DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Salah Pencet


__ADS_3

Setelah mobil mbak Veni hilang dari pandangan ku, aku pun melangkah kan kaki menuju mobilku yang terparkir di depan sekolah.


Kali ini tujuan ku adalah toko roti. Rasanya sudah sangat lama aku tak berkunjung ke dua toko roti ku. Namun kali ini aku putuskan untuk berkunjung ke toko roti ku yang utama.


Dan betapa kagetnya aku. Saat aku memarkirkan mobil di sebelah toko, aku melihat mobil mas Bima.


Sepertinya ia habis dari dalam toko, karena mobil itu sudah meninggalkan parkiran.


"huuuufft..." ku buang nafas besar secara kasar. Ada perasaan beruntung, aku bertemu dengan mbak Veni di sekolah tadi. Dengan begitu aku tak bertemu dengan mas Bima disini.


Segera aku keluar dari dalam mobil, dan berjalan menuju toko.


"Assalamualaikum, Bu." Sapa Reni.


"Waalaikumsalam, Ren. Bagaimana toko pagi ini?," tanya ku sambil membuka pintu masuk kedalam ruko.


"Alhamdulillah, bu. Seperti yang ibu lihat saat ini." jawab Reni dengan mengedarkan pandangan nya pada setiap pelanggan toko yang sedang antri disini.


Bersyukur sekali, setiap harinya toko tak pernah sepi. Stok roti, kue dan bolu selalu habis tak bersisa. Jadi setiap hari, roti, kue dan bolu di toko ini pastinya selalu baru.


"Kalau gitu kamu handle ya, Ren. Aku mau istirahat dulu." aku langsung masuk kedalam, setelah pamit pada Reni. Aku ingin beristirahat dulu sejenak, karena tubuh dan pikiran ku saat ini seperti nya sangat lelah sekali.


Aku masuk kedalam kamar, dan menaruh tas di atas nakas samping tempat tidur ku.


Lalu kurebahkan tubuh ku diatas ranjang yang empuk ini. Sudah kucoba untuk memejamkan mata, tapi sangat sulit sekali untuk tertidur.


Suara handphone ku berbunyi, ternya ada pesan masuk dari Sinta.


"Sarah, dimana kamu sekarang?, kenapa Wa ku mulai kemarin tak kamu balas?. Aku sangat khawatir dengan keadaan mu dan Kean saat ini," tanya Sinta di pesan singkat nya.


Mulai kemarin, Sinta terus mengirimkan pesan untuk ku. Namun aku masih belum bisa membaca dan membalas nya.


"Aku sekarang ada ditoko, Sin. Dan alhamdulilah, aku dan Kean saat ini sangat baik-baik saja. Maaf aku baru bisa baca dan balas pesan mu sekarang." balas ku pada pesan singkat yang dikirim oleh Sinta untuk ku.


"Aku ingin bertemu dengan mu, Sarah. Untuk memastikan kalau kamu memang baik-baik saja." balas Sinta. Sinta sudah seperti saudara kandung ku sendiri. Dia sangat perhatian dan mengerti aku.


"Tapi maaf, Sin. Aku tidak bisa sekarang untuk bertemu dengan mu. Karena hari ini aku masih sangat sibuk." Aku beralasan pada nya, karena jujur aku masih ingin menenangkan hati dan pikiran dulu.


Sebenarnya aku tak pernah sedih dengan perceraian ku dengan mas Bima. Karena setelah tau sikap dan sifat mas Bima, rasa cinta di hati ini sudah hilang tak berbekas.


Di tambah lagi dengan perlakuan ibu dan kakak serta ipar mas Bima padaku. Itu juga menambah kepudaran rasa cinta ini pada mas Bima.

__ADS_1


Hanya saja yang membuat hati ku galau saat ini adalah rasa malu pada diri ini, pada ibu dan bapak serta orang-orang yang mengenal ku.


Aku sangat malu, karena dua kali berumah tangga semua berakhir dengan kegagalan. Apalagi rumah tangga kali ini bersama mas Bima hanya seumur jagung.


"Kalau hati dan pikiran mu sudah tenang, kamu wajib menemui ku Sarah!," ucap Sinta pada ku lewat balasan pesan singkat.


Sinta sangat mengerti aku, dia tahu perasaan ku saat ini. Dia tak pernah memaksa ku, kalau aku masih belum bisa menceritakan semua nya tentang masalah rumah tangga ku.


Aku menutup aplikasi WhatsApp setelah membaca balasan pesan dari sarah.


Dan aku membuka aplikasi Facebook, aku bermain Facebook hanya untuk menghibur diri saja. Aku sangat jarang sekali, bahkan bisa jadi aku tak pernah memposting kegiatan ku setiap hari di Facebook.


Facebook hanya aku pakai untuk promosi novel-novel online ku saja. Jadi tak banyak orang yang tahu kalau itu akun Facebook ku.


Saat aku buka aplikasi Facebook, pertama kali yang muncul di beranda ku adalah foto mbak Veni. Seperti mbak Veni telah membagikan fotonya.


Terlihat sekali foto itu baru saja di ambil dan di bagikan. Karena saat ku lihat waktu unggahan foto nya, masih baru beberapa menit yang lalu. Dan pakaian yang di pakai di foto itu masih tetap pakaian yang ia pakai saat bertemu aku di sekolah tadi.


Di foto yang ia unggah, mbak Veni sangat cantik dengan senyum genit yang mengembang di bibirnya. Sepertinya mbak Veni sangat bahagia, terlihat sekali aura yang terpancar di wajahnya. Mungkin dia benar-benar bahagia dengan perceraian ku bersama mas Bima, seperti yang ia katakan tadi padaku.


