
Sampai didepan kost milik Areta, Bima segera memarkir mobilnya.
Dia orang yang ada didalam ruangan itu pun mendengar kedatangan Bima. Mereka berdua bergegas merapikan pakaian nya dan Bagas segera duduk seperti tamu yang sedang menagih hutang.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu Bima yang sangat keras, membuat mereka berdua yang berada di dalam nya sangat terganggu.
"uuh... Kenapa gitu amat sih ketuk pintu nya?!," geram Areta dengan cepat berlari ke arah pintu yang saat ini tengah tertutup.
Cekleeek..
"Areta, kamu baik-baik saja kan?," tanya Bima saat pintu dibuka oleh Areta, dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Aku masih baik-baik saja kok, Bim. Namun setelah ini, nasib ku ada di tangan mu." gumam Areta lirih dengan memasang wajah pasrah.
"Kamu tenang saja Areta, aku sudah membawa uang itu." ucap Bima dengan bangganya. Ia sangat bangga bisa menyelamatkan mantan istri nya dari hutang yang melilit nya.
"Benarkah, Bim?," tanya Areta dengan wajah sumringah dan bahagia.
"Benar, Areta. Lebih baik kita masuk dan segera kita temui rentenir itu." ajak Bima PO ada Areta.
Mereka berdua pun masuk kedalam kost milik Areta, dengan tangan Areta merangkul pinggul Bima. Senyum licik mengembang menghiasi bibir Areta.
"Ini Bim, orang yang menagih uang itu." tunjuk Areta pada Bagas yang sedang duduk di atas karpet berwarna merah dengan bulu-bulu halus.
Bima pun menatap dalam lelaki yang masih sangat mudah dan yang pasti selisih usianya terpaut jauh dengan Bima.
"Kamu yakin dia itu rentenir nya?," bisik Bima pada Areta.
Bima seperti tidak percaya, kalau lelaki mudah yang pantas menjadi anaknya itu adalah rentenir. Di bayangan Bima rentenir yang menagih hutang pada Areta adalah orang yang tinggi, besar, hitam dan yang pasti wajahnya menyeramkan.
Sedangkan yang saat ini didepan, Bima. Hanya ada lelaki mudah, tampan dengan tubuh yang proporsional.
"Iya Bim, Dia rentenir itu." jawab Areta.
"Dia sangat kejam, Bim. Kalau aku tak membayar nya hari ini, maka aku akan di jadikan budal **** nya. Dan aku sangat takut Bima." lanjut Areta yang berakting seakan-akan dia adalah perempuan yang suci.
"Kamu tenang saja Areta, aku akan melindungi mu." ucap Bima berbisik pada Areta.
Bima sendiri sangat takut dengan apa yang dikatakan oleh Areta. Bima takut kalau rentenir itu benar-benar akan membawa Areta pergi dan mengambil Areta dari nya.
Selain masih mudah dan paras nya juga tampan, Bima yakin kalau lelaki mudah itu anak orang kaya raya. Karena ia mampu meminjamkan uang sebesar itu pada Areta.
Dan Bima pun beranggapan, kalau dia tak membawa uang hari ini. Areta pun akan rela di bawa pergi oleh rentenir muda itu.
"Sekarang kirim nomor rekening mu, uang nya akan segera ku transfer!!," ucap Bima dengan sombongnya.
"Itu lebih bagus, pak Bima." jawab Bagas dengan ucapan yang sangat formal.
__ADS_1
Lalu Bagas menyebutkan satu persatu angka-angka nomor rekening nya.
Tanpa banyak berpikir, Bima pun segera mentransfer uang yang jumlah nya sudah di sebutkan di awal oleh Areta.
"Sudah, uang itu sudah terkirim ke rekening kamu. Sekarang kamu boleh pergi dari sini!!." usir Bima pada Bagas sambil menunjuk pintu keluar kamar kost milik Areta ini.
"Santai, pak Bima. Aku akan segera pergi dari sini, tapi ijin kan saya untuk menghabiskan minuman yang sudah di berikan Areta padaku." ucap Bagas sambil tersenyum licik dan penuh kemenangan.
