DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Belanja Brand Terkenal


__ADS_3

Sampai sudah kami di mall, Kean kini sudah besar. Dia sudah bisa main sendiri di Timezone. Karena sudah terbiasa sendiri, kalau aku sedang berkunjung ke outlet cabang.


"Ini kartunnya ya, nak." aku memberi kan kartu bermain yang sudah ada saldonya. Jadi Kean tak perlu lagi mengisinya.


"Ok, amma. Kean langsung ke Timezone ya, amma." Kean lalu pergi setelah mencium punggung tangan ku.


Setelah Kean tak terlihat dari pandangan ku, aku segera masuk kedalam outlet. Aku langsung menunju ke mbak Indah di bagian produksi. Ini lah kebiasaan ku, yang pertama aku datangi adalah bagian produksi.


Untuk mengecek bahan-bahan yang dipakai dan untuk melihat stok bahan yang ada.


"Gimana setiap harinya, mbak Indah?," tanya ku.


"Alhamdulillah setiap hari penjualan terus meningkat, Bu." jawab mbak Indah.


"Alhamdulillah ya, mbak. Ini semua berkat kerja keras kamu mbak Indah. Terimakasih sudah membantu ku selama ini mbak." ucapku penuh haru. Karena usaha yang aku rintis dari nol sudah bisa sampai di titik ini.


Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagiku. Perjuangan yang penuh dengan tangisan dan kesedihan.


"Aku yang harus berterima kasih pada Bu Sarah. Usaha ibu sampai di titik ini murni karena usaha ibu Sarah. Sedangkan aku melakukan ini semua karena aku di bayar." ucap mbak Indah merendahkan diri.


"Kalau nggak ada kamu disini, aku juga nggak bakal bisa seperti ini, mbak." ucapku lagi.


"Mbak, aku lapar nih. Jadi pingin makan bolu coklat." ucap ku sambil mengelus perut ku.


"Ibu Sarah tunggu saja di depan, biar anak-anak setelah ini yang mengantar." mbak Indah menyiapkan kue-kue yang aku minta.


Aku berjalan ke keluar dari bagian produksi untuk menikmati kue-kue ku, mengikuti saran mbak Indah.


Aku duduk di kursi yang kosong, yang tidak ditempati pengunjung.


Tak lama kemudian, seorang karyawan membawa sepiring beberapa bolu coklat kesukaan ku.


"Ini Bu, silahkan dinikmati." ucap karyawan ku dengan sangat ramah dan sopan. Dengan menaruh piring yang berisi bolu-bolu kesukaan ku dan segelas es lemon tea.


"Makasih ya." jawab ku dengan senyum yang tak kalah ramah nya.


Aku mengambil satu bolu coklat, dan ku gigit bolunya. Hmm betapa lumer nya coklat yang ada di dalam nya. Pantas saja bolu ini yang menjadi best seller, karena rasanya memang seenak ini.


Saat makan bolu coklat ini, tiba-tiba aku teringat mas Damar. Karena bolu ini lah favorit nya. Dulu sebelum aku menjual nya, sering sekali mas Damar meminta ku untuk membuatkan nya.


"Kenapa aku mengingat-ingat masalalu." ucapku dalam hati dengan tersenyum getir. Kalau mengingat mas Damar, rasa sakit itu seperti terasa kembali di hati ku.


Padahal aku sudah tidak menyimpan rasa apapun pada mas Damar.


Aku terus mengunyah bolu ini segigit demi segigit dan tak terasa habis lah aku tiga bolu.


Ah... rasanya itu mustahil. Karena aku tak mau gendut gara-gara bolu coklat yang enak ini. Aku segera menyudahi nya sebelum lima bolu yang terhidang di piring ini habis tak bersisa.


Ku seruput es lemon tea, untuk menetralkan sisa rasa creamy yang ada di mulutku.


"Ah.... sungguh nikmat yang luar biasa," gumamku lirih.


