DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Bab 305


__ADS_3

Dan benar saja, saat membuka pintu ruang IGD. Dokter itu sudah di hadang oleh Laras dan Ambar.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya dok?," tanya Laras.


"Alhamdulillah, semuanya sudah teratasi." jawab dokter itu dengan singkat.


"Tapi kenapa anak saya tidak mencari saya, dok?. Kenapa orang lain yang ia cari?," tanya Laras lagi.


"Mungkin anak anda mengalami gegar otak, jadi dia lupa dengan ibunya." jawab dokter itu dengan bercanda.


"Kenapa dokter bilang gitu?, emang nya benar Bima gegar otak?," beberapa pertanyaan di tanyakan pada dokter muda itu.


"Tidak, Bu. Anak ibu tidak apa-apa. Kenapa dia mencari orang lain dan tidak mencari ibu. Itu nanti bisa di tanyakan langsung pada anak ibu sendiri." jawab dokter.


Lalu dokter itu berpamitan pergi meninggalkan tempat itu. Karena masih ada pasien lain yang harus di tangani malam ini juga.


Setelah kepergian dokter itu, Laras pun berjalan dengan langkah kaki cepat menuju ruang IGD, dimana Bima di rawat.


"Bagaimana keadaan mu, mas?," tanya Sarah, saat ia baru masuk dan berdiri di dekat Bima.


"Aku tidak apa-apa, Sarah. Mungkin dengan membawa ku kesini itu sungguh keterlaluan, karena aku tidak apa-apa." jawab Bima.


"Ibu mu yang minta agar kamu di bawa kerumah sakit, mas." jawab Sarah dingin.


"Seharusnya kamu tak melakukan hal yang memalukan itu, mas!!. Kamu sudah bukan anak kecil lagi, sudah tidak sepantasnya kamu melakukan hal yang brutal seperti itu." ucap Sarah kecewa dengan sikap Bima yang main serang saja pada Bara. Sarah berbicara tak memandang mata Bima sedikitpun. Sarah berbicara dengan tatapan kosong, ia berbicara dengan pelan namun tegas.


"Ini semua bukan salah ku, Sarah. Ini semua aku lakukan semata-mata untuk melindungi, mu!," jawab Bima.


"Melindungi? melindungi dari apa?!," tanya Sarah.


"Ya jelas dari lelaki bajing*n yang bernama Bara!!!, aku tau Bara itu menaruh hati padamu. Aku takut kamu akan di permainkan oleh lelaki itu!!," jawab Bima dengan penuh emosi saat menyebut nama Bara.


"Tau darimana kamu kalau Bara itu lelaki bajingan?," tanya Sarah lagi dengan pandangan masih kosong kedepan.

__ADS_1


"Dia yang menyebabkan toko ku saat ini gulung tikar, Sarah. Dia mengambil semua aset toko ku. kini toko ku sudah diambil oleh lelaki kurang ajar itu!!," Bima semakin emosi saat menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Kalau tak ada masalah sebelum nya, mana mungkin pak Bara dengan tiba-tiba mengambil ruko milik mu." Sarah sama sekali tak percaya pada ucapan Bima. Kalau pun kata Bima benar, kalau Bara telah mengambil ruko nya. Pasti ada hal lain yang menjadi alasan ya.


"Aku akan cari tau tentang hal ini." gumam Sarah dalam hati.


"Sarah, aku minta kmu jangan terlalu dekat dengan lelaki itu. Aku tidak suka melihat nya." ucap Bima menatap nanar wajah Sarah.


"Kamu punya hak apa melarang ku, mas?!, apa kmu lupa kalau kita ini sudah bercerai?!," ucap Sarah.


"Apa kamu lupa dengan status kita yang sekarang ini?," tanya Sarah lagi.


"Iya Sarah, aku tau aku tak punya hak melarang mu.Tapi aku cemburu melihat mu dekat dengan lelaki itu." Bima terus menatap Sarah dengan wajah memelas.


