
"Bayi kok kerja nya nangis trus, mengganggu orang lagi tidur aja," mama Linda berjalan menuju kamar nya sambil mengomel sendiri.
Ku timang-timang Kean yang masih menangis, ku bawa keluar agar bisa menghirup udara segar. Namun Kean masih saja terus menangis.
Akhirnya ku bawa masuk lagi ke dalam ruang tamu, kupangku Kean dan aku kasih ASI. Alhamdulillah Kean sudah nggak nangis lagi.
Mas Damar keluar dari kamar dengan wajah jutek nya. Dia langsung menuju meja makan untuk sarapan. Terdengar suara piring dan sendok saling bersentuhan.
"Kamu nggak ke kantor, mar?," terdengar suara mama Linda bertanya pada mas Damar.
"Nggak, ma. Damar bangunnya kesiangan," jawab mas Damar sambil mengunyah makanan yang ada di mulut nya.
"Emang Sarah kemana? kok nggak bangunin kamu?," tanya mama Linda lagi.
"Nggak tau tuh si Sarah. Sibuk ngurusin Kean mungkin," jawab mas Damar.
"Sarah!!!!!!", panggil Mama Linda.
"Iya ma, ada apa?, ma kumohon kalau teriak jangan kenceng-kenceng kasian Kean. Dia terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakkan mama," ucapku halus karena takut menyinggung perasaan mama Linda.
"He, kamu ini istri macam apa?! sudah tau jam kerja suami, tapi suami tidur tidak dibangunkan. Apa kamu mau suami kamu dipecat gara-gara telat masuk kerja?!. Lagian ya, ini rumahku terserah aku dong mau teriak kek, mau menjerit kek. Apa urusannya sama kamu?!. Itu anak mu aja yang emang lagi rewel!! Enak aja main salahin aku yang punya rumah!!!!," cerocos mama Linda dengan suaranya yang menggelegar.
"Tadi mas Damar sudah Sarah bangunin, ma. Tapi mungkin karena mas Damar terlalu capek, jadi mas Damar nggak kerasa saat aku bangunin." Jawabku.
"Kamu itu emang paling pintar ya cari alasan!. Damar capek itu juga semua karena kamu!!! Dia cari uang buat kasih makan kamu yang pengangguran di rumah!!!!, Dasar istri tak tau diri kamu!!! Jadi beban anak ku saja!," lagi-lagi mama Linda menghinaku dengan aku sebagai beban hidup mas Damar.
Seandainya kamu tau ma, sekarang Sarah sudah punya penghasilan sendiri dari menulis dan berjualan makanan. Tunggu saja waktu yang tepat, akan Sarah buktikan dengan kesuksesan Sarah.
Aku langsung membawa Kean ke dalam kamar. Karena dia masih menangis. Mungkin masih kaget dengan suara lantang mama Linda tadi.
Setelah Kean ku beri Asi, ia pun tertidur pulas. Ku taruh tubuh kecilnya diatas tempat tidur. Dan segera ku tutup pintu. Biar suara mama Linda tidak terdengar terlalu keras oleh Kean.
Aku mulai duduk samping Kean yang sedang tidur. Ku buka aplikasi novel online, dan aku mulai mengetik bab-bab yang akan aku up hari ini.
Ku coba cek pendapatan ku yang belum aku ambil di novel online, ternyata alhamdulilah hasil menulis novel ku sangat memuaskan. Memang benar kata pepatah usaha tak akan mengkhianati hasil.
Kini saldo yang ada di aplikasi novel online dari hasil menulis ku sudah hampir mencapai lima belas juta. Nominal yang sangat besar bagi ku, karena baru kali ini aku mempunyai uang sebesar itu.
Ingin sekali aku mempunyai usaha dengan uang hasil menulis ini. Iseng-iseng aku juga membuka M-banking, kulihat ada sisa saldo tujuh juta. Setelah tadi sudah aku buat belanja bahan-bahan mentah yang untuk dimasak dan dijual besok.
