
"Bos kamu ada?," tanya Natasya to the point kepada Reni.
"Maaf, ibu. Jam segini bos kami sedang di outlet cabang." Jawab Reni dengan senyum sangat sopan.
Tak lupa Natasya menaruh tas kremes nya diatas etalase kaca tempat kue-kue dipajang.
"Susah sekali bos kamu ini ditemui, kalau tidak karena kue-kue nya enak. Aku malas datang kesini berkali-kali." ucapnya ketus.
Randy yang mendengar nya hanya tersenyum saja, karena lucu melihat tingkah Tante nya.
"Aku mau kue yang ini lima, yang ini lima, trus yang ini favorit iku tujuh, sama ini lima juga, ohh... ini juga lima." Natasya sangat bar-bar saat memilih kue-kue ditoko milik Sarah.
Lalu Ia menggeser tubuh nya kearah sebelah kiri, tepak nya di kue-kue yang belum ia pilih.
"Tambah ini juga lima, yang ini tiga aja." lanjut Natasya memilih kue.
"Tambah yang mana lagi, Bu?," tanya Reni yang sesekali tersenyum pada Randy, namun Randy memberi kode jari telunjuk ditaruh di bibir nya. Yang berarti Reni disuruh diam pura-pura tidak kenal pada Randy.
"Hey, kenapa kamu senyum-senyum pada keponakan ku?, jangan macam-macam ya, kamu bukan levelnya." ucap Natasya ketus pada Reni.
Ternyata usaha Randy untuk mencegah Reni menyapanya gagal, nyata nya Natasya Tante nya itu sudah mengetahui Reni senyum padanya.
"Maaf, Bu. Saya hanya ingin bersikap ramah saja pada setiap customer yang datang kesini. Saya senyum pada pak Randy bukan berarti saya merayu beliau, Bu." ucap Reni menjelaskan pada Natasya.
"Loh, kok kamu kenal sama ponakan ku?, kok kamu tau namanya?," tanya Natasya dengan alis berkerut.
Randy yang berdiri dibelakang Natasya, langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan kanan nya. Begitu juga dengan Reni, secara bersamaan Reni melakukan hal yang sama dengan Randy.
"Bukan nya pak Randy orang terkenal di kota ini ,Bu?, Siapa juga yang tidak mengenal beliau, udah ganteng kaya pula. Dan resto dan cafe nya juga ada dimana-mana," Reni berhasil membuat Natasya percaya.
Karena menurut Natasya, siapa sih yang nggak kenal ponakannya itu dengan pencapaian nya yang luar biasa'.
"Iya, tapi jangan harap dia mau sama kamu!!," ucap Natasya dengan wajah ketus nya sambil menatap sinis pada Reni.
Dan Reni haya mengangguk kan kepalanya, Sementara Randy menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku tantenya itu.
"Udah ya Tante, jangan bikin keributan disini. Nggak enak di lihat pembeli yang lain," bisik Randy sambil melihat kearah pengunjung yang lain, yang sedang menatap tantenya itu.
"Masa bodoh!!," ucap Natasya sambil berjalan menuju meja kasir sambil mengangkat tas kremes nya, ia tak menghiraukan tatapan para pengunjung lain.
"Berapa total semuanya?," tanya Natasya pada kasirnya sambil membuka tas kremes andalannya.
Lalu si kasir memberikan nota pembayaran nya, dan ia langsung memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Kembalian nya buat kamu saja." Lalu Natasya berjalan keluar toko dan di ikuti Randy.
Para karyawan toko roti Sarah tersenyum ramah pada Randy. Dan Randy juga membalas nya.
"Kue sebanyak itu, yakin Tante mau habiskan sendiri?," ucap Randy yang duduk di bagian kemudi.
"Emang kamu mau?, kalau kamu mau kamu ambil saja sebagian. Biar sebagiannya lagi aku kasih kan pada om mu," ucap Natasya sambil membuka kantong kresek yang berisikan kue-kue.
"Nggak usah Tante. Kalau Randy pingin, Randy bisa langsung datang ke toko itu." ucap Randy.
