
Aku segera mengambil berkas-berkas penting itu ditempat yang hanya aku yang tahu. Karena aku yakin mas Bima pun tak akan pernah tahu tempat ini.
"Alhamdulillah, masih aman." gumamku sambil ku peluk lembaran kertas yang ada di dalam map ini.
Segera aku kembali melangkah keluar dari kamar, untuk menunjukkan surat-surat penting ini. Tujuan ku bukan ingin aku menyombongkan diri. Namun aku ingin semua masalah ini cepat selesai dan aku terbebas dari mas Bima dan keluarga nya.
"Ini bukti-bukti kalau rumah ini milik ku dan aku membelinya dengan uang ku sendiri sebelum menikah dengan mas Bima." Ku sodorkan map berwarna merah itu pada pak RT yang masih setia menjadi penengah antara keluarga ku dan keluarga mas Bima.
"Dan aku minta pak RT nanti saat akan membaca surat-surat ini memanggil satu perwakilan dari warga komplek ini." pinta ku pada pak RT. Tujuan ku memanggil satu perwakilan dari warga komplek ini, agar mereka tau dan secara tidak langsung meluruskan berita yang simpang siur diantara warga komplek ini.
Pak RT pun menerima nya dan mulai membaca surat-surat itu. Mas Bima terlihat gusar dengan wajahnya yang memerah.
Sedangkan ibu nya mas Bima masih memasang wajah sinis nya. Seperti nya dia sangat yakin kalau rumah ini masih ada hak milik mas Bima.
Lalu pak RT memanggil Dewi yang sedang mengintip dari balik pintu.
"Dewi!!, sini!!," pak RT melambaikan tangannya pada Dewi.
Dengan sangat percaya diri nya, Dewi pun berjalan menuju pak RT yang sedang duduk di singgle sofa yang ada di samping ku.
"Ada apa, pak RT?," tanya Dewi sambil matanya mencuri-curi pandang pada mas Bima.
"Hey!!, jaga pandangan mu!!. Dia itu calon suami ku!!." Seperti nya Areta melihat tingkah laku Dewi yang terus melirik mas Bima.
"Masih calon kan?, jadi masih halal untuk siapapun?!," gumam Dewi dengan suara nya yang sengaja di buat-buat centil sambil melirik kearah mas Bima.
__ADS_1
Areta nampak sangat kesal dengan tingkah laku Dewi yang seperti perempuan g*tal pada suami orang.
"Tak usah cemburu!!!, posisi kita sama. Yaitu bukan siapa-siapa nya mas Bima. Jadi kita harus bersaing secara sehat untuk mendapatkan hatinya." celetuk Dewi lagi.
"Asal kamu tahu, ya!!!. Aku ini mantan istrinya mas Bima, dan aku adalah ibu dari anaknya. Jadi aku lah yang lebih berhak atas mas Bima!!, bukan kamu!!!!," Areta sangat emosi saat mendengar ucapan Dewi yang semakin tak punya tata Krama itu.
Namun sama sekali aku tak menghiraukan nya, karena aku tak ada hubungan nya dengan mereka. Setelah aku di talak mas Bima, hidup mas Bima sudah bukan urusan ku.
"Sudah-sudah!!!, cukup!!!. Hentikan perdebatan ini!!!, karena ini bukan jalur dari masalah yang sedang kita selesaikan ini!!!. Jadi aku rasa, ibu tidak usah memperkeruh keadaan." ucap pak RT sambil menunjuk Areta dengan kesopanan yang tinggi.
"Dewi!!!, aku panggil kamu kesini itu bukan untuk menyuruh mu merayu pak Bima!!," pak RT juga seperti nya risih dengan tingkah laku Dewi yang ganjen seperti wanita-wanita jal*Ng perebut suami orang.
"Hmm.. Maafkan Dewi, pak. Dewi khilaf, abisnya dia duluan yang berkata sengak pada ku." jawab Dewi dengan wajah kecewa pada pak RT.