Ku lihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Namun aku belum melihat Kean menyudahi permainan nya.

__ADS_1


Dengan sabar aku menunggu nya disini. Karena sebelum ia berangkat ke Timezone untuk bermain, aku sudah berpesan padanya. Kalau aku menunggu nya disini.


Aku suka duduk santai disini. Karena dari sini aku bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang masuk kedalam mall, ada pula yang keluar mall.


Dengan duduk santa disini, aku melihat wajah-wajah bahagia para pengunjung mall.


Namun dari arah mall aku melihat tiga orang yang sangat aku kenal.


"Bukankah itu, mas Bima, ibu dan Putri?, Ngapain mereka disini?." tanyaku.


Mereka bertiga terlihat begitu bahagia dengan tas belanjaan nya yang lumayan banyak.


Dari paper bag yang Putri bawa itu terlihat mereka habis belanja barang-barang dengan brand luar negeri. Aku tahu kisaran harga-harga brand di paper bag yang dibawa Putri itu.


"Kemarin mas Bima bilang, ia tak punya uang. Dan toko nya sepi, sehingga ia mengambil uang untuk belanja yang ia berikan padaku. Dengan alasan uang nya untuk membayar hutang pada mbak Ambar.


Tapi sekarang malah mas Bima memborong barang-barang branded.


"Loh... kok sepertinya mereka menuju ke sini? ke outlet ku?." Gumam ku saat melihat langkah mereka bertiga mengarah kesini.


Segera aku mencari posisi yang sekiranya mereka tak melihat ku. Dan untungnya, aku kesini tadi membawa masker.


Ku pasang masker di wajah ku, sehingga wajah ku hanya tampak kedua mata saja.


Dan kebetulan outlet siang ini tak begitu ramai, jadi mereka bisa leluasa menempati meja yang kosong.


"Semoga saja mereka duduk di meja yang agak jauh dari meja ku." Doa ku dalam hati.


Dan ternyata, takdir berkata lain. Mereka berjalan menuju meja kosong yang ada di belakang ku.


Sepertinya mas Bima duduk pass di belakang ku. Jadi posisiku dengan mas Bima saling membelakangi.


Aku mencoba menenangkan hati ini agar tak begitu gerogi dan takut.


"Kamu harus santai, Sarah. Dengan begini kamu akan tau apa yang mereka bicarakan saat tak ada kamu." ucapku dalam hati mesugesti diri.


Lalu segera ku ambil handphone di dalam tas, ku cari nomor mbak Indah. Lalu aku mengirimkan pesan untuk nya, aku meminta tolong pada mbak Indah untuk mencari Kean di tempat permainan.


Takut saja persembunyian ku di ketahui oleh tiga orang di belakang ku, karena Kean yang tiba-tiba muncul dan menghampiri ku.


Dan pesan Singkat ku dengan cepat mendapat balasan dari mbak Indah.


Mbak Indah sudah keluar dari ruang produksi dan berjalan menuju tempat permainan di mall. Lalu mbak Indah membawa Kean ke dalam melalui pintu samping. Sehingga mas Bima, ibu dan Putri tak melihat keberadaan Kean disini.


"Mana sih pelayan nya? aku sudah lapar." celetuk Putri.


"Mbak....," suara mas Bima, mungkin ia memanggil waiters.


"Bim ini kan cabang toko roti yang istri mu yang kampungan itu kerja kan?," suara ibu nya mas Bima alias mertua ku itu sangat jelas terdengar di telinga ku.


"Iya, Bu. Untung saja Sarah tidak ditempatkan di sini. Jadi ia tak tau kalau kita habis belanja." jawab mas Bima.


"Mau pesan apa?," tanya waiters yang di panggil mas Bima tadi.

__ADS_1


Jujur aku tak masalah mas Bima membelikan apapun untuk Putri, karena dia anaknya yang masih menjadi tanggung jawab mas Bima.


