
Dan Veni terus masuk kedalam rumah, karena ia mendengar suara televisi yang lumayan keras.
Veni terus memanggil mertua nya. Namun tetap tak ada jawaban. Saat sampai di ruang televisi, ternyata ada Putri yang sedang tertidur saat nonton televisi.
"Put, bangun." Veni mencoba membangun kan Putri dengan memanggil-manggil namanya dan menggoyang-goyangkan tubuh Putri.
Dan Putri pun terbangun, "Bude?," sapa Putri pada Veni yang saat ini berada di depan nya.
"Nenek kemana, put?," tanya Veni saat Putri baru membuka mata.
"Nenek keluar bersama bude Ambar, Bude." jawab Putri sambil mengucek kedua matanya.
"Ya sudah, bude numpang ke kamar mandi dulu." Ijin Veni, lalu ia berdiri dan berlari kecil menuju kamar mandi. Karena ia sudah tak bisa menahan nya lagi.
Lalu Putri kembali merebahkan tubuhnya lagi diatas sofa yang ada di depan televisi.
Setelah selesai kekamar mandi, Veni pun berjalan menuju ruang televisi. Veni melihat Putri yang kembali tertidur lagi di atas sofa.
Lalu fikiran Veni mulai berputar, tiba-tiba muncul ide yang sangat bagus dari otak Veni.
Sebelum Veni menjalankan ide nya, ia memastikan kalau Putri sudah benar-benar terlelap dalam tidur nya.
Veni mencoba melambaikan tangan nya di depan mata Putri yang terpejam. Namun tak ada reaksi sama sekali dari putri. Itu tandanya kalau Putri memang benar-benar sudah tidur dengan sangat pulas.
Lalu Veni pun berlari menuju pintu depan, ia mengeluarkan sebagian kepala nya dan mengedarkan pandangan nya ke arah jalan untuk memastikan tak ada orang yang akan datang kerumah mertuanya itu.
"Aman." gumam Veni, saat tak melihat seseorang pun di depan rumah Laras. Yang ada hanya mobilnya Veni sendiri yang terparkir di bibir jalan.
Karena memang Veni hanya berencana untuk menumpang ke kamar mandi saja, setelah itu ia langsung pulang. Jadi Veni sengaja tak memasukkan mobilnya ke halaman rumah mertuanya.
Setelah dirasa diluar sudah aman, Veni segera menutup pintu itu dan mengunci nya dari dalam. Agar tak ada seorang pun yang bisa masuk kedalam rumah mertua nya ini.
"Ini lah saat ya aku beraksi." gumam Veni dengan semangat empat puluh lima.
Lalu ia masuk kedalam kamar milik mertua nya itu, ia mencoba membuka lemari. Namun sayang nya lemari pakaian milik Laras, mertua nya itu di kunci. Dan kunci nya tak ada di sana.
__ADS_1
"Sial!!, seperti nya kunci lemari ini sudah di bawah oleh tua bangka itu." gerutu Veni dengan sangat pelan. Takut suaranya bisa membangun kan Putri dari tidur nya.
Lalu Veni meninggalkan lemari pakaian itu, kini ia beralih pada meja rias yang terbuat dari kayu jati yang sengaja di beri cat warna coklat. Agar mirip dengan warna kayu nya sendiri.
Veni mulai membuka laci meja rias itu dengan sangat hati-hati, agar tak menimbulkan suara. Veni sangat takut Putri bangun dan memergoki yang ia lakukan saat ini.
Veni melakukan ini dengan modal nekat demi untuk membebaskan kekasih hatinya, yang tak lain adalah adik kandung suaminya alias adik ipar Veni.
Namun lagi dan lagi, didalam laci itu dia tak menemukan apapun. Berkali-kali ia memeriksa laci itu, berharap menemukan sesuatu yang berharga. Paling tidak ia menemukan kunci lemari pakaian Laras.
