DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Hidup Baru


__ADS_3

Tiga tahun sudah aku hidup berdua dengan Kean. selama tiga tahun itu pula tak ada sama sekali kabar dari Randy.


Jujur penantian ku selama tiga tahun ini tak ada hasilnya. Aku harus bangkit dari penantian yang tak pernah ada ujungnya ini.


Kini aku sudah menemukan pengganti mas Damar, kemarin aku dinikahi mas Bima dirumah orang tua ku di kampung. Sengaja aku menikah di kampung, karena aku ingin tahu, apa benar mas Bima benar-benar tulus padaku.


Singkat cerita mas Bima adalah langganan roti di toko ku. Namun, ia tak pernah tahu sampai detik ini kalau aku lah pemilik toko itu.


Aku sengaja menyembunyikan jati diriku sebagai pemilik toko roti dan sebagai penulis novel online.


Selama tiga tahun ini aku masih menggeluti hobi ku, yaitu menulis novel online. Dari hobi yang aku tekuni, aku sudah membeli satu mobil, dua rumah dan satu ruko yang aku tempati saat aku dan Kean hidup berdua dulu.


Sebelum menikah aku sudah membuat perjanjian, yakni aku tak mau diajak hidup satu atap dengan mertua alias ibunya mas Bima. Dan mas Bima menyetujui. Akhirnya setelah menikah, aku dan mas Bima tinggal bersama dirumah yang telah aku beli, sebelum aku menikah dengan nya.


Pengalaman hidup bersama mama Linda sudah cukup membuat aku dan Kean trauma seumur hidupku.


Selama tiga tahun itu pula, mas Damar dan keluarga nya sudah tak ada kabar. Terakhir Sinta bercerita, kalau mereka pindah dari rumah itu, setelah Bianca terusir dari sana. dan menurut Sinta, mereka pindah lantaran rumah mereka disita oleh bank.


Mas Bima seorang duda beranak satu, anak mas Bima perempuan yang saat ini masih kelas lima SD.


Dan mas Bima pun menyetujui permintaan ku untuk tak tinggal bersama ibu nya. Namun dengan syarat, anak mas Bima yang bernama Putri ikut tinggal bersama kami.


Aku sih, nggak keberatan sama sekali, karena sudah kewajiban mas Bima merawat dan menafkahi Putri karena ia anaknya dan masih menjadi tanggung jawab mas Bima sepenuhnya.


Kita hidup bersama di rumah yang ku beli dengan hasil keringat ku sebelum aku menjadi istri mas Bima. Bagiku itu tidak masalah, karena saat ini kita sudah menjadi keluarga.


Mas Bima sangat baik dan perhatian sama Kean, mereka berdua sudah seperti ayah dan anak kandung. Mungkin kasih sayang yang di beri mas Bima lebih besar daripada kasih sayang yang di berikan oleh mas Damar selaku ayahnya sendiri. Apalagi selama tiga tahun terakhir, ia tak pernah lagi muncul di kehidupan ku dan Kean. Itu sangat menguntungkan bagiku, karena selama tiga tahun terakhir hidup ku damai. Tidak pernah ada keributan seperti sebelum-sebelumnya.


Kita memulai hidup berempat hari ini, semoga menjadi keluarga kecil yang sangat bahagia, itu keinginan ku saat ini.


Setelah akad di kampung, aku dan mas Bima memutuskan untuk segera kembali ke kota. Dengan alasan mas Bima tak bisa meninggalkan pekerjaan nya. Karena semua urusan pekerjaan nya ia handle sendiri.


Mas Bima sendiri mempunyai toko kelontong yang lumayan besar dan ramai.


Dan mobil ku, sengaja tak aku bawa. Aku taruh di rumah ku yang satunya. Di perumahan elit yang waktu itu aku beli bersama Sinta.


"Sarah, biar nanti pulang sekolah Kean aku ajak ke toko saja. Kalau dirumah, kasian dia sendirian. Karena Putri pulang sekolah minta langsung kerumah ibu." ucap mas Bima yang sedang sibuk mengelap motor nya. Ini hari pagi pertama aku menjadi istri mas Bima.


"Iya mas, abis ini aku buatkan dua bekal ya. Untuk kamu dan Kean." jawabku.


"Put, apa kamu bawa bekal juga?," tanya ku pada Putri yang terlihat sedang sibuk menata buku pelajaran nya untuk dimasukan kedalam tas sekolah.


