DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kelakuan Kakak Ipar POV Bima


__ADS_3

Kurang ajar, Sarah!. Sungguh dia berhasil membuat ku malu di depan warga komplek rumah ini, aku diusir dengan sangat tidak sopan.


Sarah sekarang berubah, dia sudah tak punya rasa hormat pada ibu ku. Bicara nya pun makin kurang ajar pada ibu.


Padahal ibu sudah mencoba bersikap baik padanya. Aku tau, mungkin ibu agak sulit menerima Sarah untuk menjadi menantu nya. Setelah ibu tau kalau Sarah adalah janda anak satu dan hanya seorang pelayan toko roti dari kampung yang sangat amat pelosok.


Aku sangat menyadari sikap ibu yang tak begitu suka pada Sarah. Karena semua itu memang salah saya, yang memaksa ibu untuk merestui ku menikah dengan Sarah.


Sebenarnya aku juga tak terlalu cinta dengan nya. Aku hanya mencoba menggodanya dengan mengajak dia menikah dengan ku. Namun dengan sangat mudah Sarah menyetujui ajakan ku.


Mungkin dia berpikir, kalau dia menikah dengan ku. Kehidupan nya akan berubah. Mungkin dia berfikir kalau menikah dengan ku, aku akan menyuruh nya untuk berhenti bekerja di toko roti yang terkenal itu.


Tapi nyatanya, aku sama sekali tak menyuruh nya untuk berhenti bekerja. Dan untuk nafkah lahir pun, sama sekali aku tak pernah memberi nya.


Aku rasa Sarah sangat mencintai ku, sehingga selama ini dia hanya diam saja saat tak ku beri nafkah.


Dia mencukupi semua kebutuhan rumah, mulai dari makan, tagihan listrik, tagihan air dan kebersihan lingkungan.


Uangku sama sekali tak pernah keluar untuk hal itu. Pernah waktu itu, awal-awal menikah, aku memberi Sarah uang sebesar empat juta rupiah. Dan itu pun beberapa hari kemudian aku ambil lagi, dengan alasan aku sangat butuh untuk membayar hutang pada mbak Ambar. Karena aku meminjam nya untuk membelikan handphone Putri.


Cukup beralasan kalau usaha ku lagi sepi jadi tak ada uang untuk membayar hutang pada mbak Ambar. Dengan sangat mudah, Sarah memberikan uang itu padaku lagi. Beda jauh dengan Areta. Kalau Areta, uang yang sudah masuk kedalam dompet nya, akan susah keluar lagi walau untuk kepentingan keluarga.


Namun sayangnya, aku masih belum bisa move on dari Areta. Walau aku sudah menikah dengan Sarah, bayangan Areta masih berada dalam hati ini.


Jujur sebenarnya hati ini sangat sakit sekali saat aku tau Areta berada dalam kamar bersama laki-laki lain yang jauh lebih mudah darinya.


Saat aku memberi pilihan pada Areta, ternyata Areta lebih memilih laki-laki itu. Hati ku saat itu patah sepatah-patahnya.


Dan tidak sengaja aku bertemu dengan Sarah. Aku tau Sarah sangat cantik dan penurut. Akhirnya aku menikahi Sarah, dengan memaksa ibu untuk merestui pernikahan ku dengan Sarah. Tapi walau aku sudah menikah dengan Sarah, hati ini masih tetap condong pada Areta ibunya anak ku.


Pada suatu hari, Areta datang menemui ku ditoko. Terlihat dia sedang bersedih. Saat aku mendesak nya untuk bercerita, akhirnya dia bercerita tentang kisah cintanya yang kandas bersama lelaki muda selingkuhan nya itu.


Areta berkata kalau dia menyesal telah menduakan ku waktu itu. Sehingga rasa bersalah nya sangat besar padaku.


Rasa bangga akan diri ini dengan sendirinya muncul dalam hati. Akhirnya ia sadar bahwa aku lah lelaki yang paling baik untuk nya.


