
Akhirnya aku pulang membawa uang sebesar seratus juta ditangan. Aku yakin mama akan bahagia kalau ia tau aku membeli kan nya mobil untuk nya. Ya... walaupun bukan mobil baru.
Ternyata untuk mendapatkan uang sebesar itu, aku tak perlu kerja keras. Cukup dengan kerja cerdas saja. Tak sia-sia aku mempunyai otak cerdas seperti ini.
Sebelum pulang ke rumah aku pergi ke showroom mobil bekas, karena aku sudah janjian dengan pemilik showroom itu. Yang tak lain pemilik showroom itu teman kuliah ku dulu.
Setelah mendapat mobil yang cocok untuk mama, aku segera pulang karena hati ini sudah tak sabar memberikan mobil ini untuk mama. Ingin sekali melihat mama orang yang melahirkan ku bahagia.
Sesampainya di rumah, aku melihat Lidya dan mama sedang duduk santai dan ngobrol. Kelihatan nya mereka sedang senang sekali. Tapi kenapa aku tak melihat Sarah.
Sarah memang jarang sekali terlihat kumpul bersama mama dan Lidya. Bukan jarang, tapi memang tak pernah sama sekali.
Seharusnya Sarah itu belajar mendekat kan diri kepada mama dan Lidya. Agar bisa akur dan rukun. Tapi memang Sarah yang tak mau, karena dia selalu menjauhkan dirinya.
Sehingga mama dan Lidya terkesan menjauhi nya. Padahal Sarah lah yang selalu menjauhkan dirinya sendiri.
Aku langsung masuk rumah dan memberikan kabar bahagia ini pada mama.
"Ma, ada kabar bahagia untuk mama,"
"Kabar apa, Mar?, " tanya mama penasaran.
"Ayo tebak, ma... " goda ku.
"Udah lah mas, jangan main tebak-tebakan gitu ah... " celetuk Lidya kesal.
"Ayo lah... tebak dulu!," ucapku terus menggoda.
"Ada berita apa sih, Mar? mama uda penasaran nih?. " Kata mama.
"Tara.... " aku mengangkat kunci mobil yang baru saja aku beli.
"Mar, ini maksudnya apa?," tanya mama dengan wajah bingung.
"Ini mobil untuk mama," ucapku sambil menyerah kan kunci pada mama.
"Beneran kamu belikan mama mobil, Mar?," tanya mama tidak percaya.
Aku pun langsung menuntun mama ke depan. Karena mobil yang baru saja aku beli, sudah terparkir di halaman rumah.
"Ini beneran untuk mama, Mar?," tanya mama masih tidak percaya.
"Iya, ma. Bukan nya tadi pagi mama minta mobil pada Damar? Sekarang sudah Damar belikan untuk mama," jawab ku dengan senyum bahagia. Karena bisa membeli kan apa yana mama mau.
"Makasih ya, Mar. Tapi ini mobil bekas ya, Mar?," tanya mama dengan melihat dan mengelus bodi mobil.
"Iya, ma. Saat ini Damar hanya bisa belikan mama mobil bekas dulu." jawabku.
"Tapi nanti mama belikan yang baru ya, mar?," pinta mama.
"Iya, ma. Kalau nanti Damar ada rejeki lagi, pasti Damar belikan yang baru," ucapku.
"Iya, mar. soalnya teman-teman arisan mama mobilnya baru-baru. Yang keluaran sekarang." rajuk mama.
"Wah, mas Damar lagi banyak uang ya?," celetuk Lidya.
Alhamdulillah ada rejeki dikit untuk menyenangkan hati mama," jawabku.
"Tapi mama kurang senang Mar, kalau bukan mobil baru," rengek mama.
"Iya, mama sabar dulu ya. Pakai yang ini dulu, nanti kalau Damar ada uang lagi Damar ganti dengan yang baru," bujuk ku.
*Iya deh, daripada aku naik taksi online. Aku pakai ini aja dulu, toh nanti pasti kamu ganti dengan yang baru kan Mar?," tanya mama memastikan janjiku.
