
Pagi ini Sarah sudah siap, namun Sarah menunggu kedatangan Damar. Karena semalam Damar ternyata tidak pulang.
"Kenapa mas Damar belum pulang juga," Sarah cemas, sambil beberapa kali ia menengok jam di tangan nya.
Beberapa pesan singkat masuk dari karyawan nya yang menanyakan kedatangan Sarah. Karena kue harus segera di kirim, agar bisa sampai tepat waktu.
Akhirnya Sarah memutuskan untuk berangkat tanpa menunggu Damar pulang. Tak lupa Sarah kirim pesan pada Damar untuk berpamitan. Agar Damar tak kebingungan mencari nya.
Taksi online sudah datang, Sarah langsung naik dengan menggendong Kean. Sarah nampak cantik dan anggun dengan balutan Khimar panjang berwarna hitam dan di padukan kacamata hitam.
Sesampainya di ruko, terlihat dua karyawan nya dan satu lelaki paruh baya. Yang diduga paman Reni pemilik mobil pick up itu sedang memindahkan kue dari dalam ruko ke atas mobil pick up.
"Ternyata pegawai ku cekatan, tanpa diperintah mereka sudah tau apa yang harus dilakukan," ucap Sarah dari dalam taksi.
Lalu Sarah turun dari taksi dengan menggendong Kean.
"Gimana Reni? Uda selesai?," tanya Sarah pada pegawai nya.
"Tinggal dikit lagi, Bu," jawab Reni.
Sarah melihat jam di tangan nya ternyata dia belum terlambat. Sarah hanya melihat para karyawan nya yang sedang memindahkan kue kue ke mobil pick up. Sarah tak bisa ikut membantu karena dia sedang menggendong Kean.
Setelah semuanya selesai, lalu mobil pick up itu berangkat. Dengan Sarah naik di depan bersama kedua karyawan nya.
"Semoga Bu Sarah secepatnya punya mobil, agar kita nggak desak-desakan seperti ini," ucap salah satu pegawai Sarah.
"Aamiin," di aamiin kan oleh semua orang yang ada didalam mobil pick up itu.
Sampai kita didepan cafe Bintang Ceria, paman Udin memarkirkan mobilnya di depan cafe.
Dan Sarah langsung turun untuk mengkonfirmasi kalau kue sudah datang. Lalu satu waiters laki-laki mengarahkan mobil paman Udin untuk masuk kedalam menuju pintu hall resto.
Lalu paman Udin dan dua karyawan Sarah dibantu beberapa waiters menurunkan semua kue-kue yang ada diatas mobil itu.
Terlihat pak Randy berjalan menuju Sarah, dengan memakai kemeja putih yang pres body dengan bagian lengan di klinting sampai siku. Terlihat begitu tampan dan berkharisma.
"Bagaimana, Bu Sarah? semuanya lancar kan?," tanya Randy sedikit basa-basi dengan tatapan yang penuh makna saat melihat Sarah.
"Alhamdulillah, pak. Semua berjalan dengan lancar. Semoga tidak mengecewakan." Jawab Sarah dengan menundukkan pandangannya.
Pak Randy hanya menjawab dengan senyuman, yang ah.... bila wanita melihat hatinya akan meleleh. Begitu tampan rupawan, namun Sarah tak berani memandangnya.
Pak Randy meminta Sarah untuk menyatakan kue kue itu dia atas meja. Sarah yang sedang menggendong Kean pun kebingungan, karena saat itu Kean begitu rewel.
Akhirnya pak Randy berinisiatif untuk mengambil Kean, dan menggendongnya. Dan yang membuat Sarah terkejut, Kean yang tadi nya rewel dan merengek terus langsung terdiam saat ada pada gendongan pak Randy.
Lalu Sarah ikut serta menata kue kue diatas meja, dan sesekali ia melirik pak Randy yang tengah menggendong Kean. Kean terlihat bahagia dan tertawa ceria.
Dalam hati Sarah sangat senang melihat nya.
"Mungkin Kean rindu sosok ayahnya," ucap Sarah dalam hati dengan menatap dua lelaki yang saat ini ada dihadapan nya. Tak terasa air matanya pun menetes membasahi pipi. Terasa ada yang jatuh di pipi nya Sarah bergegas menghapusnya, takut ada orang yang melihat nya.
Tak sesekali Randy juga mencuri-curi pandang pada Sarah. Randy kagum pada kegigihan Sarah, ibu muda yang mau berusaha walaupun ia punya bayi kecil.
"Sarah begitu cantik dan anggun," ucap Randy dalam hati sambil ia menggendong Kean.
"Seandainya dia belum punya pasangan mungkin aku......," ia tak meneruskan perandaian nya. Karena takut ia akan berharap lebih banyak dari istri orang.
Randy adalah pria mapan yang kaya raya, dia seumuran dengan Damar. Dia tampan, gagah dan sangat berwibawa. Namun Randy tak beruntung soal percintaan. Bukan karena ia tak laku, namun karena Randy terlalu menutup hatinya rapat-rapat.
