DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Laras Semakin Perhitungan


__ADS_3

"Lebih baik sekarang kita pulang!!, tolong jangan bikin malu aku disini!!," ajak Teguh pada Ambar.


Ambar segera melakukan pembayaran di kasir, lalu ia pergi mengikuti Teguh dari belakang.


Sarah tak berkata sepatah kata pun. Karena memang tak ada hal yang perlu dikatakan.


"Mobil kamu mana, mas?," tanya Ambar yang sudah berada di halaman salon Siska itu.


"Aku tak bawa mobil, Mbar." jawab Teguh sambil berjalan menyeret kopernya menuju ke pinggir jalan.


"Lalu, kita pulang naik apa?," tanya Ambar.


"Ya naik taksi lah!, sekarang kamu pesan taksi online, karena handphone ku mati." jawab Teguh dengan terus berjalan mendahului Ambar.


"Kenapa harus taksi sih, mas. Kan malu di lihat tetangga kalau kita pulang naik taksi!!," Rajuk Ambar.


"Lalu kamu mau minta naik apa, Mbar?!, naik jet?!!," Teguh menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke istri nya.


"Kita mampunya naik taksi, ya udah naik taksi aja!!!," Teguh kembali melangkah kedepan setelah ia membalikkan tubuhnya lagi, membelakangi Ambar.


Mau tak mau, Ambar pun berjalan mengikuti suaminya.


"Memang mobil mu kemana sih, mas?, kenapa kamu pulang tak membawa mobil?!," tanya Ambar lagi.


"Kamu ini bawel ya!!, sudah di bilangin kalau mobil itu sudah nggak ada, kok tanya-tanya terus!!," jawab Teguh dengan jengkel, karena Ambar terlalu bawel.


Tak lama, setelah mereka berdua menunggu taksi di pinggir jalan. Taksi online yang dipesan Sarah pun datang.


"Bu Sarah ya?," tanya sopir taksi itu pada Ambar, dari dalam mobilnya.


"Bukan!!!," jawab Ambar dengan ketus dengan membuang muka dari sopir taksi itu. Entah kenapa Ambar sangat benci saat mendengar nama Sarah yang di sebut.


"Oh maaf kalau begitu Bu." ucap sopir taksi itu dengan sopan.


Lalu sopir itu mengeluarkan handphone nya, bertujuan untuk menghubungi Sarah yang sudah memesan taksi online.


"Apa kamu sudah memesan taksi, mas?," tanya Ambar yang berdiri di samping Teguh.


"Bukankah kamu yang tadi sudah aku suruh untuk memesan taksi online?," tanya balik Teguh.


"Hah?, kamu menyuruhku? Kapan?!," sepertinya Ambar tak mendengar saat Teguh menyuruhnya untuk memesan taksi online.


"Ya sudah daritadi aku menyuruh mu, Mbar!!, pantas saja tak ada taksi yang datang dengan pesanan atas nama mu!!," Teguh yang saat ini hati nya lagi kalut karena telah diusir oleh Lidya, semakin emosi karena sikap Ambar yang sedikit agak lemot.


"Ya sudah kalau begitu. Kita ambil saja taksi pesanan Sarah ini." usul Ambar.


"Kamu jangan aneh-aneh, Mbar. Jangan bikin malu dengan menciptakan keributan lagi di depan umum!!, Lebih baik sekarang kamu memesan taksi atas nama mu, biar secepatnya kita pulang!!," Teguh tak menyetujui usulan Ambar.


"Tapi itu akan membutuhkan waktu lama, mas. Dan aku tak ingin kepanasan!!," keluh Ambar.


"Maka dari itu, cepat pesan taksi dari sekarang!!!," Teguh sangat kesal pada Ambar. Seperti berniat mengulur waktu.


Ambar pun segera mengambil handphone nya dan segera memesan taksi melalui aplikasi yang ada di handphone nya.


Disaat Ambar sedang serius menatap layar handphone. Sarah datang dari arah salon Siska menuju taksi yang sudah terparkir di sebelah Ambar.


Tanpa basa basi kepada Ambar atau pun Teguh, Sarah langsung masuk kedalam taksi yang sudah menunggu nya.


"Ih, masam seorang penulis terkenal naik nya taksi online?, jangan-jangan hanya penulis gadungan." sindir Ambar pada Sarah yang sudah masuk kedalam taksi itu.

__ADS_1


Memang Ambar si paling tidak bisa kalau tidak julid pada Sarah.


Namun usaha Ambar untuk memancing emosi Sarah pun gagal. Karena sama sekali Sarah tak menggubris ucapan Ambar.


Jangan kan mendengar apa yang diucapkan oleh Ambar. Menoleh aja Sarah tidak melakukan nya.


"Dasar perempuan sombong!!!," umpat Ambar saat taksi yang ditumpangi Sarah melaju di depan nya.