Dan dari situ lah, Areta sering sekali datang kerumah ibu untuk bertemu dengan Putri, anak ku dan Areta.


Dia juga sering sekali keluar dengan memakai mobil ku. Dengan senang hati aku meminjam kan mobil ku itu tanpa sepengetahuan Sarah.


Karena menurut ku Sarah tak punya hak untuk tahu siapa saja yang memakai mobil ku.


Apalagi waktu itu yang memakai adalah Areta, ibu dari anak ku.


Ibu ku pun seperti nya juga sangat cocok dengan Areta. Aku akui Areta sangat pandai mengambil hati ibu ku. Padahal saat ibu ku mengetahui skandalnya bersama berondong itu, ibu sangat membenci nya.


"Pokoknya ibu tak terima dengan perlakuan Sarah dan keluarga nya pada kita, Bima!!!," ucap ibu dengan membanting pintu rumah setelah ia masuk kedalam rumah.


"Ada apa, Bu?," tanya mbak Veni. Kebetulan mbak Veni dan mas Awan ada disini. Seperti nya mereka kaget saat ibu menutup pintu dengan sangat kencang.


"Itu si Sarah, perempuan sok kaya raya padahal nyata nya nol besar, sudah berani mempermalukan aku di depan banyak orang!!!," wajah ibu sudah memerah. Terlihat sekali kalau ia saat ini sedang emosi tingkat dewa.


"Kok bisa, Bu?." tanya mbak Ambar yang baru saja keluar dari dalam dengan membawa dua cangkir teh hangat. Mungkin teh itu sengaja mbak Ambar buat untuk mas Awan dan mbak Veni.


"Dia mengusir kita dari rumahnya!!." ucap ibu dengan suara bergetar.


"Sabar, Bu. Tarik nafas yang dalam lalu buang perlahan, tenang kan hati ibu." ucap ku sambil mengelus pundak ibu, agar ibu bisa meredam amarah nya.


"Maksud nya Sarah mengusir ibu dan Bima dari rumah yang Bima beli?." mbak Ambar memperjelas ucapan ibu.


Dan ibu menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan mbak Ambar.


"Kok bisa terusir dari rumah sendiri sih, Bim?," kali ini pertanyaan mbak Ambar di tujukan padaku.


"Ceritanya panjang, mbak." jawabku dengan lesu.

__ADS_1


"Terus bagaimana dengan Sarah?!," tanya mas Awan.


"Sarah sudah ditalak oleh Bima. Wanita kurang ajar seperti Sarah sudah pantas mendapatkan talak dari Bima." jawab ibu dengan nada suara yang tinggi.


"Bagus, donk." sahut mbak Veni dengan mata yang berbinar. Terlihat sekali kebahagiaan diwajahnya.


Seperti nya mbak Veni juga tak suka dengan Sarah. Aneh sekali, padahal Sarah itu orang nya cukup baik dan sangat ramah. Tapi kenapa banyak orang yang tak suka dengan dia?.


"Sarah ditalak?!," tanya mas Awan terlihat sangat terkejut mendengar jawaban dari ibu.


"Memang Sarah melakukan salah apa sampai kamu menalaknya, Bima?," tanya mas Awan padaku.


"Sarah makin kesini makin kurang aja pada ku dan ibu, mas. Aku paling tak terima kalau ada orang yang berani membentak ibu." jawabku bohong pada mas Awan. Tak mungkin sekali aku menjawab jujur, kalau Sarah mengetahui aku sedang selingkuh bersama Areta.


"Kamu yakin Sarah melakukan itu?," tanya mas Awan. Seperti nya mas Awan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.


"Ya yakin lah, mas. Karena aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kalau Sarah berbicara kurang ajar pada ibu." jawab ku menyakinkan mas Bima dengan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan ku yang tadi.


Menurut ku harga diri itu penting, agar aku tetap di pandang wibawa di keluarga ini. Tak mungkin sekali aku menghancurkan nama baik ku di keluarga ini dengan bicara jujur kalau aku ketahuan bermesraan dengan mantan istri ku.


