
Siang itu Damar langsung minta ijin untuk pulang lebih awal, setelah dapat telepon dari mama nya.
Di jalan konsentrasi Damar terpecah, karena memikirkan keadaan Lidya adiknya.
Sampai dirumah, terlihat Lidya berbaring di sofa ruang tamu. Damar berlari setelah memarkir mobilnya.
"Ini gimana ceritanya, ma?," Damar duduk disamping Lidya yang terbaring.
"Sekarang lebih baik Lidya dibawa kerumah sakit aja, Mar," ajak Linda karena khawatir terjadi apa-apa pada Lidya mengingat ia saat ini sedang hamil muda.
Damar langsung mengangkat tubuh Lidya yang langsing semampai itu. Tubuh Lidya sangat lemas sekali. Setelah ditaruh didalam mobil, Damar langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit.
Didepan rumah sakit Damar langsung meminta bantuan suster. Dengan cepat beberapa suster membawa brankar untuk membawa Lidya dari mobil Damar.
Sampai didepan IGD pintu pun ditutup, Damar dan Linda menunggu diluar.
Beberapa jam Lidya didalam membuat Linda dan Damar sangat cemas.
Kemudian pintu IGD pun terbuka, dan keluar dokter yang telah menangani Lidya.
"Gimana keadaan adik saya, dok?," tanya Damar.
"Dia baik, dia hanya syok saja. Dan yang perlu diketahui, kandungan nya sangat lemah. Jadi sebisa mungkin jangan terlalu capek dan jangan terlalu setres," ucap dokter itu dan lalu berpamitan untuk pergi.
Damar dan Linda pun langsung masuk keruangan IGD untuk melihat Lidya.
Karena memang tak terjadi sesuatu yang serius, Lidya pun di perbolehkan untuk pulang.
Diperjalanan pulang tiba-tiba Lidya menangis sambil memegang perutnya dan membuat Damar kebingungan.
"Kenapa kamu, Lid?," tanya Damar sambil sesekali melihat Lidya dari cermin spion, karena posisi Lidya ada di belakang Damar.
"Lidya lapar, mas," rengek Lidya.
"Iya kita cari makan dulu,"
"Aku pingin makan steak di cafe Bintang Ceria,"
Tanpa banyak bicara Damar langsung menuju cafe Randy teman kuliah nya itu.
Sementara saat ini Sarah mengepakkan sayap nya di dunia bisnis. Walau ia hanya lulusan SMA, namun Sarah mempunyai otak yang cerdas dalam berbisnis. Dan juga karena dukungan dari sahabat nya Sinta. Sarah adalah wanita yang tangguh, ketangguhan nya ia dapat saat serumah dengan mertua nya dulu.
Kini hubungan Sarah dan Randy sangat baik, walau hanya sebatas rekan bisnis. Dan saat ini Sarah sedang membahas kerja sama selanjutnya, karena cafe Randy di percaya untuk mengisi catering acara tunangan anak dari pemilik perusahaan terbesar dikota ini yaitu pak Handoko.
Sarah yang memang berasal dari kampung ia tak tahu siapa pak Handoko itu dan siapa anak dari pak Handoko itu. Yang disebut-sebut sebagai pewaris tunggal Kekayaan dari Handoko group.
Acara ini masih dua bulan lagi, namun harus dipersiapkan lebih awal. Karena pihak catering tak mau membuat pak Handoko kecewa.
Saat ini Sarah, Randy dan beberapa orang yang menjadi satu team sedang meeting untuk membahas hal itu. Setelah semua disepakati semua team, rapat pun di bubarkan.
Beberapa orang yang ikut dalam rapat itu sudah pergi lebih dulu, karena harus mengerjakan pekerjaan nya.
Sekarang tinggal Randy dan Sarah yang sedang membahas perihal kue-kue yang akan disuplai Sarah.
Sarah pun mulai mempresentasikan kue-kue yang menurut Sarah menjadi primadona di tokonya.
Saat Sarah sedang menjelaskan tentang kue nya, Randy terus memandang wajah Sarah nan ayu dan manis.
