
"Tapi kalau misalkan Putri tinggal bersama bundanya, aku juga bisa kok memberi dia uang untuk semua kebutuhan nya?," ucap mas Bima.
"Ya bisa saja, mas. Tapi kamu yakin mantan istri mu tak akan memanipulasi kebutuhan-kebutuhan Putri?," tanyaku.
"Ya maksudnya memanipulasi itu, misalkan untuk biaya sekolah Putri seharusnya satu juta rupiah, tapi mantan istri mu bilang nya satu juta lima ratus ribu rupiah. Memang kamu mau seperti itu? ya bukannya aku berburuk sangka sih, tapi jujur aku tak terima itu. Karena aku juga punya hak dengan uang mu. Karena aku istri mu, mas."
"Kamu mengerti kan maksud ku, mas Bima?," tanya ku.
Mas Bima pun menganggukkan kepalanya, aku yakin ia juga sangat paham dengan apa yang aku ucapkan tadi.
"Lebih baik sekarang kamu mandi, terus kita makan. Karena aku sudah sangat lapar." ucapku sambil mengelus perut ku.
"Iya, Sarah." Mas Bima segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Oh ya mas, satu lagi. Sebaiknya setelah ini kamu coba nasehati dan tanya kan alasannya kenapa ia tak suka padaku." Dan Mas Bima menganggukkan lagi kepalanya.
Kini ia sudah mengguyur tubuhnya dengan air, karena dari sini terdengar air dari shower bergemericik.
Aku pun menyiapkan baju ganti dan handuk untuk mas Bima. Dan segera keluar untuk menyiapkan piring-piring bersih diatas meja makan.
"Kean, udah lapar kan?, abis ini ayah selesai mandi, kita makan bersama ya?," Kean terlihat masih asyik dengan pensil warna nya.
"Iya amma. Kebetulan Kean juga sudah lapar." jawab Kean sambil memegang perutnya.
Dan kini mas Bima sudah keluar dari kamar, sudah mengganti pakaian nya dengan pakaian yang sudah aku siapkan tadi.
"Anak-anak mana, sayang?," tanya mas Bima padaku.
"Sebentar mas, Sarah panggil." jawabku dengan langkah menunju ke kamar Kean. Karena dari posisi ku saat ini kamar Kean lah yang paling dekat.
"Sayang, yuk kita makan. Sudah di tunggu ayah tuh." ajak ku.
"Siap amma. Kean bereskan ini dulu ya." jawab Kean sambil membereskan buku gambar dan pensil warna nya. Setelah tertata rapi, baru ia pergi ke meja makan.
"Put, ayo makan. Sudah di tunggu ayah." aku mengetuk pintu kamar nya yang tertutup rapat.
"Kenyang!!," jawab Putri tanpa membuka pintu kamar nya.
"Dasar nggak punya sopan santun," gumam ku dalam hati. Jujur tingkah laku nya membuat ku sangat jengkel.
__ADS_1
Tanpa banyak kata lagi, aku meninggalkannya. Terserah dia, mau makan atau tidak.
Dan ternyata Kean sudah duduk manis diatas kursi meja makan bersama mas Bima. Dari tempat aku berdiri, terlihat mereka berdua sangat menikmati makanan yang ku hidangkan.
Seketika saat melihat mereka berdua yang sedang menikmati masakan ku, kejengkelan ku langsung hilang tak bersisa.
"Gimana masakan amma, nak?," tanya ku pada Kean sembari menggeser kursi akan aku duduki.
"Enak amma. POkoknya masakan Amma Ter the best deh." Kean mengangkat dua jempol tangan nya, dan diacungkan kearah ku.
"Makasih, sayang." jawabku sambil ku kecup ujung kepala Kean.
"Tapi sayang, tak ada komentar apa-apa dari ayah." bisikku tapi dengan sengaja aku berbisik agar di dengar oleh mas Bima.
"Enak sayangku, kapan sih masakan mu pernah gagal?!," ucap mas Bima sambil melirik dan tersenyum pada ku.
"Mana Putri?," tanya mas Bima.
"Katanya udah kenyang, mas." jawabku.