Tapi yang tidak aku suka adalah cara nya yang sembunyi-sembunyi dariku. Seakan-akan aku tak dianggap siapa-siapa disini dan seakan-akan aku ini melarang nya.


Padahal Putri tinggal bersama kami, jadi menurut ku apapun mengenai Putri dan Kean harus di bicarakan bersama. Karena kita sudah satu keluarga.


"Ini ya....," sepertinya mas Bima memberikan list menu yang mereka pesan.


"Baik, pak. Ditunggu sebentar ya...," ucap waiters itu dan waiters itu meninggalkan mas Bima dan rombongan nya.


Pokoknya, ibu nggak mau tau Bim. Jatah bulanan ibu harus tetap seperti dulu sebelum kamu menikah." suara ibu sangat terdengar jelas ditelinga ku.


"Ya nggak bisa gitu Bu, Bima kan sudah punya keluarga. Harus di dibagi Bu." jawab mas Bima.


"Kamu harus ingat ya, Bim. Kamu punya toko sebesar ini karena siapa? ya karena ibu yang sudah menyekolahkan mu sampai sarjana." kata-kata ini sama persis yang dikatakan mama Linda dulu pada mas Damar.


Apa memang sudah menjadi takdir ku mempunyai mertua seperti mereka? Yang tak rela kalau anak nya memberi hidup layak pada istrinya.


Tapi jangan salah, Sarah yang sekarang bukan Sarah yang dulu. Mental Sarah yang sekarang sudah terbangun lebih kokoh oleh gempuran masalalu yang sangat pahit.


Aku terus menyeruput es lemon tea yang sangat terasa begitu segar. Jujur masalah yang saat ini aku hadapi tak aku ambil pusing. Ku nikmati beberapa jenis kue yang di hidangkan mbak Indah untuk ku. Sambil menunggu mereka selesai makan.


"Hmmm...kue nya enak ya Bim?, ibu suka. Kemarin ibu juga di belikan Rosa, tapi di toko yang pertama." ucap ibu mertua dengan mengunyah kue yang ada di mulutnya.


"Iya, Bu. Bima juga suka, lihat aja toko kue ini selalu ramai pembeli nya. Memang rasanya seenak ini." jawab mas Bima.


"Wah... nenek abis jalan sama bunda?," tanya Putri.


Jadi bunda nya Putri itu nama nya Rosa?, jadi benar feeling ku kemarin saat melihat ibu mertua ku bersama perempuan cantik berambut pirang itu. Ternyata dia ibu kandungnya Putri alias mantan istri mas Bima.


"Kenapa mereka begitu akrab?," batinku.


"Iya Put, nenek minta dianter bunda mu untuk pergi ke dokter." jawab ibu mertua.


Terus pulang nya mampir ke toko roti ini yang pertama." lanjutnya lagi.


Jadi ingat Waktu aku datang kerumah ibu mas Bima membawakan sekotak kue-kue iku. Tatapan nya seperti menghina kue yang aku bawa, eh nyatanya mereka makan sampai habis tak bersisa.


"Putri, udah kenyang Yah. Ayo kita pulang?!,"


"Kok buru-buru sih, put?," tanya mas Bima.


"Aku mau kerumah Rena yah," jawab Putri.


"Oke, ayo kita pulang!," ajak mas Bima, sepertinya mereka bertiga sudah berdiri. Dan sepertinya mas Bima berjalan ke kasir untuk membayar kue yang sudah ia makan.


Kini mereka sudah berjalan keluar outlet ini, dan sungguh membuat hati ku sangat lega.


"Huuuufft...." aku membuang nafas besar.


Hati terasa plong saat mereka sudah tak terlihat dari pandangan ku.


Kini aku masuk kedalam untuk menjemput Kean yang ada di ruang produksi.

__ADS_1


Aku dan Kean pun memutuskan pulang, karena Kean terlihat capek dan butuh istirahat.


__ADS_2