DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Di Usir Dari Rumah


__ADS_3

Malam ini adalah malam yang paling bersejarah untuk Sarah, dimana malam yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidup nya.


Sarah menangis di kamar, ia tak pernah merasa sesakit ini. Walau setiap hari mendengar hinaan dan cacian.


Ingin sekali ia pergi dari sini, namun mau pergi kemana. Sedangkan ia tak punya sanak saudara dikota ini.


Sarah hanya bisa meratapi nasibnya yang tak pernah dapat kasih sayang dari Damar dan keluarga nya Damar.


Setelah ia mengetik novel, Sarah pun tertidur disamping Kean.


Damar yang saat ini sedang keluar dengan Bianca sampai jam satu dini hari tak ada pulang.


Pagi ini Sarah bangun sebelum subuh, terlihat Damar masih tidur.


"Ternyata mas Damar pulang," ucap Sarah dalam hati.


Dia melakukan rutinitas setiap hari nya. Mulai dari kewajiban kepada Tuhannya, dan kewajiban untuk orang-orang seisi rumah.


Setelah semua sudah selesai, cepat-cepat Sarah mandi dan berganti pakaian. Sebelumnya ia sudah memandikan Kean terlebih dahulu.


Sarah dan Kean sudah rapi, Damar pun bangun. Sarah langsung berpamitan untuk pergi ke pasar untuk mencari kebutuhan pokok dan mau mampir ke toko kebutuhan bayi.


Damar pun mengijinkan nya walau tak menatap Sarah sedikit pun, lalu taksi online yang sudah di pesan Sarah datang. Ia langsung naik dengan menggendong Kean.


Taksi melaju menuju pasar induk di kota ini, lalu Sarah belanja semua kebutuhan toko nya. Untuk kebutuhan dapur sengaja Sarah belanja secukupnya.


Ia pun mampir ke toko kebutuhan bayi, iya membeli semua kebutuhan Kean yang sudah habis. Mulai dari popok sekali pakai, sabun, parfum dan lain sebagainya. Sarah berbelanja secara bebas tidak takut Damar akan marah karena uang nya habis. Karena Sarah sekarang sudah bisa belanja dengan penghasilan nya sendiri.


Setelah selesai semua, Sarah pun tak langsung pulang. Karena ditoko sekarang ada pesanan kue dari cafe Randy. Ia segera ke toko untuk membantu para karyawan nya.


Sesampainya di toko, Sarah melihat toko sangat ramai. Lalu ia masuk dan membantu Reni melayani customer.


Sarah pun melayani semua customer dengan ramah. Saat Sarah melayani satu customer laki-laki. Tak sengaja Sarah menjatuhkan kantong kresek yang berisi beberapa potong kue. Lalu Sarah keluar untuk mengambilkan kotak yang jatuh itu, untung saja kue yang ada didalam tidak ada yang rusak.


Segera Sarah memberikan kantong itu pada customer Sarah. Saat Sarah menyerah kue itu dan tersenyum, lalu customer itu mengambilnya dan membalas senyum Sarah dengan sopan.


Tiba-tiba Lidya datang dan melihat itu semua, tanpa bersuara Lidya yang bertujuan membeli kue langsung memfoto nya. Lidya memfoto Sarah dan lelaki itu saat Sarah tersenyum.


"Oh...gini ya kelakuan kamu diluar rumah?! Kamu selingkuh dengan membawa anak mu, mbak?! Atau jangan-jangan ini bukan anak mas Damar tapi anak dari selingkuhan mu!!! Aku akan bilang sama mas Damar tentang kelakuan mu diluar rumah mbk!!!!," cerca Lidya sambil menunjuk muka Sarah.


"Tapi maaf Bu, sebenarnya ini sal.......," Reni yang ingin bicara yang sebenarnya di kode oleh Sarah untuk tak ngomong apa-apa. Karena Sarah takut kalau Reni bakal ngomong kalau ini adalah toko milik nya.


"Sebenarnya apa?! Kamu nggak bakalan tau betapa liciknya perempuan kampungan ini!!," lalu Lidya meninggal kan toko roti itu lalu bergegas balik ke kantor lagi. Karena ini masih jam kantor.