Bagaimana dia tidak bahagia, dua keuntungan sudah ia dapat dalam waktu yang hanya selisih beberapa jam saja.
Bima hanya menatap Bagas dengan penuh kebencian melihat tingkah lakunya.
Bagas pun segera menengguk minuman kaleng yang saat ini ada di depan nya.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, untuk pak Bima dan Areta saya mengucapkan banyak terima kasih dengan kerja sama nya ini." ucap Bagas dengan menatap Areta dengan tatapan menggoda.
"Jaga pandangan mu!!," tunjuk Bima pada Bagas. Bima yang melihat tatapan Bagas pada Areta pun terbakar api cemburu.
"Sabar, Bim." ucap Areta mencoba menenangkan Bima dengan mengelus lengan Bima.
Bagas pun segera keluar dari kost milik Areta dengan senyum licik nya.
"Kamu baik-baik saja kan, Reta?," tanya Bima.
"Aku baik-baik saja, Bim. Terimakasih ya, kamu sudah menyelamatkan hidupku. Kamu memang benar-benar pahlawan bagi ku." ucap Areta dengan senyum manis yang merekah di bibir nya.
"Aku ingin segera bersanding dengan mu lagi, Bim." lanjut Areta dengan menyandarkan kepalanya di pundak Bima.
"Sabar, Areta. Kalau semua urusan ku dengan Sarah selesai. Aku akan segera menikahi mu." jawab Bima.
"Cepat ceraikan dia, Bim. Aku nggak mau dia masih ada di kehidupan mu!!," Rajuk Areta.
Bima mengambil handphone nya yang bergetar di dalam saku kemejanya.
"Halo Ina, ada apa?," tanya Bima pada Ina karyawan nya yang saat ini menelpon nya.
"Maaf, pak. Bapak bisa datang ke toko sekarang?, pak Bara datang dan ingin bertemu dengan pak Bima." ucap Ina pada bos nya itu.
"Kamu saja yang menghandle, Ina. Aku sedang sibuk, begitu saja kamu kok nggak becus." umpat Bima pada karyawan nya itu.
"Tapi, pak. Pak Bara ingin bertemu dengan bapak, jadi sekarang beliau sedang menunggu bapak di toko." sanggah Ina saat ia di maki oleh bos nya itu.
"Baiklah, aku akan segera kesana!!," ucap Bima, lalu ia mematikan panggilan itu dengan sangat kesal.
"Ada masalah apa, Bim?," tanya Areta yang saat ini sedang melihat wajah kesal Bima.
"Ini karyawan ku di toko tidak becus, masa menghandle hal seperti itu saja nggak bisa. Harus aku yang turun tangan, terus tugas nya dia sebagai karyawan itu apa?," gerutu Bima pada Areta.
"Makanya, Bim. Cepat kamu nikahi aku, biar nanti aku yang menghandle semua pekerjaan mu." ucap Areta merayu Bima.
"Iya, Reta. Nanti kalau kamu sudah menjadi istri ku lagi, biarlah toko kelontong ku kamu yang mengelola dan aku akan membuka usaha lain." ucap Bima meyakinkan Areta.
"Kalau begitu aku pamit pergi dulu, Reta." pamit Bima sebelum meninggalkan Areta sendiri di kamar kostnya.
__ADS_1
"Hati-hati ya, Bim. Sekali aku sangat berterima kasih pada mu. Karena kalau bukan karena mu, mungkin saat ini aku sudah menjadi budak rentenir itu." ucap Areta.
Muacch...
Setelah bibir Bima mendarat di kening Areta, ia bergegas pergi dengan mobilnya yang terparkir di depan kost milik Areta.
Setelah mobil Bima hilang dari pandangan Areta, ia segera menutup pintu kamar kostnya.
"Dasar!!!, lelaki bodoh!!." gumam Areta sembari tangan nya menutup pintu kamar nya.
Lalu perempuan yang berstatus mantan istri Bima itu pun segera mengambil handphone nya yang tergeletak di atas ranjang yang berukuran tidak terlalu besar itu.
