya ku dengan nada sangat malas menerima telepon darinya.
"Bukankah hari ini kamu berjanji akan menemui ku di cafe X?, Sekarang juga kamu datang kesini!! Karena aku sudah lama menunggu kedatangan mu. Ingat ya!! jangan sekali kali kamu mempermainkan aku." Telepon pun ditutup secara sepihak oleh mas Damar.
Dan aku baru ingat, kalau aku ingin menemui mas Damar pada Lidya.
Aku segera bersiap-siap untuk menemui mas Damar di cafe X. Kulihat Kean dan Mayang masih terlelap, dan aku pun meninggal nya.
Saat keluar kamar, mbak Mirna sedang bersih-bersih rumah.
"Mbak, aku mau keluar. Titip Kean ya, dia masih tidur didalam." ucapku berpamitan pada pengasuh Kean.
Mesin mobil ku hidupkan, dan ku lajukan mobil ku dengan kecepatan sedang.
__ADS_1