Setelah Lidya pergi Sarah langsung meminta maaf pada lelaki yang dituduh selingkuhan nya itu. Sarah sangat malu dengan kejadian hari ini.


Karena penasaran Reni pun bertanya disaat toko sudah sepi. Dan akhirnya Sarah menceritakan kehidupan nya berumah tangga dengan Damar suaminya dan bagaimana ia berhadapan dengan mertua serta ipar yang setiap hari selalu menghina dan mencaci nya.


Reni dan karyawan lain pun akhirnya tau bagaimana rumit kehidupan bos nya itu. Sarah pun bercerita sampai ia mempunyai toko seperti ini.


Namun cuma satu yang Sarah sembunyikan dari semua karyawan nya. Kalau dia adalah penulis.


Jadi mulai dari sekarang Reni dan kawan-kawannya tidak dengan mudah memberi tahu tentang identitas pemilik toko ini.


Setelah Sarah mengantar semua pesanan kue pada Randy, Sarah segera pamit pulang. Walau sempat di cegah oleh Randi, ingin sekali Randy mengajak ngobrol sekedar minum kopi dengan santai.


Namun dengan tegas tegasnya Sarah menolak ajakan Randy. Randy pun tak bisa memaksa, baru kali ini Randy ditolak oleh seorang perempuan. Apalagi perempuan yang sudah mempunyai anak. Ini yang membuat Randy semakin penasaran pada Sarah.


Karena Sarah beda dengan perempuan yang lain. kalau perempuan lain ia yang menawarkan dirinya untuk di jadikan kekasih nya dan mau memberikan mahkota nya.


Sarah akhirnya pulang dengan diantar pamannya Reni yang membawa mobil bak terbuka. Yang tadi di buat untuk mengangkut beberapa kue.


Dikantor Lidya langsung mengirim foto yang tadi dia ambil di toko roti. Damar pun langsung melihat dan meminta penjelasan pada Lidya.


Lalu Lidya menjelaskan semuanya sesuai dengan sudut pandang nya Lidya.


Damar tersulut emosi saat ia melihat foto itu dan mendengar semua penjelasan dari Lidya. Foto yang melihatkan punggung lelaki dan Sarah saat tersenyum pada lelaki itu.


Damar ingin sekali segera pulang, waktu begitu terasa lama. Ingin sekali Damar memberi pelajaran pada Sarah.


"Kurang ajar kamu, Sarah. Belum cukup tamparan ku kemarin?," geram Damar dengan mengepalkan tangan.


Jam kantor pun telah usai, Damar sudah tak sabar untuk segera sampai dirumah nya.


Sesampainya dirumah, setelah dia memarkir mobilnya. Damar masuk rumah, dan saat itu Sarah sedang menyuapi Kean yang sangat lahap. Karena ia masih tahap belajar makan.


"Sarah, siapa lelaki ini?!," tanya Damar memegang lengan Sarah dengan kasar.

__ADS_1


"Itu bukan siapa-siapa, mas. Aku juga nggak kenal. Ini itu salah paham. Tadi itu...., " Sarah ngomong dengan menahan rasa sakit di lengan nya. Belum selesai Sarah ngomong, Damar sudah memotong nya.


"Alaaa... itu cuma alasan kamu aja!!!!, pamit pergi ke pasar ternyata kluyuran kemana-mana!!!," Damar semakin erat memegang lengan Sarah.


"Itulah istri mu, Mar. Sekarang baru kamu tau istrimu seperti apa." Linda semakin mengipasi bara yang sudah terbakar.


"Jadi selama ini kamu selingkuh dibelakang ku?!, " emosi Damar semakin membara.


"Uda, Mar. Usir aja Sarah, buat apa kamu memelihara perempuan hina ini. Yang sudah menodai pernikahan." Ucap Linda dengan memandang jijik ke arah Sarah.


"Tapi mas, semua salah paham. Aku nggak selingkuh!!!," jelas Sarah.


"Mana ada orang selingkuh ngaku, mas. Bukti juga uda jelaskan?," ucap Lidya ikut mengompori Damar.