Sepertinya Randy tak peduli dengan kue kue yang di presentasikan Sarah. Ia lebih sibuk memandangi wajah teduh Sarah.
Sarah merasa diperhatikan oleh Randy, lalu dia mencoba menghentikan presentasi nya. Sarah diam tak menatap wajah Randy. Namun tak ada respon apapun dari Randy.
Sarah makin yakin kalau dari tadi Randy tak mendengar apa yang ia katakan.
__ADS_1
Lalu Sarah mencoba melirik kearah Randy. Dan betul dugaan Sarah, Randy sedang menatap dirinya. Sampai ia tak sadar kalau Sarah sudah berhenti mempresentasikan kue nya.
"Sungguh merugi orang yang sudah menyia-nyiakan mu Sarah." ucap dalam hati Randy saat memandang wajah Sarah. Sarah memang tak pernah menceritakan tentang masalah hidupnya, namun Randy sudah bisa membacanya. Kalau Sarah sedang ada masalah dengan suaminya.
Ditambah dengan kasus kemarin, waktu Sarah di hujat mertuanya, itu membuat Randy semakin yakin kalau rumah tangganya sedang tak baik baik saja.
"Pak Randy sudah mengerti?," tanya Sarah sengaja untuk membuyarkan lamunan Randy yang saat ini menatap dirinya.
Randy yang tersadar dari lamunannya pun gelagapan saat mendengar pertanyaan Sarah. Karena tak ada satu katapun yang diucapkan Sarah saat mempresentasikan kue-kue nya masuk ditelinga Randy.
Ia sangat sibuk mengagumi keanggunan Sarah. Betapa beruntungnya orang yang akan memiliki Sarah. Selain Sarah yang ayu, manis dan punya bakat untuk berbisnis. Penampilan nya pun sederhana namun tetap kelihatan elegan.
"Hmmm.... enggak," jawab Randy sambil menggaruk kepalanya dengan wajah yang salah tingkah.
Sarah pun hanya tersenyum sambil menutup bibir dengan telapak tangan nya.
"Mau Sarah ulangi lagi, pak?," tanya Sarah sambil tersenyum.
"Nggak usah, saya percaya kok dengan Bu Sarah. Jadi Bu Sarah urus sebaik mungkin. Karena ini menyangkut usaha kita berdua." jawab Randy.
Lalu mereka berdua saling menceritakan pengalaman-pengalaman nya saat baru merintis usaha nya masing-masing.
Gelak tawa mereka berdua pun tak terhindarkan saat Randy bercerita pengalaman lucu nya saat ia pertama kali membuka usaha cafe ini.
Lalu Damar, Linda dan Lidya pun masuk ke dalam cafe itu langsung disuguhi dengan pemandangan yang sangat langka.
Mereka melihat Sarah dan Randy berduaan dan saling tertawa dan bercerita. Ini membuat Damar seperti kebakaran jenggot.
"Sarah!!!!," ucap Damar dengan mengepalkan tangannya.
"Lihat kelakuan istri mu, padahal ia belum resmi kamu ceraikan. Dasar wanita ******," Linda iku mengompori Damar.
Emosi pun semakin membara, bak api yang disiram bensin. Tanpa banyak kata Damar pun mendatangi mereka berdua.
"Mas Damar!!!," Sarah berdiri sambil melotot kaget kearah Damar.
"Ada, Mar?!, kenapa kamu memukul ku?" tanya Randy yang kaget dengan sikap Damar.
Sarah pun keluar dari sudut bibir Randy akibat tinjuan dari Damar.
"Pak Randy, kamu nggak apa-apa?," tanya Sarah khawatir karena melihat Darah yang ada disudut bibirnya.
Randy pun menggeleng kan kepala nya, itu bertanda ia tak apa-apa.
"Dasar kamu wanita ******!!!! Begini kelakuan mu diluar rumah?! Tak salah aku mengusir mu dari rumah!!!," Hujat Damar seperti orang kesetanan, dan berhasil membuat malu Sarah didepan banyak orang. Termasuk didepan Randy yang menjadi partner bisnis nya.
