
"Sekarang kamu ada dimana?," tanya Rama pada Anita, saat Anita menggeser tombol terima yang bergoyang.
"Aku sedang di depan warung lesehan yang tak jauh dari kantor." jawab Anita dengan hati yang sangat senang. Karena akhirnya Rama menghubungi nya.
"Baiklah, kamu jangan kemana-mana. Aku akan kesana secepatnya." ucap Rama dari sambungan teleponnya. Lalu Rama menutup telepon nya secara sepihak
Dan Anita yang mendengar ucapan Rama pun hatinya sangat bahagia.
"Ternyata kamu perhatian juga pada ku, Ram." ucap Anita sambil tersenyum bahagia.
"Jadi aku tau kelemahan mu sekarang, Rama." lanjut nya lagi.
"Aku harus sesering mungkin membuat story WhatsApp sedih agar kamu selalu perhatian seperti ini padaku." ucap Anita lagi dengan senyum bahagia.
Dan benar saja, tak menunggu waktu lama, Rama pun datang. Rama sengaja datang membawa motor sport nya. Yang tujuannya agar Rama cepat sampai di tempat yang ia tuju itu.
"Rama ....," ucap Anita yang melihat Rama sedang membuka helmnya setelah memarkir motor sport nya di depan mobil Sinta yang saat ini di tumpangi oleh Anita itu.
Tatapan kagum dari mata Anita sangat terlihat jelas. Anita sudah sangat lama menyimpan perasaan suka nya pada Rama.
Anita sangat yakin, kalau Rama akan menghubungi nya untuk mencari keberadaan nya saat ini.
"Lihat saja, Sarah. Aku akan keluar dan makan bersama dengan Rama." gumam Anita lagi.
Namun kenyataannya, setelah Rama menaruh helmnya di atas motor sport nya. Rama pun berjalan masuk kedalam warung lesehan itu dan langsung menyapa Sarah dan Sinta yang sedang duduk menikmati menu makanan yang mereka pesan.
Anita yang melihat itu pun, segera mencoba menghubungi Rama. Namun sayang nya, handphone Rama tidak aktif.
"Aneh sekali, kenapa handphone Rama tak bisa di hubungi?, padahal saat ini handphone nya ada diatas meja di samping tangan Rama." gumam Anita dengan handphone miliknya masih menempel ditelinga kanan Anita.
Anita melihat dengan sangat jelas kalau handphone Rama berada di atas meja samping tangan Rama. Dan Anita melihat Rama, Sarah dan Sinta sedang mengobrol hangat. Dan itu membuat Anita semakin cemburu dan semakin benci pada Sarah.
"Kalau bukan karena terpaksa, aku tak akan Sudi menumpang di mobil milik pelakor ini!!," ucap Anita dengan mata berkaca-kaca melihat keakraban mereka dengan lelaki yang ia cintai itu.
Sarah yang awalnya sangat terkejut melihat kedatangan Rama di warung makan ini.
Namun Rama beralasan kalau warung ini sudah menjadi langganan keluarga nya. Dan kedatangan nya kesini untuk membelikan lalapan ayam goreng untuk mama nya.
Sebenarnya itu hanya alasan Rama yang berusaha mendekati Sarah.
Sarah sebenarnya heran, masa sih orang seperti Rama mau makan di tempat seperti ini. Sedangkan sekretaris nya saja tidak level makan di tempat seperti ini.
__ADS_1
Tapi kembali lagi, Sarah tak mempermasalahkan hal itu. Karena itu sudah menjadi hak asasi dan kembali lagi dengan selera.
Sarah pun menawarkan untuk makan bersama, walau hanya basa-basi saja.
Namun basa-basi yang dilakukan oleh Sarah itu, langsung di iya kan oleh Rama.
Dan Rama pun segera memesan makanan yang ia suka, dia meminta kepada penjualnya untuk tidak lama-lama. Karena Rama takut Sarah dan Sinta selesai terlebih dahulu.
Anita yang melihat keakraban pada mereka bertiga semakin kesal.
"Lalu apa maksud nya Rama menelpon ku dan menanyakan posisi ku saat ini?," gumam Anita dengan kesal.
"Duh, mana perut ini sudah sangat lapar." gerutunya lagi.
"Kalau aku tak turun dan tak makan disini, dirumah belum tentu malam ini ada makanan." Anita berbicara dengan dirinya sendiri.
Lalu dengan mengesampingkan rasa malu, Anita pun keluar dari mobil. Ia berjalan menuju Sarah yang saat ini sedang makan bersama dengan Anita dan Rama.
Dia tak mau kelaparan sampai besok pagi. Karena Anita hanya makan pagi saja dirumahnya tadi.
"Rama!," panggil Anita.
"Bukankah kamu mencari ku?," tanya Anita.
"Anita, sini kamu mau pesan makan apa?," ucap Sarah, mengalihkan pembicaraan antara Rama dan Anita.
Karena Sarah tau, ucapan Rama kalau diteruskan akan menyakiti hati Sarah.
