
Taksi online yang ku pesan sudah datang. Kini aku, mas Bima dan Kean naik taksi menunju rumah ibu mas Bima.
"Kita mau kemana lagi, amma?, ini kan bukan jalan kerumah kita?," lagi pertanyaan itu muncul dari mulut kecil Kean.
Kean terlihat bahagia menikmati perjalanan bertiga seperti ini.
"Kita kerumah nenek dulu untuk mengambil mobil ayah dan jemput kakak." jawab mas Bima.
"Ke rumah nenek?," tanya Kean dengan raut wajah yang berbeda. Wajahnya kali ini terlihat tak bersemangat dan tak sebahagia tadi.
Mungkin mas Bima tak melihat perbedaan wajah Kean, tapi aku sebagai ibu nya melihat perubahan itu sangat jelas di wajah Kean.
"Yah... kerumah nenek lagi." gerutu nya.
Aku langsung memegang erat tangan Kean, bertujuan menguatkan hati nya. Dan agar ia tahu, kalau dia tak sendiri. Ada aku yang akan siap memasang badan untuk nya.
Sampai didepan rumah ibu mas Bima, taksi pun berhenti.
Kami bertiga turun bergantian, dan berjalan menuju rumah ibu.
Terlihat ada mobil mas Awan terparkir bersanding dengan mobil mas Bima.
"Assalamualaikum," mas Bima mengucapkan salam saat dirinya masuk kedalam rumah.
Aku dan Kean berjalan mengikuti dibelakang mas Bima.
Mas Bima langsung bersalaman pada ibu yang tengah duduk mengobrol dengan mbak Veni di ruang tamu.
Aku pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan mas Bima tadi.
Namun saat aku dan Kean bersalaman dan mencium punggung tangan ibu mas Bima. Dengan sengaja ia membuang muka dari ku, dengan mengangkat bibir sebelah kanannya.
Kalau bukan karena ada mas Bima, aku tidak akan melakukan ini.
"Mas Awan mana, mbak?," tanya mas Bima.
"Mas Awan nggak ikut Bim, dia lembur dikantor." jawab mbak Veni.
"Oo berarti tadi nggak jadi bawa mobil ku donk?," tanya mas Bima lagi.
Nah ini, jawaban dari pertanyaan ini yang ku tunggu. Jawaban dari ibu nya mas Bima akan menguak siapa perempuan cantik berambut pirang yang berpakaian seksi tadi pagi di toko roti ku.
"Enggak, Bim. Tadi ibu sama mbak Veni pakai mobil mbak Veni." ucap ibu nya mas Bima berbohong. Karena sudah sangat jelas kalau yang kulihat tadi dia bersama orang lain, bukan mbak Veni.
Lagian mbak Veni juga dia kali bertemu aku di tempat yang berbeda. Dan itu tanpa ibu bersama nya.
"Oya, Bim. Ibu mau ngomong sama kamu." ibu berkata sambil melirik ku, dan ini membuat hati ku langsung tak enak.
"Ada apa Bu?, katakan saja?," tanya mas Bima.
"Kamu harus segera menyelamatkan harta dan aset-aset mu. Sebelum semuanya habis, dan anak kandung mu tak kebagian sepersen pun dari harta-harta mu." ucap ibu nya mas Bima dengan matanya melirik kepada ku.
Lirik kan mata itu menegaskan kalau ibu menuduh ku akan menghabiskan harta serta aset yang di miliki mas Bima.
__ADS_1
Jangankan mau menguasai harta dan aset-aset mas Bima, tau aset dan harta mas Bima pun hanya toko kelontong yang saat ini ia kelola.
"Maksud ibu?," tanya mas Bima yang mungkin ia memang tidak mengerti.
"Ya, orang tua mana yang tidak takut kalau harta anaknya di kuras habis oleh istri barunya. Yang tidak menemani nya dari nol, yang tau-tau nya sudah hidup enak, harta melimpah dan aset dimana-mana?," ucap ibu sambil melirik kearah ku berkali-kali.
Aku yakin yang ibu maksud dari omongan nya adalah aku. Bisa jadi mbak Veni bicara yang tidak-tidak tentang aku pada ibu. Namun kembali lagi, aku tak mau berburuk sangka kepada siapapun.
"Yang ibu maksud siapa?," tanya mas Bima dengan wajah kebingungan.
"Ya siapa lagi, kalau bukan dia! Istri baru mu!?!," ucap ibu sambil menunjuk ku.
"Loh emang kenapa Sarah?," mas Bima masih belum paham juga dengan apa yang di maksud ibu nya.
"Kamu ini lugu atau bego sih, Bim. Kamu jangan mau di bego-bego'in sama istrimu. Kamu kerja capek, banting tulang seharian. Tapi yang nikmati istri dan anak tirimu!," ucapan ibu to the point.
"Ibu, Sarah itu istri ku. Jadi Bima wajib do g bahagiakan dia." jawab mas Bima yang membuat hati ku terasa aman karena sudah di bela di depan ibu nya yang sangat jelas menjelekkan aku.
"Iya, aku tau kalau itu sudah menjadi tugasmu. Tapi kamu itu ya harus mikir, istri kamu ini benar-benar perempuan baik-baik apa bukan. Kalau perempuan baik-baik, nggak mungkin kan setelah nikah langsung minta rumah kepada mu?!,"
Hah? aku minta rumah pada mas Bima? Apa mas Bima tidak cerita kalau rumah yang saat ini aku tempati bersama mas Bima itu rumah ku? Rumah yang aku beli sebelum menikah dengan nya.
"Ibu, itu sudah menjadi kewajiban Bima memberi tempat berteduh yang nyaman untuk istri dan anak-anak ku." ucap mas Bima.
