DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Lingkaran Tetangga Toxic


__ADS_3

Kini semangatku sudah bertambah, setelah di hujam kenikmatan berkali-kali di pagi ini oleh mas Bima.


Aku keluar dengan wajah berseri-seri, aku menuju dapur untuk membuatkan sarapan mas Bima dan anak-anak.


Namun saat aku membuka lemari es, tak ada bahan yang bisa di masak.


"huft...aku lupa kalau bahan-bahan masakan sudah habis." gumamku.


Aku mengambil dompet yang ada diatas lemari es. Dan segera keluar rumah untuk melihat tukang sayur yang biasa mangkal di depan rumah Dewi.


Saat ku sigap korden jendela, ternyata tukang sayur nya sudah standby di tempat nya.


Segera ku pasang Khimar ku, dan segera keluar rumah.


Aku baru ingat tentang mobil pak Edi yang terparkir didepan rumah semalam. Sekarang kemana perginya mobil itu? Digarasi rumah pak Edi pun tak ada mobilnya. Dan siapa perempuan yang semalam dibopong oleh pak Edi?


"Eh... mbak Sarah. Mau belanja ya mbak?," pertanyaan Dewi membuat ku tersadar dari lamunanku yang memikirkan tentang perempuan semalam. Karena dari belakang aku sangat familiar dengan tubuh perempuan itu.


"Oh... iya, Wi." jawab ku sambil tersenyum pada Dewi yang sangat ramah padaku, walau aku sangat jengkel dengan sikapnya yang kecentilan pada mas Bima.


"Tumben mbak Sarah belanja?, biasanya kan kalau pagi mbak Sarah nggak pernah keluar untuk belanja." tanya Dewi.


"Gimana kemarin mbak? apa mas Bima suka dengan ubi rebus yang aku bawakan?," lanjut Dewi memberi ku pertanyaan dengan senyam senyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Suka, Wi." jawab ku singkat sambil sedikit tersenyum. Karena, lama-lama malas juga meladeni Dewi yang menurut ku terlalu banyak bicara.


Aku memilih sayuran yang tertata rapi diatas lapak yang terbuat dari papan kayu.


Dan Dewi sepertinya tidak ada capek-capek memberikan pertanyaan-pertanyaan padaku, sudah seperti wartawan saja.


Sesekali ia tertawa sambil memilih sayuran, lagaknya seperti kita ini sudah sangat akrab. Karena beberapa kali ia menceritakan kepada tetangga lain tentang kemarin sore ia datang kerumah sambil membawa ubi rebus.


"Ehem...ehem...," tiba-tiba ada suara orang berdehem dari belakang ku.


Seketika Dewi langsung terdiam dari bicara dan ketawanya.


Karena aku penasaran, aku balikkan tubuhku untuk mengetahui siapa yang datang. Karena dengan mendengar suara dia berdehem berhasil membuat Dewi yang terus nyerocos bisa berhenti seketika. Dan itu sungguh suatu keberuntungan untuk ku, membuat telinga ku terasa lega dan tidak sakit.


Ternyata yang datang dan ada dibelakang ku saat ini adalah mbak Ana. Rupanya Dewi takut sama mbak Ana, karena seketika ia langsung terdiam.


"Mbak Ana, mau belanja?," tanya Dewi dengan ramah pada mbak Ana.


"Kok kelihatannya kamu bahagia banget, Wi?," tanya mbak Ana sambil melirik ku.


Aku bingung dengan sikap mbak Ana, kenapa ia selalu menatap ku sinis seperti itu?


Seperti orang yang punya dendam saja, padahal sebelumnya aku tak kenal dengan nya. Jangan kan kenal bertemu pun juga tak pernah.


Saat aku tersenyum padanya pun, ia tak pernah membalas nya. Hanya membalas dengan pandangan sinis.


"Sungguh aneh!," gumamku dalam hati.


Aku segera memilih dan membayar sayur dan daging yang aku ambil. Aku ingin segera pergi dari lingkaran tetangga toxic ini.


