DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Dilema


__ADS_3

Pagi ini Sarah kebingungan, karena Kean badan nya panas dari semalam. Karena takut Kean kejang, Sarah membawa nya ke rumah sakit.


Toko pun dipasrahkan kepada para karyawan nya. Ia berangkat sendiri tanpa di temani pengasuh Kean. Kebetulan hari ini pengasuh Kean tidak masuk kerja, karena ada kepentingan.


Ia segera membawanya setelah Sarah mengganti baju dan menyiapkan semua kebutuhan Kean.


Kean di dudukkan di jok depan di atas car seat milik nya. Sehingga Sarah tenang mendudukkan Kean sendiri tanpa cemas Kean akan jatuh.


Lalu ia menghidupkan mobil nya, dan melajukan dengan kecepatan sedang.


Sampai di rumah sakit kean langsung di bawa ke ruang IGD untuk pemeriksaan.


Sarah hanya bisa menunggu di luar, walaupun ia ibu nya Kean tapi ia tak boleh ikut masuk kedalam IGD. Demi kelancaran pemeriksaan.


Sarah terlihat begitu cemas, handphone nya pun terus berbunyi. Banyak pesan masuk dari para karyawan nya.Mereka sangat cemas dengan keadaan Kean.


Sarah tak membalasnya, karena di pikiran nya saat ini adalah Kean. Beberapa menit menunggu kean di depan IGD , brankar dengan membawa pasien perempuan di dorong kearah ruang operasi.


Seketika ia kembali menatap orang yang ada di atas brankar yang di dorong itu, setelah sebelum nya Sarah menatap nya sekilas.


"Lidya," gumam Sarah.


Sarah pun berdiri untuk memastikan yang ia lihat itu memang benar Lidya.


"Kenapa dengan Lidya? Apa ada hubungan nya dengan kejadian kemarin, pas aku temukan di jalanan?," ucap Sarah sendiri.


Dan ternyata di belakang Lidya yang saat ini sedang di dorong untuk masuk ke ruang operasi ada mantan mama mertua Sarah dengan Damar. Mereka berjalan beriringan dengan wajah lelah dan cemas.


Sarah yang melihat itu, langsung menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat oleh mereka berdua.


Namun bukan Linda namanya kalau ia tak jeli memandang wajah orang yang ia kenal.


"Sarah!!!," panggil Linda dengan suara yang lumayan keras.


Damar yang awalnya tak tahu, ia segera mengalihkan pandangan pada objek yang saat ini dipandang oleh Linda, mama nya.


Sarah pun mendengus kesal dengan masih menyembunyikan wajahnya.


Bukan nya ia tak mau bertemu dengan kedua orang itu. Namun karena Sarah sangat malas mencari keributan.


Apalagi dengan orang yang sudah berumur seperti Linda, ia tak mau menjadi kurang ajar dengan selalu melawan nya.


Tapi kalau tak dilawan, mulut nya akan semakin pedas saat menghina Sarah.


"Kamu ngapain di sini, Sarah?," tanya Damar yang heran melihat Sarah di rumah sakit sendirian, ia mencoba mengedarkan pandangan nya kearah samping kanan dan kiri Sarah. Namun tak ada siapa-siapa disamping Sarah.


"Kamu sama siapa disini?," tanya Damar lagi dengan tatapan khawatir kepada Sarah, karena terlihat Sarah sangat sedih dan saat ini ia sendirian.

__ADS_1


"Kamu kok sebegitu pedulinya sama gadis kampungan ini?!. Kamu harus ingat, mar!! Ada Bianca sekarang!!!, Dan secepatnya kamu harus menikahi nya, Karena hanya dia lah yang bisa membuat hidupku bahagia," ucap Linda dengan tatapan sinis pada Sarah.


Sarah hanya tersenyum dengan ucapan Linda. Karena Linda tak tahu tentang rahasia besar yang telah Bianca sembunyikan.


"Kenapa kamu tersenyum seperti menghinaku, sari?, Kamu harus sadar diri, kamu tidak pantas sama sekali dengan Damar anak lelaki ku satu-satunya!!!," Linda semakin dibuat emosi kala melihat Sarah tersenyum.


Karena tujuan Linda ngomong seperti itu untuk membuat Sarah sakit hati. Namun nyatanya tak terlihat rasa tertindas lagi diri Sarah saat ini.


Mungkin kalau dulu, Sarah hanya bisa pasrah dan menangis saat di hina dan disakiti oleh Linda, Lidya dan Damar.


Sekali lagi Damar menanyakan perihal ia berada di sini. Lalu Sarah menjawabnya, kalau Kean sedang sakit.


Kenapa Sarah bilang kalau Kean sedang sakit?


Karena ia ingin tahu gimana ekspresi wajah Damar, saat mendengar darah daging nya sakit dan harus di bawa ke rumah sakit.


Sarah pun mencoba mencuri pandang, untuk melihat ekspresi wajah Damar saat mendengar Kean sedang sakit.


Terlihat sekali wajah nya begitu cemas. Beberapa pertanyaan untuk Sarah pun terlontar. Karena menurut Damar, Sarah tak becus menjaga Kean.


Perdebatan kecil antara Sarah dan Damar pun tak bisa dihindarkan. Linda yang saat itu ada diantara mereka, ikut menyalahkan Sarah atas kecerobohan nya menjadi seorang ibu.


Saat sedang saling salah menyalahkan kan, seorang suster datang pada mereka bertiga.


Sarah yang melihat suster datang, langsung menanyakan keadaan anak nya, karena lumayan lama Kean berada di dalam sendiri.