Sekarang tinggal aku memikirkan bagaimana cara mengembangkan uang ini untuk masa depan Kean.
Tiba-tiba mas Damar masuk ke kamar, tanpa menegur ku dia mengambil jaket yang ada di lemari.
"Mau kemana, mas?," tanyaku.
"Mau keluar cari angin," jawab mas Damar dengan cuek.
"Sekalian belikan kebutuhan nya Kean ya mas, popok sama sama peralatan mandi Kean sudah habis," pintaku pada mas Damar. Karena semua kebutuhan Kean sudah menjadi kewajiban mas Damar untuk memenuhi nya.
"Mana uang nya?," tanya mas Damar sambil menengadahkan tangan nya pada ku.
"Ya pakai uang mu lah, mas. Kean kan anak mu, jadi sudah kewajiban mu memenuhi kebutuhannya," ucapku. Bukannya aku tidak mau mengeluarkan uang untuk kebutuhan Kean anak ku. Tapi aku ingin tau bagaimana tanggung jawab mas Damar kepada anaknya.
"Aku itu nggak ada uang, masih lama gajian nya. Trus aku mau beli pakai apa, Sarah?," ucap mas Damar.
"Bukannya masih dua minggu yang lalu kamu gajian, mas? kok cepet banget habis nya. Emang kamu buat apa aja? Aku aja nggak pernah kamu nafkahi mas," tanya ku dengan santai.
"Kamu jangan bilang kalau aku lalai sama kewajiban ku nafkahi kamu ya, Sarah!. Kamu pikir yang kamu makan setiap hari itu uang dari ibu bapak mu di kampung?!!!! itu yang kamu makan setiap hari adalah dari hasil kerja keras ku setiap hari!!!!," bentak mas Damar seperti orang kesetanan saat marah.
__ADS_1
"Apa, mas? kamu bilang yang aku makan setiap hari itu hasil jeri payah mu? sekarang coba kamu pikir apa kamu pernah memberi uang pada ku untuk belanja setiap hari?," tanya ku.
"Uang itu sudah aku kasih ke mama, biar mama yang mengatur semua keuangan. Karena mama yang lebih ngerti dengan kebutuhan rumah. Kalau kamu yang mengatur keuangan, aku rasa kamu tidak akan bisa karena kamu cuma lulusan SMA. Bisa-bisa nanti uangku habis kamu kasihkan ke orang tua mu di desa!!." ucapan mas Damar berhasil membuat hati ku sakit bak teriris sembilu.
"Tapi sayang nya semenjak mama Linda yang mengatur keuangan mu, mama Linda tak pernah memberi sepeserpun uang kepada ku untuk belanja," ucapku dengan uraian air mata, hati ini terlalu sakit dengan perkataan mas Damar.
"Kamu ini lucu Sarah, kamu kira aku percaya sama ucapan mu?. Seandainya mama tidak memberi mu uang buat belanja, tapi setiap hari selalu terhidang makanan di meja makan. Trus itu pakai uang siapa? Uang kamu? Emang kamu punya uang? Kalau pun kamu punya uang, kamu dapat darimana? kamu aja tak mempunyai skill apa-apa." lagi-lagi ucapan mas Damar berhasil membuat hati ku semakin sakit dengan hinaan nya.
"Susah memang kalau punya istri SDM rendah!!," mas Damar pun keluar dari kamar membawa jaket dan handphone nya yang tergeletak di atas nakas.
"Seandainya kamu tau aku punya penghasilan sendiri, mas. Dan yang kamu makan setiap hari itu adalah hasil kerja kerasku. Apa kamu masih menghina ku seperti ini?," gumamku sendiri.
Terdengar suara mama Linda dari dalam kamar , seperti nya mama Linda minta uang pada mas Damar. Dan mas Damar tak keberatan sama sekali saat memberi mama Linda uang, beda lagi saat aku meminta uang untuk kebutuhan Kean.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV Mama Linda
"Mau kemana, mar?," tanyaku pada Damar saat ia keluar dari kamarnya dengan membawa jaket, wajahnya kelihatan jengkel, sepertinya dia lagi ada masalah.