"Yang sabar ya, Bim. Aku yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Sarah yang kampungan itu." ucap mbak Veni yang berjalan dan mendekat padaku. Lalu tangan nya menepuk pundak ku, dan tatapan mata mbak Veni terlihat sangat berbeda padaku. Seperti......


Ah, pikiran apa ini?!


Aku segera mencoba menghilangkan pikiran yang menurutku tak patut untuk dipikirkan dan untuk di bayangkan.


Mbak Veni tersenyum genit dengan satu matanya di kedipkan pada ku.


Aku pun langsung membuang pandangan ku, aku takut ada kesalah pahaman dengan mas Awan. Aku juga tak mau nanti hubungan ku dengan mas Awan rusak karena ulah mbak Veni.


Saat mbak Veni tersenyum genit padaku, seperti nya mas Awan tak melihat nya. Ia terlihat sedang asyik bermain gawai nya.


Ada perasaan lega pada hati ini, karena ternyata mas Awan tak melihat tingkah laku istrinya padaku.


"Bu, Bima lapar." ucapku pada ibu, sebenarnya perut ini tak terlalu lapar. Namun aku hanya mengalihkan pembicaraan, agar mbak Veni tak terus menatap ku dengan tatapan mata yang sulit aku artikan.


Ah ... kenapa mbak Veni yang sebegitu perhatian nya padaku?.


"Mbak, mbak Veni jangan repot-repot. Biar Bima ambil sendiri." ucapku sambil berjalan di belakang mbak Veni untuk mengehentikan langkahnya. Karena aku tak enak saja pada mas Awan, kalau istrinya sangat perhatian padaku.


Namun mbak Veni tak menggubris ucapan ku. Dia terus berjalan masuk. Dan aku pun mengikuti nya masuk kedalam.


"Mbak, biar Bima ambil sendiri." ucapku sambil mengambil piring yang saat ini sudah berada di tangan kiri mbak Veni.


"Bim....." tangan mbak Veni memegang tangan ku dengan sangat erat dan tatapan matanya seperti penuh hasrat padaku.


Lalu aku alihkan pandangan ku dengan segera mengambil nasi yang saat ini berada di atas meja makan. Sehingga aku membelakangi mbak Veni.


"Bima... Kalau kamu butuh apapun padaku. Aku siap melayani mu." bisik mbak Veni tapi di belakang telinga ku. Sungguh membuat bulu-bulu halus ku berdiri dan tiba-tiba muncul hasrat yang belum sempat aku salurkan tadi saat bersama Areta.


Tapi aku harus bisa menahan diri, mengingat mbak Veni adalah Kakak ipar ku.


Dan tiba-tiba, mbak Veni memeluk ku dari belakang. Aku sangat terkejut dengan sikap mbak Veni yang menurutku sangat nekat ini.


Berani sekali ia melakukan nya disini, dirumah ibu ku yang juga ibu nya mas Awan. Apalagi mas Awan saat ini juga berada di sini, di rumah ini.


"Mbak...?," ucapku dengan tangan ini mencoba melepaskan pelukan mbak Veni.


"Biarkan aku memeluk mu Bima." bisik mbak Veni, dengan wajahnya berada di punggung ku, dan sesekali ia menciumi punggung ku.


"Apa yang mbak Veni lakukan?," tanya ku lagi. Sejujurnya hal ini tak merugikan ku sedikit pun. Namun kurasa hanya waktu dan tempat lah yang tak tepat.


"Sudah lama aku menginginkan ini, Bima." bisik mbak Veni semakin erat pelukannya.


"Mbak, ingat! Disini ada mas Awan." ucapku dengan pelan sambil aku mencoba untuk melepaskan tangan mbak Veni.

__ADS_1


"Tapi kamu mau kan memberiku kenikmatan yang tak pernah mas mu berikan padaku?," pertanyaan mbak Veni sangat sulit untuk di jawab. Karena mbak Veni adalah istri dari Kakak kandung ku.