Aku menjawab dengan anggukan dan senyum. Lalu kita kembali kedalam rumah.
"Sarah kemana, ma?," tanyaku.
"Tuh, di kamarnya," jawab mama dengan memonyongkan bibirnya ke arah kamar.
"Kenapa kamu cari Sarah, mar?," tanya mama penuh selidik.
"Kamu itu jangan kasih uang Sarah, Mar. Biarkan dia itu kerja sendiri biar dia mandiri. Enak aja dia selalu ongkang-ongkang kaki cuma menikmati uang kamu," celetuk mama.
__ADS_1
"Iya, ma. Damar cari dia mau minta dia bikinin Damar kopi," jawab ku.
"Saraaaaah....!!!!!!?," panggil mama dengan teriak.
"Iya, ma," Sarah keluar dengan tergesa-gesa sambil mengikat rambutnya yang acak-acakan. Terlihat tak terawat sekali, semakin hilang rasa aku melihat nya.
"Kenapa Sarah tak merawat wajah dan tubuhnya? rambutnya acak-acakan, wajahnya pun kusam dan tubuhnya juga kurus sekali. Pokok nya tidak enak kalau dipandang. Berbanding terbalik dengan Bianca, dia cantik, elegan dan selalu wangi. Jadi setiap melihat nya aku selalu berhasrat," ucapku dalam hati.
"Kamu ini, nggak lihat apa kalau suami datang? kok kerja nya tidur aja!!!! Sana bikinin Damar kopi!!!," perintah mama dengan membentak.
"Maaf, ma. Sarah nggak tau kalau mas Damar sudah datang. Mulai tadi Kean rewel, jadi Sarah ikut ketiduran saat Kean tidur", jelas Sarah. Terlihat Sarah sangat capek sekali. Ada garis hitam dibawah matanya.
" Kamu ini kerja nya tidur aja!!!," bentak mama.
"Sekarang bikinkan Damar kopi!!," suruh mama.
Sarah berjalan menuju dapur untuk membuatkan aku kopi.
"Mbak, sekalian ya bikinkan aku lemon tea hangat," Lidya memanggil Sarah dan menyuruh nya untuk membuatkan minuman juga.
Sarah menoleh dan hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa.
"Lihat itu, Mar. Istri mu itu memang nggak punya sopan santun ya," ucap mama.
"Seharusnya dia menjawab dengan kata-kata, bukan dengan gerakan. Seperti orang bisu aja!!?," protes mama.
"Biarkan saja, ma. Mungkin memang Sarah benar-benar capek," bela ku.
"Kamu mulai bela dia sekarang, Mar?!. Dia itu kerja nya cuma tidur aja. Coba suruh dia kerja, biar tidak jadi beban kamu," Ketus mama.
"Iya, nanti Damar coba nasehati dia," ucapku.
Sarah datang dengan membawa secangkir kopi dan segelas lemon tea hangat sesuai request Lidya.
"Ini, mas kopinya," Sarah meletakkan secangkir kopi di depan ku.
"Ini, Lid lemon tea hangat nya," dan ia meletakkan segelas lemon tea di depan Lidya.
"Trus punya ku mana, Sarah?!," tanya mama.
"Ya tapikan kamu itu harus peka, masa yang lain di bikinkan terus aku nggak? kamu sentimen ya sama aku?!," Lagi-lagi mama memarahi Sarah.
Tapi menang salah Sarah. Seharusnya mama juga di bikinkan minum. Yang lain pada minum trus mama disuruh bengong?!.
"Sekarang cepat bikinkan mama minum, Sarah!," perintahku tegas pada Sarah.
Memang Sarah harus sedikit di didik sopan santun, agar dia bisa menempatkan diri dimana dia berada.
"Mama, mau minum apa?," tanya Sarah pada mama.
"Bikinkan aku cokelat hangat!," seru mama.
Dan Sarah pergi ke dapur lagi untuk membuat cokelat hangat yang di minta mama.
Tak lama kemudian, cokelat hangat yang di minta mama datang. Dan Sarah menaruh nya di depan mama.
