
"Sabar donk, sayang. Kenapa harus terburu-buru, setelah ini kita akan pulang bersama." ucap mas Bima dengan berjalan memutari tubuhku yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.
"Kean mana, mas?," tanya ku dengan suara bergetar menahan tangis. Sekuat mungkin aku menahan air mata ini agar tak jatuh.
Karena dengan jatuh nya air mata ini, mas Bima akan memandang ku wanita lemah dan dengan seenak hatinya ia memperlakukan ku.
"Kenapa sekarang kamu tak menjadi wanita yang sabar, sih!!, Aku masih menikmati keindahan dan kecantikan wajah dan tubuh mu Sarah!!, jadi ku mohon, kamu berdiam diri saja disini." bisik mas Bima tepat di telinga ku, dan kedua tangannya memeluk tubuh ku dengan erat dari belakang.
"Aku sangat merindukanmu, Sarah." bisiknya lagi di telinga ku.
Dan sesekali mas Bima mencium pipi ku, Kali ini bukan hasrat yang aku rasa melainkan rasa jijik yang teramat sangat pada mas Bima.
Dan mas Bima berusaha menci*m bibir ku, tapi dengan cekatan aku pun menghindar, agar bibir ku dan bibirnya tidak saling bertemu.
Dan tangan mas Bima mulai meraba-raba tubuhku, tangan nya mulai bergerilya di daerah sensitif ku. Dan dengan sangat cepat, tangan kiri ku memegang tangan mas Bima yang kini sudah mendarat tepat di kedua buah d*daku. Karena tangan kanan ku saat ini masih memegang handphone. Jadi dengan sekuat tenaga tangan kiri ku mencegah tangan mas Bima.
"Apa Kean baik-baik saja, mas." ucapku dengan sangat pelan, ingin bergerak rasa nya susah karena tubuh ini di peluk sangat erat oleh mas Bima.
"Kenapa Kean, Kean dan Kean yang kamu khawatir kan?!! , Sedangkan kamu tak memperdulikan aku sama sekali!!!," mas Bima terlihat sangat marah dengan mata melotot.
"Aku juga butuh di perhatikan, sama seperti Kean. Aku ini suami mu Sarah!!!, Jadi sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya!!," emosi mas Bima sudah memuncak, sehingga ia memeluk tubuhku semakin erat. Sampai untuk bernafas pun rasa nya begitu susah.
"Aku tak bisa bernafas, mas. Tolong lepaskan aku, biarkan aku bertemu dengan anak ku." ucapku dengan pelan.
"Aku akan melepaskan mu, asal kita pulang bersama di rumah kita berdua." ucap mas Bima sambil mencium kepalaku.
"Jangan pernah kamu menolak ku!!," bisiknya namun penuh penekanan.
Kini aku dan mas Bima berjalan keluar menuju mobil ku yang terparkir di depan rumah mas Bima.
"Kean mana, mas?," tanyaku.
"Kita pulang tanpa Kean, Sarah!!," mas Bima meremas tangan ku sangat erat.
"Tidak mas!!!! Aku mau pulang, tapi harus dengan Kean!!," aku mencoba memberontak dari tangan mas Bima.
"Sarah!!!! Aku harus patuh padaku!!!," bentak mas Bima.
"Kean...Kean... Kean ...keluarlah nak. Amma ada diluar!!!," aku berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Percuma kamu berteriak, Kean tak akan mendengar nya!!," mas Bima meremas semakin erat tangan ku.
"Kean...Kean...Kean....!!! Kean... Kean...Kean...!! Ayo kita pulang nak?!!." suara ku semakin kencang.
"Diam...!!!!!," mas Bima berteriak dan tak mau kalah dengan ku. Serta tangannya semakin erat memegang pergelangan tangan ku.
"Diam kamu Sarah!!!, tolong jangan macam-macam padaku agar aku tak melakukan hal yang lebih kejam dari ini." bisik mas Bima.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Kean, mas. Tolong pertemukan aku dengan nya dan kita bertiga pulang bersama." aku mencoba membujuk mas Bima.
"Bukan aku tak mau mempertemukan mu dengan Kean, Sarah. Tapi aku takut kamu akan meninggalkan aku kalau kamu sudah bersama Kean." ucap mas Bima dengan air mata yang mengalir di pipi nya.
Sebenarnya aku bingung dengan lelaki yang ada di depan ku ini. Kalau memang dia mencintai ku, tapi kenapa mas Bima berselingkuh dengan mantan istrinya?.
"Kenapa kamu menangis seperti itu, mas?," tanyaku.
"Aku sangat mencintaimu, Sarah. Aku nggak mau kehilangan mu. Aku mau kamu jadi milikku untuk selamanya." jawab mas Bima dengan merenggangkan cengkraman tangan nya.