"OOO ya sudah," Natasya kembali menutup kantong kresek itu lalu menaruh nya lagi di pangkuan nya.
"Apa nanti sampai di Inggris kue itu tidak basi, te? secara kan Tante di pesawat kurang lebih masih tujuh belas jam," ucap Randy sambil terus berkosentrasi nyetir.
"Ya kita lihat saja nanti," jawab Natasya.
Kini mereka sudah sampai di bandara, dan Natasya masuk di gate penerbangan luar negeri. Karena beberapa menit lagi pesawat yang ditumpangi nya akan terbang.
Randy pun segera pulang setelah Natasya hilang dari penglihatan nya.
Sementara pagi ini Bianca keluar dari kamarnya, langsung menuju meja makan.
Perutnya saat ini sangat lapar, karena semalam ia lupa tak makan malam karena ketiduran.
__ADS_1
Saat membuka tudung saji, ternyata tak ada apapun di atas meja makan.
"Ma...mama...." Bianca memanggil Linda yang masih berada dikamar nya.
"Ada apa, Bi?," Linda yang terkejut dengan panggilan Bianca langsung berlari kearah meja makan.
"Kok disini nggak ada makanan apapun? Bianca lapar nih!," ucap Bianca dengan cemberut.
"Kalau kamu mau makan, ya masak donk!! Emang kamu mau nyuruh mama masak?, enak aja!!!," sahut Linda tak kalah menyebalkan.
"Loh disini yang orang tua itu siapa?, aku kan hanya menantu. Harus nya mama yang masak trus aku dan Damar yang makan!!," cerocos Bianca.
"Enak saja!!! Sana masak gih!!!," perintah Linda sambil menyeret tangan Bianca ke arah dapur.
Lalu Linda meninggalkan Bianca didalam dapur. Linda kembali kekamar nya untuk melanjutkan tidur. Sedangkan Lidya juga masih tertidur pulas.
"Trus aku mau masak apa?," batin Bianca sambil membuka lemari es. Untuk mengambil bahan makanan. Bianca mengambil beberapa sayuran seperti wortel, kol dan kangkung.
Bianca yang tak pernah menyentuh peralatan dapur pun kebingungan dibuat nya. Ia tak tau harus masak apa untuk sarapan pagi ini.
Bianca memotong semua sayur, sebelum memulai memasak sayur ia mencuci beras terlebih dahulu. Lalu ia menaruh beras itu kedalam rice cooker.
Setelah beras ditaruh kedalam rice cooker, kini ia beralih pada sayur yang sudah dipotong-potong. Lalu ia masak secara random sesuai dengan hati nurani nya. Tak lupa Bianca membumbui nya dengan garam, micin dan lain-lain.
Lidya yang baru bangun, berjalan menuju toilet. Dan Lidya mencium bau gosong dari arah dapur.
Lalu Lidya putuskan untuk masuk kedapur lebih dahulu sebelum ia pergi kekamar mandi.
"Astaga.... mbk Bianca!!!, kamu ngapain? Kenapa dapur ini kotor seperti ini?!!!," Lidya dibuat kaget dengan ulah Bianca. Sampah sisa sayuran berserakan dilantai dapur. Dan sayuran yang ia masak gosong karena api kompor yang digunakan terlalu besar.
Linda yang mendengar keributan didapur pun segera berlari kearah sumber suara berasal.
"Bianca!!!," Mata Linda membulat saat melihat dapurnya seperti kapal pecah.
"Kamu ini gimana sih?!, masak aja kok sampai berantakan seperti ini. Mana telur juga pada gosong!!!," ucap Linda dengan berkacak pinggang.
"Kan Uda Bianca bilang, kalau Bianca tak bisa masak!!!. Asal mama tau dirumah Bianca tak pernah memegang peralatan dapur!!!!," ucap Bianca sambil menaruh pisau dengan kasar.
"Maksud kamu?," tanya Linda membulatkan mata nya.