"Kamu ini apaan sih, Mbar?!, kenapa tingkah laku mu norak dan kampungan seperti ini sih?!!," Teguh merasa dibuat malu oleh tingkah laku Ambar yang seperti tidak punya sopan santun itu.


"Kenapa sih, aku itu selalu salah di mata kamu, mas!!," Ambar kesal dengan Teguh, suaminya. Karena bukan pembelaan yang ia dapat, tapi hanya kritikan saja yang selalu ia terima.


"Bukan salah hanya di mata ku saja, Mbar. Aku sangat yakin Dimata orang lain yang melihat sikapmu itu pun juga akan menyalahkan mu!!!!," Teguh berfikir secara rasional. Bukan karena dia istrinya, walau melakukan salah, lantas ia akan membenarkan nya.


Dan sikap Ambar ini lah salah satu alasan Teguh selingkuh dengan Lidya, yang kini sudah meninggalkannya. Karena Teguh ketahuan bersama perempuan lain, yang tak lain adalah Veni, istri dari adik iparnya itu.


Tak lama menunggu taksi yang sudah dipesan, akhirnya taksi itu datang juga.


Kini mereka berdua naik taksi online bersama-sama menuju rumah Laras.


Sampai di rumah Laras, Teguh dan Ambar turun dari taksi. Sembari tangan kanan Teguh memegang dan menyeret tas nya, mereka berjalan masuk kedalam rumah Laras.


Dimana rumah yang jarang sekali di buka pintu itu. Setelah penangkapan Bima, keluarga Laras menjadi keluarga yang tertutup. Namun tetap saja dengan kesombongan mereka.


"Assalamualaikum." ucap Ambar dengan membuka pintu rumah nya.


Tanpa menunggu jawaban dari Laras, Ambar pun langsung masuk kedalam rumah nya, yang di ikuti oleh Teguh di belakang nya.


"Ibu ... Ibu ..," teriak Ambar memanggil Laras, yang tidak ia tahu keberadaannya.


Ambar yang tidak mendapatkan jawaban dari panggilannya. Ambar sedikit khawatir akan terjadi apa-apa pada Laras dan Bima.


Namun yang membuat Ambar bingung, kenapa tadi Sarah berada dalam salon?!. Itu lah yang saat ini menjadi pertanyaan di otak Ambar.


Ambar terus berjalan ke belakang, menuju kamar Laras. Namun ternyata Laras ada di kamar nya.


Lalu kini ia berjalan ke halaman belakang, sambil berteriak-teriak memanggil nama ibunya.


"Ada apa sih Mbar?, kenapa kamu teriak-teriak?!, Di kira ibu ini tuli?!!," sahut Laras, yang ternya ada di dapur.


"Ibu ini membuat ku khawatir saja. Ambar panggil dari tadi tak ada jawaban. Ambar hanya takut terjadi apa-apa pada ibu. Karena ibu baru saja menemui Sarah si perempuan kampung itu." jelas Ambar.


Laras pun berjalan ke depan menuju ruangan televisi sambil membawa secangkir teh hangat dan sepiring biskuit.


"Itu teh untuk siapa, Bu?," tanya Ambar yang berjalan mengikuti Laras dari belakang.


"Ya untuk ibu lah!!!, dikira untuk siapa? Untuk kamu???, lah kok enak!!," ucap Laras sambil berlalu meninggalkan Ambar menuju sofa di depan televisi.


"Teguh!!," Laras kaget saat melihat keberadaan teguh di ruang televisi itu.


"Selamat sore, Bu." sapa Teguh sambil mencium punggung tangan Laras.


"Kamu baru pulang?!," tanya Laras, sambil mencari posisi duduk yang nyaman untuk sekedar menikmati teh hangat dan satu piring biskuit itu.


"Iya, Bu. Teguh sudah dari tadi pulang. Tapi Teguh menjemput Ambar dulu di salon." jelas Teguh pada Laras.


"Oh....," jawab Laras dengan singkat. Lalu ia menyeruput teh yang saat ini ada di tangan nya itu tanpa basa-basi menawarkan teh nya pada Teguh.


"Ah.... Nikmat sekali." ucap Laras setelah meneguk teh manis itu.

__ADS_1


"Ibu, kenapa mas teguh tidak ibu buat kan teh juga?," celetuk Ambar pada Laras.


"Kamu kan istri nya, harusnya kamu yang buat. Kok malah kamu menyuruh ibu." ucap Laras dengan nada sinis.


Ambar membuang nafas besar, lalu berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh untuk Teguh.


"Mbar, ibu baru saja membeli gula itu. Jadi ibu harap kamu membeli gula sendiri untuk suami mu. Karena gula yang ibu beli itu mau ibu hemat." ucap Laras pada Ambar yang berjalan menuju dapur itu.