"Sekarang kamu pergi dari sini!!!!, " usir Damar.


"Tapi mas?," mohon Sarah.


"Aku sudah nggak sudi melihat wajahmu disini!!, " ucap Damar dengan membuang muka dari wajah Sarah.


Lalu Lidya keluar dari kamar Sarah membawa koper dan barang-barang Sarah. Kemudian ia lempar di halaman rumah.


Sarah hanya bisa menangis dan pasrah saat ini. Linda pun ikut menyeret paksa Sarah untuk keluar dari dalam rumah. Dan Damar hanya diam saja seperti patung.


Sarah pun akhirnya keluar dari rumah itu. Dia berjalan menyusuri jalan yang gelap.


"Kemana aku harus pergi? sedangkan disini aku tak punya siapa-siapa."


"Kasian kamu, nak. Ini sudah malam, kamu pasti kedinginan." ucap Sarah dengan mendekap tubuh mungilnya Kean.


"Tapi kenapa aku nggak ke ruko aja?," terlintas pikiran nya tentang ruko.


Hati Sarah saking kalutnya, sampai ia lupa kalau ia sudah mempunyai ruko. Walau itu cuma kontrakan.


Akhirnya ia memesan taksi online lewat aplikasi. Sarah sekarang bukan Sarah yang dulu. Kalau Sarah yang dulu tak pernah memegang uang sepeserpun. Tapi sekarang ia tak takut lagi akan hidup gelandangan di kota ini.


Sarah menuju toko dengan menggendong Kean, akhirnya ia akan bermalam di toko. Untung saja ini adalah ruko. Jadi ada tempat untuk beristirahat.


"Malam ini kita nginap di sini ya sayang," ucap Sarah pada Kean.


Ia pun membereskan tempat tidur untuk ia dan Kean beristirahat. Terlihat Kean sangat nyaman dirumah ini.


Tapi sayang otak dan hati nya tidak sinkron. Jadi di otaknya tak ada ide untuk menulis.


Ia memejamkan matanya sebentar untuk mengistirahatkan otaknya yg dipenuhi dengan emosi saat ini.


Dalam tidurnya pun Sarah tak bisa lelap. Karena ia masih tak menyangka kalau dia akan diusir dari rumah mertuanya itu seperti ini.


Kejadian itu bak petir yang menyambar disiang hari bagi Sarah. Dan membuat hati Sarah yang sakit bertambah sakit lebih dalam.


Setelah beberapa menit ia memejamkan mata untuk mengistirahatkan otaknya. Kini dia mulai mengetik bab-bab novel online nya.


Semangat ia makin membara setiap kali hati dan otak nya sedang emosi. Karena Sarah bisa menumpahkan semua emosional nya hanya di novel.


Tak terasa ia tertidur dengan handphone ada di telapak tantang nya.


Pagi yang sangat beda ini, ia bangun sebelum adzan subuh berkumandang.Tak seperti biasanya, namun Sarah harus terbiasa dengan keadaan ini.


Lalu ia melakukan rutinitas pagi setiap hari seperti ada dirumah mertuanya. Beda nya sekarang ia hanya bersama mertuanya dengan ocehannya serta hinaan dari mertuanya dan Lidya adik ipar Sarah.


Saat para karyawan datang mereka kaget melihat Sarah yang sepagi ini sudah ada di dalam ruko.


"Ibu bermalam di sini?," tanya Reni.


Sarah menjawab dengan anggukan.


"Apa ada masalah dengan pak Damar?," tanyanya lagi.


Kali ini ia menjawab dengan anggukan disertai air mata yang mengalir di pipinya. Sesakit itu rasanya hati Sarah.


"Yang sabar ya, Bu." Mereka merangkul Sarah, ya walaupun mereka hanya karyawan tapi sudah dianggap saudara sendiri oleh Sarah.


Mereka membuka toko dan melakukan rutinitas seperti setiap hari.


Dan Sarah untuk saat ini sengaja tidak keluar ke toko. Sarah lebih dominan di belakang di bagian produksi.


