DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Penangkapan


__ADS_3

Sedangkan di dalam ruang tamu rumah Bima, ibu nya Bima sedang duduk santai dengan di temani secangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng.


Dia duduk sendiri tak ada seseorang yang menemani nya, lalu saat tatapan mata nya tertuju pada suara mobil yang berhenti di depan rumah nya. Ia pun sangat terkejut, saat tau kalau mobil yang berhenti didepan rumah nya itu adalah mobil polisi.


"Ada apa ini?," gumamnya.


Lalu dia berdiri, karena ia melihat dua orang polisi yang turun dari mobil menuju pintu rumah nya.


Hati Laras berdebar kencang, ada rasa takut dan was-was dengan kedatangan dua orang polisi ke rumah nya.


"Selamat sore, Bu. Apa benar ini rumah saudara Bima?," tanya polisi itu pada Laras ibu nya Bima.


"Benar, ini rumah Bima dan saya ibu nya." jawab Laras dengan wajah juteknya. Sungguh tak ada ramah tamah nya pada tamu yang datang.


"Memang ada apa ya pak dengan anak Saya?," tanya nya lagi.


"Kami dari kantor kepolisian dapat surat perintah penangkapan anak ibu yang bernama saudara Bima." jawab satu polisi yang sedang memegang kertas yang berisi surat kuasa penangkapan. Dan memberikan nya pada Bu Laras.


"Apa?!, kalian mau menangkap anak saya?!, Atas tuduhan apa?!!. Asal bapak-bapak tau, anak saya ini orang baik dan tidak mungkin melakukan tindakan kriminal sehingga di tangkap oleh polisi seperti ini." ucap ibu Laras sangat marah. Ia berkata dengan tangan yang berkacak pinggang dengan mata melotot pada kedua polisi yang sedang menjalankan tugas.


"Dan ini surat penangkapan nya, Bu." satu polisi menyodorkan lembaran kertas putih pada Bu Laras.


"Aku tak akan menerima kertas ini, karena aku yakin anak ku tak pernah berbuat salah, apalagi perbuatan kriminal." teriak ibu Laras pada kedua polisi yang ada didepan nya itu.


Suara teriakan Bu Laras , seketika membuat para tetangga semakin penasaran dan mereka mendekat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi mau tidak mau, kami akan tetap membawa anak ibu." ucap pak polisi yang satu nya.


Sarah dan Sinta yang turun dari mobil, kini mereka mendekat di belakang kedua polisi yang sedang bertugas itu.


"Kenapa kamu ada disini?!, pasti kamu mau minta Bima untuk rujuk dengan mu lagi!!, dan itu adalah hal yang mustahil Sarah!!." suara Bu Laras semakin keras dan terlihat sangat marah melihat kedatangan Sarah dan Sinta.

__ADS_1


Sarah tak menjawab apapun pada ucapan Bu Laras, ibu nya Bima itu.


"Ayo!!." ucap polisi yang berpangkat lebih tinggi dari polisi yang satu nya itu. Dia memberikan isyarat kalau teman nya diajak masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan target.


Dua polisi itu berjalan melewati Bu Laras yang tengah berdiri di depan pintu masuk.


"Berhenti!!!!.....," teriak Bu Laras pada kedua polisi itu.


"Kalian jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ku!!."


Sepertinya, emosi Bu Laras sudah tak bisa terkontrol. Mata nya melotot dan tangannya masih ada di posisi yang sama yaitu berada di pinggang nya.


"Ini ada apa sih?," tanya Ambar yang baru keluar dari dalam rumah. Wajah baru bangun tidur nampak di muka Ambar.


"Kenapa berisik banget, sih?," ucapnya lagi dengan mulutnya yang masih menguap.


"Astaga??!!," Ambar terkejut saat ia sadar bahwa dirumah nya ada dua polisi.


"Mereka berdua mau menangkap Bima, Mbar. Aku yakin Bima tak akan pernah melakukan kesalahan-kesalahan apapun." ucap Bu Laras pada Ambar sambil menangis.


