
"Aku tau semua cerita Veni, Sar. Jadi aku minta kamu yang sabar ya dengan rumah tangga mu saat ini." ucap Siska yang sepertinya sangat peduli dengan permasalahan rumah tangga yang tengah dialami Sarah.
"Aku tidak apa-apa kok, Sis." ucap Sarah sambil tersenyum pada Siska. Memang nyatanya Sarah tak begitu sakit hati dengan perceraian nya bersama Bima.
Yang ada Sarah sangat bersyukur, bisa keluar dari lingkaran orang-orang yang toxic itu. Memang semua keluarga Bima, menurut Sarah sudah tidak ada yang waras sama sekali.
Entah keluarga yang seperti apa yang mereka jalani selama ini. Karena memang Sarah benar-benar bingung dengan pemikiran semua orang yang berada di dalam rumah itu.
"Asal kamu tau, Sarah. Veni mendapatkan uang Lim puluh juta itu dari ia meng......,"
"Sudah, Siska. Aku rasa tak perlu kamu lanjutkan ucapan mu itu. Karena aku sudah tau." Sarah mencoba menghentikan mulut Siska yang terus nyerocos seperti mobil yang rem nya blong.
"Oh ya?!, beneran, kamu sudah tau kalau Veni telah menggadaikan sertifikat rumah mertua nya untuk menebus Bima dari penjara?," tanya Siska benar-benar mengatakan hal itu, disaat ada Ambar di situ.
Rasa nya Sarah gagal menghentikan omongan Siska, untuk tidak mengatakan hal itu.
Sarah pun membuang nafas besar karena ia yakin Ambar saat ini mendengar nya. Sarah sudah bisa menebak hal apa yang akan terjadi setelah ini.
"Apa maksud dari ucapan mu itu, Siska?!," Ambar langsung terbangun dari tidur nya, saat ia mendengar apa yang telah dikatakan oleh Siska.
"Ohh... Emm... Bukan maksud ku untuk menjelek-jelekkan Veni. Tapi ini..." Siska pun kebingungan menjawab pertanyaan Ambar. Siska benar-benar lupa, kalau saat ini dia satu ruangan dengan kakak ipar Veni.
"Cepat katakan, apa yang kamu maksud dengan ucapan kalau Veni menggadaikan sertifikat rumah ibu ku itu?!," teriak Ambar pada Siska sambil membuka paksa kelambu yang menjadi pembatas dirinya dengan Sarah.
"Maaf, mbak. Tadi itu saya alah omong." ucap Siska seperti sedang mencari aman saja.
"Aku hanya membohongi Sarah saja, kak. Agar Sarah sadar diri, kalau suaminya itu juga butuh kebebasan. Dengan berkata seperti itu." Siska mencoba mencari alasan. Namun tetap saja Sarah tau kalau yang dikatakan oleh Siska pada Ambar itu adalah suatu kebohongan.
Karena sebenarnya, arah sendiri sudah tau kalau Veni benar-benar menggadaikan sertifikat itu pada Siska.
"Oh.. Jadi begitu?!, tapi mana mungkin perempuan kampung itu peka dengan keadaan suami nya!," ucap Ambar dengan senyum miring pada Sarah.
Lalu Ambar kembali lagi ke tempat semula, dimana dia tadi melakukan hal treatment.
Walau dia sudah bicara seakan-akan Ambar percaya dengan ucapan Siska, Ambar pun terus berpikir dengan ucapan Siska yang dikatakan pada Sarah tadi.
"Nanti biarkan aku lihat sertifikat rumah itu di ibu." gumam Ambar, yang kini masih melanjutkan treatment perawatan tubuhnya.
Hati Siska terasa lega, saat ia tau kalau Ambar percaya dengan ucapan nya.
Sarah pun langsung memberi kode jari telunjuk nya ia taruh di bibirnya. Yang artinya lebih baik Siska tutup mulut saja.
Siska pun menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan apa yang di katakan oleh Sarah, lewat bahasa isyarat itu.
Kini terjadi keheningan lagi didalam ruangan tu, karena Siska tak berani berbicara lagi. Ia takut omongan nya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Namun suara panggilan masuk dari handphone Ambar, berhasil memecahkan keheningan ruangan itu.
"Halo, mas." Sapa Ambar pada penelpon yang ada di seberang sana.
"Kamu lagi dimana, mbar?," tanya Teguh suami Ambar dari panggilan seluler yang ia lakukan itu.
"Hari ini aku pulang, Mbar. Apa kamu ada di rumah?," tanya Teguh.
Ambar pun menjawab apa yang ia lakukan saat ini. Lalu Ambar pun menutup telepon nya, setelah berpamitan pada Teguh.
Setelah satu jam melakukan perawatan tubuh, Sarah dan Ambar pun selesai bersamaan.
