
"Jaga ucapan mu?!," kali ini aku sangat geram dengan ucapan Bianca yang menuduh ku berselingkuh dengan pak Handoko. Ku tunjuk wajah nya, tapi dia malah makin tertawa bahagia melihat ku yang emosi.
"Kalau kamu bisa merusak rumah tangga ku dengan pak Handoko, jangan harap hidup mu akan tenang dan bahagia!!!," kali ini Bianca mengancam ku.
Siapa juga yang telah merusak rumah tangga nya?, bukankah dia yang merusak rumah tangga ku dengan mas Damar?
Dasar wanita gila!!!
Mungkin otak nya sudah tidak berfungsi lagi untuk berfikir, sehingga dia menuduh orang sembarangan tanpa ada bukti yang jelas.
"Aku yakin kalau kamu malu dan tersiksa kan dengan video yang aku unggah di semua sosial media ku?," Bianca terus tersenyum sinis dan jahat pada ku.
Kalau aku terlihat seperti apa yang ia katakan, maka Bianca aku terus menekan ku.
"Kenapa aku harus malu dan tersiksa? Uda jelas di video itu aku nggak ngapa-ngapain. Lagian sebentar lagi juga pak Handoko akan mengklarifikasi video itu dengan menunjuk bukti kalau pada saat itu yang ada diruang makan bukan hanya aku dan beliau. Jadi kamu bersiap-siaplah mendapatkan hasil dari apa yang kamu tanam." ucapku sambil tersenyum pada Bianca.
"Aku yakin pak Handoko akan menindak tegas paman Udin tentang penyebaran video ini, karena ini masalah reputasi." lanjut ku. Dan aku dan Bianca saling bertatapan.
Melihat tatapan matanya seperti nya ia tak mempunyai kekhawatiran atau ketakutan sama sekali.
Apa dia sudah saking frustasi nya? Jadi sudah kebal dengan ancaman yang bisa jadi nanti akan menyudutkan dirinya.
"Hem... aku nggak takut sama sekali dengan ancaman kalian!!!," ucap Bianca sambil menunjuk ku.
"Kalau kamu ingin bertemu dengan ku hanya ingin membicarakan hal yang tak berguna ini, sebaiknya aku pergi sekarang. Karena aku sangat sibuk!!," ucapku sambil berdiri dan membalikkan badan membelakangi Bianca.
Namun saat aku melangkah kan kaki untuk meninggalkan nya, tiba-tiba Bianca menarik Khimar ku dengan keras. Sehingga kepalaku ikut ketarik. Untung saja aku tidak terjengkang karena aku masih bisa menjaga keseimbangan.
Randy yang melihat aku dari kejauhan, langsung berlari mendekati aku dan Bianca.
"Lepaskan!!," ucap Randy sambil memegang pergelangan tangan Bianca dengan erat.
Bianca yang kesakitan dan ketakutan melihat tatapan mata Randy pun akhirnya melepaskan tangan nya dari Khimar ku.
"Kalau tangan mu menyentuh Sarah lagi, aku lah lawan mu!!!," ancam Randy sambil melepas pergelangan tangan Bianca dari pegangan tangan Randy dengan keras.
"Auw....," Bianca mengerang kesakitan sambil memegang tangan nya. Terlihat tanda merah di tangan Bianca, mungkin Randy terlalu keras memegang nya.
"Kenapa kamu bela perempuan murahan ini, Ran?, Bukankah kamu sudah mengetahui tentang video itu? Apa Tante Natasya belum mengirimkan video itu?," tanya Bianca.
"Oooo.... jadi kamu yang selama ini komporin Tante Natasya?," tanya Randy sambil tersenyum sinis.
"Ternyata kamu bukan hanya wanita murahan, tapi kamu juga wanita picik!!!," lanjut Randy dengan mulutnya yang sangat pedas.
"Apa?! kamu bilang aku wanita murahan?!, bukankah sebutan itu sangat pantas disematkan untuk wanita mu ini?," ucap Bianca tersenyum sinis sambil memandang ku dari atas ke bawah.
