
"Kamu harus ngajari istri mu sopan santun Damar!, jangan seperti itu, orang tua belum selesai ngomong sudah main pergi saja!." Linda geram melihat tingkah Bianca.
"Ma, jangan terlalu keras sama Bianca. Bianca itu tipe perempuan yang tidak bisa di tekan. Lagian baru kemarin ia sah menjadi menantu mama, mama Uda masih perintah-perintah saja?," ucap Damar sambil berjalan menuju kamar nya lagi.
Damar masuk kamar untuk mengambil handphone nya, lalu ia mencoba menghubungi Bianca.
Namun sayang telepon nya tak di jawab oleh Bianca. Damar kebingungan, mana saat ini perut sudah keroncongan. Sedangkan di meja makan tak ada makanan sama sekali.
Damar terus mencoba menghubungi Bianca, lagi dan lagi Bianca tak mengangkat telepon nya.
Bianca sangat kesal dengan sikap Linda, karena baru jadi menantu dirumah itu Linda sudah berani main perintah. Dan yang membuat Bianca makin sakit hati, ia dibandingkan dengan Sarah.
Sebelum jam kantor mulai, Bianca menyempatkan diri untuk sarapan di kantin kantor. Karena perutnya saat ini sangat lapar sekali. Sampai ia tidak bisa menahan nya.
Berkali-kali Damar menghubungi nya, namun Bianca malas untuk mengangkat nya. Ia nikmati sarapan bubur ayam dengan segelas teh manis hangat.
"Tumben Bu Bianca sarapan dikantin?," tanya penjaga kantin, karena merasa aneh. Biasa nya Bianca tidak mau menginjak kan kaki dikantin. Kalau pun ingin makanan dari kantin, pasti ia menelepon atau menyuruh Sinta untuk membelikan nya.
Saat ini Sinta sudah tak ditugaskan untuk menjadi asisten Bianca. Karena kantor pusat kali ini sedang membutuhkan Sinta. Jadi ia sekarang dipindahkan ke pusat oleh pak Handoko.
Sinta sangat bahagia saat pak Handoko memindahkan posisinya dikantor. Ia lebih senang ada dikantor dari pada harus menjadi asisten pribadi Bianca. Ia sama sekali tak ingin terlibat dengan skandal yang dilakukan oleh Bianca dan Damar.
"Lagi pingin makan disini, Bu." jawab Bianca dan menyudahi sarapannya, karena satu mangkok bubur ayam dan segelas teh manis hangat habis tak bersisa.
Dan ia langsung berjalan menuju ruangan nya, beberapa karyawan yang berpapasan dengan nya melempar senyum dan menyapa nya.
Namun seperti biasa, tak ada senyum dan sapa balasan untuk para karyawan nya itu.
Sampai di dalam ruangan nya, satu tumpuk map yang berisi berbagai macam laporan belum selesai di tanda tangani. Karena beberapa hari ia tak masuk ke kantor.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara pintu ruangan Bianca diketuk, dan Bianca langsung menyuruh nya masuk. Karena ia tahu yang datang pasti Andin sekertaris nya.
"Maaf, Bu. Kemarin pak Handoko menghubungi saya, Beliau meminta laporan keuangan tiga bulan yang lalu." ucap Andin.
"Kenapa file nya tidak kamu kirim saja. Bukan nya kamu mempunyai kopian file itu?!," ucap Bianca sambil memeriksa dan menandatangani laporan yang sudah menumpuk diatas meja kerja nya.
"Maaf Bu, untuk laporan keuangan dari tiga bulan ya lalu sampai saat ini masih belum ibu periksa dan tanda tangani. Maka nya aku tak berani mengirim file itu. Dan laporannya mungkin masih disitu." Andin berucap sambil menunjuk tumpukan berkas.
"Huuuhhhh!!" Bianca menghembuskan nafasnya lewat mulut dengan sedikit kencang.
"Ok, kamu bisa kembali keruangan mu. Biar nanti aku yang ngomong sama pak Handoko." ucap Bianca pada sekertaris nya itu.
Setelah berpamitan, Andin pun membalikan badan nya untuk keluar dari ruangan Bianca. Namun langkah Andin terhenti dan membalikkan tubuhnya kearah Bianca lagi.
