DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
POV Veni


__ADS_3

"Kamu ingat kan pesan mami?, yang mami melarang kamu untuk berteman dengan siapa?," tanya ku mencoba mengetes daya ingat Kay.


"Kay ingat mami, mami melarang Kay berteman dan bermain dengan Kean kan?," ucap Kay.


"Sebenarnya Kean itu baik loh, mi. Kay suka sekali bermain dengan nya." ucap Kay membela anak perempuan s*alan itu.


"Pokoknya kalau mami melarang mu jangan bermain dengan nya, kamu harus mengikuti apa yang mami ucapkan!!," ucapku pada Kay dengan sedikit menekan nya.


Lalu ku alihkan pandangan ku pada Sarah, setelah aku memperingatkan kan Kay. Namun keberadaan perempuan itu sudah tak ada di tempat nya.


Kini Kay, sudah berjalan masuk ke dalam kelasnya. Dan aku segera berjalan keluar dari sekolah ini menuju mobil ku yang terparkir di depan sekolah.


"Sis, maafkan ya aku lama." ucapku pada Siska yang sedang menunggu ku, ia berdiri di samping mobil yang terparkir.


"Tumben kamu minta maaf?, Biasanya juga kamu nggak peduli, walaupun aku harus menunggu mu berjam-jam lama nya." ucap Siska padaku.


Memang sih, aku orang yang tak peduli dengan hal-hal kecil seperti itu. Entah dia mau menunggu ku berjam-jam, aku tak pernah meminta maaf. Menurut ku, itu suatu tindakan uang lebay.


Namun berbeda untuk saat ini, aku harus bisa mengambil hati Siska. Karena aku takut kalau Siska sewaktu-waktu akan menagih uang itu padaku. Jadi aku harus terus berbuat baik pada nya.


"Kamu kan teman ku, masa sih aku nggak peduli." jawabku sambil tersenyum manis pada Siska.


Lalu aku dan Siska masuk kedalam mobil. Kali ini tujuan kita mau mencari sarapan. Karena saat berangkat tadi, perut ku belum terisi sama sekali.


"Kita cari sarapan aja ya, Sis?," ucapku pada Siska.


"Sarapan apa?," tanya Siska.


"Bibir ayam gimana?," usulku.


"Nggak ah.. aku lagi nggak pingin bubur ayam." jawab Siska menolak usulan ku.


"Trus kamu mau nya apa?," tanya ku. Kesal juga sih pada Siska, padahal pagi ini aku sangat ingin sekali sarapan bubur ayam yang pakai telur, trus terlur nya diaduk menjadi satu. Duh.. aku sudah ngiler membayangkan nya. Namun aku harus menelan ludah, karena Siska menolak usulan ku tanpa basa basi.


"Aku pingin nya sarapan bolu coklat nya SKcake." jawab Siska.


Ih apa-apaan sih Siska ini?, kenapa harus kue nya SKcake. Padahal toko kue di kota ini sangat banyak, kenapa harus di SKcake.


Memang sih semua kue, roti dan bolu yang di jual di SKcake tak pernah gagal kalau soal rasa. Namun aku sangat benci bertemu dengan Sarah disana.


Baru saja mood ku sudah kembali bagus, eh... sekarang hancur lagi gara-gara ingat nama perempuan si*lan itu!!


"Kenapa harus SKcake sih, Sis? Bukan kah toko roti di kota ini banyak?," tanya ku lagi, siapa tau Siska berubah pikiran untuk tidak membeli kue dan bolu di toko roti tempat Sarah bekerja itu.


"Ya terserah kamu ajalah!," jawab Siska dengan wajah penuh kecewa.


Drrrttttt


Drrrttttt


"Siapa lagi yang telpon sepagi ini?!," gerutu ku saat handphone didalam tas ku berbunyi.


"Ternyata si nenek lampir yang menelepon ku." gumamku sendiri.


"Kenapa, Ven?," tanya Siska. Mungkin Siska mendengar suara aku yang sedang menggerutu.


"Enggak kenapa-kenapa kok, Sis!," jawab ku sambil tersenyum pada Siska.


"Assalamualaikum, Bu." ku ucap salam pada ibu mertua ku yang sangat banyak mau nya itu.

__ADS_1


"Kamu lagi dimana?, apa kamu lagi mengantarkan Kay kesekolah?," tanya ibu nya mas Awan yang super cerewet itu.


"Iya, Bu. Veni sekarang masih ada di depan sekolah Kay. Memang kenapa, Bu?," tanya ku dengan suara sangat manis dan ramah.