Veni sangat penasaran sekali dengan isi lemari itu, dalam pikiran Veni, seperti nya semua harta dan benda-benda berharga seperti perhiasan dan sertifikat rumah milik Laras, pasti ada didalam lemari.
Veni tak pernah berputus asa untuk mencari tahu dimana keberadaan benda-benda penting itu saat ini.
Uang terpenting saat ini adalah, bagaimana cara untuk mengeluarkan Bima dari dalam sel.
Veni tak habis pikir, dengan pola pikir ibu nya Bima yang tidak lain adalah ibu mertua nya sendiri.
Biasa nya orang tua akan mementingkan kebutuhan anak nya dulu, apalagi di posisi yang darurat seperti ini.
Veni seperti nya sudah berputus asa, karena ternyata selama pencarian nya. Veni tak menemukan apa-apa.
Rasa kecewa di hati Veni pun ada, karena kerja kerasnya dari tadi tidak ada hasilnya.
Veni memutus untuk duduk di bibir ranjang milik Laras mertuanya itu. Ia membuang kasar nafas besar nya. Yang bertujuan untuk menenangkan hati nya yang sedang gusar.
Pikiran ini Sudah seperti jalan buntu yang tak bisa berpikir kemana-mana.
Veni pun memutuskan untuk berhenti mencari itu di kamar Laras. Dia pun berencana mencoba mencari sesuatu di kamar Ambar.
Walau Veni yakin, kalau sertifikat rumah ini Laras lah yang memegang nya. Laras tak akan dengan mudah memberikan sertifikat tanah itu kepada orang lain sekalipun itu anaknya sendiri.
Lalu Veni beranjak dari duduknya, untuk menuju kamar Ambar.
Namun tiba-tiba, tak sengaja tangan nya menjatuhkan kan sesuatu dari bawah bantal.
__ADS_1
pluk...
Veni pun kaget dengan suara yang tak begitu keras itu, dia takut Putri akan mendengar nya. Sehingga dia bangun, dan memergoki Veni di kamar Laras.
Lalu mata Veni tertuju pada benda kecil jatuh, yang di akibat oleh tangan nya itu.
Dan seperti melihat harta Karun, mata Veni berkaca-kaca saat melihat benda kecil itu yang saat ini masih ada diatas lantai.
"Alhamdulillah..," gumam Veni lirih sambil berjongkok untuk mengambil benda yang jatuh itu.
"Semoga saja ini cocok." gumamnya lagi.
Veni pun segera mengambil kunci yang jatuh karena geseran tangan Veni.
Tidak membuang-buang waktu, Veni pun dengan sangat pelan. Agar tidak menimbulkan suara gaduh, Veni membuka pintu lemari itu dengan kunci yang ia temukan di bawah bantal.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Veni saat tangan nya mencoba memutar kunci yang gandeng dua itu.
Betapa bahagia hati Veni, saat pintu lemari itu akhirnya terbuka.
"Tuhan, ternyata engkau mempermudah semuanya." gumam Veni lagi.
Veni pun langsung mencari apa yang ia pikirkan dari tadi. Ia mulai mengangkat tumpukan baju-baju Laras yang sangatlah banyak itu.
Namun dibawa lipatan baju, Veni tak menemukan apapun. Di bawah lipatan baju sangat bersih, tak ada benda yang Laras simpan situ.
Kini mata Veni tertuju pada satu laci kecil yang ada didalam lemari pakaian Laras.
Veni segera berjongkok, untuk mendekatkan diri dengan laci itu. Karena letak laci itu ada di bagian bawah lemari pakaian milik Laras.
Lagi-lagi dengan sangat pelan, Veni membuka laci itu. Dan Veni sangat lihai dalam hal itu. Saat Veni membuatnya, sungguh tak mengeluarkan suara.
Dan kini usahanya sudah ada harapan. Ternyata di dalam laci itu terdapat beberapa mal kertas warna-warni.
Dan Veni sangat yakin salah satu dari map itu, ada sertifikat rumah ini.
__ADS_1