DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#340


__ADS_3

Hari ini hari dimana Sarah sudah berjanji pada Kean untuk mengantarkan Kean ke kampung untuk menemui Damar, ayah nya.


"Amma, Kean sudah tak sabar ingin sekali bertemu dengan ayah dan nenek." ucap Kean pada Sarah yang sedang merapikan baju nya.


Sengaja Sarah mengajak Kean pergi ke kampung menunggu hari Minggu. Jadi Kean tak harus bolos sekolah untuk menemui ayah nya.


"Bagaimana perasaan mu saat ini nak?," tanya Sarah.


"Aku deg-degan, amma. Sebenarnya Kean juga takut." jawab Kean.


"Takut?, takut kenapa?," tanya Sarah sambil menghentikan tangan nya yang sedang merapikan kerah baju Kean.


"Kean takut ayah dan nenek tak mau menemui Kean, amma." jawab Kean sambil menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang sedih.


"Mana mungkin ayah akan melakukan itu pada anak nya sendiri?," ucap Sarah.


"Kean tidak boleh mempunyai pikiran buruk seperti itu pada ayah dan nenek. Mereka adalah orang-orang baik yang sayang pada Kean seperti amma, akung dan uti." lanjut Sarah menyakinkan Kean, padahal hati nya sendiri tak yakin akan hal itu. Mengingat perlakuan Damar dan Linda pada Sarah waktu dulu.


Kean pun menganggukkan kepala, seakan-akan mengerti dengan yang diucapkan amma nya.


"Tapi amma janji harus menemani Kean saat bertemu dengan ayah." ucap Kean.


"Itu pasti sayang." jawab Sarah.


"Sekarang semua nya sudah beres, kita nunggu Tante Lidya yang akan menjemput kita setelah ini." lanjut Sarah.


"Berarti kita kesana naik mobilnya Tante Lidya, amma?," tanya Kean.


"Iya, sayang. Kan Tante Lidya yang tahu rumah ayah di kampung." jawab Sarah.


Beberapa menit sampai Sarah dan Kean menunggu kedatangan Lidya.


Hati Kean sudah tidak sabar, karena Lidya tak kunjung datang. Ada kecemasan di hati Sarah, Sarah cemas kalau Lidya tak jadi mengantarkan Kean pergi ke kampung untuk menemui ayah dan nenek nya.


Sarah pun segera mengirim pean singkat untuk menanyakan keberadaan Lidya saat ini.


"Bagaimana amma?, Apa pesan singkat amma sudah dibalas oleh Tante Lidya?," tanya Kean yang sudah sangat gusar.


"Belum," jawab Sarah sambil menggelengkan kepalanya.


"Mungkin Tante Lidya sedang menuju kesini, jadi ia tak bisa membalas pesan amma." lanjut Sarah menghibur anak nya yang terlihat semakin sedih setelah mendengar jawaban Sarah.


"Kita berdoa yuk, biar Tante Lidya selamat sampai sini " Sarah mencoba mengalihkan kesedihan Kean.

__ADS_1


Kean langsung memejamkan mata dan mengangkat kedua tangan nya, dan Kean mulai berdoa di dalam hati nya.


Begitu juga dengan Sarah, ia melakukan hal yang sama dengan Kean.


Dan kini mereka berdua selesai berdoa, dengan bersama-sama Sarah dan Kean mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya masing-masing.


"Amma, kasihan Kay." ucap Kean tiba-tiba.


"Kay?," tanya Sarah yang sedikit terkejut, karena tiba-tiba Kean bercerita tentang anak Veni itu.


"Kenapa Kean kasihan pada Kay?," tanya Sarah dengan pelan.


"Mami dan papi Kay sudah tidak tinggal bersama. Dan pasti hati Kay saat ini seperti Kean." jawab Kean.


"kenapa hati Kay seperti Kean? Memang kenapa dengan hati Kean?," tanya Sarah yang sedikit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan anaknya itu.


"Hati Kean sedih, saat teman-teman disekolah Kean bercerita kebahagiaan bersama ayah nya. Tapi Kean tak pernah merasakan hidup bersama ayah." ucap Kean dengan menundukkan kepalanya.