"Lantas kenapa kamu menelpon ku kalau kamu tak mencari ku?," Anita tak memperdulikan ucapan Sarah. Sana sekali Anita tak memandang Sarah sedikit pun. Anita terus menatap Rama yang kini kembali membelakangi nya.
"Anita, lebih baik kamu makan dulu ya. Nanti di bahas lagi." selain khawatir Anita sakit hati dengan sikap Rama, Sarah juga khawatir dengan keadaan Anita yang Sarah yakin kalau saat ini dia sangat lapar.
"Bu, ayam goreng sama nasi satu ya dan teh manis hangat satu." Sarah pun segera memesankan makan untuk Anita, walau Anita sama sekali tak merespon ucapan Sarah.
Sedangkan Sinta yang melihat Anita sangat gemas, karena sama sekali ia tak peduli dengan kebaikan Sarah temannya itu.
"Duduk sini Anita." Sarah masih dengan sabar menyuruh Anita.
Namun lagi-lagi Anita mengabaikan itu. Anita masih terus menatap dan mencoba bicara dengan Rama.
"Ram, jawab. Untuk apa kamu menelpon ku tadi dan lalu kesini kalau tidak mencari ku?," Anita masih terus minta penjelasan pada Rama.
__ADS_1
Namun Rama sama sekali tak menggubris nya, Rama terus menikmati makanan yang saat ini ada di depan nya itu.
"Ram!!!, kenapa kamu diam saja?!!, Jawab pertanyaan ku donk!!!, Kenapa kamu seperti tak menganggap ku ada disini?," tanya Anita lagi dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"He!!! Perempuan tak tau malu!!. Gimana rasanya di cuek'in dan tidak dipedulikan seperti itu?, pasti sakit kan?," tanya Sinta dengan suara lantang sehingga Sarah dan Rama serta Anita pun pandangan nya menuju pada Sinta yang duduk di samping Sarah.
"Sakit kan??!, jawab!!," lanjut Sinta dengan sangat emosi.
"Nah!!!!, itu yang saat ini dirasakan oleh Sarah!!," Mata Sinta melotot pada Anita sambil menunjuk kearah Sarah yang berada disamping Sinta.
"Kamu sudah di persilahkan untuk duduk dan ikut makan, tapi kamu tak merespon nya sama sekali!!," ucap Sinta.
"Sebenarnya mau kamu itu apa sih?, dan punya masalah apa kamu sama Sarah?!!, sehingga sepertinya kamu tak begitu suka dengan Sarah?!!. Padahal dia baik sekali padamu?!." Sinta masih melanjutkan ucapannya. Sinta tak peduli walau dirinya saat ini sedang menjadi tontonan.
Anita yang saat ini seperti dipermalukan oleh Sinta pun hanya bisa menunjukkan kepala nya. Ia tak berani menatap Sinta maupun Sarah lagi. Apalagi harus menatap Rama, yang sama sekali tak menganggap nya ada.
"Sekarang mau kamu apa?!, mau makan atau mau pulang sendiri?!," tanya Sinta, yang sebenarnya juga kasihan melihat Anita yang terlihat lemas seperti orang yang sedang kelaparan.
Lalu tanpa banyak bicara, mau tak mau akhirnya Anita pun ikut duduk di samping Sarah.
Dan tak lama pesanan makanan untuk Anita pun telah datang. Dan Anita melahap nya tanpa banyak bicara.
"Tinggal makan gitu aja, kebanyakan drama." gerutu Sinta dengan melanjutkan makan makanan nya itu.
Dan kini setelah selesai makan semuanya, Rama lah yang membayar semua makanan yang sudah di makan bersama itu.
Lalu Sarah dan Sinta pun mengantar Anita hanya di depan rumah nya saja. Tak ada basa-basi dari Anita untuk mempersilahkan Sarah dan Sinta untuk mampir kerumah nya.
Dan tanpa banyak protes, Sinta pun meninggalkan Anita di depan rumah nya itu.
Setelah mobil Sinta sudah hilang dari pandangan mata Anita. Anita mengelus dadanya sambil membuang kasar nafas besar nya. Lalu ia berjalan sedikit menjauh dari rumah itu.
Dan di samping kiri rumah yang dimaksud Anita itu ada gang sempit yang hanya muat satu motor saja.
Lalu Anita pun berjalan masuk kedalam gang itu, ia menyusuri sepanjang jalan gang yang lumayan gelap. Karena penerangan nya yang tak begitu cerah, serta keadaan jalan gang itu sangat sepi. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dan sampai lah Anita di rumah yang hanya sepetak itu, terlihat dari luar ada perempuan mudah sedang duduk di lantai yang beralaskan karpet berwarna merah.
Cekleeek..
Gagang pintu pun di tarik sehingga daun pintu terbuka.
__ADS_1
"Kok pulangnya telat?," tanya gadis itu, yang tak lain adalah adik Anita yang saat ini masih kuliah. Yang saat ini membutuhkan biaya yang sangat banyak.
"Iya, tadi aku harus lembur." jawab Anita dengan berlalu masuk kedalam kamar meninggalkan adiknya yang masih duduk di lantai ruang tamu.