"Kok buru-buru, Sarah?," tanya seseorang yang baru datang dari arah dibelakang ku. Dan kini ia sudah ada disamping ku, saat ku toleh. Ternyata dia istri pak Edi.


"Jadi semalam saat pak Edi membawa perempuan itu, istri pak Edi ada dirumah?," ujarku dalam hati.


"Di tanya kok malah bengong." ucapan istri pak Edi membuat aku malu, karena saat melihat nya aku terbengong.


"oh... iya mbak. Takut anak-anak sudah bangun mbak. Karena ini mau masak untuk sarapan mereka." jawab ku dengan kebingungan.


Dia hanya tersenyum dan berlalu untuk memilih sayuran yang di tata rapi diatas papan yang terbuat dari kayu.


"Wi, aku duluan ya..," aku pamit hanya pada Dewi setelah belanjaan ini sudah aku bayar.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi, Dewi menatap ku dengan tatapan sinis dan tak menjawab ucapan ku sama sekali.


"Kenapa dengan dia?, sepertinya tadi dia tidak apa-apa. Kok tiba-tiba dia berubah seperti ini? Aku rasa perubahan Dewi setelah kedatangan mbak Ana." ucapku salam hati.


Aku bergegas pulang tak menghiraukan sikap Dewi yang seperti bunglon. Bisa berubah-ubah setiap saat dan setiap waktu.


"Assalamualaikum," ku ucapkan salam saat aku masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam," jawab mas Bima yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Ternyata mas Bima sudah berpakaian rapi, dan terlihat sudah siap untuk pergi ke toko.


"Mas Bima mau kemana?," tanya ku.


"Ya siap-siap mau ke toko, sayang." jawabnya.


"Tunggu sebentar ya, mas. Sarah buatkan sarapan dulu." ucapku lalu berjalan menuju dapur.


Aku segera masak masakan yang mudah saja, karena sudah agak siang. Takut mas Bima terlambat sampai toko.


"Mas, masakan nya Uda selesai. Yuk sarapan!," ajak ku.


Aku juga ke kamar Kean, untuk membangunkan nya. Tapi ternyata Kean sudah bangun dan sudah mandi pula.


Sungguh anak yang sangat mandiri, tanpa di suruh pun ia sudah melakukan tugasnya.


"Sayang, yuk kita sarapan." ajak ku pada Kean yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Ok amma." jawabnya sambil mengacungkan satu jempol kanan nya.


"Amma tunggu di meja makan ya sayang." ucap ku sambil menunjuk arah meja makan.


Kean pun mengangguk kepalanya, yang artinya ia menyetujui usulku yang menunggu nya di meja makan.


tok tok tok!!!


Ku ketuk pintu kamar Putri, tapi tak ada jawaban.


"Put...put....," panggil ku. Namun tetap masih tak ada jawaban.


tok tok tok!!!


ku ketuk sekali lagi pintu kamar nya.


"Ih... kenapa ganggu Putri tidur sih?!," ucap Putri saat membuka pintu kamarnya.


"Sudah siang, Put. ayo bangun, trus mandi lalu sarapan." perintah ku.


"Ih....malas!!," ucapnya lalu menutup kembali pintu kamar nya dengan keras.


"Astaghfirullah...," gumamku sambil mengelus dada ku. Kenapa sikap anak itu kasar seperti itu pada orang tua.


Aku meninggalkan dia, kalau aku ladeni bisa gila aku dirumah sendiri.


Aku berjalan menuju meja belajar, terlihat Kean sudah duduk disamping mas Bima. Dan mas Bima sangat telaten melayani Kean.


Mas Bima mengambil nasi dan lauk pauk untuk Kean.


"Kean makan yang banyak ya..," ucap mas Bima pada Kean.


"Iya ayah. Kean pasti makan banyak, karena masakan amma tak ada tandingannya di dunia ini." sanjungan Kean membuat ku tersenyum tersipu malu. Karena saat Kean menyanjung ku, mas Bima menatap ku dengan tatapan penuh cinta.


"Terimakasih sayang, sudah suka dengan masakan amma." ucapku penuh haru.