__ADS_1
Ingin sekali ia membuka hati, tapi itu sangat sulit karena trauma dimasa lalu yang selalu menghantuinya. Ia pernah di khianati wanitanya, setelah apa yang ia berikan. Namun wanitanya lebih memilih laki-laki lain.
Itu lah yang sampai saat ini Randy masih belum bisa membuka hatinya untuk wanita lain.
Randy terus memandangi Sarah yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Entah ada apa di diri Sarah, seperti ada yang mengetuk hatinya.
Setelah beberapa saat pekerjaan Sarah pun selesai dengan baik, namun saat menoleh kearah Randy ia melihat Kean sudah tertidur di dekapan Randy.
Betapa teduhnya melihat wajah Kean saat di peluk erat oleh Randy. "Mungkin Kean merindukan dekapan seorang ayah yang sesungguhnya, karena selama ini mas Damar tak pernah peduli kepada Kean." ucapnya dalam hati.
Saat Sarah sedang melamun dengan pandangan kearah Randy, tiba-tiba Randy memandang nya. Tak sengaja mereka berdua saling bertatap mata.
"Astaghfirullah," ucap Sarah membuang pandangan nya.
Randy pun seperti salah tingkah.
"Maaf pak Randy, saya jadi merepotkan bapak," ucap Sarah sambil mengambil Kean dari gendongan Randy.
"Nggak apa-apa, Bu Sarah. Kean anak yang pintar, ganteng lagi," puji Randy pada Kean sambil memencet hidung nya pelan.
"Terimakasih ya, Pak. Dan semua pekerjaan saya sudah selesai, saya pamit dulu. Assalamualaikum," pamit Sarah.
"Bu Sarah, tidak menunggu acaranya dulu?," tanya Randy mencari alasan agar Sarah tak pulang cepat.
'Maaf, Pak. Hari ini saya lagi sibuk banget. Masih ada beberapa pesanan kue yang belum aku kerjakan." Tolak Sarah. Karena dipastikan saat ia di sini sampai acara selesai, dia akan bertemu dengan Damar. Dan dia tidak ingin semuanya terbongkar dulu, walau suatu saat nanti Sarah pasti akan memberitahu Damar tentang bisnis nya ini.
"Kalau begitu sisa pembayaran nya akan segera saya transfer, Bu Sarah." ucap Randy mengambil handphone di dalam saku celana nya.
Sarah pun mengangguk, dengan tak menatap Randy.
Nota yang sudah diberikan oleh karyawan nya tadi sudah di terima oleh Randy. Sehingga Randy tinggal membayar nominal yang sudah tercantum di nota itu. Tanpa harus bertanya lagi pada Sarah.
Dirumah Damar bingung mencari Sarah, tapi saat melihat jam di dinding dia bergegas bersiap-siap untuk pergi ke undangan pak Handoko mewakili pak Anton.
Tapi saat dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju, terlihat di atas ranjang sudah di sediakan baju ganti untuk pergi ke acara santunan itu.
"Emang kamu paling perhatian dan selalu nurut dengan apa yang aku katakan, Sarah." Ucap Damar sambil berlalu ke kamar mandi, dia pun tersenyum dengan bibir kiri nya terangkat saat ia mengingat Sarah.
Setelah selesai berganti baju, Damar berangkat ke tempat yang tercantum di undangan yang ia bawa itu.
"Oh.. di cafe ini." Gumam Damar saat ia sudah sampai.
Drrrttttt
Drrrttttt
Handphone Damar berbunyi, dan ia langsung merogoh saku celananya. Ternyata Bianca yang mengirim pesan. Dia ingin saar ini Damar datang menemui nya.
Tapi Damar menolak nya, karena ia sudah berada di tempat acaranya.
Bianca pun mendengus kesal saat ia membaca balasan pesan dari Damar.
"Huuuh!! lagian tua bangka itu, kok mau-maunya ia menuruti permintaan anak lelakinya itu." ucap Bianca dengan kesal. Karena dipastikan hari ini ia akan kesepian.
Sebenarnya Bianca sudah diajak oleh pak Handoko untuk ikut menghadiri acara itu bersama nya dan anak semata wayang pak Handoko. Namun ia menolak nya karena dia malas bertatapan langsung sama Celvin pewaris Handoko Group satu-satunya.
Bianca pun beralih menelpon Sintia, dan ternyata dia juga harus menemani pak Handoko di acara itu.
Semakin lengkap penderitaan Bianca saat ini, karena tak ada satu pun yang mau menemani nya.
__ADS_1
Setelah para undangan diperkirakan sudah datang semua, pak Handoko pun naik panggung. Untuk mengucapkan terima kasih kepada semua undangan karena sudah berpartisipasi di acara santunan anak yatim dan kaum dhuafa ini.
Lalu para undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang ada diatas meja. Diatas meja-meja itu terdapat beberapa menu yang sangat enak-enak.