Kini mereka berdua bergantian untuk mengganti baju nya di kamar mandi yang sudah di sedia kan oleh pihak salon.
__ADS_1
Saat Sarah mau masuk kedalam kamar mandi, tiba-tiba Ambar menerobos nya tanpa mengucapkan permisi terlebih dahulu.
Lagi-lagi Sarah harus mengalah, karena ia sangat malas sekali meributkan hal-hal kecil seperti itu.
Sarah pun segera mundur dari pintu kamar mandi itu. Dengan sabar ia menunggu am Ar selesai mengganti pakaian nya.
Sedangkan di depan, Teguh sudah menunggu Ambar. Teguh sengaja menjemput Ambar di salon kecantikan tempat perawatan istrinya itu.
Teguh masuk kedalam salon dengan membawa koper besar yang berisikan baju-bajunya.
Lalu Teguh berjalan menuju tempat pendaftaran, ia menanyakan keberadaan istri nya. Dan petugas resepsionis pun menyuruh Teguh untuk menunggu di sofa yang sudah disediakan oleh salon. Karena sebentar lagi Ambar akan keluar dari ruang treatment.
Teguh pun melakukan apa yang telah di perintahkan pegawai salon itu.
Ia berjalan kembali sambil menyeret koper berwarna biru dongker itu menuju sofa yang berada di dekat pintu masuk.
Teguh menunggu kedatangan Ambar, sambil mengirim pesan singkat pada Lidya. Teguh mencoba meminta maaf dan merayu Lidya lagi. Agar ia mau menerimanya lagi sebagai suaminya.
Karena setelah kejadian di mall itu, teguh langsung di usir oleh Lidya. Lidya sangat sakit hati dengan sikap Teguh yang sudah bermain api dengan perempuan lain di belakang nya.
Yang lebih membuat Lidya sakit hati adalah, saat ia mendapat musibah yang berbentuk hukuman itu. Teguh tak ada disampingnya, malah dia sedang asyik belanja dengan selingkuhannya.
Beberapa kali ia mengirimkan pesan pada Lidya, tak ada balasan sama sekali dari Lidya. Jangankan di balas, pesan dari Teguh di baca pun tidak oleh Lidya.
Mungkin Lidya benar-benar sakit hati pada Teguh.
Tak sampai sepuluh menit Teguh menunggu Ambar. Kini Ambar sudah menampakkan batang hidungnya.
"Mas Teguh!!," panggil Ambar yang melihat teguh sedang duduk dengan bermain handphone nya.
"Ambar?!!," sahut Teguh saat ia tau istrinya lah yang memanggilnya. Dengan segera dan sangat terburu-buru, Teguh langsung mematikan handphone dan memasukkan nya kedalam saku celananya.
Sedangkan Ambar berjalan cepat untuk menghampiri suaminya itu.
"Nggak lama kok, Mbar. Barusan aja." jawab Teguh sambil melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangan nya.
"Tumben kamu pulang dengan membawa koper?," tanya Ambar saat melihat koper berada di samping suaminya.
"Kenapa aku membawa koper?, karena mulai besok aku sudah bekerja di kota ini lagi." jawab Teguh dengan senyuman pada Ambar.
"Apa mas?, jadi mulai besok kita sudah bisa kumpul lagi?," tanya Ambar yang seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Namun tidak bisa di pungkiri, tersirat kebahagiaan di wajah Ambar saat mendengar ucapan suaminya itu.
Teguh pun menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ambar istrinya itu.
"Lalu begitu, kamu tunggu aku sebentar ya, mas. Aku akan membayar dulu." ucap Ambar pada Teguh dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Iya, Mbar." jawab Teguh mempersilahkan Ambar untuk pergi ke kasir.
Teguh sedikit lega, karena Ambar masih mau menerimanya. Walau ia sudah membohongi nya.
"Untung saja Ambar tidak tau semuanya." gumam Teguh dalam hati sambil mengelus dadanya.
Secara bersamaan, Ambar dan Sarah pun berada di kasir untuk membayar tagihan perawatan.
Lagi dan lagi Ambar menyerobot antrian, yang seharusnya Sarah terlebih dahulu. Kini Ambar mendahului nya.
"Maaf ibu, antri dulu ya." tegur pegawai salon yang berada di kasir itu.
"Aku yang duluan datang, bukan dia!!," ucap Ambar. Sepertinya Ambar memang tidak bisa kalau tidak cari masalah dengan Sarah.
__ADS_1
Ambar belum puas kalau tak membuat Sarah marah. Karena dari tadi ia gagal membuat Sarah emosi.
"Tapi, Bu. Saya melihat kalau ibu datang setelah ibu ini datang." ucap pegawai yang ada di bagian kasir itu sambil menunjuk Sarah.