"Oh ya, Bu. Kemarin pak Handoko juga datang kesini. Beliau menanyakan ibu, yang tak berada di kantor." ucap Andin.
"Trus kamu menjawab apa?," tanya Bianca dengan mengangkat kacamata nya keatas jidat nya sambil menatap Andin.
"Saya bilang, ibu sedang meeting bersama klien keluar kota." Jawab Andin. Memang Andin tak begitu tau tentang hidup atasannya itu. Namun dia sudah disetting sedemikian rupa oleh Bianca. Agar ia tak membocorkan pada siapapun kalau Bianca jarang datang kekantor.
"Baiklah, kamu sudah bekerja dengan benar. Dan sekarang kamu bisa kembali keruangan mu." perintah Bianca pada Andin sekertaris nya.
Cekleeek...
Andin memegang gagang pintu dan lalu pintu dibuka nya.Dan ia keluar dari ruangan Bianca.
"Huh!!! apalagi si tua bangka itu meminta laporan keuangan bulan yang lalu?," gumam Bianca.
Lalu ia mengambil handphone di dalam tas nya, ia segera menghubungi pak Handoko suami nya sekaligus pemilik perusahaan ini.
Tut...
Tut...
Tut...
Panggilan tersambung, tapi masih belum ada jawaban dari pak Handoko.
Bianca mencoba menghubungi nya lagi, dan kali ini panggilan telepon nya diangkat oleh suaminya itu.
"Halo, papi?! Papi udah dikantor?," sapa Bianca basa basi.
"Kata Andin papi kemarin ke kantor ya?, maafkan Bianca ya, Pi. Kemarin Bianca mendadak ke luar kota melihat proyek yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Jadi sebelum Bianca menanda tangani proyek itu, Bianca ingin memastikan dulu proyek itu akan menghasilkan atau tidak." Bianca memberi alasan ketidakhadiran nya kemarin dikantor. Ia berbicara sambil memutar bola matanya.
"Iya, maaf Pi. Bianca tidak sempat ijin sama papi, karena berangkat nya mendadak. Dan untuk laporan keuangan tiga bulan kemarin, biar nanti Bianca bawa pulang." ucap Bianca dari sambungan telepon.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Bianca menutup pintu nya. Hatinya sangat lega, akhirnya pak Handoko menerima alasan yang ia berikan.
Dan Bianca melanjutkan pekerjaan nya yang menumpuk itu dengan hati yang senang.
Sedangkan Damar dirumah seperti orang kebingungan, mau keluar cari makan uang hanya dua puluh ribu di dompet nya, sedangkan Linda terus berteriak teriak marah-marah karena tak ada makanan sama sekali. Lidya juga sudah berangkat untuk mencari pekerjaan.
"Mar!! Mama lapar nih!, kamu beli makanan sana!!," ucap Linda memerintah Damar.
"Uang nya mana ma?," tanya Damar.
"Ya, uang mu lah. Masak kamu minta ke mama, kamu sekarang kan sudah beristri orang kaya, pemilik perusahaan besar. Masak kamu nggak punya uang?!," ucap Linda dengan bibir manyun.
"Bianca tadi berangkat karena marah sama mama, jadi Bianca tak memberi uang pada Damar. Ini semua gara-gara mama sih!," kali ini Damar menyalahkan Linda.
Damar pun keluar rumah dengan berjalan, ia mencari angin sekalian menghindari ocehan Linda mama nya. Damar berjalan terlalu jauh, jauh dari hiruk pikuk kota nya.
Dan Damar duduk dibangku panjang di tepi jalan, ia menghirup udara segar. Karena di jalanan ini jarang sekali mobil lewat, disini juga terdapat banyak pohon besar. Jalanan ini di kelilingi oleh persawahan dan Semilir angin membuat hati damai.
Damar sangat betah duduk disitu, ia duduk sambil melihat orang-orang berlalu lalang untuk pergi ke sawah. Ada yang berjalan kaki, adapula yang mengayuh sepeda ontel nya.
"Bakwan, bakwan, bakwan...."
"bakwan, bakwan, bakwan..."