"Awalnya aku mencari mu, untuk mengajakmu pulang kerumah. Karena aku takut kamu dan Kean menjadi gembel dan tidur di kolong jembatan. Dan ingin bernegosiasi agar kamu bisa kembali padaku. Tapi setelah melihat kelakuanku mu yang menjijikan ini, aku tak Sudi menerima mu kembali!!!!," lanjut Damar berucap seakan kelakuannya yang suci.
"Terserah kamu bilang aku apa mas!!! Yang jelas aku tak seperti yang kamu pikirkan. Aku tak sehina seperti yang kamu ucapkan. Dan maaf aku tak sebodoh itu untuk menjadi gembel di kota ini. Dan aku tak akan mengorbankan anakku untukku tidur di kolong jembatan seperti dugaan mu." Ucapan Sarah mampu membuat Damar tercengang, karena selama ini Sarah tak seberani ini.
"Dan satu lagi!!!! Asal kamu tau, aku tak berminat sama sekali dengan negosiasi mu, mas. Lebih baik aku tak kembali kerumah daripada madu dan perlakuan seperti pembantu yang akan kamu berikan padaku!!!!," ucap Sarah lantang. Ia sudah terlalu banyak menyimpan penderitaan yang diberikan oleh Damar dan keluarga nya. Sekarang lah Sarah bisa mengeluarkan isi hatinya.
"Sekarang kamu sudah pintar omong ya?!!, apa orang ini yang mengajari mu?!," Damar menunjuk Randy dengan mata melotot.
"Jangan pernah libatkan orang lain dalam masalah kita, mas!!! Karena ini semua tak ada hubungan nya dengan pak Randy."
Randy yang saat ini berdiri didepan Sarah, pikiran sangat bingung. Karena sama sekali tak tau duduk masalah nya.
"Kamu pintar sekali berkelit Sarah!!!!, kemarin aku juga melihat mu dengan lelaki ini," Linda pun ikut memperkeruh keadaan.
"Perempuan ini tak pantas menjadi istri yang baik untuk mu, Mar. Lebih baik segera ceraikan saja dia." ucapan Linda semakin membuat hati dan telinga Damar panas. Emosi sudah menguasai diri Damar.
"Sebentar, saya tak mengerti dengan maksud kalian. Apa benar Damar ini suami Bu Sarah?," tanya Randy yang ingin memecahkan teka-teki di kepalanya.
__ADS_1
Sarah pun mengangguk kan kepalanya.
"Lalu siapa perempuan yang waktu itu kamu bawa kesini dan kamu kenalkan padaku, Mar?, bukan kah itu istri mu?. Dan yang jelas itu bukan Sarah." Randy mengungkap kan apa yang ia lihat waktu itu.
"Itu bukan urusanmu, anj*ng!!!" Damar yang sudah terlanjur dibuat malu oleh Randy langsung melayangkan bogem mentah nya lagi. Namun kali ini Bogeman itu tak mendarat sempurna. Karena langsung ditangkis oleh Randy.
Dan Randy tak mau kalah, didiamkan Damar semakin kurang ajar. Randy pun membalas dengan bogem nya. Dan bogem itu mendarat sempurna di pipi Damar.
Sarah menutup matanya secara refleks saat melihat Randy menonjok Damar.
"Heh!!!!! berani-beraninya kamu menonjok anak ku!! Sudah selingkuh sama istri anak ku. Sekarang kamu main pukul aja!!," Bela Linda pada Damar.
Sebenarnya Sarah ingin sekali ngomong kalau ia tak pernah selingkuh dengan siapapun. Namun itu percuma, karena mereka tak akan pernah percaya.
"Kamu sih, mas. Dari dulu sudah dibilangin jangan nikah sama orang seperti mbak Sarah tapi kamu nggak nurut. Mbak Sarah ini serigala berbulu domba. Tampilan aja cupu ternyata diluar dia liar." ucap Lidya pada Damar.
"Tunggu apa lagi sih, Mar. Sekarang langsung talak tiga sekalian perempuan murahan itu," hasut Linda pada Damar.
Damar yang masih tersulut emosi pun tanpa berpikir jernih langsung ucapkan talak pada Sarah.
