DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Tak Mendapatkan Apa-apa


__ADS_3

"Tapi, maaf Bu. Tak ada niatan sedikitpun di hati Sarah untuk kembali rujuk dengan mas Bima." ucap Sarah dengan tegas, karena melawan orang seperti Laras, tidak boleh menggunakan hati. Karena Laras tak pernah punya hati.


"Jadi aku tak perlu menandatangani persyaratan ini." Sarah menyodorkan kembali kertas putih yang berisi perjanjian yang di buat Laras. Demi keuntungan nya sendiri.


"Jadi kamu menolak kebaikan kami?!!," kali ini Laras sudah tidak bisa menahan emosinya. Laras berdiri dari duduknya, dengan jari telunjuk nya menunjuk-nunjuk pada Sarah.


"Sabar Bu, sabar ." Bima yang melihat kemarahan Laras segera berdiri untuk memegang tubuh Laras. Bima takut Laras nekat menyakiti Sarah. Karena Bima tak ingin sedikitpun Sarah tersakiti.


"Kamu minta aku sabar kepada perempuan yang sok jual mahal ini?!!!," ucap Laras pada Bima dengan menunjuk Sarah.


"Sekarang, coba kamu yang ngomong sama dia. Aku tau dia hanya pura-pura tidak butuh kamu. Padahal ibu yakin, kalau dia berharap kamu yang ngomong." Laras menyuruh Bima untuk membujuk Sarah, agar ia menyetujui semua rencana yang sudah diatur oleh Laras.


"Iya, Bu. Bima akan bicara dengan Sarah. Tapi sekarang, lebih baik ibu menenangkan diri, duduk kembali dan tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan." Bima mencoba menenangkan Laras yang tersulut emosi.


"Lebih baik ibu, kamu bawa pulang, mas. Karena bagaimana pun cara mu, aku tetap dengan keputusan ku untuk tak kembali rujuk dengan mu." ucap Sarah setelah membuang nafas besar dengan kasar.


Rasa sesak di dadanya saat menghadapi orang yang tak punya urat malu seperti Laras.


"Sarah, aku mohon. Aku akan memperbaiki sikap buruk ku selama ini padamu. Mari lah kita rujuk, Sarah." ucap Bima mengajak Sarah kembali rujuk.


"Aku sangat mencintaimu." lanjut Bima dengan pandangan nanar pada Sarah.


"Maaf, mas. Sesuai kesepakatan kita, jadi jangan pernah melakukan hal bodoh seperti ini. Karena sudah aku pastikan, aku akan menolaknya." ucap Sarah dengan tegas.


"Dasar, wanita sombong!!!, omongan mu sungguh menghina ku!!," Ucap Laras semakin emosi, saat mendengar ucapan Sarah.


"Mas, aku minta segera bawa pulang ibu mu. Karena disini kami sekeluarga terganggu dengan kedatangan kalian." Sarah pun berdiri dari duduknya untuk memberi kode keras pada Bima dan Laras agar segera pulang dari rumah nya.


"Kamu benar-benar sudah berubah ya m, Sarah!, kamu bukan Sarah yang dulu saat menjadi istri ku."ucap Bima yang kecewa dengan sikap Sarah.


"Itu karena kamu yang membuatku seperti ini, mas." jawab Sarah sambil tersenyum getir.


"Bim!!!, penghinaan dari perempuan sombong ini akan selalu aku ingat seumur hidup ku. Maka buat lah dia sengsara, Bima! Agar aku akan bahagia." Laras sesumbar dengan sangat keras.


"Kalau perempuan itu tidak mau rujuk kembali dengan mu, maka buat lah perempuan sombong itu juga tidak bisa menikah dengan lelaki lain, dengan cara jangan pernah kamu ceraikan dia secara resmi. Dengan begitu, dia tidak akan bisa menikah lagi dengan lelaki mana pun!!," ucap Laras dengan wajah penuh dendam dan senyum penuh kepuasan.


Sarah tersenyum saat mendengar ucapan mantan mertua nya itu. Sarah tak habis pikir, kenapa perempuan paruh baya itu sangat mempunyai kepercayaan diri yang begitu tinggi.