Di luar sangat ramai sekali pembeli, Reni yang dibantu Mita sangat kewalahan. Mereka melayani customer yang datang dan yang dikirim oleh ojek online.

__ADS_1


Damar yang akan berangkat ke kantor kebingungan mencari baju. Karena Sarah lah yang menyiapkan semua kebutuhan Damar.


Setelah memakai kemeja dan celana yang perpaduan warna nya sangat tidak cocok, Damar keluar dari kamar. Untuk sarapan, namun apa yang ia lihat di meja makan tidak ada makanan sama sekali.


"Ma, mama." panggil Damar.


"Ada apa sih, mas. Pagi-pagi uda teriak-teriak." Jawab Lidya sambil tertawa menutupi mulutnya.


"Kamu kenapa ketawa??, ada yang salah pada diriku?," tanya Damar sambil melihat tubuhnya


"Kenapa baju mu kayak gitu sih, mas?, warnanya nggak matching banget," ucap Lidya.


"Entah lah, aku bingung mencari nya." ucap Damar.


"Mama kemana, Lid? dimeja makan kok nggak ada makanan sama sekali?," Damar yang sibuk membetulkan dasi nya.


"Mana mungkin mama mau masak, mas?," jawab Lidya sambil berjalan masuk kamar.


Akhirnya Lidya dan Damar berangkat kekantor bersama-sama. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk bersarapan di kantor.


Linda bangun tidur langsung pergi ke meja makan, ia membuka tudung saji namun tak menemukan apa-apa disana.


"Kok tidak ada makanan apa?," gerutu Linda.


tuuuut


tuuuut


Linda mencoba menghubungi Damar, untuk minta dibelikan makanan.


Namun belum ada jawaban dari Damar.


"Kemana sih kamu ini Damar?, di telepon kok nggak diangkat," gerutu Linda menggaruk kepalanya.


"Mana perut udah lapar banget," Linda masuk ke kamarnya untuk berganti baju.


Lalu ia keluar dengan membawa mobil baru nya. Linda menuju resto untuk sarapan pagi ini.


Saat melintas didepan toko roti, Linda langsung menginjak pedal rem nya.


Lalu membelokkan setirnya dan berhenti didepan toko.


Linda turun untuk membeli beberapa potong kue untuk ia bawa pulang.


Untung saja Sarah ada di dalam, jadi Linda tak bertemu dengan Sarah.


Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang, ia mencari restoran untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah keroncongan.


Sedangkan Damar pulang dari kantor, ia mampir ke cafe Randy. Ia mengajak adiknya Lidya untuk makan disitu.


Saat Damar dan Lidya masuk, Lidya kagum dengan desain interior cafe ini. Sangat estetik dan Instagramable banget.


"Cafe nya keren ya, mas?," tanya Lidya sambil memutar pandangan ke seluruh penjuru ruangan.


"Selamat datang Damar," belum sempat Damar menjawab pertanyaan Lidya, Randy datang menyapa Damar.


"Hay, Ran," Damar berdiri langsung menjabat tangan teman nya itu.


"Ini.....," Randy berkata sambil melihat ke arah Lidya.


"Oh.... ini adik ku. Kenalkan Ran, ini Lidya adik ku. Lidya dan Randy menjabat kan tangan nya masing-masing.


"Aku kira ini istri mu juga, Mar." ucap Randy kepada Damar sambil tertawa.


Lalu ia berpamitan untuk masuk kedalam, karena masih banyak urusan di dalam.


"Itu temen kamu, mas?," tanya Lidya.


"Iya, Lid. Teman kuliahku dulu. Dia yang punya cafe ini." Damar menjelaskan pada Lidya.


"Keren ya, mas. Masih muda sudah sukses seperti ini.


Btw, kamu pernah ngajak mbk Sarah kesini, mas?," tanya Lidya yang membuat tenggorokan Damar terasa langsung sepi.


"Bukan Sarah, Lid. Tapi Bianca." ucap Damar.


"Memang istri mu itu nggak pantas diajak makan di cafe semewah ini, mas." Hina Lidya.

__ADS_1


Damar hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


__ADS_2