"Enggak deh ma. Malu sama teman-teman, masa sekolah bawa bekal." jawab Putri.


"Ya kan lebih baik bawa bekal dari pada jajan sembarangan." ucapku.


"Putri nggak mau ah,, nanti Putri di ledek lagi, sama teman-teman," jawab nya lagi.


"Ya udah, terserah kamu. Yang penting kamu nyaman." aku berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal mas Bima dan Kean.


Kini anak-anak sudah siap untuk berangkat ke sekolah dan mas Bima ke toko. Kebetulan sekolah anak-anak satu arah dengan toko kelontong mas Bima. Jadi aku sudah nggak perlu repot-repot untuk bolak balik di jalan mengantarkan Kean dan Putri sekolah.

__ADS_1


"Sarah, mas berangkat dulu ya. Kamu hati-hati berangkat kerja nya. Pelan saja membawa motornya, aku lihat kamu belum terlalu mahir membawa motor." pesan mas Bima padaku.


Betapa bahagianya aku, diperhatikan oleh suami. Sepertinya mas Bima memang benar-benar tulus cinta kepada ku.


"Iya, mas. Hati-hati ya." jawab ku sambil bersalaman dan mencium punggung tangan mas Bima.


Setelah bergantian bersalaman dengan anak-anak, mas Bima pun menghidupkan mesin mobilnya.


Kean membuka pintu mobil depan, lalu dengan sangat kasar Putri menerobos tubuh kecil Kean.


"Minggir dek, aku yang duduk di depan." ucap Putri dan langsung duduk dijok depan samping mas Bima.


Kean langsung menatap ku, aku sangat mengerti dengan perasaan Kean.


"Adek duduk di belakang aja ya?, di belakang lebih nyaman." bujuk ku.


Kean menganggukkan kepala, menunjukkan kalau ia setuju dengan usulku.


Lalu aku membuka kan pintu belakang, dan Kean langsung naik.


"Bye bye amma, Kean berangkat sekolah dulu ya." Kean melambaikan tangannya saat mobil sudah berjalan keluar dari garasi.


Putri pun juga melakukan hal yang sama dengan Kean. Mereka bertiga sudah berangkat, kini waktu ku untuk bersiap-siap pergi ke ruko.


Aku berencana pulang dari toko, ingin berkenalan dengan tetangga kanan, kiri dan depan rumah. Rasanya tak sopan bila aku mengabaikan tetangga dekat rumah.


Sekarang proses produksi sudah aku serahkan pada Reni dan beberapa karyawan lama. Sekarang karyawan ku juga sudah bertambah banyak.


Setelah berganti pakaian, aku segera berangkat setelah taksi online sudah datang. Karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku tak jadi pergi dengan motor, karena memang aku masih belum mahir mengendarai motor.


Biarkan, nanti aku pulang sebelum mas Bima pulang. Jadi ia tak tahu kalau aku kerja naik taksi online.


Sampai di toko, toko terlihat sangat ramai. Banyak pelanggan yang datang. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku capai saat ini.


"Ren, jangan lupa nanti kamu pergi ke panti ya. Semuanya sudah aku siapkan di meja." ucapku sambil berlalu masuk kedalam rumah.


"Iya Bu." jawab Reni. Sudah menjadi kebiasaan tiga tahun terakhir ini, beberapa persen hasil dari toko roti, ku sisihkan untuk anak-anak dipanti. Mereka sangat butuh uluran kasih sayang dari kita.


Aku melakukan aktivitas seperti biasanya, memang toko yang pertama ini yang sering aku datangi. Kalau outlet di mall, itu jarang sekali. Ya bisa tiga hari sekali kadang juga lima hari sekali.


Jam sudah menunjukkan jam tiga sore, setengah jam lagi mas Bima pulang dari toko. Dan aku harus cepat-cepat pulang terlebih dahulu. Agar ia tak tahu kalau aku berangkat naik taksi online.


"Ren, aku pulang lebih dulu. Ingat ya nanti kalau kamu pulang, jangan lupa amplop itu sekalian di bawa kepanti." ucapku mengingat kan Reni.


"Iya, Bu. oh..ya ibu pulang naik apa? kok nggak ada mobilnya?," tanya Reni sambil mencoba melihat tempat parkir yang ada di depan ruko.


Tadi aku naik taksi online, Ren." jawab ku.