"Mas Damar mau makan?," ucap Sarah menawarkan nakan padaku.
"Tadi aku sudah makan diluar," jawabku.
"Kalau gitu Sarah kembali ke kamar ya, mau temani Kean yang sedang tidur," pamit Sarah.
"Ya gitu tuh, Mar. Kelakuan istrimu. Kerja nya hanya tidur saja! Suruh dia kerja biar menghasilkan uang. Biar dia membantu perekonomian kamu!, " ucap mama.
Benar juga yang dikatakan mama. Seharusnya Sarah juga bekerja biar punya penghasilan sendiri. Jadi tidak membebankan hidup nya pada ku.
Sarah berjalan menuju kamar. Sepertinya dia tidak menghiraukan omongan mama. Aku harus memberi pelajaran pada nya agar dia bisa sopan kepada orang yang lebih tua. Terutama kepada mamaku.
"Seandainya saja Bianca yang menjadi menantu ku, pasti aku tak malu membawa nya jalan-jalan. Dan ku kenalkan pada teman-teman arisan ku," ucap mama berandai-andai.
"Tapi sayang, aku punya menantu yang jika diajak keluar rumah malu-maluin. Kelihatan kampungan dan tidak pantas dikenalkan dengan teman-teman arisan mama yang sosialita itu," sambung mama.
Aku hanya diam, karena mau membantah tapi kenyataan nya memang begitu adanya. Jangan kan mama, aku sendiri tak pernah membawanya keluar dan mengenalkannya pada teman-teman ku. Karena penampilan nya sangat kampungan.
__ADS_1
Ku seruput kopi yang dibuatkan Sarah. Rasanya begitu nikmat dan takarannya pun begitu pas. Sebenarnya kalau soal masakan dan minuman Sarah lah jagonya. Tapi dia tidak bisa merawat dirinya. Dan itu yang membuat ku sedikit bosan melihatnya.
Setelah aku, mama dan Lidya ngobrol panjang lebar dan kopi di cangkir pun sudah habis. Aku pergi ke kamar untuk beristirahat.
Kulihat Sarah dikamar sedang tiduran dengan bermain handphone nya.
"Kamu itu seharusnya kalau di rumah jangan malas-malasan seperti ini, Sarah!!!, tegur ku.
"Jangan cuma mainan handphone dan rebahan aja. Coba kamu cari kerja yang bisa menghasilkan uang. Agar hidupmu tak membebani ku," tegur ku.
Lalu Sarah hanya menatap ku dengan diam. Tak ada jawaban satu kata pun dari nya. Ini membuat ku sangat kesal.
Tanpa berkata apapun, Sarah membalikkan tubuh nya membelakangi ku dan langsung memejamkan mata. Aku sangat kesal dibuat nya.
"Sarah!!! Apa kamu tidak mendengar perkataan ku?!." Namun Sarah tetap saja diam.
Lalu aku mendekati nya dan membalik kasar tubuh nya, dan terlihat sia sedang menangis. Karena terlihat ada butiran bening yang jatuh di pipi nya.
"Kamu itu seperti tak punya sopan santun saja. Diajak malah di tinggal tidur!!!," bentak ku. "Apa begini cara didikan orang tua mu?! Memang dasar orang kampung!!!," hina ku dengan kasar.
Dan Sarah berdiri maju pas di hadapan ku.
"Ingat ya, mas!!! Jangan sekali-kali kamu bawa-bawa orang tua ku. Aku begini itu karena perlakuan mu dan keluarga mu kepada ku!!!," ucap Sarah emosi sambil menunjuk wajah ku.
Aku emosi di buatnya, ku angkat tangan ku. Ingin sekali aku menampar nya namum aku urung kan. Karena saat aku menatap mata nya yang hitam, sudah membanjir air mata di dalam nya. Lalu tangan yang ku angkat ku alihkan untuk memegang kepala ku.
Air mata Sarah pun jatuh tak terbendung, ia hanya diam saja tanpa sepatah kata pun.
