
"Sarah....!!," panggil Anita dengan suara gemetar dan nafas yang ngos-ngosan.
"Untung kamu berhenti." ucap Anita lagi pada Sarah waktu Sarah membuka jendela kaca mobilnya.
"Anita?!," Sarah dan Sinta terkejut sehingga mereka memanggil nama Anita dengan serentak.
"Sarah, aku ikut mobil mu ya." mohon Anita pada Sarah.
"Hah???, kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?!, kamu takut ya di sana sendirian?!," tanya Sinta dengan ketus. Sinta sangat kesal dengan tingkah Anita yang sok-sokan. Padahal sebenarnya ia butuh tumpangan.
"Sin..." ucap Sarah pada Sinta, Sarah melarang Sinta meneruskan omongan nya. Karena Sarah takut omongan Sinta membuat sakit hati Anita.
"Untung kamu Masi di bela sama dia!!!, Kalau tidak mungkin kamu sudah aku tinggal sendirian disini." timpal Sinta pada Anita sambil menunjuk Sarah saat Sinta mengucapkan kata dia.
Anita pun akhirnya masuk kedalam mobil di bagian jok belakang. Tepatnya di belakang pas Sarah. Lalu Sinta pun melaju mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kok kamu pulangnya malam, Anita?, apa kamu lembut?," tanya Sarah memecahkan keheningan. Karena Anita dari ia masuk sampai beberapa menit ada didalam mobil ia hanya diam saja.
"Iya." jawab Anita singkat tanpa ada basa-basi.
"Oooo...., pantes pulang nya malam. Apa kamu sudah makan?," tanya Sarah lagi.
"Belum," jawab Anita lagi secara singkat seperti jawaban semula.
"Ya sudah, kita mampir makan dulu ya." ucap Sarah mengajak si ta untuk makan, Sarah kasihan melihat Anita yang terlihat sangat capek Seperti sudah bekerja keras selama seharian.
"Terserah." jawab Anita lagi.
Sinta yang mendengar setiap jawaban Anita, sangat geram. Karena seperti ia tak menghormati lawan bicaranya.
"Sebenarnya kamu ini tau sopan santun atau tidak sih?!," celetuk Sinta yang kesal mendengar jawaban dari Anita yang terkesan hanya bicara sebutuh nya saja.
"Di tanya itu jawabnya yang enak di dengar dong. Yang ramah!!," lanjut Sinta dengan terus fokus tatapan nya ke jalan depan.
__ADS_1
Anita yang dapat teguran seperti itu dari Sinta, hanya diam saja tak menggubris ucapan Sinta. Malah Anita membuang pandangan nya ke jendela mobil.
Sinta yang tau dengan sikap Anita dari kaca spion itu sangat marah.
"Awas kamu!!, akan aku kerjain." gumam Sinta dari dalam hati.
"Lagian kamu Sarah, mungut di bak sampah mana orang seperti dia itu?!" tanya Sinta pada Sarah sambil melirik Anita dari kaca spionnya. Sedangkan Anita matanya membulat pada Sinta saat ia mendengar apa yang di katakan Sinta.
"Memangnya aku rongsokan?," gumam Anita dalam hati sambil menatap tajam Sinta di kaca spion.
"Sinta!!," lagi-lagi Sarah menepis Sinta agar ia menghentikan ucapannya yang akan membuat hati Anita sakit.
"Nah, ini nih kelemahan mu. Pasti di kelemahan mu ini lah yang di manfaatkan orang yang tak tau diri seperti dia." lagi-lagi Sinta melirik kearah Anita yang duduk di jok belakang sambil pandangan nya menatap ke luar jendela mobil.
Anita yang merasa terintimidasi itu pun, tiba-tiba mengeluarkan air mata.
Sinta yang mengetahui itu lewat spion mobil nya pun langsung tertawa terbahak-bahak.
"Yaelah... Gitu aja nangis. Kebanyakan drama." celetuk Sinta.
"Anita?, apa kamu baik-baik saja?," tanya Sarah sambil membenarkan duduk nya untuk menghadap kebelakang.
