
Mbak Veni menyodorkan ATM nya dan segera diterima ATM itu oleh sang kasir.
"Maaf Bu, saldo atm anda tidak bisa untuk melakukan transaksi." ucap si kasir yang bertubuh langsing dan tinggi itu.
"Maksud kamu?," tanya mbak Veni.
"Sepertinya saldo ibu tidak mencukupi untuk melakukan transaksi pembayaran." jelas si kasir berambut panjang berwarna hitam itu.
"Apa kamu bilang?, ATM ku tak ada isi nya?!," mata mbak Veni melotot, berkata dengan penuh emosi.
"Kamu jangan memfitnah ya!!!, Dan jangan mempermalukan ku di depan umum seperti ini!!, aku bisa melaporkan kamu pada pihak yang berwajib dengan tuduhan pencemaran nama baik!!," mbak Veni berbicara sangat lantang sambil berkacak pinggang.
"Memang ATM ibu tidak bisa di gunakan untuk transaksi." jelas si kasir itu.
"Mana mungkin ATM ku tak ada saldo nya, baru tadi suami ku mengisi nya." mbak Veni tak terima dengan apa yang di katakan kasir itu.
"Ven, daripada kamu marah-marah tidak jelas seperti ini. Lebih baik di cek saja isi saldo ATM mu." usul Siska.
"Pegawai mu ini kurang ajar, Sis. Kenapa salon sebesar ini memilih pegawai tidak berkompeten seperti dia?!," tunjuk mbak Veni dengan mata melotot kearah kasir itu.
"Sini ATM nya, biar aku cek isi saldo nya." ucap Siska dengan tangan menengadah meminta ATM itu pada si kasir. Dan si kasir itu menyodorkan ATM itu.
"Sebentar ya Sinta dan Sarah. Maaf dengan ketidaknyamanan ini." ucap Siska padaku dan Sinta. Sepertinya ia tak enak hati pada kamu berdua.
"Aku yang mendapatkan perlakuan buruk pegawai mu, tapi Kenapa kamu meminta maaf pada mereka berdua?," ucap mbak Veni dengan melirik sinis padaku.
"Karena dari tadi mereka sudah menunggu antrian panjang, Ven." ucap Siska tanpa menatap wajah mbak Veni. Tatapan nya fokus pada mesin ATM yang kecil yang terletak diatas meja kasir.
"Dasar kamu pilih kasih, Sis!. Padahal aku ini teman dekat mu." gerutu mbak Veni. Namun tetap Siska tak memperdulikan nya.
"Ven, sisa saldo mu saat ini hanya tersisa enam puluh lima ribu rupiah." ucap Siska dengan menatap wajah Siska.
"Apa?!," mbak Veni terlihat kaget.
"Kamu jangan membuat malu aku disini, Siska!!, mana mungkin isi saldo ATM ku hanya tinggal enam puluh lima ribu?!," terlihat wajah mbak Veni memerah. Entah karena malu atau marah aku tak begitu memperhatikan nya.
"Aku nggak punya maksud seperti itu, Ven. Tapi memang kenyataannya sisa saldo ATM mu hanya enam puluh lima ribu rupiah." lalu Siska menunjukkan monitor ATM yang ada di meja kasir itu.
Disitu terlihat sangat jelas, memang saldo mbak Veni saat ini hanya sisa enam puluh lima ribu.
Wajah mbak Veni semakin memerah, kali ini aku tahu kalau dia sangat malu dengan kejadian ini.
"Kok bisa sisa saldoku hanya enam puluh lima ribu rupiah?, sedangkan tadi suami ku sudah mentransfer sejumlah uang pada rekening ku." ucap mbak Veni.
"Apa mungkin uang itu belum masuk ke dalam rekening ku?," ucap mbak Veni yang membuat kami yang berada di situ tertawa secara bersamaan. Bukan maksud hati menertawakan itu, tapi entah kenapa mulut ini secara refleks tertawa saat mendengar alibi mbak Veni.
__ADS_1
"Kalau menurut ku, pasti suami mu tidak jadi transfer uang ke rekening mu!!," celetuk Sinta dengan lirikan sinis pada mbak Veni.
"Lebih baik sekarang kamu telepon suami mu, Ven. Tanyakan pada mas Awan, apa dia sudah mentransfer uang ya!," usul Siska.
Segera mbak Veni mengambil ponselnya dari dalam tas. Dan memencet beberapa tombol, yang aku yakini itu nomor mas Awan.
"Halo, mas?!." sapa mbak Veni.
"Uang yang ku minta tadi, apa sudah kamu transfer ke rekening ku?," tanya mbak Veni.
"Ha?!," alis mbak Veni bertaut.
Setelah beberapa detik terdiam dan tidak berbicara apapun dengan mas Awan lewat sambungan telepon nya.
Tiba-tiba mata mbak Veni melotot dan membulat. Lalu tubuhnya bergetar seperti orang kesurupan.
"Haaaaaaaaaa...." suara mbak Veni menggelegar, membuat pengunjung salon ini kaget, dan berkerumun untuk melihatnya.
Dan tiba-tiba, tubuh mbak Veni ambruk ke lantai. Tubuh nya tergeletak dan kejang-kejang di atas lantai tanpa alas.