"Memang pak RT memanggil Dewi kesini ada apa, pak?," tanya Dewi terlihat sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan pak RT padanya.
Saat aku melirik kearah mas Bima, wajah mas Bima memerah dan dipenuhi dengan peluh keringat yang sebesar biji jagung.
Sedangkan ibu nya mas Bima terlihat duduk dengan sangat tenang, dengan dagu yang terangkat.
"Baik, pak. Terimakasih atas kepercayaan bapak padaku." jawab Dewi dengan sangat bangga nya.
"Silahkan kamu ambil kursi itu, dan duduk disini!!." perintah pak RT pada Dewi.
Dan Dewi pun mengambil satu kursi dan membawanya mendekat pada kami yang sedang duduk saling berhadapan satu sama yang lain.
__ADS_1
"Silahkan acaranya di mulai, pak!." perintah Dewi pada pak RT sambil tangan kanannya mempersilahkan.
Pak RT membacakan semua isi surat-surat rumah ini dengan sangat jelas. Mulai dari nama yang tercantum di dalam surat-surat itu, tanggal pembayaran rumah, nominal harga rumah ini. Tak lupa, pak RT juga membaca isi buku surat nikah ku dengan mas Bima. Mulai dari nama dan tanggal pernikahan ku dengan mas Bima
"Jadi rumah ini bukan milik, mas Bima?," celetuk Dewi dengan suara yang sedikit keras.
"Apa benar yang dikatakan pak RT itu, Bima?!." kali ini ada rasa kecewa di wajah ibu nya mas Bima.
"Sekarang lebih baik kita pergi dari sini, Bu!!." mas Bima menggenggam tangan ibu nya. Terlihat seakan-akan ia akan membawa ibu nya lari dari sini.
"Sebentar, Bim." jawab ibunya mas Bima.
"Ingat ya Sarah!!! Kamu jangan pernah sombong dengan harta yang tak seberapa ini!!!. Aku akan mengingat terus apa yang kamu lakukan hari ini padaku dan Bima. Kamu berhasil membuat ku dan Bima malu di depan khalayak umum." Ucap ibu nya mas Bima dengan suara bergetar dan mata melotot padaku.
"Sekarang juga, suruh kedua orang tua mu mengosongkan rumah yang ia tempati itu. Karena itu rumah yang di beli oleh Bima." ucap ibu nya mas Bima dengan sangat lantang sambil menunjuk kedua orang tua ku yang sedang duduk berdampingan di sebelah ku.
"Asal ibu tau ya, rumah itupun aku yang beli sebelum aku menikah dengan mas Bima!!." ucapku dengan sangat tegas, agar masalah ini tak berlarut-larut dan cepat selesai.
"Daripada kalian akan malu dua kali, lebih baik kalian segera pergi dari rumah ini!!," usirku pada mereka-mereka para geng trouble maker.
"Aku akan mengingat semua perlakuan mu padaku dan pada ibu ku ini, Sarah. Kamu sudah berhasil membuat aku dan ibu ku malu di depan banyak orang. Aku pasti kan, aku akan segera datang kembali untuk membalas semua dendam ku padamu!!!." mas Bima mengancam ku. Terlihat sekali amarah di wajahnya.
"Ayo, Bu!!. Kita pergi dari sini!!!." ajak mas Bima pada ibunya. Lalu mereka berdua berjalan menuju pintu keluar rumah dan di ikuti oleh Areta dan Putri di belakang nya.
Tatapan Putri padaku sangat mengerikan, ini bukan tatapan biasa yang anak SD lakukan.
__ADS_1
Tatapan Putri adalah tatapan yang penuh dengan dendam. Aku yakin Putri tak terima dengan perlakuanku pada mas Bima ayah nya.
Lalu mereka berempat pun pergi dari rumah ini dengan membawa koper dan tas yang berisi semua baju-baju dan keperluan lainnya mas Bima.