"Ha ha ha... Kamu ini lucu Sarah. Dia itu bukan Kean yang masih kecil dan butuh perhatian seperti itu. Tapi dia wanita dewasa yang tak perlu kamu perhatikan seperti itu." sahut Sinta, Sinta benar-benar tidak suka pada Anita yang terlihat pura-pura itu.
"Ya sudah, kalau gitu kita cari makan dulu sin." ajak Sarah pada Anita. Sarah mencoba mencari Jalan keluar dengan tidak saling menyalahkan.
"Ya baiklah, walau sebenarnya aku juga sudah kenyang melihat wajah dia!!." jawab Sinta dengan melirik kebelakang ke arah Anita lewat spion.
Sarah sengaja mengajak Sinta makan, karena memang mereka berdua belum sempat makan setelah urusan Sinta selesai tadi. Dan juga, Sarah melihat kalau Sinta seperti nya juga belum makan.
Mobil pun di hentikan di depan warung makan yang konsepnya sederhana. Hanya lesehan di pinggir jalan, namun rasa masakannya sangat rekomendasi sekali.
"Hah??, makan disini?," gumam Anita dengan lirih, tapi tetap saja telinga Sinta yang pendengaran nya sangat tajam langsung menangkap suara itu.
__ADS_1
"Kalau kamu memang nggak mau makan disini, ya sudah kamu diam saja didalam." celetuk Sinta.
Sinta memang benar-benar tidak suka pada Anita. Karena dengan sombongnya Anita menolak tawaran Sarah untuk pulang bersama, padahal dia butuh tumpangan, sampai-sampai Anita berlari mengejar mobil Sinta.
"Dasar sok kaya!!," umpat Sinta lagi sambil menutup pintu mobilnya.
"Ayo kita turun," ajak Sarah pada Anita. Namun Anita diam saja tidak menjawab ajakan Sarah. Malah ia membuang muka saat Sarah menatap nya.
"Ya sudah, kamu disini saja. Kalau kamu lapar, kamu bisa turun." ucap Sarah yang sedikit juga sudah kesal dengan sikap sekertaris Rama itu.
Lalu Sarah keluar dari mobil.
Brakkkk....
Suara pintu mobil di tutup oleh Sarah dengan sedikit kasar. Dan seketika Anita pun kaget, saat mendengar suara keras yang juga menghasilkan getaran dalam mobil yang saat ini ditumpangi oleh Anita itu.
Sarah pun segera menyusul Sinta yang sudah duduk terlebih dulu di dalam warung lesehan itu. Dan dengan sangat yakin, Sarah meninggalkan Anita di dalam mobilnya.
"Beneran tidak ikut perempuan sombong itu?," tanya Sinta pada Sarah yang baru masuk kedalam warung.
Sarah pun menggeleng kan kepalanya, lalu ia duduk di samping Sinta yang sedang menulis menu pesanan nya.
"Aku yakin, setelah ini dia akan menyusul kesini." tebak Sinta sambil memberikan kertas dan pulpen pada Sarah.
Sarah pun tersenyum getir menjawab ucapan Sinta sambil membayangkan wajah Anita tadi saat diajak turun oleh Sarah.
Pesanan pun masih diproses oleh penjual, mereka berdua menunggu makanan yang sedang disiapkan sambil bermain handphone ambil membahas masalah postingan foto Sarah yang saat ini sedang viral.
Anita hanya bisa melihat mereka berdua dari dalam mobil. Sebenarnya perut Anita saat ini sangat lapar sekali. Karena dari siang ia belum makan.
"Tega kalian berdua meninggalkan aku sendiri didalam mobil. Sedangkan kalian makan enak di luar sana." tulis Anita di status WhatsApp nya, sambil mengunggah video Sarah dan Anita yang sedang menikmati makanan dan minuman nya yang terhidang diatas meja.
Lalu beberapa detik kemudian, unggahan Anita di status wa nya di lihat oleh Rama.
__ADS_1
Tanpa membuang banyak waktu, Rama pun langsung menghubungi Anita.