Terlihat dari kejauhan ada seorang ibu mengayuh sepeda nya dan ada keranjang plastik terikat kuat dibelakang nya.
Dari suara yang di dengar ia adalah penjual bakwan.
"Bakwan, bakwan, bakwan..."
"Bakwan, bakwan, bakwan..."
Damar mendengar suara itu semakin dekat, lalu ia mencoba menoleh kearah kanannya. Memang ibu itu sedang mendekati dengan tempat yang ia duduki sekarang.
"Bakwan...,"
Damar yang perut nya sudah sangat lapar, akhirnya memanggil ibu penjual bakwan itu.
Ibu itu terlihat mengayuh sepedanya lebih cepat, wajah bahagia karena ada yang membeli terpancar.
"Bakwannya berapaan bu?," tanya Damar.
"Dua ribu lima ratus tuan," jawab ibu penjual bakwan itu dengan sangat ramah.
"Baik, tuan." ibu penjual bakwan membungkus bakwannya di kantong kresek berwarna putih.
Lalu ia memberikan nya pada Damar. Damar yang sudah sangat lapar sekali, langsung menggigit dan mengunyahnya.
Setelah uang nya diterima, ibu penjual bakwan itu segera pergi untuk menjual bakwan nya ketempat lain.
Tak terasa, sekali makan Damar sudah menghabiskan lima biji bakwan sayur.
Lalu ia lihat isi kantong kresek itu, sekarang bakwan sayurnya sisa tiga biji. Ia teringat kepada Linda mamanya.
"Kasian mama, apa ia sudah makan?," gumam Damar sangat pelan.
Dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang dengan membawa bakwan yang masih sisa tiga ini.
"Maafkan anakmu, ma!! Masih belum bisa membuat mu bahagia." tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi nya.
Ia berjalan menyusuri jalan yang tak begitu ramai kendaraan.
Setelah satu jam lebih berjalan, akhirnya ia sampai dirumahnya.
Ia buka pintu rumah nya, terlihat rumah nya kosong tak ada seorang pun.
Lalu Damar masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Linda mama nya. Ternyata didalam juga tak ada siapa-siapa.
Pintu kamar nya Linda pun terbuka, dan terlihat jelas bahwa di dalam Linda juga tak ada. Damar menaruh sisa bakwan itu diatas meja makan.
Damar masuk kedalam kamar nya, untuk beristirahat, karena lumayan lelah berjalan kaki selama satu jam lebih. Ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Drrrttttt
Drrrttttt
Drrrttttt
Getaran handphone Damar, membangunkan dari tidurnya.
Ia mengambil handphone yang ada di dalam saku celananya, lalu ia membuka nya.
__ADS_1
"Halo? Ya, Bi?," Damar mengangkat telepon dari Bianca.
"Hari ini aku nggak pulang, aku ada pekerjaan diluar kota," Bianca pamit kepada Damar untuk pergi keluar kota.
"Kok keluar kota nya mendadak banget?, gimana kalau aku ikut kamu?," ucap Damar melalu sambungan telepon.
"Kok ikut segala?, ini masalah pekerjaan, Mar!, buka rekreasi."
"Tapi kan kamu sedang hamil, Bianca!,"
"Tenang saja, aku bisa jaga diri kok," Jawab Bianca.
"Ya sudah kalau itu mau mu. Tapi kamu transfer aku uang ya, aku nggak ada uang buat pegangan. Buat belanja dirumah pun aku tak ada." Ujung-ujungnya Damar meminta uang pada Bianca.
Ia tak lagi malu untuk meminta uang kepada istrinya, memang karena Damar tak punya uang sama sekali saat ini.
Telepon pun ditutup setelah Bianca dan Damar saling mengucapkan salam.
Bianca yang menggerutu karena ia masih dibutuhkan, nyata nya tak tega melihat Damar kelaparan.
Dan akhirnya Bianca pun mentransfer sejumlah uang untuk keperluan sehari-hari dirumah.
Setelah notifikasi transferan sukses, Bianca langsung mengirim pesan kepada Damar. Untuk melihat mutasi di M-banking nya.
Sore ini Bianca tak pulang kerumah Damar, melainkan pulang kerumah suami pertamanya. Yaitu rumah pak Handoko.