"Mau keluar, ma." Jawab nya dengan wajah lesu.
"Oya, mar. Mama minta uang lagi, lipstik mama Uda habis mar." pinta ku pada Damar.
"Ma, kan baru kemarin Damar kasih mama uang lima juta. masak sekarang minta lagi, Damar nggak ada yang ma." jawabnya.
"Uang lima juta kemarin Uda habis buat arisan, Mar. Harga lipstik nggak mahal kok. Masak kamu perhitungan banget sama mama, coba saja ada Lidya pasti mama langsung dikasih." ucapku sedikit memelas, karena aku tau titik kelemahan Damar. Cukup dengan mengatakan kebaikan-kebaikan ku dulu yang menyekolahkan, pasti dia akan luluh.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya dia lembar seratus ribuan disodorkan ke tanganku. Tanpa banyak berpikir, langsung aku ambil uang itu.
Lalu Damar pergi dengan menggunakan taksi online, karena mobilnya di bawah Lidya ke kantor.
Lalu taksi online yang aku pesan pun sudah datang, mungkin kalau Damar punya mobil satu lagi akan lebih mudah untuk ku saat aku ingin keluar rumah.
Biar nanti saja ku bujuk Damar untuk membeli mobil lagi. Aku menuju mall besar yang ada di kota ini, berjalan-jalan sendiri tanpa teman itu sangat membosankan.
Setelah aku membeli satu pieces lipstik brand ori, aku keluar dari outlet. Saat aku memasukan lipstik kedalam tas, tak sengaja aku menabrak seseorang.
Bruuukkkk.....
Aku pun terjatuh,
"Hmmm maaf maaf..," ucap lelaki yang tinggi besar itu. Belum jelas dengan wajahnya.
Dan dia menolong membangun kan tubuh ku yang terjatuh dilantai.
Setelah aku berdiri sejajar dengannya, dan dia membuka kaca mata hitamnya. Betapa terkaget nya aku. Ternyata dia bayangan lama yang tak bisa aku lupakan sampai saat ini.
"Handoko?," tanyaku memastikan kalau memang dia Handoko orang yang ada di masa lalu ku dulu sewaktu aku SMA.
"Linda?," tanyanya juga, suaranya membuat ku terlena. Begitu berat dan berwibawa.
"Kamu benar Handoko Wijaya kan? Begitu lama kita tak pernah ketemu Han. Kamu tetap seperti yang dulu, tampan, gagah dan berwibawa," ucapku.
Walau aku tak pernah ketemu secara langsung seperti ini dengan Handoko. Tapi aku masih cari tau tentang kehidupan nya sekarang.
"Iya Lin, ternyata kamu masih ingat dengan ku. Kamu dengan siapa kesini Lin?," tanya Handoko.
"Aku sendirian, Han. Kamu sendiri?," tanyaku balik.
__ADS_1
"Aku lagi jalan bersama anak ku, mumpung dia lagi di sini. Jadi sebisa mungkin ku habiskan waktu bersamanya," jawab Handoko.
"Jadi kamu kesini bersama Celvin?," tanyaku.
"Kamu tau Celvin?," Handoko bertanya balik pada ku.
"Hmm iya, aku tau. Siapa yang nggak tau tentang kehidupan seorang Handoko orang terkaya di kota ini," jawab ku sambil tersenyum kepada nya.
Terakhir kali aku ketemu Handoko saat kita sama-sama lulus SMA. Karena setelah lulusHandoko harus kuliah di luar negeri. Handoko adalah cinta pertama ku, tapi sayangnya dia lebih memilih teman ku Aliana untuk menjadi kekasih nya. Hingga saat ini mereka berdua di karuniai seorang anak yaitu Celvin.