"Aku mau minta kamu mengantarkan aku ke toko perhiasan." ucap ibu dari sambungan telepon.


"Sekarang?," tanya ku lagi.


"Iya, lah. Masak sepuluh bulan lagi?!," jawab ibu dengan suara ketus. Jujur saja aku sebenarnya sangat malas mengantar ibu nya mas Awan ini.


Tapi mau gimana lagi? aku harus bisa mengambil hati nenek tua yang cerewet itu.


"Iya, Bu. Sebentar lagi Veni akan menjemput ibu." jawab ku dengan sangat terpaksa.


Lalu telepon pun segera aku tutup setelah berpamitan dan mengucapkan salam.


"Kenapa, Ven? kok mukanya di tekuk gitu?, awas lho nanti kamu cepat tua." ledek Siska.


"Duh, bete banget!! Pingin jalan-jalan sendiri ngilangin setres. Eh.... malah mertua ku yang super cerewet minta antar ke toko perhiasan." ucapku pada Siska.


"Wah... kebetulan kalau begitu. Kita sekalian aja kesana." jawab Siska.


"Karena aku mau beli gelang." lanjutnya.


"Ya sudah lah kalau gitu, ayo kita berangkat jemput ibu mertua ku yang super nyebelin itu!," gumamku. Lalu kita berdua masuk kedalam mobil.


Terdengar suara handphone ku berbunyi lagi. "Sis, tolong dong ambilkan handphone ku di dalam tas." aku meminta tolong pada Siska, untuk mengambil kan handphone ku. Karena saat ini posisi ku sedang fokus memegang setir mobil.


"Ini Ven." Siska menyodorkan handphone Boba yang berwarna putih yang ia ambil dari dalam tas ku. Aku membeli handphone ini setelah melihat handphone milik Sarah.


Masa iya aku kalah dengan perempuan yang hanya jadi pelayan toko roti. Jadi bagaimana pun caranya, aku harus punya handphone yang seperti punya Sarah. Kalau bisa harus ada di atas dari milik Sarah.


"Ada apalagi, sih?!, kok telepon-telepon lagi?!," gerutuku dengan kesal.


"Iya, Bu?,' tanyaku dari sambungan telepon.


"Kamu ini kemana saja sih, Ven. Ini ibu sudah menunggu mu dari tadi!!," ucap ibu nya mas Awan.


"Ini Veni masih di jalan, Bu. Kan Veni dari sekolah Kay." jawabku dengan sangat kesal. Di kira aku ini terbang yang bisa dengan cepat sampai dirumah nya? Sungguh benar-benar menyebalkan.


"Cepetan, kamu itu jangan lelet jadi perempuan. Yang sat set gitu loh!!," ucap nya.


"Iya, Bu." jawabku lalu dengan sengaja telepon pun aku tutup tanpa berpamitan terlebih dulu.


"Dikiranya aku ini punya ilmu kesaktian yang bisa berjalan dengan cepat, apa?!!," ucap ku dengan sangat emosi..


"Kalau bukan karena aku ingin dia selalu membela ku, aku nggak akan mau di perbudak sama perempuan tua bangka itu!!," kali ini ucapan ku di ikuti dengan tangan ku yang memukul gagang setir mobil ku.


"Auuw...!," jerit ku kesakitan. Tangan ku terasa sangat sakit setelah aku pakai untuk memukul gagang setir ini.


"Kamu ini kenapa sih, Ven? dari tadi setelah menerima telepon kok uring-uringan terus?," tanya Siska lagi. Rupanya Siska masih belum mengerti dengan apa yang aku alami.


"Aku itu sebel banget dengan ibu nya mas Awan." ucapku dengan bibir ku manyunkan.


"Hussst... jangan bilang gitu. Bukankah itu mertua mu?," ucap Siska yang sok bijak. Padahal aku sangat yakin kalau dia yang menjadi menantu nya, Siska tak bakal sanggup untuk bertahan lama di keluarga itu.


"Memang dia mertua ku, tapi dia itu perempuan tua yang sangat cerewet dan menyebalkan." ucapku dengan sangat sebal. Dan Siska hanya tersenyum saat melihat ku marah-marah sendiri.


Kini mobil ku sudah terparkir di depan rumah ibu mertua.

__ADS_1


Aku segera turun dan masuk kedalam rumah, kukira dia sudah siap menunggu di depan rumah. Namun ternyata di teras tak ada orang sama sekali.