Seketika Sarah tak bisa membendung air matanya. Sarah tak abis pikir dengan sikap Damar yang tak berpikir panjang saat mengambil keputusan.
"Secara agama kita sudah sah bercerai, kamu tinggal tunggu tanda tangan surat cerai nya. Biar aku yang mengurusnya!," ucap Damar kepada Sarah.
"Kamu mengambil keputusan yang tepat, Damar. Dengan kamu menceraikan Sarah, kamu akan dengan mudah mendapatkan Bianca. Menantu impian mama, " cerocos Linda tak punya attitude, berbicara seperti itu didepan mantan menantu nya.
Randy yang tak ada hak untuk ikut campur, hanya diam saja melihat apa yang terjadi di depan matanya. Menjelaskan yang sebenarnya pun percuma. Karena Damar sudah tersulut emosi.
"Kalau gitu kita makan ditempat lain aja, mas. Lidya sudah tidak nafsu lagi makan disini!," ucap Lidya dengan tatapan jijik kepada Sarah.
Mereka bertiga pun akhirnya pergi meninggalkan cafe milik Randy. Sarah yang berusaha kuat di depan mereka, akhirnya menyerah dengan menangis, menumpahkan semua air matanya yang sudah ia coba untuk membendung nya.
Randy yang melihat itu semua, membiarkan sarah untuk menangis. Agar semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya ikut keluar dengan air mata itu.
Randy hanya bisa memberi dukungan kepada setiap keputusan Sarah. Randy yakin semua yang diputuskan Sarah adalah yang terbaik untuk Sarah sendiri dan anak nya.
Sarah meminta maaf pada Randy, karena sudah menyeretnya dalam masalah rumah tangga nya.
Randy pun mengerti, karena ini cuma salah pahaman saja. Sejujurnya Randy melihat di mata Damar masih ada cinta untuk Sarah. Namun karena Damar terus dihasut oleh mama dan adik nya, akhirnya Damar mengikuti kemauan keluarganya.
Ada rasa cemburu di hati Randy saat melihat tatapan Damar kepada Sarah. Tatapan yang masih ada secuil cinta di hati nya Damar. Namun Randy punya hak apa untuk cemburu, sedang kan dia bukan siapa-siapa nya. Randy pun mengubur sementara perasaan yang telah muncul saat pertama ia bertemu dengan Sarah.
Kenapa sementara? Karena Randy yakin, setelah perceraian Sarah dan Damar selesai. Randy masih punya kesempatan untuk masuk kedalam hati Sarah dan anak nya.
Sarah berpamitan untuk pulang kepada Randy, ia berjalan keluar setelah merapikan khimar yang ia pakai dan memasang kacamata hitam nya yang bertujuan agar tak kentara kalau ia abis menangis.
Sarah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak buru-buru untuk pulang ke ruko. Karena ia akan mampir ke Baby Shop untuk membeli kebutuhan Kean.
Tak lupa Sarah juga membelikan mainan baru untuk Kean yang mulai belajar merangkak.
Beberapa belanjaan sudah terkumpul di dalam keranjang dan dirasa sudah lengkap. Sarah berjalan ke kasir untuk membayar semua belanjaan nya.
Selesai membayar Sarah cepat-cepat masuk mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Agar cepat sampai rumah dan segera bertemu dengan Kean. Tak sabar rasanya ingin melihat Kean saat menerima mainan yang baru Sarah berikan.
Ada sakit hati pada Damar, karena Damar sama sekali tak menanyakan keadaan Kean anaknya saat ia ketemu tadi di cafe. Nafkah untuk anak nya pun Damar melupakan nya. Tak pernah memberi sepeserpun untuk anak nya.
Bukan nya Sarah tak mampu mencukupi kebutuhan Kean. Tapi memang sudah menjadi kewajiban Damar untuk memenuhi semua kebutuhan anaknya.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕hayoooo... mana nih team Damar dan Sarah cerai?
siapa yang lagi nunggu Sarah menjanda??
Tubuh Uda ditalak sama Si Damar ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1