Dan Celvin dulu juga satu kampus dengan Lidya. mereka juga sempat dekat, namun mereka berpisah saat Celvin harus melanjutkan S2 nya diluar negeri.
Berita terakhir yang aku dengar Aliana meninggal dunia karena kecelakaan. Mungkin saja saat ini Handoko masih menduda. Sepertinya masih ada jalan buatku menuju hati nya.
Kalau pun aku tak bisa mendapatkan hati Handoko, Lidya harus bisa mendapatkan Celvin. Karena Celvin adalah pewaris tunggal kekayaan Handoko, yang tak akan habis untuk tujuh turunan sekali pun.
"Hidupku akan berubah kalau aku bisa masuk di keluarga Handoko," ucapku dalam hati.
"Lin...Linda? apa kamu baik-baik saja?," tanya Handoko membuyarkan lamunanku.
"o. ii iya, aku baik-baik saja. Sekarang Celvin dimana?," tanyaku. Karena aku sangat penasaran dengan wajah Celvin yang bisa membuat Lidya ngamuk dirumah pada saat dia tau Celvin bersama wanita lain.
"Itu, dia masih di dalam outlet sepatu," Handoko menunjuk satu outlet sepatu brand terkenal di dunia.
Kebayang kan, seandainya aku masuk di keluarga Handoko. Mungkin membeli barang branded seperti membeli kacang goreng. Tanpa harus mikir uang dari mana.
Melihat dan bertemu lagi dengan Handoko membuat ambisi ku untuk memilikinya semakin besar.
"Kamu mau minum dulu? Kalau mau, ayo kita kesana. Sambil nunggu Celvin." Ajak Handoko dengan menunjuk resto terkenal mahal di mall ini.
"Alamak.... pucuk dicinta ulam pun tiba. Ini yang aku harapkan mulai dari tadi," ucapku dalam hati.
"Minum? hmm boleh," jawab ku malu-malu padahal mau.
Lalu aku dan Handoko jalan beriringan, sungguh serasi sekali. Serasa suami istri.
"Coba dulu kamu sama aku, Han. Kamu nggak akan menduda seperti ini," batinku.
"Ayo silahkan duduk, biar aku panggil pelayan agar dibawakan list menu nya," tunjuk Han pada kursi kosong yang berhadapan dengannya.
Padahal ingin ku, kursi yang mau aku duduki ditarik kan oleh dia. Biar tambah kelihatan keromantisan nya.
Aku pun duduk di kursi yang di tunjuk oleh Han. Dan pelayanan membawa list menu yang ada di resto ini.
"Kamu pesan aja dulu, mana yang kamu suka. Aku mau telepon Celvin dulu agar dia nanti menyusul ku disini," ucap Han dengan menyerahkan selembar list menu.
Saat Han sedang menelpon anaknya, ku amati dan ku baca satu per satu menu-menu yang ada disini. Dan kulihat harganya membuat aku ingin menangis. Karena ada satu menu yang harganya bisa dibuat belanja selama seminggu.
Jujur saat membaca daftar menu-menu ini aku tidak tahu makanannya. Jadi aku bingung mau makan yang mana.
"Gimana Lin, kamu sudah pesan makanan nya?," tanya Han yang terlihat memasuk kan handphone nya kedalam saku celana nya.
"Belum, Han. Aku bingung mau pesan yang mana." jawabku malu, karena pasti aku kelihatan katrok nya.
"Apa aku aja yang pesan kan?," tanya Han lagi. Sepertinya dia tau kalau aku memang tak pernah makan di resto ala kebarat-baratan ini. Sehingga dia menawarkan diri untuk memilih kan menu untuk ku.
Aku pun mengiyakan nya, dan akhirnya aku makan menu yang dipilih kan oleh Han.
"Oh betapa so sweet nya kamu kepada ku, Han. Ku rasa kamu dulu juga suka padaku. Tapi Aliana berhasil merebut mu dari ku," sekali lagi aku ber ucap dalam hati.
__ADS_1