"Bu, ibu...." panggilku dengan terus berjalan masuk kedalam. Dan rupanya di dalam ruang tamu pun tak ada siapa-siapa.


"Mbak, mbak Ambar..!," kali ini aku memanggil mbak Ambar, karena beberapa hari ini mbak Ambar menginap dirumah ibu, selama suaminya masih diluar kota.


"Kenapa harus teriak-teriak sih?!," ucap ibu yang keluar dari kamar.


Betapa kagetnya aku, ternyata ibu masih memakai daster dengan rambut yang acak-acakan.


"Ibu belum siap-siap?," tanyaku dengan wajah kaget.


"Ya belum lah, kamu aja baru sampai!," gerutu nya.


"Veni kira ibu sudah siap dan kita langsung berangkat." jawabku.


"Aku ya nunggu kamu datang dulu, baru mandi dan ganti baju." ucapnya dengan wajah seperti tak punya salah.


"Tapi kenapa ibu menyuruhku cepat-cepat?," tanyaku dengan sangat kesal dengan sikap mertua yang begitu menyebalkan ini.


"Seharusnya, waktu aku belum sampai. Ibu bisa mandi dulu dan ganti baju. Jadi kalau aku sudah sampai seperti ini, kita tinggal berangkat saja. Kan enak Bu, jadi mempersingkat waktu." lanjutku. Sengaja kali ini aku membantah nya.


"Kamu ini kok cerewet banget sama mertua. Seharusnya kamu itu nurut saja sama mertua. Aku ini mertua mu sama dengan orang tua mu, jadi kamu jangan ngatur-ngatur orang yang lebih tua darimu!," ucapnya dengan berkacak pinggang.


"Ya sudahlah, sekarang ibu mandi saja." ucapku pasrah, karena saat ini aku sangat malas berdebat dengan nya. Kini mood ku kembali hancur, saat melihat sikap mertua yang egois.


Ibu pun akhirnya pergi kebelakang untuk ke kamar mandi.


Dan segera ku ambil handphone di dalam tas. Ku cari nomor telepon mas Awan.


"Halo, mas." sapa ku setelah panggilan telepon ku diangkat.


"Ada apa, Ven?," tanya mas Awan dengan suara yang tak bersemangat.


"Transfer uang sekarang juga, mas!!. Ibu mu meminta aku mengantarkan nya ke toko perhiasan. Aku yakin dia akan membeli perhiasan emas dengan harga yang lebih besar dari uang yang ia miliki. Dan akhirnya aku lah yang akan menambah kekurangan nya." ucapku pada mas Awan.


Karena aku sangat hafal dengan karakter ibunya mas Awan.


"Tapi aku tak ada uang, Ven." ucap mas Awan dari sebrang telepon.


"Trus apa yang aku pakai nanti kalau ibu mu menyuruhku membayar sisanya, mas?!," suara ku agak meninggi karena pikiran ini sudah sangat emosi.


"Emang kamu nggak ada tabungan?," tanya mas Awan.


"Tabungan darimana mas?, kamu aj jarang memberi ku uang!," ucapku.


"Kamu sih jadi perempuan kok boros sekali. Kamu itu harus pintar-pintar mengatur uang." ucap mas Awan pelan tapi berhasil menyakiti hati ku.


Telepon pun ku tutup secara sepihak, karena hati ini sakit saat ia berkata seperti itu.


Aku keluar dari rumah ibu mertua, untuk menghampiri Siska yang sedang menunggu ku di dalam mobil.


"Sis, maaf ya lama. Ibu masih mandi." ucapku dengan lemas. Rasanya tenaga ku sudah habis setelah mendengar ucapan mas Awan.


"Hah? mertua mu masih mandi?, bukan kah tadi kata mu dia sudah siap dan menunggu mu?," tanya Siska dengan wajah kagetnya.


"Ternyata ia menunggu ku dalam keadaan belum mandi. Ia akan mandi dan bersiap-siap kalau aku sudah ada di sini." jawabku. Aku pun duduk di dalam mobil di sebelah Siska.


"Tapi kenapa kamu sedih seperti itu, Ven?, jangan terlalu di ambil hati ucapan mertua mu Ven. Anggap aja angin lalu. Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri." ucap Siska memberi saran padaku.

__ADS_1


Sejujurnya aku tak terlalu mengambil hati ucapan ibu mertua ku, aku juga tak pernah sesedih ini dengan caci makian ibu mertua ku.


Yang membuat hati ku sakit banget adalah ucapan dari suamiku sendiri.


__ADS_2