"Ya maksudku, gimana reaksi papa ku kalau ia melihat anak mata wayang nya yang sangat di manja dan di penuhi semua keinginan nya, diperlakukan seperti babu dirumah mertuanya!!!," Bianca sedikit mengancam pada Linda.
Linda yang mendengar ucapan Bianca pun langsung mengerti dengan maksudnya.
"Oo.. hmmmm... gini aja bi, biarkan mama saja yang masak. Kamu sekarang pergi kemar untuk mandi. Setelah itu kamu sarapan bersama Damar." Linda ketakutan dengan ancaman Bianca.
Karena Linda tau kalau keluarga nya tak sebanding dengan keluarga Bianca. Ia langsung mengambil pisau yang digeletakkan Bianca diatas meja.
"Nih, Lid. Sekarang kamu yang masak dan beresin semua sampah ini!," Linda memberikan pisau itu pada Lidya yang berdiri disampingnya.
"Loh kok Lidya sih, ma?!," Lidya bingung dengan perubahan sikap Linda mama nya.
"Lidya mana bisa seperti ini, ma?. Bukan nya yang beginian tugas nya mbak Bianca sebagai menantu?!," tanya Lidya dengan bibir nya manyun.
"Sekarang menjadi tugas kamu!!," ucap Linda sambil mendorong bahu Lidya untuk mendekat ke arah meja dapur.
Bianca yang melihat itu langsung berjalan meninggalkan dapur menuju kamar nya. Dia berjalan sambil tersenyum menang, sekarang ia punya senjata buat ngerjain mertua dan adik iparnya.
"Huuhhh!!! Enak waktu mbak Sarah yang jadi mantu dirumah ini!!, makan Uda tinggal makan aja!!!, Nggak perlu repot-repot seperti ini!!!," ucap Lidya sambil memotong wortel secara kasar sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras.
"Sttttt!!!!!!, kamu diam!! Turutin apa yang mama suruh!!, kalau kita menyuruh Bianca seperti Sarah, apa kita mau tidur dikolong jembatan?," Linda melotot pada Lidya yang terus mengomel.
"Huuuhhh!!! mama jahat! Harus nya mama yang melakukan ini!!," protes Lidya.
"Ah..ya mana bisa?!, kamu tenang aja dulu, kerjain ini semua. Biar mama yang bicara sama Damar untuk mencari asisten rumah tangga lagi seperti dulu." bisik Linda pada Lidya.
Namun Lidya hanya menanggapi dengan cemberut ucapan Linda mama nya.
__ADS_1
Lidya pun melakukan nya dengan terpaksa dan ia tak punya skill sama sekali tentang masak memasak. Lidya memasak secara awur-awuran.
Setelah selesai, Lidya menatanya di atas meja makan. Namun saat Lidya akan mengambil nasi, betapa kagetnya dia. Ternyata nasi yang ada didalam rice cooker masih belum matang. Alias masih berbentuk beras tanpa ada air.
"Dasar perempuan jadi-jadian, masa masak nasi aja nggak bisa?!. Mana ada masak nasi tak dikasih air?!," gerutu Lidya sendiri. Karena saat ini ia sendirian didalam dapur.
"Duh, udah lapar banget nih," ucap Bianca keluar dari kamar nya sambil mengusap perut nya. Terlihat ia sudah selesai mandi, karena Lidya mencium bau wangi dari tubuh kakak iparnya itu.
"Iya nih, aku juga lapar. Wah perdana nih, aku makan masak kamu, lid." disusul Damar yang berjalan dibelakang Bianca sambil menggoda Lidya. Terlihat mereka berdua sudah berbadan rapi.
Lidya yang melihat tingkah Bianca, memutar bola mata nya. Karena harus nya saat ini ia sudah rapi dan wangi seperti mereka. Bukan malah bau kompor seperti babu.
Damar dan Bianca langsung duduk di atas kursi meja makan nya.
"Mana Nasi nya, Lid?," tanya Damar sambil membuka piring yang sudah tertata di meja makan.
"Tuh," tunjuk Lidya pada rice cooker yang berada disudut meja dapur.