Dengan segera, aku, Siska dan Sinta memegang tubuh mbak Veni. Bertujuan untuk mengangkat nya kedalam, agar tidak menjadi tontonan pengunjung yang lain.
Namun sayang, walau kita bertiga, Tenaga kita tetap tenaga perempuan. Yang tidak mampu mengangkat tubuh mbak Veni yang bergerak dan kaku itu.
"Mbak tolong panggilkan satpam didepan!!!," kali ini Siska menyuruh salah satu pegawai nya untuk memanggil satpam yang tengah berjaga di depan. Karena seperti nya suara teriakan Siska tak di dengar oleh satpamnya. Pegawai yang dimaksud itu pun segera berlari keluar salon.
"Ven... Ven....!," Siska mencoba mengoyak kedua bahu nya mbak Veni, bertujuan untuk menyadarkan nya.
Namun suara teriakan mbak Veni semakin keras, semakin membuat para pengunjung lain ketakutan. Sehingga banyak pengunjung lain yang menjauh dari tubuh mbak Veni yang tergeletak di lantai depan kasir itu.
"Ayo kita pergi, bisa-bisa kita nanti ikut kesurupan." ucap salah satu pengunjung salon yang berada di belakang ku.
"Iya, kata orang kalau ada yang kesurupan dengan mudah setan itu berpindah kepada orang sekitar nya." jawab pengunjung lain.
Dan dengan tak sengaja, mata ku melihat ke arah mbak Veni. Disitu mbak Veni terlihat membuang nafas besar, matanya sedikit terbuka dan melirik kearah Siska.
"Ah jangan-jangan mbak Veni...?," gumamku dalam hati.
"Ah... aku nggak boleh berburuk sangka kepada orang lain." ucapku lagi.
Lalu Sinta mendekati mbak Veni yang masih terbujur kaku dengan tubuh yang bergerak-gerak. Namun gerakan kali ini tak sekencang tadi. Apa mungkin ia sudah capek?
"Kamu mau ngapain, Sin?," tanya Siska saat melihat Sinta mendekati tubuh mbak Veni.
"Aku tau cara menyadarkan orang kesurupan." jawab Sinta.
__ADS_1
"Benarkah?," tanya Siska.
"Ada apa, Bu?," dua satpam datang setelah di panggil oleh salah satu pegawai tadi.
"Ini pak, tolong diangkat dan di bawa kesana." perintah Siska dengan menunjuk salah satu ruangan.
"Baik Bu!," jawab kedua satpam itu dengan bersamaan.
Terlihat Nafas dan tubuh mbak Veni tenang setelah mendengar ucapan Siska.
"Tunggu, biarkan aku yang mengobati nya." cegah Sinta pada kedua satpam yang akan mengangkat tubuh mbak Veni.
Seketika mata mbak Veni sedikit terbuka dan melirik kearah Sinta. Ada ekspresi ketakutan di wajah mbak Veni.
Namun ia kembali memejamkan matanya dan tubuh nya bergerak kembali.
"Yakin kamu bisa, Sin?," tanya Siska.
"Aku bisa, Sis. kamu pasrah dan percayakan padaku." ucap Sinta meyakinkan Siska.
Aku heran, sejak kapan Sinta bisa menyembuhkan orang kesurupan?
Padahal dulu dia paling takut sama orang yang tidak sadarkan diri seperti ini.
"Kalau begitu, lebih baik kita lakukan ini di dalam saja. Biar tidak menjadi tontonan seperti ini." ucap Siska memberikan saran.
Dan lagi terlihat bibir mbak Veni tersenyum, setelah mendengar usulan Siska.
"Jangan, sis. Jangan pindahkan tubuh nya kemana-mana. Karena kata sesepuh keluarga ku dulu, kalau orang yang sedang kesurupan nyawa nya itu keluar dari dalam tubuh nya. Kalau tubuhnya di pindah, otomatis nyawa nya nanti akan bingung mencari tubuhnya." ucap Sinta dengan wajah sangat serius.
"Kamu mau, nyawa teman mu ini menghilang dari tubuhnya?!," lanjut Sinta menegaskan pada Siska.
Wajah yang terlihat bahagia tadi, kini berubah menjadi ekspresi jengkel. Dan itu sangat terlihat jelas di wajah mbak Veni.
Aku tak pernah menyangka kalau Sinta bisa menyembuhkan orang yang kesurupan. Mungkin ilmu itu diwarisi nya dari nenek moyang nya dulu.
Tapi kenapa ia tak pernah bercerita padaku?
"Hah?, memang seperti itu ya sin?," tanya Siska yang terlihat sekali kalau ia sangat khawatir dengan keadaan mbak Veni.
"Iya, Sis." jawab Sinta dengan sangat yakin.
Semoga saja Sinta benar-benar bisa menyembuhkan mbak Veni dari kesurupan nya. Karena aku juga tak tega melihat kondisi nya yang seperti itu. Terlihat sekali kalau tubuhnya saat ini sangat capek sekali.
"Ya sudah, aku pasrah kan kesembuhan Veni padamu, Sin." ucap Siska.
__ADS_1