Namun suster datang bukan untuk memberi tahu keadaan Kean pada Sarah, ia kesini dengan membawa dua lembar kertas yang sudah diprint. Dan diberikan kepada Damar.


Damar dan Linda yang mendengar itu, dan disaksikan oleh Sarah, membuat wajah Linda memerah karena malu.


"Kami pasti akan lunasi!!! Jadi segera lakukan tindakan operasi sekarang juga untuk anak saya!!," Linda berbicara dengan nada tinggi.


Ia tak ingin Sarah melihat kehidupan keuangannya saat ini. Karena menurut Linda bisa-bisa Sarah akan menertawakan nya.


"Tidak bisa seperti itu, ibu. Memang ini sudah menjadi prosedur rumah sakit. Kalau ibu atau bapak tidak melunasi biaya nya lebih dulu. Maka tindakan operasi pada anak ibu akan segera di batalkan." jelas sistem muda yang saat ini sedang berdiri disamping Sarah.


"Aku ini kaya!!!, jadi kamu jangan khawatir. aku pasti membayar nya!!," Linda semakin emosi.


Damar mengambil handphone nya, dan segera menjauh dari Linda, Sarah dan suster itu.


Damar sedang mencoba menghubungi Bianca kembali. Harapan Damar saat ini adalah Bianca.


Ingin meminta bantuan pada Sarah pun dia sangat gengsi.


Dan Damar berhasil membujuk Bianca, akhirnya Bianca pun memberikan uang sesuai permintaan Damar.


Suster yang hanya ditugaskan untuk memberikan kertas itu, akhirnya pergi meninggalkan Linda dan Sarah.

__ADS_1


Lalu Damar kembali kepada Linda. Dan Sarah juga memilih meninggalkan Linda, ia berjalan lebih mendekat ke arah pintu ruang IGD.


"Bagaimana, Mar?," bisik Linda sambil melihat kearah Sarah. Linda takut Sarah mendengar obrolan nya bersama Damar.


Namun Sarah sama sekali tak melihat kearah mereka berdua yang saat ini masih berdiri.


"Syukurlah, ma. Bianca akan membayar semua biaya rumah sakit Lidya." ucap Damar sambil berbisik-bisik.


"Apa?!, Memang calon menantu ku itu tak ada duanya. Bianca benar-benar menantu idaman." Linda melirik Sarah, ia sengaja berucap sangat keras, agar Sarah yang duduk tidak jauh dari nya mendengar apa yang ia ucapkan.


Seketika, Linda dan Damar menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit yang sedang berlalu lalang. Termasuk juga Sarah.


Sarah yang spontan memandang kearah Linda dan Damar bukan karena penasaran. Namun ia sangat kaget dengan suara Linda yang sangat keras.


Beberapa menit kemudian, Bianca datang. Ia langsung menghampiri Damar dan Linda.


Lalu Bianca dan Damar pergi keruang administrasi, sedangkan Linda berjalan menuju bangku yang terletak di depan ruang operasi.


Linda yang berjalan melewati Sarah yang sedang duduk sambil mengetik novel barunya yang berjudul "Sugar Daddy Ku Abdi Negara" sama sekali tak menghiraukan Linda yang lewat di depan nya.


Sedangkan Linda melewati Sarah dengan lirikan mata yang terlihat sangat sinis.


Dan tak lama, Damar dan Bianca berjalan bergandengan kearah Linda dan melewati Sarah yang sedang duduk.


Saat Damar dan Bianca berada tepat di depan Sarah. Dokter yang menangani Kean keluar dari dalam ruang IGD.


Sarah dan Damar yang melihat itu, secara bersamaan menanyakan keadaan Kean saat ini.


Dokter itu tersenyum melihat itu semua, karena bisa-bisanya mereka berdua bersamaan menanyakan perihal Kean.


Bianca yang melihat itu, dengan segera menarik lengan Damar. Yang berarti ia tak suka dengan sikapnya itu.


Sarah yang melihat tingkah Bianca, hanya bisa tersenyum sambil menutup mulut nya.


Dokter yang menangani Kean pun akhirnya memberi tahu tentang keadaan Kean. Ternyata bayi Sarah terkena Demam berdarah.


Dan saat ini Kean membutuhkan transfusi darah, karena trombosit Kean sangat rendah.


Sarah pun bersedia untuk mendonorkan darahnya, sedangkan Damar yang mendengar itu. Ingin sekali iku mendonorkan darah nya.


Namun lagi dan lagi, Bianca melarang nya untuk melakukan itu. Sebelum Damar menawarkan diri, Bianca langsung menarik tubuh Damar kearah Linda yang saat ini sedang duduk di depan ruang operasi.


Sarah yang melihat itu, sedikit kecewa dengan sikap Damar yang tak ada ketegasan.


Seharusnya saat ini ia lah yang menjadi pendonor darah untuk anaknya. Karena biasanya golongan darah anak sama dengan golongan darah bapaknya.


"Semoga saja golongan darah ku sama dengan golongan darah Kean," ucap Sarah dalam hati saat berjalan mengikuti suster yang akan memeriksa golongan darahnya.

__ADS_1


Sedangkan Damar hati nya saat ini sangat bingung. Dia sangat ingin sekali mendonorkan darah nya untuk darah daging nya.


Namun Bianca dan Linda saat ini sangat melarang nya. Jangankan untuk mendonorkan darah nya, untuk melihat keadaan nya saat ini pun Damar dilarang oleh mereka berdua.


__ADS_2