Para undangan mulai menyantap makanan itu. Tak sedikit orang yang memakan bolu coklat buatan Sarah, dan memuji rasa kue buatan Sarah itu.
Damar pun dibuat penasaran saat ia melihat bolu coklat yang sangat persis dengan yang ada di dirumahnya.
Akhirnya ia pun mengambil satu potong bolu cokelat itu. Saat dia menggigit dan mengunyahnya, dia langsung menautkan kedua alisnya. Ia mencoba merasakan kembali karena dia tak percaya. Tapi apa yang ia pikirkan dan ia rasakan sepertinya memang sama.
"Kok rasa bolu cokelat ini persis sekali sama bolu buatan Sarah dirumah?. Dan rasanya sangat beda dengan bolu yang aku makan saat pertama kali aku ke cafe ini. Masa iya ini bolu cokelat buatan Sarah?," gumam Damar bertanya-tanya dalam hati.
"Ah.... tapi tak mungkin. Mana mungkin Sarah yang membuat semua kue disini. Sedangkan ia tak bisa apa-apa," tampik Damar meyakinkan hati nya.
Damar pun terus mengunyah dan mengunyah, sampai tak terasa dia sudah menghabiskan beberapa potong bolu coklat itu.
Damar tak melihat kalau ada Randy disana. Karena ia terlalu fokus pada pikirannya tentang bolu yang ia makan.
Randy akhirnya yang mendatangi dan menyapa Damar.
"Hay, mar." Sapa Randy.
"Hay, Ran. Kamu disini juga?," tanya Damar dengan mengunyah sepotong bolu cokelat.
"Iya, Mar. Keliatan nya kamu suka banget ya sama bolu itu?, soalnya dari tadi aku lihat kamu lahap banget makan nya," tanya Randy dengan tersenyum dan bercanda.
"Hmm iya nih, emang bener bolu coklat ini enak banget. Sama rasanya dengan buatan Sa......," Damar tak melanjutkan kalimatnya nya, karena ada gengsi di dirinya saat ia menyebut nama istrinya. Karena menurutnya Sarah tak pantas untuk di publikasikan, karena Sarah terlalu katrok dan malu-maluin.
"Sa siapa, Mar? Istri mu" tanya Randy kepo.
"Ini coba deh kamu makan, aku yakin kamu ketagihan," sela Damar mengalihkan pembicaraan.
"Memang rasanya ini enak banget. Sepertinya bolu coklat ini akan menjadi yang paling best seller di cafe ini. Mungkin kalau kamu mau memesan dalam jumlah banyak untuk acara kantor kamu. Silahkan nanti kamu aku beri kartu namanya," Ucap Randy
"Ok ok," jawab Damar.
Lalu saat Damar lagi asyik ngobrol datang lah pak Handoko dan Celvin.
"Pak Randy, saya mengucapkan terimakasih untuk suporter sistem yang bapak beri, dengan hall resto sebagai tempat untuk acara ini. Mungkin kalau tak ada pak Randy acara ini tak akan berjalan dengan lancar. Dan satu lagi, aku suka banget sama bolu coklat nya. Rasanya sangat enak sekali, manisnya pas jadi nggak bikin eneg. Pokonya recommended banget yah rasanya," ucap pak Handoko dengan sekalian pamit sama pak Randy selaku yang punya cafe ini.
Damar yang sejak tadi ada disitu, ia mulai bingung dengan ucapan pak Handoko.
"Maksudnya kamu yang punya cafe dan resto ini, Ran?," tanya Damar pada Randy.
Dan Randy pun menjawab dengan anggukan dan senyum tipis, itu membenarkan apa yang di katakan Damar.
"Wow, hebat kamu Ran. Sudah sukses aja sekarang," goda Damar kepada teman sekolah nya itu.
Di handphone Sarah ada bunyi notifikasi, itu menandakan ada sesuatu yang masuk. Lalu ia mengambil dan melihat nya. Ternyata itu notifikasi pemberitahuan bahwa sisa uang pembayaran sudah dikirim oleh Pak Randy.
Lalu ia mengirimkan pesan, pada pak Randy untuk mengucapkan terima kasih atas kerjasama nya.
Pak Randy menerima dan membalasnya dengan senyum-senyum saking senangnya. Sesaat ia lupa kalau ada Damar disampingnya.
"Cie berbalas pesan dengan siapa kamu, Ran? kok senyum-senyum sendiri?," goda Damar.
Terlihat wajah Randy memerah seketika, saat Damar menggoda nya. Ia menggaruk kepala nya yang tak gatal karena salah tingkah.
Damar pun tertawa melihatnya, setelah puas menertawakan teman nya. Damar pun berpamitan untuk pulang. Damar merasa capek dan ngantuk yang sangat. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya, karena semalaman ia tak tidur dengan nyenyak. Randi dan Damar pun berjabat tangan.
__ADS_1
Sebelum Damar sampai rumah, Sarah sudah sampai rumah terlebih dulu. Karena Sarah takut Damar akan marah kalau mendapati Sarah keluar rumah dan pulang larut malam.