"Kok kenyang?, bukankah tadi ia mengeluh lapar?," gumam mas Bima.
Mas Bima meninggalkan makanan nya, dan ia berdiri dan berjalan menuju kamar Putri.
Tok!
Tok!
Tok!
"Putri, ayo makan!!, katanya tadi lapar." panggil mas Bima sambil mengetuk pintu kamar nya.
"Iya, ayah. Tunggu Putri, Putri akan segera makan." jawaban Putri terdengar jelas di telinga ku. Sungguh sikap yang beda ia tunjukkan pada mas Bima.
Lalu Putri membuka pintu kamar nya dan keluar berjalan menuju meja makan.
Lagi, rasa jengkel dalam hati keluar. Ini semua gara-gara sikap anak perempuan mas Bima.
"Makan yang banyak Put!, bukankah tadi kamu mengeluh lapar." ucap mas Bima kembali menyuapkan makanan kedalam mulut nya.
__ADS_1
"Iya, yah." jawab Putri sangat manis pada mas Bima.
Kini kami berempat makan dengan sangat hening, hanya ada suara piring, sendok dan garpu yang saling bertabrakan.
Karena rasanya malas sekali, kalau aku harus berbasa-basi pada Putri.
Kini semua sudah selesai makan, dan mas Bima meminta Putri untuk tetap duduk di kursinya. Sedangkan Kean disuruh masuk kedalam kamar untuk melanjutkan mewarnai gambar-gambar nya.
"Put, ayah mau bicara sama kamu. Jadi kamu tetap duduk disitu dan kamu juga Sarah." ucap mas Bima dengan menatap mata Putri. Terlihat Putri ketakutan dengan tatapan mata ayahnya itu. Dan diakhir kalimat nya ia menatap wajahku.
"Iya yah." jawab Putri sambil menunduk kan kepalanya.
Aku yang terlanjur menumpuk piring kotor, segera ku taruh ke dalam wastafel. Dan segera kembali ke meja makan, sesuai dengan permintaan mas Bima tadi.
"Putri, coba jelaskan pada ayah! Kenapa sikap mu seperti orang tak punya sopan santun kepada Mama Sarah?,"
"Dan kenapa setiap mama Sarah yang menyuruh mu, pasti kamu menolak nya dengan kasar!," lanjut mas Bima.
"Itu karena Putri......," Putri terlihat gugup dengan pertanyaan ayah nya. Kelihatan sekali kalau ia ketakutan. Sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan. Sehingga ia tak melanjutkan ucapannya.
"Katakan karena apa, Put?, Mama Sarah itu sudah sangat baik sama kamu. Tapi kenapa sikap mu seperti orang yang tak punya sopan santun seperti itu!!,"
"Tolong jangan permalukan ayah pada mama Sarah. Karena dengan sikap mu seperti ini pada mama Sarah, seakan-akan ayah ini tak pernah mengajarkan kamu tentan sopan santun." lanjut mas Bima.
Disini aku sengaja diam, karena ingin tahu bagaimana cara mas Bima menasehati Putri anak nya.
"Itu karena Putri..... Putri takut bunda tidak sayang sama Putri." jawab Putri dengan wajahnya yang masih tertunduk.
"Maksud nya? apa hubungannya berperilaku sopan dengan takut bunda mu tak sayang?, Sungguh ayah tak mengerti."
"Bunda bilang sama Putri, kalau Putri tak menurut dengan ucapan nya. Semua akses yang yang Putri pakai untuk menghubungi bunda akan di blokir." ucap Putri dengan suara pelan.
"Jadi itu ancaman bunda mu?," mas Bima terlihat sangat emosi.
"Dan sebenarnya, Putri juga dilarang tinggal disini bersama mama Sarah. Katanya hati bunda sakit melihat ayah dan Putri tinggal bersama perempuan lain."
"Maka dari itu, bunda melarang ku untuk patuh kepada mama Sarah." lanjut nya.
"Terus, kamu mematuhi ucapan bunda mu?," tanya mas Bima. Dan Putri menganggukkan kepalanya.
__ADS_1