"Dan perempuan itu datang kesini, ingin minta rujuk pada Bima. Dan aku pasti kan, aku tak akan pernah merestui perempuan itu kembali rujuk dengan Bima." ucap Bu Laras dengan menunjuk Sarah yang saat ini berada di samping Sinta.


"Sabar, Bu. Aku pastikan perempuan murahan itu tak akan pernah kembali lagi di keluarga kita yang bahagia ini." ucap Ambar membujuk ibu nya.


"Maaf, waktu kami tidak banyak. Dan kami mohon ijin kan kami untuk masuk kedalam mencari keberadaan pak Bima." ucap salah satu polisi itu.


"Tidaaak!!, aku tidak akan mengijinkan kalian masuk kedalam rumah kami!!!." jawab Bu Laras.


Namun tak butuh menunggu ijin dari Bu Laras, kedua polisi itu pun masuk kedalam rumah melewati Bu Laras yang tengah berdiri tegak dengan tangan yang masih berkacak pinggang.


Saat akan melewati Ambar yang berdiri agak jauh dibelakang Bu Laras. Kedua polisi itu di hadang oleh Ambar.

__ADS_1


"Kalian jangan melakukan tindakan gegabah dengan membawa adik ku tanpa surat penangkapan. Karena aku akan menuntut balik kalian dengan hal itu." ancam Ambar pada kedua polisi itu.


Mungkin dikira nya dua polisi itu, polisi yang bodoh. Sehingga ia melakukan penangkapan tanpa surat penangkapan.


"Ini, Bu." satu polisi itu, menyodorkan kertas yang telah di tolak oleh Bu Laras tadi.


Lalu Ambar pun mengambil dan membacanya. Setelah tatapan mata nya tertuju pada kertas itu, kini tatapan tajam mata Ambar beralih pada Sarah.


"Jadi kamu yang melaporkan Bima, Sarah?!!," ucap Ambar dengan suara yang keras dan mata yang melotot. Nyaris kedua bola matanya itu keluar, saking lebarnya Ambar membuka matanya.


"Apa?!!, jadi wanita jal*Ng ini yang melaporkan anak ku Bima?!!," sahut perempuan setengah baya itu.


"Maaf, Bu. Kami harus secepatnya melakukan penangkapan pada pak Bima." ucap polisi itu dan mereka berdua langsung masuk kedalam rumah, untuk mencari keberadaan Bima.


Setiap kamar yang ada dirumah ini pun tak luput dari penggeledahan. Dan akhirnya mereka berdua menemukan Bima di salah satu kamar yang terkunci dari dalam.


Polisi itu pun segera mendobrak nya, dan Bima tengah sembunyi di dalam lemari pakaian.


Tanpa banyak bicara, kedua tangan Bima pun langsung di borgol oleh polisi yang saat ini sedang bertugas menangkap Bima.


"Saya tidak bersalah, pak. Bukan saya yang melakukan itu." ucap Bima membela diri saat kedua polisi itu menyeret nya keluar.


"Silahkan nanti pak Bima bisa melakukan pembelaan di kantor polisi." jawab polisi itu dengan terus menyeret Bima keluar dari rumah nya.


Saat Bima keluar, tenyata Sarah dan Sinta sudah pulang terlebih dahulu. Karena Sarah sudah di cari oleh Kean anak nya.


"Jangan bawa anakku!!, dia tidak salah!!. Perempuan itu yang sengaja menjebak anak ku. Anak ku tidak bersalah!!!," Bu Laras berteriak sekencang-kencangnya. Sampai telinga yang mendengar nya pun merasakan sakit.


Kedua polisi itu, tak memperdulikan ucapan Bu Laras. Mereka tetap membawa Bima ke atas mobil polisi.


Lalu mobil polisi berlalu dan tak terlihat dari pandangan orang-orang yang menyaksikan itu semua.

__ADS_1


"Ternyata anak Bu Laras itu telah melakukan kriminalitas." bisik tetangga yang saat ini melihat nya.


__ADS_2