Lalu aku ambil jaket yang ada di lemari, dan aku keluar untuk meninggalkan nya. Agar aku bisa menetralkan emosi ku, karena sejati nya aku juga masih sayang pada Sarah. Tak ingin sedikit pun untuk menyakiti nya.
Ku lihat jam sudah pukul sembilan malam, dan ku ambil handphone ku untuk menelepon Bianca. Namun beberapa kali panggilan ku tak diangkat oleh nya.
Ku kirim pesan pada nya, namun tetap sama. Pesan itu tak dibalas, jangan kan di balas dibaca aja tidak.
"Kemana kamu, Bi? telepon ku tak kamu angkat, pesanku pun tak kamu baca," ucapku sendiri sambil menyetir mobil.
Ku laju kan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa arah tujuan. Karena tujuan awal ku adalah Bianca, namun saat ku telepon tak ada jawaban dari nya.
Ku hentikan mobil di depan cafe yang bernuansa outdoor, lalu ku parkir mobil di depan agak ke samping dari pintu utama cafe itu.
Ku langkah kan kaki, masuk kedalam cafe yang pencahayaan nya sedikit remang-remang. Lalu aku mencari meja yang masih kosong untuk duduk sekedar memesan minum. Untuk menghilangkan sedikit kekalutan dalam otak ku ini.
Ku edarkan pandangan, ternyata cafe ini begitu besar. Tak hanya outdoor, cafe ini juga menyediakan indoor. Seperti nya memang dirancang untuk memanjakan para pengunjung nya, agar bisa memilih sesuai dengan keinginan hati para pengunjung.
Tak ketinggalan disini juga ada band akustik nya, untuk menghibur para pengunjung.pasti yang punya cafe ini orang hebat dan pastinya kaya raya. Karena penataan cafe ini sangat estetik dan instagramable sekali. Cocok untuk anak remaja yang suka hunting-hunting foto.
Lalu aku mencari pelayan untuk memesan minuman. Datanglah pelayan itu dengan membawa dua list menu makanan dan minuman.
Ternya disini juga tersedia roti dan cake.
"Ini sih cake kesukaan ku," ucapku.
Akhirnya aku memesan cake favorit ku, dan segelas softdrink.
Tak menunggu lama pesanan ku akhirnya datang. Lalu aku mencoba cake yang aku pesan, enak sih...tapi masih kalah jauh dengan yang di buat Sarah.
Karena aku pernah dibuatkan cake seperti itu saat kita masih menjadi pengantin baru. Lagi, tiba bayangan Sarah saat aku mau memukulnya, terlintas di pikiran ku.
Namun cake itu tetap ku habis kan, karena kebetulan perut ku saat ini sedang lapar. Tak sengaja saat aku memandang setiap sudut cafe ini, aku melihat sosok orang aku kenal, namun lama sekali aku tak pernah bertemu dengan dia.
Dia pun melambaikan tangan nya pada ku, rupanya dia mengingat ku walau sudah lama kita tak pernah bertemu. Dia pun datang kepada ku dan langsung duduk disamping ku. Ya, ternyata dia adalah Randy teman ku di masa kuliah dulu.
"Hai, mar," sapa nya dan memeluk tubuh ku.
"Randy? jadi ini beneran kamu Ran?," tanyaku masih tak percaya.
"Iya, mar. aku Randy, teman kuliah mu dulu," jawab Randy sambil tersenyum kepada ku.
Setelah sekian lama kita tak pernah bertemu, akhirnya Tuhan mempertemukan kita disini.
Dan kita saling bercerita tentang masa-masa kuliah dulu. Obrolan pun semakin larut, sehingga aku lupa kalau jam tangan sudah menunjukkan pukul 23:30, saat nya aku harus pulang. Karena besok pagi-pagi sekali aku harus sudah berangkat ke kantor.
Aku pun berpamitan kepada Randy. "Kok kamu terburu-buru, Mar?," tanya randy.
__ADS_1
"Iya, ini sudah malam, Ran. Besok pagi aku harus kerja," jawab ku.