"Karena dia, rumah tangga ku hancur!!!. Karena dia ingin merebut Handoko dari ku!!!. Mungkin karena Handoko kaya raya agar dia tidak menjadi gembel di kolong jembatan, jadi dia melakukan segala cara untuk menjatuhkan ku di hadapan Handoko. Dengan mengirim video dan foto-foto ku!!." lanjutnya.
"Video dan foto-foto apa yang kamu maksud? Aku tak pernah sama sekali melakukan apa yang kamu tuduhkan padaku!! Jadi kamu harus hati-hati dengan ucapan mu, bisa jadi tuduhan yang tak terbukti itu jatuhnya menjadi fitnah. Dan itu sangat dosa besar." ucap ku. Kali aku sangat bingung dengan apa yang dituduhkan Bianca padaku.
__ADS_1
Karena aku sama sekali tak mengerti maksud dari perkataan nya.
"Alaaaaa... kamu ini memang wanita sok suci. Di balik Khimar panjang mu, kamu sembunyikan kebusukan hatimu. Dasar wanita murahan, lebih pantas kamu itu disebut dengan L*nte Solehah." ucapnya.
Plak!!!!
Refleks aku tampar pipi kanannya, karena emosi ini sudah tak terkendali lagi saat ia mengatai ku l*nte Solehah.
Dia bisa menghina ku dengan bilang aku miskin, kampungan dan gembel. Tapi tidak dengan jilbab yang aku pakai, karena sebagai umat muslim jilbab itu wajib walau akhlak kita masih sangat jauh dari kata baik.
"Berani nya kamu menampar ku?!," ucap Bianca dengan mata melotot dan tangan nya memegang pipi kanannya.
Lalu ia mengangkat tangan nya, dan ingin membalas tamparan ku.
Seketika tangan kiri yang akan di ayunkan ke pipi kiri ku pun, di pegang erat oleh Randy. Karena Randy sudah membaca gelagat tubuh Bianca.
"Lepaskan!!!," teriak Bianca dengan sangat keras dan mencoba melepaskan tangan nya dari pegangan tangan Randy.
Namun Randy tak bergeming sedikitpun, malah cengkraman itu kulihat semakin erat. Dengan tatapan penuh emosi Randy terus mencengkeram tangan Bianca.
"Auw,,,, sakit. lepaskan!!!!," Bianca terlihat terus berusaha untuk melepaskan tangan nya itu dari cengkraman Randy.
Akhirnya aku meminta Randy untuk melepas cengkraman nya, karena aku tak tega melihat Bianca mengerang kesakitan.
"Dasar!!!! Kalian pasangan yang kejam!!!!," umpat Bianca sambil berlari meninggalkan kami berdua yang berdiri didepannya.
Aku membiarkan Bianca pergi begitu saja, karena aku tak mau semakin emosi melihat tingkah laku nya.
Tapi... kenapa aku harus bingung menjelaskan tentang video itu pada Randy? Bukan kah ia bukan siapa-siapa ku?
Kok rasanya hati ini ingin sekali menjelaskan agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Untuk video itu, itu semua tidak benar. Aku dan pak Handoko tidak berduaan. Disana ada Mayang dan Celvin, tapi Bianca hanya merekam aku dan pak Handoko saja," aku menjelaskan dengan salah tingkah, ku tundukkan pandangan ku. Karena tak mau Randy melihat kegugupan ku.
"Aku mengerti kok, aku percaya dengan kamu," jawab Randy dengan enteng.
Kenapa aku merasa kita seperti.......
Ah... ada apa dengan pikiran ku ini? tapi setelah aku menjelaskan tentang video itu, kenapa terasa hati ini langsung plong?
Namun sebelum aku menjelaskannya, serasa masih ada yang mengganjal di hati ku.
Lalu jawaban Randy, kenapa dia bilang ia percaya padaku?
Seakan-akan aku ini kekasih nya, padahal kita hanya sebatas partner bisnis saja.
"Video itu aku dapat dari Tante Natasya, dia mengirim video itu lewat Wa. Yang membuat ku penasaran, dapat darimana video itu?," ucap Randy memecah keheningan di saat aku mencoba menenangkan hati yang terus berdebar kencang.