"Sekarang Kay merasakan apa yang tengah Kean rasakan, amma. Kasihan dia." gumam Kean.


"Sabar ya, nak. Amma yakin kebahagiaan akan segera datang kepadamu." ucap Sarah dalam hati sambil meneteskan air matanya.


Sarah segera memeluk tubuh Kean, untuk menenangkan nya.


"Tapi, sekarang Kean sudah tak sedih lagi amma. Karena sebentar lagi Kean akan bertemu dengan ayah nya Kean." celetuk Kean dengan senyum yang penuh kebahagiaan.


Tin tin tin...!!


Suara klakson mobil didepan rumah Sarah.


"Sarah, sepertinya itu suara klakson mobil Lidya." ucap ibunya Sarah.


"Iya, Bu. Biar Sarah lihat dulu." jawab Sarah, sambil berdiri dan berjalan menuju jendela. Dan Sarah mengintip dari balik korden.


Ternyata benar apa yang di katakan oleh ibu nya itu, di depan adalah suara mobil Lidya.


"Yuk, sayang kita berangkat. Tante Lidya sudah menjemput kita." ajak Sarah sambil mengulurkan tangannya.


Kean langsung meraih tangan Sarah dan memegangnya dengan erat. Lalu mereka berjalan beriringan.


"Hati-hati ya Sarah, semoga semua keinginan Kean menjadi kenyataan." ucap ibu nya Sarah.


Mereka berjalan bersama menuju mobil Lidya yang sudah parkir di depan rumah Sarah.

__ADS_1


"Kean sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan ayah, amma." ucap Kean dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan.


"Kita berdoa ya, semoga perjalanan kali ini lancar sampai di tempat ayah." sahut Sarah.


Kean menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Sarah.


"Sudah siap, mbak?," tanya Lidya saat Sarah dan Kean sudah berada di dekat mobil Lidya.


"Kita sudah siap, Lid. Kean sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan ayahnya." jawab Sarah.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan ayah." sahut Lidya dengan senyum manis pada Kean.


Lidya sadar kalau kelakuannya selama ini pada Sarah itu salah. Kini Lidya ingin menembus semua kesalahan nya pada Sarah dan Kean dengan mempertemukan Kean dengan Damar.


Sarah duduk di jok depan sebelah Lidya, sedangkan Kean duduk di belakang Sarah.


Kini mobil yang mereka tumpangi berjalan dengan kecepatan sedang menuju kampung dimana Damar tinggal selama ini. Yang ternyata masih satu kampung dengan Sarah.


"Amma, kapan kita sampai nya?," rengek Kean yang sudah mulai jenuh dengan perjalanan yang mereka tempuh.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan segera sampai." jawab Lidya membujuk Kean.


"Apa kita sudah dekat?," tanya Kean lagi.


"Ya kita sudah sampai separuh perjalanan, sayang." jawab Lidya dengan terus fokus pada jalan yang ada didepan.


"Tante, bisa kah kita berhenti di minimarket?," tanya Kean.


"Bisa dong, kita cari dulu ya minimarket nya." jawab Lidya.


"Kean mau apa?, kenapa mencari minimarket?," tanya Sarah.


"Kean mau belikan ayah dan nenek makanan, amma. Kasian ayah, pasti disana tidak ada minimarket." jawab Kean.


"Baiklah." jawab Sarah.


Lidya terus fokus untuk mencari minimarket disepanjang jalan menuju kampung Damar tinggal.


"kok Kean tak melihat ada minimarket disini ya, Tante?," tanya Kean.


"Sabar ya nak, sebentar lagi pasti ada." jawab Lidya.


Sarah tersenyum bahagia, melihat sikap Lidya yang sudah menerima Kean dengan baik.

__ADS_1


"Gimana kabarmu sekarang dengan suami mu, Lid?," tanya Sarah, yang penasaran dengan keadaan Lidya setelah bertengkar dengan Teguh suami Ambar.


"Aku sudah mengusir mas teguh dari rumah, mbak. Mas Teguh bermain perempuan di belakang ku." jawab Lidya.


__ADS_2