Apa maksud mas Bima bilang seperti itu pada ibunya. Seakan-akan membenarkan apa yang ibunya pikirkan tentang rumah yang sekarang kita tempati. Kalau mas Bima lah yang membeli rumah itu untuk ku.
"Kamu juga jangan terlalu royal sama istri baru mu, ingat kamu juga punya anak yang berhak dengan semua harta mu." ucap ibu mas Bima sangat ketus.
"Lagian baru nikah sudah minta rumah dan hari ini langsung beli emas seharga ratusan juta." celetuk ibu mas Bima.
Kali ini ibu mas Bima menyinggung emas yang aku beli tadi. Aku sangat yakin kalau mbak Veni lah yang ngomong sama ibu.
"Sudah mau Maghrib, mas. Ayo kita pulang!," ajak ku.
"Ayo, sayang." jawabnya sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Oh ya, Putri mana Bu?," tanya mas Bima.
"Putri malam ini mau nginap di kost'an mama nya." jawab ibu mas Bima.
"Loh? kok nggak ijin dulu ke aku?," tanya mas Bima kaget.
"Ya dia kan ibu nya, ya nggak apa-apa lah." jawab ibu mas Bima dengan enteng.
"Ya nggak gitu juga Bu. Bima tau kalau dia ibu nya Putri. Tapi alangkah baik nya kalau dia punya adab. Apa salah nya sih ijin dulu padaku dan Sarah?!," ucap mas Bima dengan emosi.
"Sarah? sebagai apa dia?, kok harus ijin kepada dia?," ibu berkata dengan menunjuk ku.
"Sarah sudah menjadi ibu sambung Putri Bu. Dan Putri tinggal bersama kami. Jadi kami lah yang bertanggung jawab atas diri Putri." jawab mas Bima menjelaskan pada ibu nya.
"Ala... Bim. Gitu aja di bikin ribut, biarkan saja Putri bersama ibu nya, toh hanya sementara. Biar hati Putri bahagia." sahut mbak Veni yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Aku dan mas Bima akhirnya pulang setelah berpamitan pada ibu dan mbak Veni.
__ADS_1
Didalam mobil, aku masih menunggu penjelasan mas Bima tentang rumah yang kita tempati saat ini.
Namun sedikitpun ia tak menyinggung apa yang ia katakan tadi tentang rumah yang kita tempati pada ibunya.
"Seharusnya mantan istri mu itu ijin terlebih dahulu kalau mau membawa Putri menginap dirumahnya, mas. Aku tahu dia punya hak lebih di banding aku. Tapi alangkah lebih baiknya, kalau dia ijin lebih dulu. Sekalian menyambung silaturahmi." ucapku pada mas Bima.
Entah benar atau salah kata-kata ku, yang jelas menurut ku mantan istri mas Bima tidak punya sopan santun.
"Entah lah, aku juga tidak begitu mengerti tentang jalan pikiran mama nya Putri." jawab mas Bima dengan terus fokus menatap jalan yang di lewati.
"Tapi, terserah dia mas. Toh dia ibu kandungnya, Aku tak punya hak untuk menyuruh orang sesuai keinginan ku." ucapku.
"Kean, bentar lagi kita sampai. Jangan tidur dulu ya, nak. Sholat Maghrib dulu." ucapku saat aku menoleh kearah Kean yang sudah memejamkan matanya.
"Tapi Kean ngantuk, amma. Kean capek." keluhnya. Memang seharian ini Kean belum istirahat sama sekali. Di toko mas Bima tadi sore, ia tak sempat tidur.
"Iya, amma ngerti nak. Tapi tanggung yg tinggal beberapa menit kita sampai." ucapku membujuk Kean.
"Akan Kean coba, Amna." saat aku menoleh ke belakang, terlihat Kean berusaha membuka matanya.
Aku tertawa melihat tingkah laku Kean yang menggemaskan.
"Yuk, kita turun." ajak ku pada Kean saat mobil sudah berhenti di depan rumah.
Langit sudah gelap, komplek perumahan terlihat sepi. Dan rumah ku gelap gulita tak ada penerangan sedikit pun, karena aku pulang kemalaman.
Mas Bima turun setelah mematikan mesin mobil, dan berjalan di depan ku.
Mas Bima membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Kami berdua membawa masing-masing kunci rumah.
Jadi kalau kita pulang, kita tak saling menunggu satu sama lain.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai rumah." ucap Kean penuh syukur.
"Sholat dulu, nak " perintah ku.
"Iya, amma." ia bergegas kekamar mandi untuk berwudhu.
Aku pun melakukan hal yang sama, dan kita bertiga melakukan sholat Maghrib berjamaah dirumah. Betapa hati ini sangat tentram saat melakukan ini bersama keluarga yang kita cintai.
Sungguh beruntung aku punya suami seperti mas Bima. Yang bisa sedikit mengajarkan aku tentang ilmu agama.
"Kean nonton TV dulu, sambil menunggu waktu isya'." ucap Kean sambil memencet tombol di remote yang ia pegang saat ini.
"Oke, sayang. Amma mau masak dulu, sudah lapar kan?," tanyaku.
Dua lelaki yang aku miliki saat ini menjawab sangat kompak dengan anggukan kepala secara bersamaan.
Mereka berdua sedang menonton TV bersama, dan duduk bersama di sofa yang sama.
Setelah masakan sudah matang, aku memanggil mereka berdua agar cepat-cepat makan.
Namun saat aku memanggil mereka berdua untuk segera makan, suara adzan isya'berkumandang.
__ADS_1
"Sholat dulu apa makan dulu?," tanyaku pada dua lelaki yang benar-benar aku cintai.