Padahal aku tak berani menanyakan hal itu, walau ada rasa ingin tau tentang sumber yang memberi video itu pada Randy.
__ADS_1
Dan ternyata Randy sendiri yang memberi tahu, tanpa aku harus bertanya.
"Mungkin Tante Natasya dapat dari sosial media, Ran." jawab ku. Karena video yang disebar Bianca lewat sosial media nya itu, akan cepat sekali menyebarnya.
"Aku sih tidak yakin kalau ia dapat dari sosial media, aku curiga kalau Tante Natasya berkonspirasi dengan Bianca atau bisa jadi Tante Natasya di hasut oleh Bianca." Randy menduga-duga tentang video itu.
"Tapi aku tak mempermasalahkan tentang video itu, aku percaya kok sama kamu."
Kenapa Randy lagi-lagi bilang, seakan-akan aku ini kekasih nya?
Ah... kenapa hati ini begitu yakin kalau Randy punya rasa padaku.
"Tenang kan hati mu Sarah, itu hanya kepedulian terhadap teman dan sebatas rekan kerja saja." Aku mencoba mesugesti diri agar hati ini lebih tenang dari rasa gugup dengan perhatian yang diberi oleh Randy.
"Sarah, kok kamu diam? Kamu baik-baik saja kan?," tanya Randy yang melihat ku bengong.
Dan pertanyaan itu membuat ku semakin salah tingkah.
"Hhmmmm... oh... aku cuma memikirkan Kean," jawab ku random, karena bingung mau menjawab apa.
"Kenapa Kean nggak kamu ajak, Sarah?," tanya nya lagi.
"Aku nggak mau Kean melihat keributan yang dibuat oleh Bianca, Ran. Kamu tau sendiri kan, kalau aku bertemu Bianca pasti terjadi keributan." jawab ku.
Randy pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia mengerti dengan apa yang aku maksud.
Aku pun segera pamit untuk pulang, karena hari sudah malam. Takut Kean mencari ku, karena sekarang ia sudah mulai mengerti dan sudah mempunyai kemauan sendiri.
"Hati-hati dijalan ya, Sarah. Nanti kalau kamu sudah sampai rumah, jangan lupa kamu kabari aku ya," ucap Randy sambil tersenyum padaku.
Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum malu pada Randy yang terus memandang ku.
Ku ayunkan dengan segera kaki ku ini, agar tak terlihat rasa gugup ku oleh Randy.
Sampai dirumah, toko sudah tutup dan semua karyawan juga sudah pada pulang. Terkecuali pengasuh Kean, karena ia tak akan pulang kalau aku belum pulang.
Setelah aku berganti pakaian, kuambil Kean yang sedang tidur di gendongan pengasuh nya.
"Mbak, mbak bisa pulang sekarang. Tapi kalau mbak mau mending mbak tidur aja disini. Karena ini sudah malam, takut terjadi apa-apa sama mbak." ucapku, karena jarak rumahnya dari tempat ku lumayan jauh.
"Lagian mbak kan sekarang sendirian dirumah, lebih baik mbak nginep aja disini. Kan ada kamar kosong juga disini." sekali lagi aku menawarkan pada pengasuh Kean untuk menginap saja.
Namun pengasuh Kean tetap menolak, katanya ia tak bisa tidur kalau bukan dirumahnya.
Akhirnya aku berinisiatif untuk memesan taksi online, karena biasanya pengasuh Kean naik ojek.
Karena ini sudah malam, kurasa ojek bukan pilihan yang tepat.
Tak perlu menunggu lama, akhirnya taksi online pun datang dan pengasuh Kean segera keluar untuk pulang setelah berpamitan pada ku.
__ADS_1
Malam ini terasa begitu capek badan dan pikiran ku. Setelah menidurkan Kean, aku segera mengambil laptop. Karena secapek apapun aku tetap akan mengetik novel online ku. Karena aku ikut kejar jumlah kata, yang cuan nya juga lumayan sekali buat menambah pundi-pundi tabungan ku.
Setelah up beberapa bab, aku pun langsung memejamkan mata. Karena mata ini sudah terasa sangat berat.