"Maaf, mas. Itu sudah bukan urusan ku lagi." jawab Sarah, yang memang sudah tak perduli dengan perasaan Bima padanya.


"Aku ingin kita kembali seperti dulu, Sarah. Aku akan membuat mu bahagia, dan aku akan merubah sifat-sifat ku yang tidak baik padamu." rayu Bima.


"Kalau memang tidak ada hal penting yang akan kamu sampaikan, aku pamit pulang mas." lanjut Sarah sambil beranjak dari duduknya.


"Sarah, aku mohon tetap lah menemani ku disini. Tetaplah disamping ku, temani aku Sarah." ucap Bima memohon pada Sarah.


"Bima!!!, jaga harga dirimu sebagai lelaki!!!, jangan kamu mengemis perhatian pada perempuan kampungan seperti Sarah!!!, karena itu sangat memalukan sekali!!!," Tiba-tiba Laras datang dan berdiri di belakang Sarah sambil berkacak pinggang.


"Ibu?," ucap Bima yang kaget dengan kedatangan Laras.


"Kalau begitu aku pergi dulu." pamit Sarah sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Bima yang masih terbaring di tempat tidur.


"Sarah, tunggu!!," Bima menarik tangan Sarah.


"Lepaskan mas!," ucap Sarah dengan suara pelan namun penuh dengan penekanan.


Seketika Bima melepaskan tangan nya, ia lupa kalau Sarah tidak pernah mau disentuh oleh orang yang bukan muhrimnya.

__ADS_1


"Sarah, temani aku disini." mohon Bima terus merengek.


"Maaf, mas. Aku tidak bisa. Lagian disini sudah ada ibu mu. Jadi kamu bisa ditemani oleh ibu." jawab Sarah.


Kini Sarah pun berjalan keluar dari ruangan itu. Ia tak peduli walau Bima terus berteriak memanggil nama nya.


"Sarah, kamu tidak apa-apa kan?," tanya Bara yang terlihat khawatir karena Sarah berada di dalam hanya berdua dengan Bima.


"Saya tidak apa-apa, pak. Jadi stop jangan berlebihan mengkhawatirkan saya." ucap Sarah dengan tegas. Disini Sarah tidak ingin ada kesalahpahaman.


Bukan sok ke GR'an, tapi Sarah meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Sarah tak ingin memberi harapan apa pun pada Bara.


Lalu Sarah berjalan menuju kasir, untuk membayar semua tagihan pengobatan yang di lakukan Bima. Sesuai permintaan Laras, Sarah harus bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan dirinya pelakunya.


"Sarah, kamu mau kemana?," tanya Bara, yang heran melihat sikap Sarah yang tiba-tiba menjadi dingin itu.


"Pak, bapak bisa pulang sekarang. Karena sebentar lagi saya juga akan pulang." jawab Sarah memberi saran pada Bara. Agar ia tak terus mengikuti dirinya.


"Tapi, aku ingin menemani mu disini." jawab Bara.


"Aku khawatir kamu kenapa-kenapa Sarah." ucap Bima yang tertinggal di belakang Sarah.


Sarah pun menghentikan langkah nya, lalu membalikkan tubuhnya kearah Bara yang berdiri mematung.


"Saya bukan anak kecil, pak!, jadi bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya." sahut Sarah.


Lalu ia melanjutkan lagi langkah nya menuju kasir, dan meninggalkan Bara yang masih berdiri mematung itu.


"Semua itu aku lakukan karena aku peduli padamu, Sarah." ucap Bara lirih, sehingga Sarah tak mendengar nya. Karena Sarah susah semakin jauh dari nya, dan kini dia sudah hilang dari pandangan nya.


Kini bara pun kembali berjalan menuju parkiran mobilnya. Ia berencana pulang setelah Sarah keluar dari rumah sakit.


Hati nya tak tenang kalau ia belum memastikan Sarah keluar dari rumah sakit ini dalam keadaan baik-baik saja. Ia sangat takut Sarah akan di sakiti oleh Laras dan Ambar.

__ADS_1


__ADS_2