"Sama, mas. Aku juga sangat mencintai mu, yang aku inginkan adalah kita hidup bersama dengan anak-anak kita seperti sebelumnya." ucapku pada mas Bima.
"Benarkan dugaan ku? Aku sangat yakin kalau kamu sebenarnya sangat mencintai ku." ucap mas Bima dengan sangat percaya diri.
Dan aku menganggukkan kepala ku, mengiyakan apa yang diucapkan oleh mas Bima.
"Aku bahagia kalau kamu seperti ini, sayang. Aku tak bisa menolak permintaan mu yang satu ini, Sarah." jawab mas Bima.
"Kalau begitu mari kita pulang sekarang, mas!," ajakku pada mas Bima.
"Ayo Sarah!!!," jawab mas Bima dengan mata dan wajah yang berbinar bahagia.
"Panggil Kean, kita ajak Kean pulang bersama kita." ucapku dengan sangat hati-hati.
"Sebentar ya Sarah. Kamu tunggu aku di sini." ucap mas Bima sambil memegang kedua pundak ku lalu ia mencium keningku.
Kini mas Bima masuk kedalam rumah, membuat hati ini terasa lega.
"Huuuufft...." ku buang nafas besar secara kasar. Sehingga membuat ruangan di dada menjadi sedikit longgar.
Segera aku mengirimkan pesan pada Sinta, menceritakan semua yang terjadi padaku saat ini. Namun Aku meminta agar Sinta tak membalas pesan dari ku. Karena takut mas Bima tau, kalau aku menceritakan semua yang terjadi sekarang ini.
__ADS_1
"Amma...." dari dalam rumah ibu, Kean berlari kepada ku dan di ikuti oleh mas Bima dibelakang nya.
"Sayang!!, kamu darimana saja?, amma cari kamu loh." ucapku pada Kean sembari memeluk erat tubuh mungil anak lelaki ku.
"Kalau begitu, ayo kita pulang Sarah!," ajak mas Bima.
Dan aku menganggukkan kepala pada mas Bima, dengan wajah takut.
Kita bertiga pun berjalan keluar dari rumah ibunya mas Bima menuju mobilku yang terparkir di seberang jalan.
"Aku sangat bahagia, Sarah. Karena kamu mau bersama ku lagi. Ha ha ha!," ucap mas Bima dengan di ikuti tawa di akhir kalimat nya. Membuat ku semakin takut pada mas Bima.
Aku harus benar-benar berhati-hati dengan sifat Spikopat nya. Karena aku sangat yakin, kalau mas Bima bisa melakukan hal yang lebih nekat daripada ini.
Sampai di teras rumah, bertapa kagetnya aku, melihat isi tas dan koper mas Bima berantakan dan berserakan seperti sampah.
"Siapa yang melakukan ini, mas?!," tanyaku.
"Maafkan aku, sayang. Biar aku yang akan membereskan nya." jawab mas Bima.
Aku yakin dia lah pelakunya, karena mendengar ucapannya tadi, secara tidak langsung dia mengatakan bahwa dia tang telah memporak porandakan isi tas dan koper miliknya.
Pintu rumah ku buka dengan kunci yang ku bawa. Kali ini aku tak mengatakan pada mas Bima, kalau kunci cadangan yang ia bawa telah ku ambil.
"Kenapa kunci cadangan rumah ini yang ada pada ku tidak ada ya?," tanya mas Bima sambil berjalan masuk kedalam rumah.
"Mungkin kamu lupa menaruhnya, mas." jawabku, sebisa mungkin wajah ini aku buat biasa saja. Agar mas Bima tidak mencurigai ku.
"Sarah, aku lapar!," ucap mas Bima.
"Tunggu sebentar ya, mas. Biar aku memasakkan mu setelah menaruh Kean di kamar nya." ucapku dengan menggendong Kean yang tertidur pulas.
"Baik lah, kalau begitu aku mandi dulu." pamit mas Bima yang langsung masuk kedalam kamar.
Aku menganggukkan kepala pada mas Bima. Dan setelah mas Bima tak terlihat. Aku segera masuk kedalam kamar Kean, untuk merebahkan tubuh kecilnya.
Tak henti-hentinya aku menciumi pipi Kean, dan ku peluk erat tubuhnya sambil menangis saat teringat apa yang terjadi tadi saat ia dibawa mas Bima.
"Ini semua karena keteledoran ku." gumam ku menyalahkan diri ku ini sendiri.
__ADS_1
Aku tak bisa membayangkan kalau seandainya terjadi sesuatu pada Kean, mungkin aku akan lebih nekat dengan apa yang telah mas Bima lakukan tadi padaku.
Kini aku mulai masak untuk makan malam mas Bima, setelah menidurkan Kean yang terlihat sangat lelah sekali.