"Halo, sayang." sapa Areta pada Bagas yang ada di sebrang telepon.
"Kamu sekarang ada dimana," tanya Areta.
" Maaf sayang, aku sekarang sedang sibuk. Nanti aku akan menghubungimu lagi, ya." jawab Bagas melalui sambungan telepon.
"Tapi, aku sangat butuh uang itu sayang. Transfer segera ke rekening ku." ucap Areta.
"Maaf sayang, uang itu sudah habis. Bukan kah aku sudah bilang kalau aku sangat membutuhkan uang itu untuk membayar kuliah ku yang menunggak?!." sahut Bagas.
"Tapi kan perjanjian di awal aku lima juta dan kamu lima juta?, tapi kenapa sekarang malah kamu ambil semua uang itu?!," tanya Areta dengan sedikit kesal pada lelaki brondong nya itu.
"Halo?, Bagas... Bagas...?," panggil Areta, namun tak terdengar sama sekali suara lelaki muda yang sedang menjalin kasih dengan nya itu.
"halo..halo... Sayang....,halo....," ucap Bagas, lalu dengan sengaja Bagas mematikan panggilan itu.
"Dasar tante-tante bodoh." umpat Bagas setelah sengaja menutup telepon dari Areta. Handphone nya pun segera ia matikan, agar Areta tak menghubungi nya lagi.
"Aku mau menikmati uang yang sudah aku dapat dari memuaskan hasrat mu, Areta. Dan sekarang uang ini aku gunakan untuk memuaskan hasrat ku. Karena sebenarnya saat aku bersama mu tak ada hasrat sama sekali." gumamnya lagi dengan senyum liciknya.
Sedangkan Areta yang panggilan telepon nya mati pun hatinya sangat gusar. Memikirkan uang yang saat ini dibawa oleh Bagas kekasih nya itu.
"Gimana ini? mana aku sangat butuh uang itu untuk bayar kost yang sudah tiga bulan nunggak?!," gerutu Areta sendiri di dalam kamar kost'an miliknya itu.
Lalu ia mencoba menghubungi Bagas lagi, namun hanya kecewa yang Areta dapatkan. Karena handphone Bagas mati, nomor nya tak dapat di hubungi.
"Sialan!!!, dia mempermainkan ku!!," gerutu Areta.
Di tempat lain Bima yang saat ini sedang mengendarai mobil nya melaju dengan kecepatan tinggi. Karena ia terburu-buru untuk menemui rekan bisnis nya itu.
Dalam benak Bima, Ia sangat bingung kenapa Bara pemilik agen sembako terbesar di kota ini sangat ingin menemui nya.
Sampai di depan toko, Bima segera memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah ia sediakan khusus untuk mobilnya sendiri.
"Selamat sore, pak Bara?," sapa Bima saat ia masuk kedalam toko nya.
"Selamat sore juga, pak Bima. Maaf sekali saya mengganggu waktu oak Bima uang terlihat sangat sibuk sekali." jawab Bara.
"Ya... seperti yang pak Bara lihat ini, saya memang sangat sibuk mengurus bisnis-bisnisku yang lain. " jawab Bima dengan bangga menyombongkan diri nya. Padahal tak ada bisnis lain yang ia jalani saat ini. Hanya saja ia mempunyai pekerjaan sampingan yaitu menjadi pemu4s nafsu kakak ipar nya.
"Wah, Pak Bima sungguh hebat. Banyak bisnis yang di jalani saat ini." puji Bara.
__ADS_1
"Ah, pak bara bisa saja." ucap Bima.
"Begini pak Bima, saya datang ke sini adalah bermaksud untuk menyampaikan pada pak Bima. Bahwa permintaan pak Bima untuk memberi stok di toko pak Bima ini, jumlahnya tidak sedikit. Jadi kedatangan saya kesini, saya ingin membuat perjanjian dengan bapak. Perusahaan saya akan memberi stok di toko bapak dengan syarat ada jaminan nya." Bara menjelaskan kedatangan nya itu.