Seketika langkah kaki Ambar pun terhenti. Ambar membalikkan badannya menghadap pada Laras. Ambar menatap Laras dengan tatapan yang aneh. Namun ekspresi datar yang terlihat di wajah Laras.


Ambar tak habis pikir dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Laras. Kenapa Laras seperhitungan itu pada dirinya. Pada Ambar itu anak kandung nya.


"Ibu?, kenapa ibu ngomongnya seperti itu?, bukan kah Ambar ini anak ibu?," ucap Ambar dengan hati sedikit terasa sakit.


"Iya, kamu anak ku. Sedangkan Teguh kan, bukan." jawab Laras dengan santai.


"Lagian kamu sekarang sudah besar dan berumah tangga. Jadi kamu juga sudah bukan tanggung jawab ku." lanjut Laras dengan menikmati biskuit aroma kelapa yang di makan setelah di celup kedalam teh hangat itu.


"Ibu...," lirih Ambar dengan pandangan nanar penuh kesedihan dengan ucapan yang keluar dari mulut ibu nya itu.


"Lebih baik, sekarang kita pulan Mbar. Aku capek ingin istirahat." ucap Teguh, yang sangat sakit hati dengan ucapan Laras.


Teguh pun berdiri dari duduknya, dan melangkah kedepan menuju pintu keluar masuk rumah ini.


"Tapi, mas. Ibu disini sendirian. Kasian dia." ucap Ambar.


"Kamu tak perlu mempedulikan aku, karena aku bisa merawat diri ku sendiri." ucap Laras dengan santai nya.


Ucapan yang keluar dari mulut Laras berhasil membuat sakit hati Ambar.


"Baiklah kalau begitu, Bu." Ambar pun berjalan mengikuti Teguh. Ia sangat sakit hati dengan apa yang dikatakan Laras pada dirinya dan suaminya.


Belum sampai di pintu, Bima pun datang dengan wajah yang muram. Sepertinya ia sedang menahan amarahnya.


"Ibu!!!, puas ibu membuat usaha ku bangkrut!!!," bentak Bima pada Laras yang masih duduk santai di atas sofa ruang televisi.


"Apa maksud kamu, Bim?," tanya Laras seperti tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bima.


"Jangan pura-pura bodoh seperti itu, Bu!!, Sekarang kembalikan uang ku lima puluh juta yang telah ibu ambil!!, agar aku bisa meneruskan usaha ku, Bu!!," kini emosi Bima benar-benar sudah naik ke ubun-ubun.


"Mana ada uang sebanyak itu, Bim. Uang itu sudah habis." jawab Laras dengan sangat santai nya.


"Bu, ku mohon.... Aku sudah di tunggu pak Bara di depan. Kalau uang itu ada, pak Bara tak akan mengambil ruko ku Bu." Bima terus memohon pada Laras.


Sedangkan di depan, Bara pemilik agen sembako yang menyuplai toko Bima berdiri menunggu uang yang sedang diusahakan oleh Bima.


Sambil menunggu Bima, Bara mengambil handphone nya untuk menelepon salah satu langganan nya juga.


"Assalamualaikum, Bu. Bu Sarah maaf hari ini sepertinya saya tak bisa kirim barang ke toko roti ibu. Karena masih ada masalah yang harus di selesaikan dengan customer." ucap Bara pada Sarah yang juga langganan Bara. Sarah sengaja berbelanja bahan-bahan kue di tempat Bara, karena selain barang nya selalu baru, harga nya juga bisa di pastikan sangat miring. Karena di tempat Bara adalah agen terbesar di kota ini.


"Waalaikumsalam, kenapa bisa begitu pak Bara?, mohon maaf sekali, kami membutuhkan bahan-bahan itu untuk pembuatan kue besok pagi. Kalau tak datang sore ini, besok pagi kami tak bisa membuat kue-kue yang kita jual." jawab Sarah, karena kalau pun mau belanja di luar, waktunya sudah sangat mepet sekali.


"Lalu aku harus bagaimana, Bu. Sedangkan masalah yang sedang saya hadapi ini sangat penting, Bu." jelas Bara melalui sambungan telepon nya.


"Atau gini saja, Bu. Barang sekarang sudah saya bawa, bagaimana kalau ibu kesini saja?, kerumah customer ku." usul Bara. Karena dari toko Sarah ke rumah Bima jaraknya tak begitu jauh. Jadi Bara mengusulkan Sarah bisa mengambilnya di rumah Bima.


"Posisi pak Bara dimana sekarang?," tanya Sarah.


"Saya akan mengirimkan posisi saya." jawab Bara. Lalu panggilan telepon pun dimatikan. Dan Bara mengirim sharelok pada Sarah.

__ADS_1


__ADS_2