"Jadi maaf, mbak. Karena aku yang datang lebih dulu, jadi sekarang giliran ku." Kali ini Sarah tak ingin mengalah, ia langsung mengambil posisi di depan Ambar.
"Kurang ajar kamu, Sarah!!," ucap Ambar tersulut emosi, Ambar menarik Khimar yang di pakai oleh Sarah.
"Auw...!," pekik Sarah.
Entah kenapa yang tersulut emosi adalah Ambar. Padahal Sarah menanggapi perlakuan Ambar dengan sangat santai.
"Lepas, mbak!!," teriak Sarah yang kesakitan itu.
Sarah sangat kesakitan dengan cengkeraman tangan Ambar, karena Ambar berhasil mencengkram rambut Sarah juga.
Teguh yang melihat itupun, dengan refleks berlari menuju keributan yang dilakukan istrinya.
"Ada apa, Mbar?," tanya Teguh pada Ambar yang tangan nya masih melekat di kepala Sarah.
"Perempuan ini terus mencari gara-gara, mas!!," jawab Ambar, lalu Teguh pun mengalihkan pandangan nya pada perempuan yang memakai Khimar panjang itu.
"Sarah?!," Teguh kaget, ternya perempuan yang ribut dengan istrinya itu adalah Sarah.
"Lepaskan, Mbar!!," ucap Teguh pada Ambar dengan matanya melotot.
"Tapi mas, dia sengaja membuatku emosi mas." rengek Ambar, berharap Teguh membela nya.
Namun sayangnya harapan Ambar, hanya tinggal harapan. Bukan pembelaan yang ia dapat. Namun kemarahan Teguh lah yang ia dapat.
"Lepaskan!!!, kalau tidak kamu!!," Teguh berkata dengan sangat kencang dengan mengangkat tangan kanannya untuk melayangkan tamparan nya ke pipi Ambar.
"Mas!!!," teriak Ambar, saat ia tau kalau Teguh akan menampar nya, dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu mau menampar ku demi membela wanita ini?!," ucap Ambar sambil melepaskan cengkraman tangan nya dengan kasar.
"Apa hubungan mu dengan wanita ini??!, apa benar yang dikatakan Veni kalau perempuan ini penggoda suami orang?!!," Ambar benar-benar emosi dengan perlakuan teguh pada Sarah.
"Seharusnya yang kamu bela adalah aku. Bukan perempuan kampungan itu, mas!!," ucap Ambar dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Tapi, disini aku membela yang benar, Mbar. Disini kamu melakukan kekerasan pada Sarah. Dan aku tidak mau hidupmu akan berakhir dipenjara, Mbar. Karena bisa saja Sarah melaporkan mu ke polisi karena kamu telah menganiaya nya."
"Karena aku yakin di ruangan ini sudah di penuhi dengan kamera cctv. Jadi mudah saja untuk Sarah mencari bukti atas kesalahan yang kamu lakukan." ucap Teguh pada Ambar.
"Apa kamu mau menghabiskan hidupmu di penjara?," tanya Teguh.
Ambar pun menggelengkan kepalanya sambil air matanya terus mengalir di pipinya.
"Tapi dia terus saja mencari-cari masalah dengan ku, mas." rengek Ambar yang masih ingin di bela oleh Teguh, suaminya.
"Tapi tidak seperti itu juga cara menghadapi nya, cukup dengan kamu diam, tak meladeni nya. Aku yakin lama-lama dia akan bosan untuk mencari masalah dengan mu." ucap Teguh, dengan bijaksana nya menasehati Ambar, istri nya. Walau ia sangat tahu, kalau tak mungkin sekali Sarah mencari masalah.
Teguh sangat paham dengan tabiat istrinya, ia tau kalau istrinya lah yang terus mencari gara-gara agar Sarah marah. Namun, yang di lakukan Sarah adalah diam, seperti yang baru saja dikatakan oleh Teguh.
"Sekarang kamu minta maaf pada Sarah, Mbar!," perintah Teguh pada Ambar.
"Apa?!!, aku harus minta maaf pada dia?!," tanya Ambar sambil menunjuk Sarah dan pandangan yang meremehkan pada Sarah.
"Kamu bisa menyuruhku melakukan apapun, mas. Tapi tidak untuk meminta maaf pada perempuan kampungan itu!!," ucap Ambar membuang muka sambil melipat tangan nya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kamu tidak mau melakukan perintah ku. Lebih baik aku pergi lagi dan tak akan kembali bersama mu." ancam Teguh.
"Apa maksud mu mas?!, kenapa demi dia kamu rela mau meninggalkan aku yang sudah menjadi istri mu selama bertahun-tahun?!," ucap Ambar dengan air mata yang mengalir dengan sangat deras.