Dalam pikiran Sarah, pasti Laras belum tau yang sebenarnya terjadi. Sehingga dengan percaya diri berbicara seperti itu.


"Ibu... Ibu...." ucap Sarah dengan tersenyum yang sedikit mengejek.

__ADS_1


"Apa ibu belum tau cerita yang sudah terjadi antara aku dan mas Bima?," tanya Sarah, masih dengan senyuman nya.


Laras pun bingung, saat mendengar ucapan Sarah. Karena Laras sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan mantan menantunya itu.


"Maksud mu?!," Laras pun bertanya maksud dari ucapan Sarah dengan menautkan kedua alisnya.


"Asal ibu tau, aku dan mas Bima itu sudah bercerai. Jadi buat apa ibu mengancam ku seperti itu?!," lagi, senyuman Sarah kembali mengembang di bibir saat melihat ekspresi wajah Laras yang kebingungan.


"Sarah, kalau hanya di talak itu berarti kamu belum sepenuhnya sah bercerai dengan Bima. Dan kamu kira dengan hanya kata talak, apa kamu bisa menikah lagi dengan lelaki lain?, sedangkan pernikahan mu sudah di catat di kantor urusan agama." Laras pun tak mau kalah, ia tersenyum miring pada Sarah.


"Sekali lagi, maaf Bu. Aku tak sebodoh yang ibu kira." ucap Sarah.


"Sekarang, coba kamu ceritakan hal yang sebetulnya terjadi, mas. Karena aku takut, kalau aku yang bercerita, ibu mu akan semakin malu dengan tindakan yang sudah ia lakukan hari ini dirumah ku." ucap Sarah pada Bima.


Bima pun menunduk, karena malu. Bima tak bisa mengeluarkan kata-kata, saat mendapatkan ucapab seperti itu dari Sarah mantan istrinya itu.


"Bim!!, apa yang belum ibu ketahui tentang rumah tangga mu dengan perempuan itu?!," kini tatapan tajam Laras menatap lekat wajah Bima.


"Bu, lebih baik sekarang kita pulang. Jangan bikin keributan dirumah orang, karena itu bisa membuat malu keluarga kita sendiri." ajak Bima pada Laras.


"Sekarang coba jelaskan, apa maksud dari ucapan perempuan sombong itu?!!, dan jangan mencoba mengalih pembicaraan!!," Laras sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan anaknya itu.


"Bu, Bima janji sampai rumah Bima akan menjelaskan semua nya." bujuk Bima pada Laras.


"Ibu!!!, dengarkan Bima!!!," ucap Bima sambil matanya melotot, kedua tangan nya memegang bahu kanan kiri lengan Laras, dengan suara yang sedikit meninggi untuk memperingatkan Laras yang semakin bar-bar itu.


"Kamu membentak ku , Bim??!," ucap Laras, sambil mata nya di penuhi dengan air mata. Laras begitu sakit hati dengan bentakan suara Bima.


"Buk dengarkan Bima!, Bima akan menjelaskan semua nya dirumah, jadi Bima mohon ayo kita segera pergi dari sini." Bima terus mencoba membujuk Laras, agar ia mau diajak untuk pergi dari ruangan Sarah.


"Ibu tak akan pergi dari sini, sebelum kamu bercerita semua!!!," Laras pun merajuk, sambil membuang pandangan dengan melipat tangannya di dadanya.


"Ibu, ini semua Bima lakukan demi ibu. Jadi Bima mohon, ayo kita pulang." Bima masih mencoba sabar dengan kelakuan Laras yang keras kepala itu.


"Tidak!!!," Nada suara Laras pun semakin tinggi. Dan itu membuat Sarah semakin menautkan kedua alisnya, dan itu menandakan kalau ia sangat terganggu dengan mereka berdua.


"Bu, dengarkan, Bima!!!, Bima dan Sarah itu sudah sah bercerai secara agama atau pun negara!!!," ucap Bima mengatakan yang sebenarnya.


"Apa?!," mata Laras melotot.