"Aku sangat percaya, kamu sangat bisa memuaskan semua hasrat ini." lanjutnya.


"Tapi mbak Veni harus ingat, mbak Veni adalah istri dari kakak ku." ucapku dengan sekuat tenaga menahan diri.


Karena tak dipungkiri, perlakuan mbak Veni berhasil membuat hasrat ini semakin menggebu-gebu, sangat ingin sekali segera untuk di salurkan.


Tapi bagaimana pun juga, aku harus bisa menahan diri. Mengingat mbak Veni adalah Kakak iparku sendiri.


"Mbak, ku mohon lepaskan pelukanmu." rayuku pada mbak Veni, agar ia mau melepaskan pelukannya t


Yang sangat erat.


"Aku akan melepaskan pelukan ini, tapi kamu harus berjanji padaku untuk menuruti satu permintaan ku." ancam mbak Veni.


"Apa permintaan mu, mbak?," tanya ku dengan sangat penasaran, di sisi lain aku juga ingin segera lepaskan diri dari pelukan mbak Veni.


Walau hasrat ini begitu besar, tapi rasa risih ini juga tak kalah besar.


"Aku ingin kamu memuaskan ku, walau hanya satu malam." jawab mbak Veni yang membuat ku kaget.


"Aku sangat menginginkan nya bersama mu, Bim." mbak Veni semakin erat memeluk ku.


Jujur aku juga sudah berhasrat, tapi aku mencoba untuk menahan nya sekuat tenaga.


Bukan makin menjauh, mbak Veni semakin membuatku tak berdaya dengan perlakuan nya.


"Mbak kumohon lepaskan pelukanmu." pinta ku pada mbak Veni.


"Berjanji lah dulu kepada ku, Bim?," pinta mbak Veni.


"Aku takut ketahuan mas Awan, mbak." jawabku.


Kalau saja mbak Veni bukan kakak ipar ku, mungkin aku tak akan berpikir berulang kali.


"Aku bisa mengatur itu, Bim." bisiknya.


"Lepaskan dulu pelukan mu, mbak." pinta ku lagi.


"Berjanji lah dulu, Bim!. Setelah itu aku akan melepaskan pelukan ini." mbak Veni terus memeluk ku.


"Baik lah, kita atur lagi waktu dan tempat nya setelah ini, mbak." ucapku pada mbak Veni.


Tanpa aku minta, akhirnya pelukan mbak Veni pun di lepas dengan sendirinya.


"Nanti aku akan menghubungimu lagi, Bim." ucap mbak Veni sambil berlalu berjalan melewati ku menuju kamar mandi.


"Bim.. Bima... Kok lama sekali kamu mengambil makan?," suara ibu terdengar dari sini, seperti nya ibu sedang berjalan menuju meja makan.


"Ini, Bu. Bima sedang makan." jawabku sambil mengangkat piring, ku tunjukkan pada ibu.


"Kok lama sekali?," tanyanya lagi.


"Aku sangat lapar, Bu. Jadi aku makan sangat banyak sekali." alasan ku pada ibu.


"Veni kemana?," tanya ibu. "Kok tidak ada? Bukankah dia tadi masuk bersama mu?," tanya ibu lagi.


"Mbak Veni lagi di kamar mandi, Bu." jawabku sambil terus mengunyah nasi yang sudah aku masukkan kedalam mulut.


cekleeek...


Pintu kamar mandi terbuka dan mbak Veni keluar dari dalam kamar mandi.


"Ibu mencari ku?," tanya mbak Veni saat keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Aku kira kamu kemana, kok dari tadi nggak keluar-keluar." ucap ibu pada mbak Veni.


"Perut Veni sakit, Bu." jawab mbak Veni sambil mengelus perut nya. Lalu mbak Veni berjalan menuju ke ruang tamu. Meninggalkan aku dan ibu yang sedang duduk bersama ku di kursi meja makan.


__ADS_2