"Lagian ibu, punya mobil kok malah dianggurin. Kalau nggak mau Makai, ya biar Reni aja yang Makai Bu!" nyinyir Reni.


"Kamu ini bisa aja!," jawabku sambil berjalan meninggalkan ruko, karena taksi online yang aku pesan sudah datang. Aku segera pulang sebelum mas Bima sampai rumah terlebih dahulu.

__ADS_1


Taksi online berhenti di depan rumah. Lalu aku turun, saat aku turun dari taksi ada seorang lelaki tua, ya kira-kira usianya sama dengan bapak ku. Namun penampilan nya lebih menarik, mungkin karena ia orang kaya. Dan terlihat di garasinya terparkir mobil mewah keluaran tahun ini.


Lelaki berperut buncit itu, terus menatap ku seperti tak berkedip. Aku pun menyapanya dengan anggukan kepala dan tersenyum padanya. Tidak enak saja, kalau aku tak menyapanya, secara aku adalah penghuni baru dikomplek ini. Dan dia juga membalas senyumanku. Setelah itu aku langsung mengalihkan pandangan ku kepada pintu pagar yang aku buka.


Aku baru satu hari tinggal disini, jadi aku belum sempat bersilaturahmi dengan tetangga sebelah kanan, kiri dan depan rumah.


Rencananya hari ini aku mau membagikan beberapa kue yang sudah aku bawa dari toko.


Saat aku berjalan memasuki halaman rumah, aku merasa masih di awasi oleh lelaki itu. Aku mencoba untuk melirik nya, dan benar saja dugaan ku. Ia masih memandang ku, dengan pandangan yang membuat ku sanytidak nyaman.


Aku mempercepat langkah kaki ku untuk segera masuk kedalam rumah. Setelah itu, aku langsung mengunci pintu rumah dari dalam.


Kini aku mulai menata kue-kue yang akan aku bagikan kepada tetangga-tetangga baru ku.


Nanti setelah mas Bima datang, baru aku akan mengantarkannya dengan mas Bima.


Drrrttttt


Drrrttttt


Handphone yang ada diatas meja makan berbunyi, bergegas ku ambil dan kuangkat.


"Assalamualaikum, mas." ternyata panggilan dari mas Bima.


"Waalaikumsalam, Sarah. Kamu sudah pulang?," tanya mas Bima.


"Sudah dari tadi mas, ini Sarah baru selesai menata kue-kue yang akan Sarah bagi pada tetangga." jawabku.


"Oh ya... kamu jangan masak ya. Setelah pulang dari toko, kita jemput Putri di rumah ibu. Kebetulan ibu sudah masak, beliau mengundang kita untuk makan malam bersama." ucap mas Bima.


"Baik, mas. Tapi kita kerumah ibu setelah membagikan kue-kue ini ya?," tanyaku.


"Oke, sayang. Sekarang lebih baik kamu mandi dan dandan yang cantik." ucap mas Bima. Lalu ia menutup telepon nya.


Aku segera masuk kedalam kamar mandi, melakukan apa yang mas Bima katakan.


Setelah semua sudah siap, aku duduk di sofa ruang tamu, sambil mengetik novel online ku. Aku harus bisa memanfaatkan waktu luang untuk mengetik.


Karena sekarang tugas ku semakin bertambah, yaitu menjadi ibu rumah tangga yang punya dua anak.


Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diurus ibu rumah tangga. Aku sendiri tidak mau mempekerjakan asisten rumah tangga, selama aku masih mampu melakukan nya.


Lagian aku nggak mau, mas Bima berfikiran kalau aku istri yang malas.


Arloji di pergelangan tangan menunjukan pukul empat sore, tapi mas Bima belum juga datang. Aku menunggunya dengan mengetik novel sebanyak-banyaknya.


"Akhirnya mereka datang." gumam ku saat aku mendengar suara mobil masuk kedalam halaman rumah.


Aku berdiri dan mengintip dari belakang korden. Benar saj, terlihat dia lelaki yang beda usia itu berjalan kearah pintu rumah bergandengan tangan.


Betapa bahagianya aku melihat pemandangan ini, tak terasa air mata hari jatuh di pipi ku.

__ADS_1


Ku lihat Kean sangat bahagia, mereka berdua terlihat asyik mengobrol. Entah apa yang ia bicarakan, sehingga senyum Kean mengembang indah di bibirnya.


__ADS_2