"Kapan kamu menceraikan perempuan itu?, lalu mana harta gono-gini yang kamu dapat?!!," Laras berkacak pinggang berbicara dengan Bima.

__ADS_1


"Lebih baik kita pulang dulu, Bu. Nanti Bima akan menceritakan semuanya." bisik Bima pada Laras.


"Kamu telah mempermalukan ku, Bim!!," geram Laras dengan tatapan penuh emosi pada Bima.


"Katakan, apa kamu sudah berhasil mendapatkan rumah itu?!!," bisik Laras bertanya pada Bima.


"Ehem....," sengaja Sarah bedahem agar mereka tak asyik bicara sendiri.


"Lebih baik, kita pulang bu!," ajak Bima lagi.


"Tapi kamu sudah mendapatkan rumah itu kan, Bim?. Katakan pada ibu." Laras masih terus bertanya tentang rumah itu.


"Tak semudah itu kalian mengambil rumah ku." gumam Sarah dalam hati saat mendengarkan apa yang tengah di katakan Laras pada Bima.


"Iya, Bu. Lebih baik kita bicara di rumah saja." Bima terus membujuk Laras, agar mau pulang. Karena jujur saja, Bima sudah sangat malu dengan kelakuan ibu nya yang bodoh itu.


"Kalau bukan karena Bima, mungkin aku akan memporak porandakan rumah mu ini, perempuan sombong!!," ucap Laras pada Sarah dengan kedua matanya yang melotot.


"Silahkan kalian pergi smdari sini," ucap Sarah dengan pelan,sambil menunjuk pintu keluar.


"Akan selalu aku ingat penghinaan ini!!!," Ucap Laras, lalu ia berjalan keluar dan di ikuti oleh Bima anak nya.


"Bim, sekarang ceritakan semua yang terjadi?!, kenapa kamu bisa bercerai denga Sarah?!!," Laras masih penasaran, sehingga di dalam mobil ia masih membahas hal ini.


"Bu, Bima sudah sah bercerai dengan Sarah. Jadi ibu tak perlu melakukan hal bodoh seperti tadi " jawab Bima dengan terus fokus menatap arah jalan yang ada di depannya.


"Kalau memang kamu sudah bercerai dengan perempuan udik itu, bagi ibu tak masalah. Asal seperti yang telah kamu bilang tadi. Kalau kamu sudah mendapatkan rumah dari pernikahan mu dengan perempuan kampungan itu." ucap Laras dengan enteng nya.


"Rumah?!," tanya Bima sambil menautkan kedua alisnya, dan tatapan nya kali ini menuju pada Laras yang tengah duduk di samping nya itu.


"Iya, rumah. Rumah yang pernah kalian tempati itu. Bukankah tadi kamu bilang,kalau kamu sudah mendapatkan harta Gono gini berupa rumah?," ucap Laras menjelaskan maksud dari omongan nya.


"Bu, Bima tak mendapatkan apa-apa dari perceraian ku dengan Sarah. Bima hanya mendapatkan kebebasan dari penjara aja, Bu." Jawab Bima dengan kembali fokus pada jalan yang ad ma di depan nya.


"Jadi maksudmu, kamu tak mendapatkan harta gono-gini sepeserpun?," tanya Laras yang seperti tak terimakl dengan apa yang telah ia dengar dari mulut anaknya itu.


"Seharusnya, kamu lebih memilih rumah daripada kebebasan mu, Bim!!, Kamu bebas pun ternya tak ada manfaatnya sama sekali di dunia ini!!," ucap Laras yang sungguh membuat hati Bima sakit. Bagaimana tidak?, Laras seakan-akan lebih mementingkan harta daripada anaknya.


"Tega sekali ibu berbicara seperti itu padaku!!," ucap Bima dengan lirih dan air mata yang sudah menumpuk di matanya.


"Kenapa?, kamu tak terima?!!," Laras segera membuang muka ke jendela disamping nya.

__ADS_1


Kini suana mobil pun menjadi hening, tak ada obrolan hangat antara ibubdan anak.


Hati Bima, sungguh sakit. Saat mendengar ucapan Laras yang lebih mementingkan harta dari pada dirinya.


__ADS_2