Saat memasuki halaman rumah pak Handoko yang sangat luas, Bianca ber pas-pasan dengan seorang lelaki didepan pintu gerbang.
Orang lelaki itu menatap tajam pada Bianca, Bianca yang tidak suka dengan tatapan nya itu. Membalas dengan tatapan sinis padanya.
Kini Bianca memarkir mobilnya di garasi, lalu ia turun dari mobil. Dan langsung masuk kedalam rumah.
Terlihat pak Handoko duduk di sofa tamu. Benar saja tebakan Bianca. Laki-laki tadi adalah tamu suaminya.
"Papi...." Bianca menghamburkan tumbuhnya ke pelukan pak Handoko yang sedang duduk.
"Kamu baru pulang, sayang?," tanya pak Handoko.
Bianca melepaskan pelukannya nya, dan mengangguk kepala. Menjawab pertanyaan pak Handoko.
"Laki-laki tadi itu siapa, Pi?," tanya Bianca penasaran sambil menata berkas yang ia bawa.
"oh itu? itu teman papi." jawab pak Handoko sambil mengambil handphone di dalam saku kemejanya.
"Teman? Teman bisnis maksudnya?," Bianca begitu penasaran, karena tatapan pria tadi sangat berbeda. Dan sepertinya ia pernah melihatnya, tapi Bianca lupa dimana.
"Kamu kenapa sih, sayang? tumben-tumbennya tanya-tanya tentang teman ku." jawab pak Handoko sambil tersenyum dan mencubit hidung Bianca.
Bianca pun hanya tersenyum tak melanjutkan pertanyaan nya, walau ia sangat penasaran.
Dan Bianca menghamburkan tubuhnya lagi dipelukan pak Handoko.
"Aku mau mandi dulu, Pi." ucap Bianca lalu melepaskan diri dari pelukan pak Handoko.
Ia berjalan menaiki tangga menuju kamar utama, Bianca masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Pak Handoko yang melihat tingkah Bianca, hanya tersenyum pahit. Ia belum melihat hasil rekaman yang sudah diberikan padanya oleh detektif yang sudah ia sewa.
Lalu pak Handoko menyusul Bianca yang saat ini sedang mandi. Pak Handoko masuk kedalam kamar mandi yang memang sengaja tidak dikunci oleh Bianca.
Dan mereka berdua mandi bersama didalam hangat nya air didalam bathtub. Dan tak bisa di elakan mereka berdua melakukan pertempuran dikamar mandi.
Setelah selesai, mereka bersama-sama keluar dari kamar mandi, lalu setelah berganti pakaian Bianca dan pak Handoko merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Hari ini tubuh Bianca terasa begitu capek, sehingga tak harus menunggu lama ia langsung tertidur sangat pulas.
Pak Handoko yang melihat perempuan nya sudah terlelap dalam buaian mimpi. Kini ia membangkitkan tumbuhnya, ia berjalan mengambil laptop dan dibawa nya ke ruang kerja yang terletak disamping kamar tidurnya.
Lalu tak lupa pak Handoko mengunci ruangan itu, agar tak ada satu orang pun yang masuk, termasuk Bianca.
Pak Handoko mulai membuka laptop dan membuka beberapa foto yang sudah dikirim oleh detektif yang ia sewa.
Pertama yang muncul adalah foto Bianca bersama dengan beberapa orang. Lalu di scroll muncul foto-foto lain. Dimana Bianca lebih banyak difoto itu bersama Damar. Ada juga beberapa foto Bianca bersama Damar di lobby hotel.
Lalu pak Handoko mencoba memencet tombol play di salah satu video. Betapa kagetnya ia saat video itu terputar.
Pak Handoko melihat Bianca dan Damar sedang bertempur diatas ranjang kamar hotel. Pak Handoko mengepalkan tangannya.
"Biadab!!!!!," ucap pak Handoko sambil menghentakkan tangannya diatas meja kerjanya.
Ia juga melihat video paling akhir, dia melihat video dimana Bianca dan Damar melangsungkan ijab qobul.
__ADS_1
"Kamu mau bermain-main dengan ku, Bianca!!!!," Ia semakin kencang mengepalkan tangannya.