"Sama-sama amma." ucap Kean dengan mulutnya yang terus mengunyah.

__ADS_1


"Putri mana, sayang?," tanya mas Bima.


"Dikamar nya." jawabku singkat. Karena malas sekali aku membahas anak itu, yang setiap hari membuat mood ku berantakan.


Anak seperti kurang didikan saja, sampai tak mengerti bersikap sopan santun pada orang yang lebih tua.


Jujur hati ku sakit saat ia berucap dengan nada tinggi. Seumur-umur baru kali ini aku diperlakukan seperti ini sama anak kecil yang seumuran Putri.


"Emang nggak kamu bangunin? kan ini sudah siang." ucap mas Bima.


"Uda mas. Tapi dia tidak mau." jawabku.


Kini mas Bima yang berjalan menuju kamar Putri. Lalu ia ketuk pintu kamar Putri.


"Put, ayo bangun trus mandi lalu langsung sarapan. Cepetan ayah tunggu." ucap mas bisa saat Putri membuka pintu kamar.


"Iya ayah." ucap Putri dengan lugu.


Uh... sikap Putri sangat menyebalkan. Kenapa dia bisa nurut dan patuh pada mas Bima. Sedangkan padaku, sungguh terbalik.


Kalau bicara dengan ku, sering sekali bicara dengan membentak-bentak. Kalau aku yang menyuruh nya, pasti ia menolak.


Putri berjalan ke kamar mandi, sedangkan aku dan Kean melanjutkan makan. Mas Bima kembali ke meja makan, dan segera memakan makanan yang sudah ada di atas piring nya.


"Kamu itu harus sedikit lebih tegas pada Putri, mas." ucapku.


"Kenapa Putri, memang ia melakukan apa?," tanya mas Bima. "Dia baik-baik saja dan sangat penurut." lanjutnya sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.


"Iya mas, Putri hanya nurut sama kamu. Tapi kalau sama aku, dia nggak nurut sama sekali." jelas ku.


"Mungkin kamu nya aja kurang pendekatan pada Putri." ucap mas Bima.


"Aku sudah mendekatkan diri, mas. Tapi memang Putri nya aja yang selalu menjauh."


"Ya terus dicoba, jangan mudah putus asa." kali ini ucapan mas Bima seperti memojokkan aku.


Aku pun menyudahi sarapan ini, karena perut sudah terasa penuh walau hanya beberapa sendok saja yang masuk kedalam mulut.


Kini Putri datang, rupanya ia tidak mandi hanya cuci muka saja. Dan aku berdiri untuk menaruh piring kotor bekas aku makan.


"Minggir kamu, dek!," Putri mencubit lengan Kean.


"Auw...," ucap Kean refleks.


"Aku mau duduk disini. Disamping ayahku." ucap Putri dengan ketus.


"Kenapa kamu, nak?," tanyaku seraya membalikkan badan.


"Kean nggak apa-apa, Amma." jawab Kean menutupi kelakuan Putri padanya, padahal aku tau kalau tadi ia dicubit oleh Putri.


Lalu Kean pun pindah menjauh dari mas Bima, tapi kenapa mas Bima hanya diam saja melihat kelakuan anaknya yang menurut ku itu tidak baik.


"Ayah.... ambilin nasi donk." ucap Putri dengan suara manja.


Aku melihat mas Bima dengan telaten nya melayani Putri, sama dengan saat ia melayani Kean.


Tapi yang membuat ku sakit hati adalah kelakuan Putri yang mencubit Kean. Dan ia tak merasa bersalah sama sekali.


"Ayah, hari ini Putri ikut ayah ya. Putri mau kerumah nenek." ucap Putri.


"Ngapain sih kerumah nenek terus?, disini aja temani mama Sarah." tanya mas Bima.


Lalu aku melihat Putri berbisik-bisik di telinga mas Bima. Dan mas Bima menganggukkan kepala nya.


Lalu mas Bima memandang kearah ku, aku pun segera membuang muka dan pura-pura tak melihat nya.

__ADS_1


__ADS_2