Namun yang membuat ku gagal fokus adalah caption yang ia ketik di foto itu. Terimakasih sudah memberikan kenikmatan, itulah caption yang di ketuk mbak Veni di foto yang ia unggah.


Karena rasa penasaran ini sangat besar dengan beberapa komentar yang ada di Poto iku. Aku pun langsung klik kolom komentar, bukan untuk berkomentar tapi hanya untuk membaca-baca komentar dari teman-teman mbak Veni.


Ada pula komentar dari Siska teman Sinta dan mbak Veni, pemilik salon terkenal dan sangat besar dikota ini.


Menurut ku, komentar Siska biasa saja atau wajar-wajar saja. Namun yang seperti nya tak wajar adalah balasan komentar dari mbak Veni.


Mungkin saja ia bercanda, tapi kenapa bercanda nya seperti itu?. Kenapa ia tak bicara yang baik-baik saja?, bukankah omongan itu adalah doa?.


Aku segera menutup kolom komentar di postingan mbak Veni. Namun secara tidak sengaja, jari jempol ku memencet tombol like di unggahan foto mbak Veni.


"Waduh, tak sengaja aku klik like." gumamku lirih.


Tak mungkin aku klik lagi untuk membatalkan like ku pada unggahan foto mbak Veni. Karena nanti notifikasi nya akan tetap masuk diakun Facebook mbak Veni.


Dan aku pun membiarkan itu, aku yakin dia tidak akan tahu kalau itu adalah akun Facebook ku. Karena di akun ku ini tak ada foto-foto ku. Yang ada hanya foto-foto cover novel online ku.


Di profil Facebook ku ini pun bukan foto ku yang aku pakai, tapi salah satu cover novel online ku yang saat ini sedang menjadi favorit pembaca. Novel ini lah yang sekarang retensi pembaca nya sangat tinggi sekali.


Tak lama kemudian, notifikasi pesan di messenger muncul. Seperti nya ada yang mengirim pesan diakun Facebook ku lewat messenger.

__ADS_1


Aku sering membaca dan membalas pesan messenger, karena disinilah tempat pembaca setia ku menyapa ku.


Jadi aku bisa kenal dekat dengan pembaca setia ku lewat messenger. Sengaja aku tak pernah memberikan nomor WhatsApp ku untuk para pembaca setia ku.


Selain di messenger, pembaca setia ku biasa nya menyapaku lewat pesan obrolan di aplikasi noveltoon.


Aku pun membuka pesan messenger yang baru saja masuk. Ternyata pesan itu dari akun mbak Veni.


"Waah.. ternyata ini akun author favorit ku ya?, aku baru tahu kalau ternyata kita berteman di Facebook kak." Pesan singkat mbak Veni di messenger ku.


"Betapa bahagianya aku, saat kakak author kesayangan ku ini like foto ku." lanjut nya lagi dengan di ikuti emoticon bahagia diakhir ketikan nya.


Ternyata mbak Veni tahu akun ku ini, gara-gara aku salah kasih like di postingan foto nya tadi.


"Ada rasa bangga di diri ini saat fotoku di like author yang sudah Famous dan kesayangan seperti kakak ini." mbak Veni terus mengirimkan pesan singkat nya pada ku.


"Alhamdulillah kalau like ku bisa membuat hati kakak bahagia. Aku like foto kakak, karena kakak terlihat sangat cantik." balas ku.


"Salam kenal ya kak, aku juga baru tau ternyata aku berteman dengan pembaca setia ku. Terimakasih banyak kakak sudah setia membaca novel-novel ku." balasku lagi.


"Jangan terlalu memuji ku kakak, aku masih belum famous yang seperti kakak bilang. Aku masih di tahap belajar." balas ku lagi. Jujur aku sedikit risih dengan kata famous dari mbak Veni.


Karena aku masih belum ada apa-apa nya dibandingkan dengan senior-senior yang lain di dunia novel online ini.


"Hari ini aku sangat bahagia, kak." mbak Veni mengirimkan pesan lagi. Aku kira mbak Veni menyudahi membalas pesan ku. Namun ternyata dia masih terus mengirimkan pesan untuk ku.


Dan kali ini, aku rasa ia ingin curhat tentang kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.


"Oh ya?, terlihat sekali kebahagiaan itu di foto kakak. Apa yang membuat Kaka begitu bahagia?. Pasti kakak mendapatkan sesuatu yang spesial dari suami kakak." balasku. Niat sekali aku memancing mbak Veni untuk menceritakan tentang kebahagiaan yang ia rasakan sekarang ini.


"Bukan, kak author. Bukan hadiah dari suami ku yang membuat aku bahagia, karena suamiku adalah tipe lelaki yang cuek dan tidak pernah memberikan ku kebahagiaan." balasan pesan kali ini mbak menjelek-jelekkan mas Awan. Padahal yang aku lihat, kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia dan harmonis. Mengingat mbak Veni adalah kesayangan mantan mertua ku, yang tak lain mertua mbak Veni juga.


"Oh ya, lantas apa yang membuat kakak begitu terlihat sangat bahagia?," tanyaku.


"Aku bahagia, karena adik iparku dan istrinya telah bercerai, kak. Akhirnya perempuan yang sok alim padahal dia kecentilan itu pergi di kehidupan adik iparku dan keluarga suamiku." jawab mbak Veni.


Deg!!


Jantung ini serasa seperti berhenti berdetak saat mbak Veni mengatakan kejujuran hati nya.


"Memang kakak sebegitu tidak sukanya pada istri adik ipar kakak?," tanyaku lagi. Sengaja aku terus mengulik alasan mbak Veni kenapa sampai sangat tidak suka padaku.

__ADS_1


"Iya, aku sangat membencinya." jawab mbak Veni dengan memberikan emoticon penuh amarah di akhir ketikan nya.


__ADS_2