"Nasi nya belum matang, ya kali masak nasi nggak pakai air!," celetuk Lidya sambil melirik Bianca.
"Kok kamu lihat nya ke aku, Lid?," Bianca yang mengetahui ia sedang dilirik oleh adik iparnya pun, langsung mencari pembelaan.
"Kan kamu yang masak, kok aku yang seakan-akan disalahkan?!," sahut Bianca dengan suara agak lembut.
"Iya, Lid. itu kan kamu yang masak. Harusnya kamu yang disalahkan," Bianca berhasil membuat Damar respek pada nya.
Lidya yang mendengar itu sangat kesal, dengan sengaja ia melempar sendok nasi di meja dapur dekat rice cooker yang masih bekerja keras untuk memasak beras yang masih mentah untuk menjadi nasi yang pulen.
"Kamu kenapa melempar sendok nasi seperti itu, Lid? Nggak sopan tau!!," Damar yang melihat tingkah laku Lidya pun langsung menegurnya.
Namun Lidya semakin kesal oleh sikap Damar yang membela Bianca istrinya. Lidya tak menjawab ucapan Damar.
"Wah... anak mama masak apa ya?!," ucap Linda yang keluar dari kamarnya dengan dandanan yang sangat rapi.
"Mama jadi lapar nih!," lanjut Linda sambil duduk di kursi meja makan yang kosong.
"Nasi nya belum matang, ma." ucap Damar sambil tersenyum mengejek kearah Lidya.
Damar ingin menggoda adiknya yang saat ini sedang cemberut dengan dandanan yang acak-acakan.
Lidya yang mendengar ucapan Damar, langsung berjalan cepat menuju kamar nya. Ia tak ingin menjadi barang olok-olokan Damar, mama nya dan Bianca. Karena setelah ia berlari ke kamar nya. Terdengar suara mereka tertawa bersama.
Lidya memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, kali ini setelah sarapan ia berencana mencari pekerjaan.
Setelah selesai mandi, Lidya keluar ke meja makan. Dia melihat mereka bertiga belum makan.
"Kok kalian belum makan?," tanya Lidya yang berjalan mendekat ke arah meja makan.
"Ambilkan nasi nya donk," ucap Bianca manja sambil memberikan piringnya pada Lidya.
"Kamu kan bisa ambil sendiri, Mbak!! Jangan manja gitu dong!," ucap Lidya dengan wajah cemberut.
"Uda, lid. Ambilkan aja!," suruh Damar.
"Lagian Bianca kan sedang hamil," lanjut Damar.
Bianca yang mendapatkan perhatian dan pembelaan oleh Damar pun senyum-senyum kearah Lidya.
Dan Lidya yang melihat tingkah Bianca, sangat membuat nya geram.
"Dulu waktu mbak Sarah yang hamil, kenapa diperlakukan seperti babu?!," kali ini Lidya sudah sangat emosi sehingga ia mengungkapkan uneg-uneg di dalam hati nya.
"Kenapa kamu bandingkan aku dengan Sarah, perempuan kampungan itu, Lid?!!!," ucap Bianca tidak terima dengan ucapan Lidya.
"Yang jelas, aku dan Sarah itu beda kasta. Kalau ia dulu diperlukan seperti babu itu memang sudah selayaknya. Tapi kalau aku yang kamu perlakukan aku seperti Sarah, aku jamin kalian akan tidur dikolong jembatan." ucapan Bianca mengancam keluarga Damar.
"Uda Lid, kita turutin aja kemauan Bianca. Agar kita bisa tidur dengan nyenyak dirumah ini." Bisik Linda yang kali ini sudah berdiri disamping Lidya.
__ADS_1
Lidya pun langsung mengambil piring milik Bianca, untuk mengambilkan nya nasi.
Dengan langkah berat ia berjalan menuju dapur untuk mengambil nasi. Bianca berhasil menjadikan dirinya ratu dirumah ini. Dengan kekuasaan yang ia rekayasa, seakan-akan ia masih punya banyak uang dan harta.